Kamis, 08 September 2016

Sepeda Lipat

Wikipedia menjelaskan bahwa sepeda lipat mulai diproduksi sekitar akhir abad 19. Di link yang sama juga disebutkan bahwa ternyata sepeda lipat sangat berguna di zaman perang, terutama pada Perang Dunia kedua, tahun 1942 - 1945. Ga nyangka kan? :)

foto kuimpor dari sini

Namun, semoga dipahami, jika secara pribadi aku baru ngeh ada jenis sepeda yang bisa dilipat di tahun 2008, di tahun pertama kali aku mengenal beberapa orang yang kemudian dengan mereka kita kita berkumpul di bawah satu 'organisasi', yakni B2W Semarang. Om Budianto a.k.a Om Budenk adalah orang pertama yang kukenal memiliki sepeda lipat. (Eh, better late than never kan ya? :D )

Maka, di tahun 2008 itulah pertama kali aku mencoba menaiki sepeda lipat. Rasanya? Aneh! LOL. Setang yang bisa dilipat itu tentu jauh lebih ringan ketimbang setang jenis sepeda lain yang pernah kunaiki, misal sepeda mini atau sepeda gunung.

Setelah Om Budi, aku mencoba sepeda lipat milik seorang teman lain, Firman. Sepedanya rasanya jauuuh lebih mengerikan dinaiki, ketimbang sepeda milik Om Budi. LOL. Akhirnya kuketahui, ternyata jargon 'ana rega ana rupa' alias harga mahal tentu dibarengi dengan kualitas yang lebih baik, pun berlaku pada jenis sepeda lipat. LOL. Konon, sepeda milik Om Budi harganya lebih dari 3 juta rupiah (waktu itu! coba bayangkan berapa harganya sekarang.) Sedangkan sepeda milik Firman (ketua pertama B2W Semarang) harganya di bawah satu juta rupiah. Waktu menaikinya, rasanya aku bakal dengan mudah diombang-ambingkan angin. LOL. Sangat ringkih. LOL.

Austin waktu masih anyar gres! :D fresh from the box :p

Waktu itu, sepeda lipat belum lazim ditemukan di komunitas pesepeda, apalagi di masyarakat luas. Aku sendiri ga pernah berpikiran bakal punya sendiri. :) Harganya mahal je. :( Maklum, sebagai seseorang yang tidak begitu memperhatikan harga sepeda (waktu itu), lumrahnya harga sepeda kan ya paling-paling cuma beberapa ratus ribu rupiah. :) Hanya orang gila sepeda yang bakal mengeluarkan uang jutaan rupiah hanya untuk membeli sepeda. LOL. Pikirku waktu itu. :D

Ternyata ... semesta berkehendak lain. Kakakku satu-satunya yang tinggal di Cirebon menawari adik-adiknya yang tinggal di Semarang untuk memiliki sebuah sepeda lipat. Untuk apa? Ya ... hanya sekedar untuk memiliki. LOL. Desember 2010 sebuah sepeda lipat dengan diameter ban 20 inchi, mulai menghuni garasi rumah. Meskipun begitu, aku sama sekali tidak, atau belum, tertarik untuk menaikinya. :)

FYI, menurut artikel ini, sepeda lipat mulai populer di Indonesia semenjak komunitas bike to work alias komunitas para pekerja bersepeda merambah di banyak kota. Well, masuk akal ya jika kukatakan aku mulai mengenal jenis sepeda lipat di tahun 2008. :)

Snow White

Akhirnya aku tergoda menaiki sepeda lipat yang dibelikan kakakku, yang kuberi nama Snow White, ketika ada event gathering korwil B2W Jateng - DIY di Jogja di bulan Januari 2011. Eh, ternyata not bad lho! :D (Aku datang ke event ini karena dipacu kangen Jogja :D ) Berikutnya ikut event Jogja Attack Maret 2011.

Dan ... aku ga bisa berhenti mbolang naik sepeda lipat semenjak itu. Hahahahahah ...

Btw busway, sekarang sudah banyak jenis dan merek sepeda lipat, tidak hanya yang harganya berjuta-juta, namun yang hanya sekian ratus ribu rupiah. Meski nampaknya para pengguna sepeda lipat di masyarakat belum tentu mereka yang butuh sepeda lipat untuk meringankan mereka menempuh jarak jauh, dimana sepeda bisa dilipat dan dimasukkan dalam moda transportasi lain, misal bus atau kereta api. Banyak anak-anak yang kulihat naik sepeda lipat berangkat ke sekolah, atau hanya sekedar sepedaan di sekitar rumah. I bet, orangtua mereka mungkin berpikir sepeda lipat ini cocok untuk anak-anak karena diameter bannya yang hanya 16 inchi atau 20 inchi sehingga dianggap sepeda anak-anak.

Apa pun itu, biar sajalah yaaa?

IB180 20.20 08/09/2016

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar