Selasa, 18 Juli 2017

LIVE! Bikepacking Sidoarjo – Semarang Day 1

LIVE! 
Bikepacking Sidoarjo – Semarang Day 1

Aku menyadari bahwa aku begitu alive, begitu hidup dengan sepenuh kegairahan, tatkala mengayuh pedal dengan jarak tempuh ratusan kilometer di depan, dalam sehari. Bersama soulmate-ku, Ranz. J

Senin 3 Juli 2017

Hari Senin 3 Juli 2017 kita sampai di rumah Simbok Poncokusumo sekitar jam 08.00 untuk mengambil sepeda. Ini adalah kali pertama aku dan Ranz bersepeda antar kota dengan naik mtb. Biasanya kita naik sepeda lipat, berangkat kita naiki, pulangnya sepeda kita lipat, masuk ke dalam bagasi bus atau kereta.

Sekitar pukul 11.00 kita telah sampai Wonoayu, rumah sepupu Ranz dimana kita akan menginap semalam. Waktu bersepeda dari rumah Simbok ke Wonoayu, kita tidak berhenti untuk berfoto, kupikir hari Selasa waktu mulai gowes antar kota, kita akan lewat Sidoarjo lagi, buat foto2, namun ternyata tidak. Ya sudahlah. Jadi ada alasan next time main ke Sidoarjo lagi. heheheheh ...

Siang itu aku bobo J meski semalam aku kadang tertidur kadang melek selama perjalanan Semarang – Sidoarjo, mataku tetap butuh tidur yang sungguh-sungguh tidur. J sorenya aku dan Ranz jalan-jalan di kompleks perumahan itu, bersama 2 keponakan Ranz. Kata Ranz, perumahan ini dibangun sebagai ganti tempat tinggal para korban lumpur Lapindo.

Selasa 4 Juli 2017 Gowes Sidoarjo - WBL 98 kilometer

Dari google map, kita dapati bahwa jarak yang akan kita tempuh hari ini sekitar 90 kilometer, jika dari Wonoayu kita langsung menuju arah Krian – Gresik. Namun jika kita ke arah kota Sidoarjo terlebih dahulu, kemudian lewat Surabaya, jarak yang kita tempuh sekitar 110 km. Seperti biasa, aku dan Ranz ‘suut’ untuk menentukan siapa yang akan memutuskan. Kekekekeke ... Ranz menang, jadilah kita langsung belok ke arah Krian, tidak kembali ke arah Sidoarjo.

Pukul 06.30 kita sudah siap untuk mulai bersepeda. Namun sepupu Ranz meminta kita untuk menunggunya mempersiapkan sarapan.

di depan rumah sepupu Ranz

Pukul 08.00 kita meninggalkan rumah sepupu Ranz, setelah sarapan nasi pecel. Tak lupa kita juga dibekali satu plastik kacang telor dan tiga buah jeruk. Sebenarnya kita juga diminta membawa bekal nasi + pecel dan lauknya, tapi dengan sangat terpaksa kita tolak karena tas pannier sudah penuh, tak bisa kita selipin apa pun lagi.

Seperti yang kutulis di atas, kita langsung belok menuju arah Krian, lanjut ke Legundi. Trek yang kita lewati lumayan berkontur, rollingnya cukup terasa. Yang agak ‘mengganggu’ adalah sepanjang jalan, kita terus menerus dipepet oleh truck-truck yang melewati jalan yang sama. Kita benar-benar harus ekstra hati-hati. Matahari yang bersinar super cerah pun dengan mudah membuat kita berkeringat. J yeay.

Now and again, kita mengecek google map untuk memastikan kita berada di rute yang tepat. Ranz memilih jalur pantura untuk mempermudah perjalanan, karena jika lewat kota, meski terkadang mempersingkat jarak tempuh, namun jika tidak tahu, kita malah justru berputar-putar. J

Ranz tidak terlalu memacu sepeda dengan kencang, cukup dengan kecepatan rata-rata 25 kilometer per jam (menurut cyclometer yang menempel di handle bar Cleopatra). Setelah menempuh kurang lebih 15 kilometer kita mampir di satu mini market untuk membeli air mineral, air di bidon telah habis. (waktu berangkat bidon tidak terisi penuh.) meski baru sekitar jam setengah 10, panasnya terasa sekali.


Di satu bunderan (terminal kota Gresik, kalo tidak salah), kita salah belok. Bukannya menyusuri jalan pantura, namun kita justru masuk kota. Ranz baru ngeh ketika kita melewati pintu masuk tol, dan setelah sekian kilometer kita tidak berpapasan maupun dilewati truck. Nah lo. LOL. Kejadian ini membuat Ranz semakin rajin ngecek google map, khawatir kita kian ‘tersesat’. LOL. ‘keblusuk’ ini justru membuat kita lewat Taman Makam Pahlawan kota Gresik, kemudian arah yang kita tuju membawa kita masuk ke perumahan Gresik Kota Baru, dimana kita bertemu dengan spot cantik untuk foto-foto. J (nampaknya icon GKB ini masih baru, sehingga masih banyak orang lewat yang menyempatkan berhenti untuk berfoto-foto, bukan hanya kita yang passerby dari luar kota.

Sebenarnya aku sedikit merasa ngantuk. Ketika melihat penampakan satu gerai fastfood ketika melewati pusat keramaian GKB, aku ingin mengajak Ranz mampir, untuk membeli iced coffee-nya yang lumayan enak. Tapi, ketika aku bertanya apakah dia sudah lapar dan ingin makan, Ranz dengan tegas bilang tidak mau berhenti untuk makan sebelum kita mencapai jarak 50 kilometer, lebih dari setengah jarak yang harus kita tempuh. Ya sudah. Bye bye iced coffee.  

Setelah kita keluar dari perumahan Gresik Kota Baru, kita segera menemukan kembali jalur pantura, jalur yang membuat kita tak perlu sering-sering ngecek google map karena tinggal (nyaris) lurus saja. Meski di jalur ini kita kembali bersaing dengan kendaraan-kendaraan berbadan besar, Ranz tetap terlihat riang gembira karena kembali ke jalur yang dia harapkan. J Tidak hanya itu, tak lama kemudian, sekitar 15 menit berlalu, Ranz menawari apakah aku mau makan siang, saking leganya dia. Ranz mengajak mampir ke warung ‘Warung Bebek Urap Cak Ipul” di jalan raya Manyar. Ini pukul 12.40, jarak yang telah kita tempuh 48 kilometer.

Aku belum pernah pesan bebek untuk diri sendiri selama ini. Namun karena nama warungnya “bebek urap” dan aku kurang perhatian bahwa di daftar menu juga ada pilihan ayam, aku pesan bebek urap dua porsi, satu buatku, satu buat Ranz. Satu porsi bebek urap plus nasi Rp. 25.000,00; satu gelas jumbo es teh Rp. 5000,00. Penasaran apakah ‘bebek urap’ itu? Daging bebek dibakar, kemudian diberi urap / gudangan sebagai sayurannya. Hanya begitu. LOL. Untunglah, rasanya nikmat, sambalnya juga enak, tehnya pun pas dengan seleraku.

Setelah maksi, kita mencari tukang tambal ban karena ban depan Cleopatra mendadak gembos, ketika aku memarkirnya di depan warung Cak Ipul. Untung tak jauh dari situ ada tukang tambal ban, aku hanya perlu menuntun Cleopatra sekitar 300 meter. Setelah dicek, ternyata oh ternyata, ban dalam Cleopatra tidak hanya bocor, namun sobek sekian sentimeter. Entahlah apa penyebabnya. Untunglah (kita ‘beruntung’ lagi LOL) si bapak tukang tambal ban bersedia membelikan ban dalam. Problem solved!

Kemudian kita melanjutkan perjalanan. Trek kembali terasa rolling, naik turun terus menerus. Tak ada rasa kantuk maupun jenuh. Cleopatra terasa ringan dikayuh. Ranz menawari berhenti untuk foto-foto ketika kita melewati Alas Jati Panceng. Ini sekitar pukul 15.45, jarak yang telah kita tempuh sekitar 85 kilometer.

Di pagi hari kita memperkirakan jarak yang kita tempuh sekitar 90 kilometer, dari Wonoayu sampai WBL. Setelah melewati kilometer 90 (menurut cyclometer yang nangkring di handle bar Cleopatra) aku bilang ke Ranz yang katanya ingin ‘live’ di facebook. Namun ternyata, sesampai kita di pintu gerbang WBL, jarak yang kita tempuh kurleb 97 kilometer. LOL. Well, mung kin karena kita masuk ke kota Gresik, dan berputar-putar mencari jalan keluar. Setelah memotret sepeda dan diri sendiri LOL di depan WBL, kita ke penginapan Wisma Bintang Maharani. Penginapan ini terletak sekitar 300 meter sebelah Timur Goa Maharani, masuk gang.


Ranz telah booking satu kamar disini. Dia booking kamar non-AC dan kamar mandi luar, dengan harga Rp. 200.000,00, untuk mengirit budget. Namun kemudian Ranz sendiri memutuskan untuk meng-upgrade kamar yang akan kita tempati, menjadi kamar ber-AC. Aku sih senang-senang saja. Harganya terpaut Rp. 100.000,00 dan kita dapat sarapan gratis. Lumayan lah.

Untuk minuman selamat datang, kita mendapatkan dua botol air mineral dan sebungkus biskuit kelapa. Pak Imron – si penjaga penginapan – mempersilakan kita untuk ke pantry di lantai satu jika ingin membuat teh maupun kopi. Teh, kopi, dan gula disediakan disana. Tidak ada kompor, namun ada dispenser dengan air panas dan dingin.


Setelah check in, mandi, istirahat sebentar, sekitar pukul 19.00 kita keluar: Ranz butuh makan malam. Aku hanya butuh minum es teh. J Kita keluar berjalan kaki, mampir ke satu minimarket terdekat untuk beli pasta gigi dan air mineral, sebelum ke satu warung penyetan. 

To be continued!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar