Minggu, 07 April 2013

Gowes Semarangan : Ke Candi Tugurejo Jrakah

Belum banyak orang Semarang yang tahu bahwa di daerah Jrakah ada satu benda cagar budaya peninggalan kerajaan Majapahit yang berupa tugu. Konon tugu ini dulu merupakan petunjuk perbatasan antara kerajaan Majapahit dan kerajaan Pajajaran. :)

Tugu, benda cagar budaya

Hari Minggu 7 April 2013 aku dan Ranz gowes kesana, ini kali kedua buat Ranz, namun kali pertama buatku. Lokasinya tidak jauh dari rumahku, hanya kurang lebih 8 kilometer. Dari arah Sungai Banjirkanal, kita memilih rute menuju Pamularsih, sehingga ini berarti kita melewati 'tanjakan' "setinggi" hanya 70 m diatas permukaan laut. :D Mengikuti jalan Pamularsih kita akan sampai bunderan Kalibanteng, dimana pembangunan flyover yang tak kunjung usai. Dari Kalibanteng, kita memilih arah Barat, jalan Siliwangi. Terus sampai pertigaan pasar Jrakah, kita menyeberangi traffic light, terus ke arah Barat. Setelah kita sampai RSU Tugu, kita menyeberang. Di seberang RSU, ada areal kuburan, di sebelah kanannya ada jalan masuk, nah, kita mulai menyusuri jalan setapak disitu.


Tak jauh menyusuri jalan setapak, kita akan melihat bangunan Candi dari kejauhan karena lokasinya yang cukup tinggi. Sangat mudah menemukan lokasi Tugu ini. Oleh si penjaga lokasi (kalau tidak salah namanya Pak Sumarto) dijelaskan bahwa nama kawasan 'Tugurejo" berasal dari bangunan yang berbentuk tugu ini.

dari kejauhan kita bisa melihat puncak gerbang masuk
jalan setapak menuju lokasi

Di sebelah Tugu oleh pemerintah dibangun candi di pertengahan dekade 1980-an, untuk 'menemani' Tugu yang nampak kesepian. :) Tak jauh dari lokasi candi, kita akan menemukan tangga menuju bawah, dimana jika kita mengikutinya, kita akan sampai ke sebuah gua dimana konon dulu dipakai oleh seseorang yang kuburannya sekarang dikeramatkan sebagai tempat untuk bersemedi / meditasi.

setelah melewati gerbang masuk
candi yang baru dibangun tahun 1984, menggunakan batu kali dari Muntilan
Austin, tugu, dan candi

Dari Pak Sumarto aku mendapatkan informasi bahwa yang merawat cagar budaya ini adalah mereka yang juga mengurusi Candi Prambanan, justru bukan pemerintah kota / daerah Semarang. Pak Sumarto sendiri diberi honor sekadarnya untuk membersihkan dan merawat lokasi yang selayaknya mendapatkan perhatian yang secukupnya dari pemerintah daerah.

Kebetulan waktu aku datang di lokasi, tak lama kemudian ada seseorang yang datang, berusia di atas 60-an, seorang diri. Yang pertama kali dia lakukan adalah membantu Pak Sumarto membersihkan kawasan itu dengan menyapu dengan sapu lidi. Berikutnya aku mulai mencium bau hio, dan tak lama kemudian aku melihat orang itu sedang melakukan ibadah dengan cara berdiri di samping Tugu, dia berdiri tepat di atas bekas jejak kaki yang ada. Selesai beribadah, dia melanjutkan menyapu kawasan tersebut. Dengan ramah dia menjelaskan bahwa dia menyukai daerah itu karena sunyi sehingga memberi suasana damai. 

bekas tapak kaki yang berada di samping tugu
prasasti

Berikut foto-foto yang sebagian dijepret oleh Ranz beberapa bulan lalu waktu dia gowes kesini bersama Andra dan Wawan, sebagian lagi dijepret pada tanggal 7 April 2013.

bagian dalam candi
goa tempat bermeditasi
tidak pernah ketinggalan: NARSIS! LOL
Aku berencana kapan-kapan kesana lagi, membantu pak Sumarto bersih-bersih kawasan itu, seperti yang dilakukan oleh seorang laki-laki yang datang sendirian, yang kuceritakan di atas. :)

C-net 21.42 070413

2 komentar:

  1. Hello Mbak Nana..
    Keren banget pake foldingbike gaya backpackerny

    Salam
    Indy

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa .... memang asyiiikkkk dan keren! hihihi ...
      thanks for dropping by Indy :)

      Hapus