Rabu, 20 Juli 2016

SEMARANG VELO GIRLS ON OUR 1st TOUR Day 2

Day 2 14 Juli 2016 SUSUR SELOKAN MATARAM HINGGA KE RATU BOKO

Pukul lima pagi kita memulai kesibukan di hari kedua ini. Sebagian mulai mandi, sebagian sarapan, sebagian masih molor, menunggu kamar mandi kosong. LOL. Sekitar pukul 07.30, kita sudah siap meninggalkan hotel Limaran 2.

di depan hotel Limaran 2

Kita janjian bertemu dengan Radit di bunderan UGM pukul 08.00. Pokoknya, jika kita berada di kawasan dekat bunderan UGM, wajib hukumnya untuk bernarsis ria dengan latar belakang tulisan UNIVERSITAS GADJAHMADA, dan jika cuaca cerah, gunung Merapi di Utara bisa ikut terlihat.



Sebelum mulai menyusuri selokan yang dibangun sejak zaman Kolonial Belanda, Avitt harus membetulkan pedal sepedanya di tukang tambal ban di seberang RS Panti Rapih. Setelah itu, kita kembali masuk kawasan UGM karena salah satu alumninya – aku LOL – ingin berfoto-foto di Gedung Pusat. J


gedung pusat, a.k.a rektorat :D

Setelah meninggalkan kawasan UGM, kita mulai menyusuri Selokan Mataram. Di tahun 2016 ini, bagiku dan Ranz, ini adalah kali kedua kita menapaki jalur yang sama. Yang pertama, bulan Februari, seusai acara ultah JFB.


Radit mengajak kita lewat jalan yang biasanya hanya dilewati pejalan kaki :D





salah satu trek di pinggir Selokan Mataram


Panas mentari terasa cukup menyengat, meski belum terlalu siang. Bisa dipahami ketika kita sampai kawasan Candi Sambisari, yang pertama kita serbu adalah angkringan. J semua pesan es teh, kecuali Radit. Dia memesan teh hangat. Kutengarai, dia tidak minum es. LOL. Barangkali tubuhnya sama “jadul”nya dengan selera musiknya. LOL. (Orang "jadul" biasanya minum hangat, bukan es. LOL.)


tempat kita "ngangkring"

latar belakang : Candi Sambisari

candi utama Sambisari

Kita menyempatkan waktu untuk masuk ke Candi Sambisari setelah “mengademkan” diri. J ga pake lama, yang penting adalah foto-foto untuk dokumentasi bahwa kita masuk ke dalam Candi. J

Usai merasa cukup puas bernarsis-ria di Candi Sambisari, kita kembali menyusuri Selokan Mataram. Tujuan berikutnya adalah Candi Kalasan. Untuk ini, kita “akhirnya” harus meninggalkan Selokan Mataram, kembali ke “peradaban”, Jalan Solo. LOL. Candi Kalasan terletak di sebelah Selatan jalan utama Jogja – Klaten.



candi Kalasan nan megah namun rapuh :(

Kondisi Candi Kalasan yang kurang aman untuk “dipanjat” LOL, membuat kita tidak tinggal lama disana. Kita cukup memandang candi dari jauh. Aku dan Ranz terakhir kesini tahun 2014, aku masih menyempatkan diri masuk kedalam relung candi.

Dari Candi Kalasan, kita menyeberang jalan utama lagi, untuk menyambangi Candi Sari. Bangunan Candi Sari yang dulu adalah asrama untuk para bikkhu mempelajari agama Buddha masih sangat kokoh, jika dibandingkan Candi Kalasan. Kita berenam masuk kedalam candi dan merasakan sejuknya hawa di dalam.
Candi Sari

di "pintu masuk" Candi Sari

Setelah meninggalkan Candi Sari, lagi-lagi kita menyeberang jalan, setelah memarkirkan sepeda di satu tempat parkir yang memang disediakan. Kali ini bukan untuk mengunjungi candi, melainkan menikmati segar dan nikmatnya segelas es dawet! Yuhuuu ... Dawetnya yang halus, bisa langsung masuk kerongkongan, tanpa perlu dikunyah dulu, sehingga buatku untuk menghabiskan segelas es dawet, aku tidak butuh waktu lama. J


masjid unik yang kita lewati

nge-es dawet

Dari warung es dawet, kita langsung menuju hotel Galuh, tempat kita menginap di malam kedua kita “mbolang”. Untuk penginapan ini, Ranz telah booking satu kamar untuk 5 orang (karena waktu merencanakan turing ini, kita hanya berlima, tanpa Hesti). Kamar untuk 5 orang ini, tanpa AC, harga sewanya Rp. 385.000,00, lebih mahal ketimbang hotel Limaran 2.


kamar tempat kita menginap di Hotel Galuh

Kita sampai hotel Galuh pukul 14.00. Setelah istirahat sebentar, pukul 15.00 kita kembali mengayuh pedal sepeda menuju arah Selatan. Tujuan kita sore ini adalah (reruntuhan) Kerajaan Ratu Boko. Jika sepanjang menyusuri Selokan Mataram trek yang kita lewati full datar, kali ini kita harus menapaki tanjakan.



Sekitar pukul 16.00 kita telah sampai di tempat parkir. Atas “usaha” Radit, kita bisa masuk kedalam kawasan wisata ini g-r-a-t-i-s! Ya! Gratis! Lumayaaan. LOL. (Harga tiket masuk Rp. 25.000,00)



Well, mengapa Ratu Boko? Instead of Candi Plaosan yang juga tentunya bagus difoto di saat senja? Shhhttt ... ini gegara para “korban” film AADC2. LOL.








Berhasilkah kita membidik foto sunset sebagai latar belakang pintu gerbang reruntuhan kerajaan Ratu Boko? Sayangnya, kita gagal mendapatkan apa yang kita inginkan karena sang mentari yang malu-malu bersembunyi di balik awan kelabu. LOL. Apa boleh buat? Ga hanya kita yang “kecele”. LOL buanyaaak pengunjung lain yang juga terpaksa gigit jari. J

Sekitar pukul 18.00 kita meninggalkan kawasan Ratu Boko, kembali ke penginapan.

To be continued.


LG 13.00 20/07/2016

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar