Kamis, 30 Mei 2013

Belajar hidup sederhana dari bersepeda jarak jauh?

Tulisan ini terinspirasi dari diskusi di grup Bikepacker Indonesia di facebook. 

Diskusi ini 'dikompori' oleh Muhammad Firdaus yang mengajukan pertanyaan: 


"Benarkah? Belajar Hidup Sederhana...dari pengalaman Bersepeda Jarak Jauh Bikepacker)...Bagaimana dengan pengalaman kawan kawan sekalian?" 

Seorang Hakam Mabruri menceritakan bahwa dia pernah berbikepacking ria dari Malang sampai Palembang cukup hanya dengan uang lima ratus ribu perak saja. (Wow ... kok bisa yah?) Bikepacker lain, Firman Ahmad, mengatakan bahwa dia pernah berbikepacking selama 20 hari hanya cukup membawa uang dua ratus lima puluh ribu saja. Ck ck ck ck ... Sementara itu Om Dama alias Turis Jawa menulis komen bahwa tiap kali turing, dia hanya membawa uang IDR 300.000 saja. Saat uang yang ada di dompet mulai menipis, di bawah lima puluh ribu rupiah Om Dama akan mampir ATM untuk mengisi dompet agar uang yang ada di dompet tetap di jumalh IDR 300.000. (Lhah, trus, berapa kali 300.000 perak ya selama perjalanan? hihihihi ... Di satu komennya yang lain dia bercerita pernah satu kali turing selama 3 bulan full! WAH!!!)


di Hotel Kencana Rembang
Jika anda, para pengunjung setia blog ini (thank you soooo much dear readers! :* ) masih ingat postinganku disini, tentu heran kan dengan kesederhanaan orang-orang yang kusebut di paragraf di atas? lha wong waktu bikepacking ke Tuban yang ga ada satu minggu saja aku dan Ranz butuh dana sekitar satu juta tigaratus lima puluh ribu rupiah. Yahhh ... itung saja masing-masing dari kita berarti menghabiskan dana IDR 675.000. 


Hotel Basra - Tuban

Beberapa minggu yang lalu, di satu status seorang teman facebook, Merina Rosa, aku menyinggung sedikit tentang hal ini. Dia mengira bahwa bikepacking itu bakal lebih murah dibandingkan backpacking (backpacking yang berarti pergi dari satu kota ke kota lain dengan naik bus umum.) Maka kujelaskan bahwa itu cara berpikir yang tidak tepat. Misal, waktu bikepacking Solo - Purwokerto bulan Maret kemarin, aku dan Ranz butuh waktu tiga hari (sebenarnya bisa kita singkat hanya menjadi 2 hari perjalanan, namun kita merasa tak perlu berburu-buru, maka kita santai saja). Perjalanan tiga hari itu berarti kita butuh makan, minimal lima kali, sekali makan untuk berdua mungkin kita butuh sekitar Rp. 30.000,00. Belum lagi kita butuh mampir mini market untuk beli air mineral dan sedikit cemilan. Plus ditambah menginap di hotel. Berapa ratus ribu duit yang kita harus keluarkan 'hanya' untuk mencapa Purwokerto? Padahal kalau kita memilih naik bus Solo - Purwokerto, paling mahal kita hanya butuh Rp. 150.000,00 saja, atau kurang dari itu. :) Cuma yaaa ... ga ada pengalaman asik selama perjalanan gowes. :)

Kembali ke status Muhammad Firdaus di atas. Aku heran, apakah aku yang kebangeten borosnya tatkala bikepacking, atau mereka yang kebangeten ngiritnya? xixixixixi ... Syukurlah di komen-komen selanjutnya ada yang mengatakan bahwa bikepacking merupakan suatu kemewahan yang benar-benar 'wah', meski yang bersangkutan tidak mengatakan bahwa dia tidak setuju jika disebut bahwa bikepacking adalah satu kegiatan untuk belajar hidup secara sederhana. Yang paling mewah adalah WAKTU yang kita habiskan di perjalanan yang tak mungkin akan kembali lagi. Tak semua orang bisa melakukan perjalanan bikepacking, bukan karena tidak mampu secara fisik atau material, namun karena sulit mendapatkan izin dari orang-orang tersayang di rumah, apalagi izin cuti dari kantor. Seorang teman sepedaan di Semarang yang sering menulis komen, "ahhh ... bikin iri saja. coba kalau aku juga punya waktu luang seperti kalian," di note-note bikepackingku, menunjukkan bahwa yang sulit dia luangkan adalah WAKTU. 

By the way busway, di komen-komen status Muhammad Firdaus akhirnya terungkap bagaimana teman-teman bikepacker itu bisa ngirit selama perjalanan, mereka sering menginap di kantor Polsek! Jadi mereka tidak perlu mengeluarkan dana untuk menginap di hotel/penginapan. Ini satu hal yang belum pernah kulakukan dengan Ranz; hmmm ... lebih tepatnya ga akan kulakukan dengan Ranz. Aku berpikir setelah kita menguras tenaga mengayuh pedal sepeda sekian puluh/ratus kilometer sehari, kita butuh istirahat yang nyaman untuk mengembalikan stamina kita untuk melanjutkan perjalanan keesokan hari. Satu pengalaman yang paling ngirit kita adalah ketika kita bersepeda dari Solo ke Trowulan - Mojokerto: di malam pertama kita beristirahat di musholla sebuah pom bensin di kawasan Jombang! Malam kedua kita menginap di rumah saudara Ranz di Sidoarjo. 

Selain tidak perlu mengeluarkan uang untuk menginap di penginapan, beberapa teman membawa perlengkapan masak sendiri, sehingga tidak perlu mampir ke rumah makan/warung. Bahkan aku tahu kadang di antara mereka 'menemukan' orang-orang yang baik hati yang memberi mereka makan gratis. (Yang juga belum pernah kualami dengan Ranz, kecuali kalau kita mampir ke rumah teman dan mereka memberi kita sarapan/makan siang/makan malam; yang sangat jarang kita lakukan.)

Kesimpulan tulisanku ini adalah, bagiku pribadi, bikepacking bukan satu kegiatan untuk belajar hidup sederhana. :) Selain dana yang cukup yang harus kita sediakan, waktu yang kita lewatkan dalam perjalanan sungguh adalah satu kemewahan! 

GL7 10.10 310513

Selasa, 28 Mei 2013

B2WC - Bike to Waisak Ceremony (Day 3)

Minggu 26 Mei 2013 (Borobudur – Jogja)
 
sebelum meninggalkan Taman Wisata Candi Borobudur
Hujan lebat yang turun semalam (dan membuat upacara Waisak tambah ricuh :() dan kelelahan membuat aku dan Ranz membatalkan rencana untuk kembali ke Punthuk Setumbu untuk menikmati sunrise yang katanya spektakuler itu. Alasan utama jelas: malas bangun pagi-pagi sekali dan gowes nanjak di tengah hawa dingin dan mata mengantuk. hihihihi ... 
 
handle bar Austin sekalian untuk tiang jemur handuk yang basah LOL
Setelah melakukan ‘ritual’ pagi dan packing, juga sarapan pagi yang disediakan tuan rumah yang ramah, aku dan Ranz meninggalkan guest house sekitar pukul 07.30. Sempat berfoto ria di papan nama TAMAN WISATA CANDI BOROBUDUR – untuk keperluan dokumentasi sekaligus narsis diri – kita sempat mampir ke sebuah toko pakaian karena aku butuh beli legging panjang. (Celana panjangku yang tinggal satu basah kuyup dan aku tidak mau mengenakan celana pendek waktu gowes jauh.)  Setelah mampir mini market untuk membeli air mineral, kita langsung bertolak menuju Candi Mendut.
 
Ranz menyapa Stephan (yang tidak kita sangka ternyata bule LOL)

kita bertiga di Candi Mendut

What a surprise dalam perjalanan, kita bertemu dengan seorang bikepacker yang mengaku berasal dari Jerman, bernama Stephan. Kita pun melanjutkan perjalanan bersama, kebetulan Stephan belum sempat mampir ke Mendut maka dia pun mengikuti kita mampir. (Jika tertarik pada kisah bikepacking Stephan, you can visit his blog at www.cyclingeurasia.com ) Di Mendut masih ada ‘sisa-sisa’ yang menunjukkan ada upacara ritual keagamaan yang dilakukan satu/dua hari sebelumnya. Stephan yang mengaku hanya bertemu dengan seorang bule dalam perjalanan lintas Sumatra selama kurang lebih 3 bulan, terheran-heran melihat begitu banyak turis bule di kawasan Borobudur dan Mendut. :)
 
Mendut temple

altar di dalam Mendut

di sisi lain di kawasan Candi Mendut

Dari Mendut, aku dan Ranz mengantar Stephan mencari Candi Ngawen yang terletak di Desa Ngawen Muntilan, sekitar 6 kilometer dari Candi Borobudur. Honestly, kita tahu Candi Ngawen dari peta yang dibawa Stephan. Kita ‘hanya’ membantu mencari lokasinya dengan bertanya kepada penduduk sekitar. Kebetulan aku dan Ranz penikmat turing menuju lokasi dimana candi-candi berada jadi kita senang-senang saja melakukannya. Yang sangat menarik dari Candi Ngawen adalah di bawah candi mengalir air yang tidak pernah berhenti sepanjang tahun sehingga jika kita menginjakkan kaki di atas tanah yang terletak di sekitar candi akan terasa tanahnya gembur. Menurut Om Wiki, Candi Ngawen merupakan candi yang dibangun oleh wangsa Syailendra (sama dengan Candi Borobudur). Candi ini terdiri dari 5 buah candi kecil, dua di antaranya mempunyai bentuk yang berbeda dengan dihiasi oleh patung singa pada keempat sudutnya. Sebuah patung Buddha dengan posisi duduk Ratnasambawa yang sudah tidak ada kepalanya nampak berada pada salah satu candi lainnya.


aku dan Stephan di belakang

jelang pertigaan Magelang - Borobudur - Muntilan

di Candi Ngawen
salah satu candi di kawasan Ngawen yang tinggal dasarnya

aliran air dari bawah candi


Dari Candi Ngawen, kita langsung gowes menuju jalan utama – Jalan Raya Magelang – Jogja. Di tengah jalan kita sempat mampir di sebuah rumah makan Padang yang bangunannya sederhana (yang bumbu masakannya aku yakin telah tercampur dengan bumbu masakan Jawa namun perpaduannya membuat rasa masakannya sangat enak). Satu lagi keistimewaan dari rumah makan ini adalah satu porsi makan, lauk apa pun yang kita ambil, semua berharga Rp. 7000,00. Stephan yang mengaku menyukai masakan Indonesia makan dengan lahap dan terheran-heran dengan harga yang murah. Dia bilang mungkin jika dia mampir sendiri ke rumah makan itu, dia akan harus membayar lebih mahal karena pengalamannya selama ini dia sering ‘dipalak’ untuk membayar makanan.
 
Stephan

Ranz di belakang selain sebagai sweeper juga sebagai fotografer :)

Stephan tidak bermasalah dengan masakan Indonesia :)

serba 7000! murah yaa?
 Kita sangat diuntungkan dengan trek yang terus menurun dari Muntilan sampai terminal Jombor sehingga kita mengirit tenaga. Atas petunjuk Cipluk, kita mengantar Stephan ke rumah Pak Jo di daerah Pajeksan (Dagen) Malioboro. Sekitar pukul 14.30 kita sampai di tempat yang kuingat kukunjungi bersama teman-teman B2W Semarang ditemani teman-teman B2W Jogja di bulan November 2008 lalu dan diperkenalkan sebagai “Bike Clinic”. Sayang ketika kita sampai disana Pak Jo sedang keluar dan baru akan pulang sekitar jam 18.00. Kita tidak bisa terus menerus menemani Stephan (meski kita sebenarnya tidak keberatan) karena kita harus segera kembali ke kota masing-masing. If only it were long holiday for both of us ... Kita terpaksa berpisah dengan Stephan disitu.
 
fotonya keren, ih! :)
Karena ketinggalan kereta P****x yang meninggalkan stasiun Tugu pukul 15.30, (aku juga tidak mendapatkan tiket bus J*gl*s*m*r, plus aku juga ga yakin apakah akan dapat tiket bus patas jika aku gowes ke Jombor) dan untuk mengirit waktu agar aku bisa tetap pulang ke Semarang pada hari itu (I have to go back to my lovely and loving Angie), aku dan Ranz melanjutkan perjalanan ke Solo naik taksi (hohohoho ... keren ya kita? LOL.) 
 
akhirnyaaa, aku punya foto di lokasi ini! :P
di rumah Pak Jo
 Sampai di Kerten sekitar pukul 18.10. Aku dapat bus sekitar duapuluh menit kemudian. Bus penuh, dan aku harus berdiri sampai Bawen, but I didn’t mind. yang penting aku pulang! Aku sampai rumah – safe and sound – sekitar pukul 21.30.

Thanks a million for my one and only beloved Ranz for everything.

Sampai jumpa di kisah gowes Nana dan Ranz berikutnya. Yeay!!!

GL7 08.22 280513

P.S.:
you can read the English version of this post here. :)

B2WC - Bike to Waisak Ceremony (Day 2)



Sabtu 25 Mei 2013 (Waisak Day)
siap meninggalkan penginapan
Kita harus buru-buru packing karena kata si empunya guest house, tamu yang booking kamar yang kita pakai akan datang sekitar pukul 09.00. Sekitar pukul 08.00 kita telah meninggalkan guest house untuk sarapan. Sangat mudah mencari warung makan di kawasan ini jadi kita tidak perlu khawatir bakal kelaparan. Saat sarapan kita melihat banyak bus pariwisata yang datang bersliweran, menuju tempat parkir taman wisata Candi Borobudur. Usai sarapan kita sempat keliling-keliling kawasan itu sejenak.
jalan di sisi tempat parkir Taman Wisata Candi Borobudur

menuju Punthuk Setumbu
trek mulai hampir unseliable

bagian trek offroad yang masih bisa kita lewati naik seli
Atas bantuan Elvi yang memberi nomor contact seseorang, kita pun mendapatkan penginapan untuk malam kedua. Lokasinya lumayan jauh dari Taman Wisata Candi Borobudur, dekat dengan Graha Padmasambava, yang juga ternyata dekat dengan Punthuk Setumbu, satu lokasi dimana kita bisa mendapatkan pemandangan yang spektakuler dari atas Borobudur. Setelah kita menaruh barang di kamar, kita melanjutkan gowes ke ... Punthuk Setumbu! Ranz memberikan excuse, “kita harus tahu dulu trek menuju lokasi seperti apa jika kita ingin kesana besok pagi-pagi sekali untuk mendapatkan pemandangan sunrise. 
angkat junjung seli yuukkk :P

ta ... taaaa :D

Trek awal masih sangat seliable, sedikit demi sedikit menanjak, sampai kita di pertigaan yang ada papan penunjuk belok ke arah kanan untuk tempat parkir. Trek mulai sulit untuk dilewati dengan naik seli hingga sampai di satu tanah lapang yang nampaknya memang untuk tempat parkir mereka yang ingin naik ke gardu pandang di Punthuk Setumbu. Semula Ranz ingin memarkir sepeda di tempat ini, namun aku ingin membawa serta sepeda kita hingga kita pun beroff-road ria. LOL. Di beberapa titik kita harus menuntun (karena kasihan pada seli kita yang imut-imut LOL) di beberapa titik lain boleh lah kita menaikinya, hingga sampai di satu titik, kita akan sangat kesulitan jika kita tetap keukeuh membawa sepeda. Disini akhirnya aku setuju untuk mengikuti saran Ranz untuk meninggalkan sepeda di situ. Dengan harapan tidak akan ada yang iseng membawa sepeda kita pergi, Shaun dan Austin pun kita gembok, dan kita melanjutkan perjalanan (trek berupa anak tangga yang lumayan curam). Kita sempat bertemu beberapa penduduk asal yang sedang mencari rumput, juga bertemu beberapa pendatang yang memiliki tujuan sama dengan kita: menikmati pemandangan dari ketinggian. 
setang Shaun

hey hey :)
penampakan Borobudur dari Punthuk Setumbu 1

penampakan Borobudur dari Punthuk Setumbu 2
Akhirnya sampai lah kita di ‘puncak’ tempat gardu pandang berada. Dengan kondisi mataku yang belor aku tidak bisa melihat candi Borobudur dengan jelas.  :( Kita tidak stay lama disini, setelah beberapa jepretan kamera untuk kepentingan dokumentasi, kita pun turun. Sesampai di lokasi kita meninggalkan Shaun dan Austin, kedua sepeda kita itu tetap mojok dengan manisnya. LOL. Dari situ jika saja kita naik mtb, akan sangat menyenangkan untuk melewati trek dengan mengayuh pedal, ketimbang menuntunnya di beberapa lokasi karena trek berupa anak tangga. Tapi kalau naik sepeda lipat kita yang imut, waduhhh, sayang dong ya? :)
di gardu pandang Punthuk Setumbu

Punthuk Setumbu
dengan latar belakang Borobudur

:D
Dari Punthuk Setumbu kita menuju Taman Wisata Candi Borobudur (kita tidak ke Candi Mendut untuk mengikuti seremoni detik-detik Waisak), mencari tempat penitipan sepeda motor yang mau menampung sepeda kita. Setelah memarkir sepeda, kita pun berjalan kaki menuju satu rumah makan Padang untuk makan siang. Suasana sudah sangat ramai dengan pengunjung yang telah menempatkan diri untuk menonton arak-arakan yang membawa air suci dan api Waisak dari Candi Mendut. Usai makan kita berdua langsung bergabung dengan masyarakat yang semakin lama semakin banyak yang memadati jalan. Banyak juga personil polisi yang ditempatkan untuk mengamankan area itu.



Sekitar pukul 13.30 rombongan arak-arakan mulai datang. Orang-orang yang berdiri di sekitarku berdiri menonton arak-arakan dengan rapi. Atas ‘usul’ seseorang yang kita temui semalam (yang menawari mengantar kita ke Punthuk Setumbu) untuk mengikuti rombongan arak-arakan agar bisa masuk ke dalam lokasi Taman Wisata Candi Borobudur. Dan ... aku beserta Ranz berhasil menyusup di dalamnya. :)
Sesampai di dalam, kita hanya duduk-duduk beristirahat; rombongan arak-arakan di belakangku ternyata masih sangat panjang. Karena kelelahan, aku pun membaringkan tubuh di rerumputan, di bawah rerindangan pohon, sembari mengistirahatkan mata, sementara Ranz duduk manis di sebelahku, menjaga. So sweet ya? LOL.


Sekitar pukul setengah empat sore, cuaca sangat mendung waktu itu, aku dan Ranz pun berjalan menuju monumen Borobudur yang nampak seperti diserbu puluhan ribu pengunjung. (Aku semula mengira, pada hari perayaan Waisak, Taman Wisata Candi Borobudur ditutup untuk umum, sehingga aku merasa harus menyusup di rombongan arak-arakan yang membawa air dan api suci Waisak. In fact, I was wrong!) Honestly, aku selalu merasa tidak nyaman jika berada di tengah-tengah ribuan orang seperti itu, namun nothing we could do toh ini adalah pilihanku sendiri – menghadiri upacara perayaan Tri Waisak. Aku dan Ranz hanya naik ke undakan yang pertama – Kamadhatu – karena Ranz tidak berhasrat untuk naik ke dua undakan berikutnya (Rupadhatu dan Arupadhatu). Suasana sakral yang ingin kualami ketika berkunjung ke Borobudur (setelah membaca novel LALITA karangan Ayu Utami) gagal total mungkin karena suasana yang sangat amat ramai. Setelah naik ke undakan pertama, kita belok kanan (harusnya searah jarum jam ya? kalau menurut Om Wiki sih) kemudian jalan memutar. Ketika berjalan memutar inilah Ranz menemukan dimana panggung untuk mengadakan upacara Waisak diselenggarakan. Usai memutari Kamadhatu, Ranz mengajakku turun dan langsung menuju ke panggung.
sebelum hujan mengguyur

jelang usai acara, aku sudah jelek sekali LOL

(Untuk berjalannya upacara perayaan Waisak 2557 tahun 2013 ini, check this link ya?.)
Usai mengikuti upacara perayaan Waisak, aku dan Ranz kembali ke guest house tempat kita menginap di kegelapan malam, karena Ranz lupa membawa lampu senter, sedangkan lampu yang menempel di handle bar Austin nyalanya sudah sangat lemah. :) Kita sampai di guest house sekitar pukul 23.00. 

Usai mandi dan menikmati dua gelas teh panas yang yummy yang disediakan tuan rumah, aku dan Ranz tidur.

To be continued.

B2WC - Bike to Waisak Ceremony (Day 1)



TOUR DE BOROBUDUR FOR WAISAK
 
foto dijepret hari Minggu, jelang gowes ke Jogja
Sudah lumayan lama aku ‘nyidam’ berkunjung ke Candi Borobudur, entah naik kendaraan bermotor atau pun sepeda, untuk merasakan sensasi ‘solitude’ di puncaknya, di sore/senja hari maupun pada waktu fajar. ‘Keriuhan’ beberapa teman yang bercerita tentang pemandangan menakjubkan saat pelepasan ribuan lampion sebagai penanda berakhirnya prosesi upacara Waisak membuatku ingin mewujudkan keinginan itu pada peringatan Hari Raya Trisuci Waisak tahun ini. (FYI, di akhir kisah, aku tak merasakan sensasi yang kuidamkan. :( Next time deh. :) )

My biking soul mate – Ranz – selalu antusias dengan ideku untuk gowes kemana pun juga sehingga dia langsung setuju ketika kuajak ke Borobudur. Sempat bingung apakah kita akan berangkat dari kota masing-masing (aku dari Semarang dia dari Solo) dan bertemu di Magelang atau berangkat bareng, entah dari Solo atau dari Semarang. Akhirnya Ranz yang memang punya waktu lebih luang setuju untuk menjemputku terlebih dahulu baru kita berangkat bareng. Hari Kamis 23 Mei 2013 sekitar pukul 19.00 dia telah sampai di Semarang.

Jumat 24 Mei 2013 (Semarang – Borobudur)

Aku berangkat ke kos Ranz pukul lima pagi, sementara Ranz sedang melaksanakan ritual paginya. :) Kita meninggalkan kos Ranz sekitar pukul 05.30. Pagi nan mendung, situasi traffic masih belum menggila, perjalanan kita pun lancar sampai di pos pemberhentian pertama, RM Bu Surti di dekat alun-alun Ungaran pukul 08.00. (Thanks to OmIrwan yang telah memperkenalkan warung murah meriah namun makanannya lezat ini.)
 
W.M Bu Surti dekat alun-alun Ungaran
Usai sarapan kita melanjutkan perjalanan. Sampai Bawen kita sudah lumayan ‘berpengalaman’ karena beberapa kali melewati tanjakan Lemahbang yang elevasinya tidak jauh beda dari tanjakan Gombel namun trek lebih pendek. Dari Bawen kita belok kanan ke arah Ambarawa. Ternyata trek dipenuhi turunan baik tajam maupun halus. Beberapa kali berhenti untuk kepentingan dokumentasi alias narsis diri LOL di beberapa titik; sekali untuk membeli memory card buat kamera Ranz; sekali ke mini market untuk membeli air mineral dimana kita disapa oleh seorang polisi bertanya kita mau kemana; sembari mengundang kita untuk beristirahat di polsek terdekat jika kita butuh rehat. Tak lupa juga berpesan agar hati-hati karena jalanan ramai.




Sekitar pukul 11.00 kita sampai di tanjakan pertama di daerah Jambu, dimana disitu ada ‘peringatan’ AWAS TANJAKAN SIAPKAN GANJEL BAN. LOL. Jalanan benar-benar ramai hari itu meski tidak sampai macet, namun kita harus benar-benar ekstra hati-hati. Sekitar 45 menit kemudian kita sampai EVA COFFEE HOUSE dimana kuputuskan untuk mampir beristirahat sembari ngemil sesuatu. Kwetiau gorengnya enak lho disini (to my taste lah), juga tahu goreng yang entah mengapa diberi kuah yang enak juga disrutup. LOL. Ranz sempat nunut shalat dzuhur di musholla yang terletak di belakang restauran.
 
arrived at Eva Coffee House!
Ambarawa!

siapkan ganjel ban! :D

tanjakan di daerah Jambu

Setengah jam kemudian kita melanjutkan perjalanan. Melewati trek rolling yang berkelok-kelok ini sangat membuat diriku sendiri amazed karena trek ini zaman kuliah kulewati seminggu sekali naik bus. Beberapa kali naik motor. Dan ... kali ini aku melewatinya naik sepeda! Wow to myself! wkwkwkwk ...
 
di gerbang selamat jalan Kabupaten Semarang

foto jepretan Ranz ini keren yaaa? :)

di belokan!

Akhirnya kita pun sampai di terminal Secang dimana aku telah meyakinkan Ranz bahwa dari Secang menuju Magelang, trek akan sangat amat menyenangkan: menurun halus! YAY! Masuk kota Magelang, aku pun bernostalgia zaman awal aku kuliah S1, saat terminal Magelang terletak di dekat pusat kota, di Jalan Pemuda. (Semenjak terminal pindah, otomatis aku sangat jarang lewat Jalan Pemuda karena bus yang dari Semarang harus belok kiri di pertigaan Kebon Polo, yang dari Jogja belok kanan dari Mertoyudan.) Ranz sempat mengutarakan keinginan untuk malam pertama kita menginap di kawasan kota saja, untuk ‘sedikit’ mengeksplor kota. Namun sejak awal aku sudah ingin langsung saja menuju Borobudur, maka kita hanya berfoto-foto ria saja di alun-alun Magelang, menyusuri jalan utama Magelang pelan-pelan, hingga kita sampai Mertoyudan, dan mulai memacu sepeda dengan lebih cepat sampai Mungkid.
 
di satu tempat yang kita lewati :)

Magelang, here we come! :)

Di pertigaan Mungkid ada petunjuk arah dan jarak menuju Bobobudur: kurang lebih 20 kilometer. Lhah, berarti jarak Semarang – Borobudur sekitar 100 kilometer yak? Setelah belok kanan, ‘bonus’ jalan menurun tetap menanti kita, sehingga kita pun mengirit tenaga dan waktu. Sekitar pukul setengah lima sore kita tiba di depan papan bertuliskan TAMAN WISATA CANDI BOROBUDUR. Setelah foto-foto secukupnya, kita hunting penginapan. Well, kita tahu bakal sulit mencari penginapan di kawasan Borobudur pas/jelang hari Waisak, namun kita tidak patah semangat. Lumayan kita mendapatkan penginapan yang tidak begitu jauh tempat wisata, meski biaya sewa menginapnya bisa dianggap mahal: sebuah kamar ukuran sekitar 3 x 4, dengan fasilitas berupa kipas angin, double bed, dan kamar mandi luar Rp. 250.000,00. Namun kamar ini hanya kosong satu malam, karena pagi harinya telah dipesan seseorang. 
 
(tumben) Austin mejeng sendirian yaaa? :D

jelang di pertigaan Mungkid

gaya Ranz yang sok cool :-P

yayyy! we are at Borobudur again!!!
Setelah mandi dan minum es teh sebagai ‘welcoming drink’ dari guest house tempat kita menginap, kita keluar untuk makan malam. Si empunya guest house memberi informasi dimana kita bisa makan malam, meski sebenarnya tidak sulit mencari warung makan di daerah itu. Setelah makan (sepiring nasi goreng + satu porsi ayam bakar untuk kita berdua), kita mampir ke mini market untuk membeli air mineral. Disini Ranz kehilangan sebuah lampu yang dia tinggal di seatpost sepeda. 
 
malam yang cerah
Dari mini market, kita hanya duduk-duduk di depan tulisan TAMAN WISATA CANDI BOROBUDUR, ngobrol sambil menikmati rembulan yang bersinar dengan indah. Cuaca malam itu sangat cerah. Kita pun tentu berharap pada malam berikutnya, saat dilaksanakan perayaan seremonial Waisak, cuaca pun juga cerah. Saat ngobrol, kita melihat banyak mobil yang parkir di daerah situ, dimana kata seorang penduduk sekitar mereka adalah pengunjung yang tidak mendapatkan hotel untuk menginap, atau merasa cukup beristirahat dan tidur di dalam mobil saja. Orang yang sama juga mencoba membujukku dan Ranz untuk ikut dia ke satu tempat yang disebut ‘Punthuk Setumbu’ jka kita ingin mendapatkan pemandangan sunrise yang spektakuler. Untuk itu, dia minta kita membayar masing-masing Rp. 15.000,00, sebagai ganti biaya mengantar. Namun tawaran itu kita tolak. Orang yang sama mengatakan bahwa jika kita ingin mengadakan ‘sunrise tour’ ke Borobudur, kita harus membeli tiket khusus, harganya Rp. 280.000,00 per orang. (Nah, ini yang kuimpikan, but kok mahal ya tiketnya? :( )

Sekitar pukul 21.30 kita kembali ke penginapan untuk beristirahat.

To be continued.