Jumat, 02 Agustus 2013

Gowes Mudik di Musim Liburan

Bagi pecinta tantangan bersepeda dari satu kota ke kota lain (alias bikepacking) event libur lebaran menawarkan satu sensasi yang lain : gowes mudik! Gowes mudik jelas menantang sekaligus mengasyikkan, sekaligus sakral mengingat di ‘akhir’ bikepacking adalah kota kelahiran kita dimana kita akan bertemu dengan orangtua atau anggota keluarga lain yang sudah sekian lama tidak kita temui karena kesibukan bekerja sehari-hari.

Yang pasti adalah anti macet jika kita memutuskan untuk gowes mudik ini. Kita bisa melipir di pinggir-pinggir jalan ketika jalanan penuh dengan kendaraan bermotor. Selain itu tidak perlu khawatir bakal kehabisan tiket kereta, bus, maupun pesawat. J Gowes pun semakin nyaman dengan semakin banyak penyedia barang maupun jasa yang melihat peluang mendapatkan keuntungan dari tradisi mudik ini agar para pemudik semakin nyaman dalam perjalanannya.

  1. Pom Bensin


Pom bensin yang tersedia sekarang ini sudah menawarkan barang maupun jasa yang lebih banyak dibandingkan pom bensin sekitar satu dekade yang lalu. Jika dulu orang pergi ke pom bensin hanya untuk membeli bahan bakar minyak, sekarang banyak pom bensin yang juga menawarkan toilet maupun kamar mandi yang cukup bersih maupun musholla. 
Dengan hanya membayar beberapa ribu rupiah, kita bisa sewaktu-waktu mampir ke satu pom bensin ketika kita perlu membuang hajat maupun ketika waktu shalat telah datang.
Selain itu, banyak juga pom bensin yang juga dilengkapi dengan mini market untuk memenuhi kebutuhan para konsumen yang mampir. Bahkan di era globalisasi sekarang ini, juga ada pom bensin yang memberikan fasilitas free hotspot area!

rest area di kawasan Lasem

Di musim mudik atau balik, pom bensin tersebut juga banyak yang melengkapi diri dengan menyediakan ‘rest area’ yang lebih nyaman ketimbang hanya musholla yang kadang disambangi orang untuk beristirahat karena kelelahan dalam perjalanan.
Pom bensin adalah sahabat para goweser – maupun turis lain yang mengendarai kendaraan bermotor – dalam perjalanan jauh.

2.    Kantor Polisi

Di masa mudik/balik, kantor polisi pun menjadi tempat para ‘traveller’ mampir untuk bertanya arah yang tepat menuju kota yang kita tuju. Selain itu, beberapa kantor polisi pun ‘disulap’ menjadi rest area. Tidak ada tempat yang lebih aman untuk beristirahat dari pada kantor polisi, plus gratis!

3.    Masjid / vihara / tempat ibadah lain

Bagi yang belum pernah melakukan perjalanan jauh, jangan abaikan tempat ibadah ini. Masjid dll itu tidak hanya bisa disinggahi untuk melakukan ibadah, namun juga kita bisa beristirahat sejenak sebelum tubuh kita fit kembali untuk melanjutkan perjalanan lagi.

4.    Rest area

Melihat kemungkinan mendapatkan untung, banyak produsen makanan maupun minuman yang dengan sengaja menyediakan tenda-tenda di tempat-tempat strategis sehingga para ‘traveller’ bisa mampir untuk beristirahat, sekaligus ... belanja barang yang mereka jual!

rest area jelang masuk Tuban
tenda istirahat di sebuah pabrik kacang Pati

Jika kita beruntung, kadang kita bisa menemukan rest area yang menawarkan takjil untuk berbuka maupun makan ala kadarnya untuk sahur, terutama kalau kita sampai di rest area tersebut pada saat berbuka maupun sahur. Tentu saja gratis.

Pantai Gedong Berseri Caruban

Kelebihan gowes adalah bahwa kita akan lebih awas melihat kemungkinan mendapati tempat-tempat wisata yang belum dikenal umum. Tahun lalu waktu bikepacking Semarang – Tuban beberapa hari setelah Lebaran, aku dan Ranz secara tidak sengaja menemukan Pantai Gedong Berseri Caruban yang terletak di perbatasan Rembang – Lasem, sekitar 7 kilometer dari Museum RA Kartini ke arah Timur. Pantai berpasir abu-abu terang ini sangat bersih dan masih ‘perawan’ karena nampak masih belum banyak terjamah pengunjung maupun penjual makanan + minuman, apalagi cenderamata. Pantai ini terletak sekitar 4 kilometer dari jalan raya Rembang – Lasem. Karena terletak di pesisir utara Pulau Jawa, pantai ini tidak memiliki ombak yang tinggi.

altar Kelenteng Gie Yong Bio

Selain mampir ke Pantai Gedong Berseri, kita juga mampir ke Pantai Dampo Awang Rembang, Museum RA Kartini Rembang, Kelenteng Tjoe An Kiong dan Gie Yong Bio di Lasem yang konon merupakan kelenteng tertua di Pulau Jawa. Sebagai kota yang juga dikenal sebagai “Le Petit Chinois” alias Tiongkok Kecil, Lasem memiliki gedung-gedung yang nampak bangunannya terpengaruh oleh budaya China, juga pintu-pintu masuk ke ruamh-rumah penduduk.

Kelenteng Kwan Sing Bio

pantai di seberang Terminal Baru Tuban

Di Tuban kita mampir ke pantai yang terletak di seberang terminal bus yang baru. Selain itu juga ke Kelenteng Kwan Sing Bio yang diakui sebagai kelenteng terbesar se Asia Tenggara dan memiliki kekhasan patung kepiting di atas gerbang masuk dan bukannya naga seperti kebanyakan kelenteng lain. Selain itu, Kelenteng ini juga dipercaya sebagai satu-satunya kelenteng yang langsung menghadap laut lepas. Di hari terakhir sebelum mengakhiri petualangan gowes mudik, kita mampir ke Goa Akbar Tuban yang terletak di atas sebuah pasar, di pusat kota Tuban. Tuban memang terkenal dengan julukannya “kota seribu goa’. Seperti namanya, goa ini berukuran akbar alias besar, dan lapang, juga memiliki lorong-lorong yang panjang. Di bawah goa ada beberapa sumber air yang memancar dengan deras sehingga dibuat kran agar bisa diatur aliran air itu.

Goa Akbar

Goa Akbar

Pastikan bahwa gowes mudik/balik anda aman, nyaman, dan menyenangkan, sembari menikmati keindahan tanah air kita.


IB 20.35 23/07/13

2 komentar: