Rabu, 23 Maret 2016

Repost : Maron, Bercinta dalam Lumpur

Kisah lama, Desember 2008, kucopy-paste dari sini.

Setelah mengikuti ‘kampanye bersepeda’, beberapa anggota b2w—Triyono, Ndaru, Agung, Eka, Yoni, Drajat, Hidayat, Kholik, Nasir dan aku sendiri—melanjutkan nggowes ke Pantai Maron yang terletak tidak jauh dari bandar udara Ahmad Yani Semarang. Mengingat hari-hari terakhir ini hujan turun setiap hari di Semarang, yang nota bene matahari jarang bersinar, aku sudah memperkirakan medan off-road setelah lepas dari kawasan bandara akan menjadi sangat berlumpur, mungkin ada kubangan air di sana sini, sehingga menjadi sangat menantang bagi mereka yang melewatinya.

Perjalananku terakhir ke Pantai Maron yakni tanggal 23 Nopember. Meskipun sudah memasuki musim hujan, seingatku pada hari Sabtu 22 Nopember, seharian tidak turun hujan, dan matahari lumayan bersinar. Itu sebabnya meskipun jalannya licin di sana sini, masih ‘enak’ dilewati.

Namun perjalanan ke Maron tanggal 21 Desember ini meninggalkan kesan yang jauh lebih mendalam karena beberapa hal, selain karena seorang Agung Tridja ikut kali ini. (Dasar narsis, sebelum pulang dia sempat berbisik kepadaku, “Pokoknya event apa pun akan sangat berkesan kalo aku ikut!” LOL.)
Pertama berbelok ke areal off-road, teman-teman yang berada di belakangku (aku berada di depan karena aku sudah berpengalaman ke Maron beberapa kali) bersorak gembira, “Akhirnya kita sampai juga ke areal yang kita rindui!” 

Baru beberapa meter berjalan, kita bertemu dengan banyak orang yang sedang berjalan berlawanan arah dengan kita. “Jalanan buruk mbak, ga bakal nyampe ke pantai! Mending berbalik saja!”

Aku tersenyum sambil menjawab, “Terima kasih.”

Kadang aku berkata, “Oh? Di sana jauh lebih buruk ya kondisinya?”

Ketika bertemu dengan seseorang yang dengan terang-terangan memprovokasi aku untuk kembali, sekaligus menunjukkan pesimisnya bahwa aku akan patah semangat di tengah jalan, aku bilang, “Ya gimana ya? Tuh teman-teman di belakang saya malah suka dengan kondisi jalan yang seperti ini!”

Klakep. LOL

Sesampai di separuh perjalanan, dimana ada sebuah jembatan yang menghubungkan jalan menuju ke sebuah perumahan, jalanan semakin memburuk. Tanpa kuketahui sebagian dari kita ada yang mengambil jalur kiri, termasuk mas Nasir, my savior dalam perjalanan XC ke Kedungjati.

Aku sempat hampir patah semangat tatkala kaki kiriku terperosok ke lumpur, seluruh sepatu kiriku terbenam. Eka yang berada di belakangku tak henti-hentinya menyemangatiku, “Ayo mbak Nana, angkat kakinya, lanjutkan perjalanan. Kayuh terus pedalnya, jangan lupa stel girnya agar kayuhan ringan.” Ketika melihatku lebih memilih menuntun sepeda (aku mulai kehilangan kepercayaan diri bahwa aku mampu menaikinya), Eka pun menawarkan sepedanya kunaiki, “Mbak Nana naik sepedaku aja. Ini bannya mencengkeram!” Dan ternyata benar. Enak sekali nggowes di jalanan berlumpur seperti itu menaiki sepeda hasil rakitan Eka sendiri ini.

Beberapa saat kemudian aku baru menyadari beberapa dari kita—Triyono, Nasir, Hidayat, dan Drajat—memilih jalur kiri, yang konon katanya kondisinya tidak ‘semengerikan’ jalur kanan. I was a bit unhappy for this karena ‘saingan’ berebut untuk bernarsis ria di depan kamera akan berkurang. LOL. “Kita ga bisa foto bareng nanti di pantai!” rajukku, sambil setengah berteriak, agar mereka mendengar.

“Lha gimana lagi? Jalanan di situ parah banget!” komentar mas Nasir, setengah berteriak pula.

Beberapa saat kemudian ...

Setelah melihat air laut yang membiru dari kejauhan, menandakan bahwa ‘etape’ pertama kita akan berakhir, uh ... leganya hatiku. LOL.

“Jalanan becek berlumpur dan licin yang berat dilalui ini setara dengan lima tanjakan!” kata Agung hiperbola. LOL. 

Wah, aku lebih memilih jalanan becek berlumpur ini Gung, dibandingkan lima tanjakan yang setinggi Gombel. LOL. Aku pun lega Darmawan tidak jadi ikut karena istrinya ga berani ‘menanggung resiko’. Poor her kalau harus berjuang melawan jalanan seperti ini.

Baru kali ini aku melihat pantai Maron sepi pengunjung. Warung penjaja makanan dan minuman pun hanya ada dua yang buka.

Perjalanan menantang yang cukup melelahkan ini, meskipun tidak jauh, telah membuat perut kita kelaparan. Apalagi aku yang lupa membawa minum. I was very thirsty!

“Tahu ga mbak, beda antara enak dan lapar itu tipis?” kata mas Ndaru, waktu kita menunggu pesanan makanan kita datang.

“Well, orang bilang lapar adalah lauk yang paling lezat..” jawabku.

Ini adalah kali pertama aku makan di salah satu warung di Pantai Maron. Maklum, untuk melanjutkan ‘etape’ yang kedua—yakni balik lagi ke jalan raya—kita semua tentu butuh asupan makanan dan minuman yang cukup.

“Will you directly post this in your blog tonight?” tanya Agung, sebelum kita melanjutkan perjalanan.

“How about if I write a poem for this?” tanyaku balik.

Agung manggut-manggut sambil bilang, “Bercinta dalam lumpur...”

“Hey ... that’s a superb idea!” komentarku.

(Namun ternyata meskipun telah nongkrong di depan monitor beberapa lama, tak jua muncul kata-kata yang bisa kupakai dalam puisiku, sehingga aku malah menulis ‘laporan perjalanan’ ini dalam bentuk esei.)

Kholik yang ada keperluan telah meninggalkan kita berlima seusai makan. Namun ternyata, dalam perjalanan balik, dia kurang beruntung, ‘letter S’-nya patah. Itu sebab tak lama kemudian kita berlima telah menyusulnya. Segera Eka mengeluarkan peralatan yang dia miliki, setelah kita memilih satu tempat di pinggir, di atas rumput. Aku menonton sambil terkagum-kagum karena yang bisa kulakukan dengan sepeda hanyalah menaikinya. LOL. Agung dengan cekatan melakukan ini itu. Mas Ndaru membantu memberi instruksi ini itu. Demikian juga Eka. Sedangkan Yoni ngadem di bawah rerimbunan, takut warna kulitnya tambah gelap, LOL, karena pada saat itu, sekitar tengah hari, matahari mulai memancarkan sinarnya. 


Cukup makan waktu lama untuk membuat sepeda Kholik bisa dinaiki secukupnya. Sementara itu ternyata dia telah menelpon seseorang untuk menjemputnya yang kemudian datang naik sepeda motor. Sepedanya pun dia taruh di tengah.

Tak lama kemudian, sepeda Yoni yang hampir mengalami peristiwa yang hampir serupa dengan Kholik. Bedanya adalah Yoni segera menyadarinya, sehingga bisa segera pula dibetulkan, di bawah instruksi Eka, sehingga tidak sampai ‘letter S’-nya patah. 

Tatkala menunggui kedua kakak beradik ini, aku sempat meprovokasi sepasang kekasih untuk kembali ke jalan raya saja, karena terlihat keragu-raguan di wajah kedua orang tersebut. Apalagi kulihat si perempuan mengenakan sepatu ‘feminin’ berhak sekitar 3 cm lancip. 

“Sepatumu dilepas saja,” kata si laki-laki. “Lihat saja jalanan seperti ini.” Mungkin terbayang kalau dia terpaksa meminta kekasihnya turun dari motor.
Si perempuan ragu-ragu. 

“Ya, lebih baik sepatunya dilepas saja.” Kataku, ikut campur. LOL. “Sayang kalau kotor, apalagi rusak,” kataku lagi. 

“Tuh kan ...” kata si laki-laki berusaha meyakinkan kekasihnya.

“Atau lebih baik lagi balik aja ke jalan raya. Kondisi jalan di sebelah sana jauh lebih ‘buruk’ dibandingkan kondisi jalan di sini,” provokasiku.

Aku ingat provokasi orang-orang tatkala aku mulai memasuki medan ‘off-road’ gagal total menghentikan gowesanku.

Namun provokasiku berhasil dengan mudah. LOL. Si lelaki pun segera memutar sepeda motornya. Kembali ke jalan raya.

Setelah Yoni dan Eka berhasil membetulkan gir sepedanya, kita bertiga segera menyusul Agung dan mas Ndaru yang terheran-heran ada apa kok kita tertinggal lumayan jauh. 

Sesampai di jalan raya, kita berlima sepakat mencari tempat cuci sepeda motor, agar sepeda kita bisa segera dibersihkan. Kita menemukan tempat itu di sebuah gang Anjasmoro, setelah bertanya kepada seorang tukang parkir di Jalan Anjasmoro Raya. Kebetulan yang memiliki usaha sedang ‘nganggur’ alias tidak ada pasien, sehingga sepeda-sepeda kita pun segera ditangani. Semula si Bapak pemilik usaha akan menolak, karena belum pernah mendapatkan ‘sepeda’ sebagai pasien. Namun, ternyata mas Ndaru’s authoritarian voice (baru tahu aku ternyata dia memiliki kemampuan para politisi ini LOL) membuat si Bapak menerimanya without any reservation. LOL. Untung di depan tempat cuci sepeda motor ini ada sebuah warung kecil tempat kita bisa nongkrong, minum dan makan snack, sambil ngobrol.Untuk ‘lebih melengkapi’ kesan perjalanan kali ini, ban sepeda mas Ndaru bocor!!!

Menunggu proses cuci sepeda lima biji ini ternyata lumayan lama. Agung sempat pamer tubuh (bagian atas doang!!!) karena ga tahan panas. Angin sepoi-sepoi yang kadang berhembus membuat mata pun mengantuk. 

“Ingat ga waktu kecil dulu kita paling malas kalau disuruh tidur siang? Kalau ga tidur siang, nanti dislentik telinganya!” kata mas Ndaru.

Aku langsung ketawa ngakak karena ingat masa kecil dulu. Seingatku aku ga pernah membangkang kalau disuruh tidur siang. Tapi kakakku pernah punya ‘kasus’ dengan bokap gara-gara ga mau pakai sandal. Kita diharuskan memakai sandal, meskipun berada di dalam rumah, demi menjaga kebersihan kaki dan kesehatan tubuh. Kakakku paling malas memakai sandal hingga satu hari bokap marah-marah waktu pulang dari kantor. Melihat kakakku tersayang dimarahi, aku pun menangis keras-keras. Bokap pun heran; orang yang dimarahin kakaknya, ini kenapa si adik yang nangis? LOL. Nyokap yang mencup-cup aku pun bilang, “Yang dimarahin bukan Nana kok. Udah cup diem.” Aku tetap saja menangis, sehingga bokap pun akhirnya berhenti marah. LOL.

“Betapa enaknya tidur siang itu. Nyesel deh kenapa waktu kecil dulu aku suka mbeling kalau disuruh tidur siang. Maunya main melulu. Sekarang? Tidur siang di kantor jelas diomel-omelin bos. Bisa tidur siang adalah sebuah anugrah ...” Kata mas Ndaru lagi lebih lanjut. LOL.

Ban bocor sepeda mas Ndaru ditangani sendiri karena kebetulan dia membawa persediaan untuk menambal ban bocor, dan Eka membawa pompa kecil yang dari jauh nampak seperti vibrator. Wakakakaka ... (Suwer, aku ngelihatnya HANYA di salah satu serial “Sex and the City”, belum ngeliat yang asli. LOL.) Ajaibnya, yang melakukan penambalan adalah Yoni. (Yon, kamu bisa buka usaha tambal ban! LOL.)
“In this off-road trip, Eka is your savior...” kata Agung, sebelum kita meninggalkan tempat.
“Yup, you are absolutely right!” jawabku.

Aku bersyukur tempat tinggalku tidak jauh dari Anjasmoro. Yoni dan Eka lumayan masih harus menggowes sepedanya dalam waktu beberapa lama. Agung dan mas Ndaru yang perjuangannya paling ‘poll’, karena tinggal di ujung Semarang bagian Tenggara. 

*****

Malamnya mas Nasir datang ke rumah untuk mengambil kaos jersey b2w Semarang yang masih ada lima biji di tempatku. Teman-teman kerjanya tertarik untuk membelinya. “Hikmah city tour,” kata mas Budi Seli.

Dari perbincangan sejenak aku tahu bahwa keempat orang yang mengambil jalur kiri gagal mencapai laut karena suatu ‘rintangan’. Demi kemaslahatan bersama, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali.

PT56 23.45 211208


bayangkan betapa licin jalan nan berlumpur ini

Agung memilih ttb :)

aku tukeran sepeda dengan Eka, namun tetep ga pede, jadi memilih nuntun :p

aku cantik sendiri ... yuhuuu :D


narsis is a must :D

Selasa, 22 Maret 2016

Ngepit Pagi ke Pantai Maron

Semenjak pertama kali diajak teman-teman sepedaan ke Pantai Maron tahun 2008 lalu, aku sudah suka bersepeda kesini. Trek yang bukan berupa jalanan aspal memberi kesan ber-offroad ria, namun tidak seekstrim trek ke Banyumeneng, maupun Wonolopo. Paling-paling hanya ada 2 "resiko" yang harus kita tanggung : (1) sangat berdebu jika kita kesana di musim kering/panas (2) super becek di musim hujan. Aku pribadi lebih memilih di musim kering, kita cukup hanya melindungi mata dengan mengenakan kacamata, dan bandana untuk melindungi hidung. Di musim hujan, laju sepeda bakal sulit jika trek super becek. :)

contoh trek berlumpur, saat kita kesana bulan Desember 2008 :)

Sudah tak terhitung berapa kali aku menyambangi Pantai Maron, entah sendiri atau bersama teman-teman sepeda yang lain. Seringnya di musim kering. Hanya sekali di musim hujan, dimana seorang teman terpaksa harus mengorbankan sendal jepitnya yang "terkubur" lumpur. LOL. Seorang teman lain RD-nya harus patah gegara timbunan lumpur yang ganas. :D (kisahnya bisa dibaca disini.) Aku belum pernah sendirian nekad ke Maron di musim hujan, dari pada kenapa kenapa, mending milih rute lain saja. Hahahaha ...








Sekarang, selain memandang ombak dan langit biru nan luas di pantai, jika kita ke satu tujuan wisata ini, ada satu lokasi lain yang bisa kita pakai untuk bernarsis ria, yakni kawasan mangrove. Buat yang tinggal di kawasan 'downtown' jika ingin menikmati pemandangan 'hutan' bakau tidak usah pergi jauh-jauh ke Tapak, atau Mangkang, atau pun Morosari - Demak. Kita cukup ke pantai Maron.

Sejak beberapa tahun lalu, sebuah perusahaan swasta telah melakukan penanaman mangrove dengan teratur di kawasan pantai Maron. Sekarang sudah bisa kita lihat hasilnya. Tapiii ... harus jaga emosi ya agar kawasan ini tidak rusak. (Ingat kasus sebuah kebun amaryllis di Jogja sekian bulan lalu kan?) Beberapa hari lalu ketika kesana, masih ada tulisan "belum dibuka untuk umum" di "pintu masuk" ke kawasan ini.

Mari cintai lokasi wisata dalam negeri dengan mengunjunginya,, sekaligus merawatnya.

LG 10.10 23/03/2016




Senin, 21 Maret 2016

Gowes Offroad (reuni) ke Puncak Banyumeneng

Setelah lima tahun absen dari gowes XC (baca => cross country) alias offroad, akhirnya aku pun kembali menyambangi Banyumeneng lagi. SETELAH LIMA TAHUN. (lebay mode on :D) Klik link ini untuk kisah ngoffroad ke Banyumeneng 5 tahun lalu.

foto dijepret awal tahun 2009, gedung ala piramid ini masih utuh

FYI, sebenarnya aku memendam hasrat untuk XC lagi sudah selama beberapa bulan. Apalagi Agung Tridja -- yang sudah dua kali jadi road captain XC ke Banyumeneng di tahun 2010 dan tahun 2011 yang kuikuti -- juga menunjukkan keinginannya untuk kembali ramai-ramai mengunjungi (eks) gedung a la piramid di puncak Banyumeneng, dari beberapa status yang dia unggah di facebook. Namun, menunggu "lampu hijau" dari Ranz untuk mau ternyata butuh waktu lama. :D

20 Maret 2016

Kali ini aku berhasil mengajak Tami (ini XC kedua buatnya) dan Dwi untuk menjajal trek offroad yang lumayan ekstrem. :D Kita janjian berkumpul di Taman Pandanaran pukul 05.00. Kenyataannya, kita baru berkumpul pukul 05.20. :D Arif Daeng, musuh dalam selimut eh sobat lama kedua gadis manis itu pun bergabung karena penasaran dengan treknya. :D Pukul 05.25 kita mulai mengayuh pedal menuju titik kumpul di kawasan Meteseh, kurang lebih 15 kilometer dari Tugumuda. :D


Perjalanan menuju titik kumpul kita jalani dengan tidak ngaya. Ranz yang paha kanannya sedang tidak fit, terpaksa mengayuh sepeda pelan, mana dia naik BMX pula. Kita baru sampai di titik kumpul di satu minimarket Meteseh pukul 06.34, tepat saat Agung dan yang lain gelisah, ini rombongan Semarang Barat kapan nyampenya? LOL. Eh, seorang kawan Dwi, bernama Dimas, ikut bergabung, dia menunggu kita di pom bensin Kedungmundu. Di titik kumpul, selain Agung, ada juga Ariyanto Bjo, Faozi plus Dyas. Yang dua lain, lupa kenalan. LOL.

Setelah dua tiga jepret foto untuk dokumentasi, kita langsung melanjutkan gowes.






Ternyata aku lupa seberapa tanjakan menuju Banyumeneng. Aku juga lupa seberapa besar batu-batu yang bertebaran di sepanjang tanjakan sehingga membayangkan jika kehilangan keseimbangan dan jatuh waktu gowes, bisa dibayangkan kepala bakal langsung benjol. LOL.

Kebiasaan narsis ketika gowes tetap terbawa dong. LOL. Tapiiii ... karena menyimpan rasa ga enak ke yang lain, yang telah menunggu kita satu jam di titik kumpul, kita jadi merasa tidak enak untuk berfoto lama-lama. :D






Setelah melepas lelah di puncak Banyumeneng, kita meminta tour leader untuk melewati bangunan ala piramid yang sekarang mungkin tlah menjadi tempat untuk uji nyali jika kesini di malam hari. :D  Untuk turun, Agung memilih jalan dimana kita harus melewati turunan berbatu-batu besar. Nah lo! Tak heran, Dwi yang baru pertama kali ngikut XC, menulis di akun instagramnya, "Pertama kali nyoba xc atau cross country. Rasane serba salah. Tanjakan gak kuat, turunan nakutin. Rasane pengen tak tinggal aja sepedanya." wkwkwkwkwkwkwkwk ... Namun toh di turunan dia tetap berani menaiki sepedanya lho. (Eh, lupa, dia naik Orenj waktu gowes ini. Sepedanya -- Oddie -- jelas eman-eman dinaiki di trek seperti ini. :) )


Agung Tridja in action :D


gedung ala piramid yang tinggal puing2

On the way ninggalin kawasan Banyumeneng, Agung nawarin apakah kita akan mampir ke Brown Canyon. ahhh ... sekalian sudah sampai sini, mampir aja, meski hanya sebentar, meski ga bakal bisa puas narsis karena siang yang sangat terik. :)




Special gratitude for Agung Tridja for accompanying all of us.
Always full of thanks for Ranz  for everything.
Buat Dwi, Tami, Arif, dan Dimas, jangan kapok yaaa? Especially buat Dwi, next time gabung XC lagi. It is fun, isn't it? :D

N.B.
Kisah pertama kali ikut XC ke BMP bisa dibaca disini dan disini.


LG 09.14 22/03/2016