Jumat, 21 Juli 2017

LIVE! Bikepacking Sidoarjo – Semarang Day 2

LIVE! 
Bikepacking Sidoarjo – Semarang Day 2

Rabu 5 Juli 2017 Jelajah Wisata Bahari Lamongan dan Goa Maharani

Background:

Ketika kita bikepacking Semarang – Tuban di bulan Agustus 2012, kita tergoda untuk melanjutkan perjalanan menuju WBL setelah tahu bahwa jarak antara Tuban – WBL hanya sekitar 40 kilometer. Namun karena keterbatasan waktu saat itu, kita hanya dolan ke Goa Akbar, gowes keliling Tuban sedikit, kemudian langsung pulang ke Semarang. Sempat terbetik keinginan kapan-kapan akan ke WBL dengan naik sepeda dari Tuban, kita akan naik bus dari Semarang – Tuban, baru kemudian bersepeda ke WBL. Ternyata ... keinginan ini menjadi nyata setelah 5 tahun berlalu. LOL.

Di hari kedua ini kita tidak punya agenda mengayuh pedal sama sekali. Kita akan menikmati liburan dengan main-main di Wisata Bahari Lamongan! Yeayyy. Karena itulah, kita sangat santai. Ranz bangun jam 06.00, kemudian melakukan kegiatan ‘wajib’ pagi hari di kamar mandi. J Sementara menunggu, aku keluar dari kamar, menikmati udara pagi nan segar di balkon. Penginapan ini menghadap ke Timur. Kebetulan pagi itu mendung sehingga tak nampaklah sang surya di langit.

Sekitar pukul setengah tujuh, pak Imron – yang diberi tugas menjaga penginapan ini oleh si pemilik – datang ke kamar kita, mengantarkan sarapan. Menunya nasi rames dengan lauk daging bumbu pedas dan perkedel kentang. Lumayan enak.

Pukul delapan, aku dan Ranz turun ke lantai satu. Aku membuat secangkir kopi hitam di pantry, kemudian nongkrong di kursi yang disediakan di tengah-tengah lantai satu itu. Di lobby, Pak Imron sedang duduk dengan seseorang, dan asyik mengobrol. Sekitar pukul setengah sembilan, kita berjalan keluar, menuju WBL.

Setelah mampir ke minimarket yang terletak di seberang WBL (ssshhhttt ... mesin ATM satu bank swasta yang ada di dalam minimarket ini mengeluarkan uang limapuluh ribuan baru, masih kinclong! Sejak semalam kulihat banyak orang mengantri di ATM ini dan mengambil setumpuk uang limapuluh ribuan yang masih gres itu) dan mengambil beberapa lembar uang limapuluh ribuan dari ATM, aku dan Ranz menyeberang ke WBL.



Meski kemarin sore kita sudah mampir untuk foto-foto bersama Cleopatra dan Orenj, sepeda yang kita naiki, dengan wajah lusuh setelah menempuh jarak hampir 100 kilometer, sebelum membeli tiket, kita foto-foto lagi di halaman depan WBL. Meski masih pukul sembilan pagi, sudah banyak pengunjung yang datang. Sebagian dari mereka adalah anak-anak sekolah dari beberapa kota di Jawa Tengah maupun Jawa Timur yang sedang mengadakan ‘field trip’. Sebagian adalah pengunjung yang datang dengan keluarga besar maupun keluarga kecilnya.

Tanggal 5 Juli 2017 masih masuk ke masa libur lebaran, hingga harga tiket pun ikut harga tiket di masa lebaran. Kita berdua memilih tiket terusan yang berharga Rp. 145.000,00 untuk tiga lokasi: (1) Wisata Bahari Lamongan (2) museum 4 D (museum Sejarah Islam) (3) Goa Maharani.

Ada banyak wahana yang bisa kita nikmati di WBL. Meski telah menyediakan sehari penuh untuk menjelajah WBL, ternyata kita tak punya cukup waktu untuk menikmati semuanya. Ada lebih dari 35 jenis wahana gratis yang tersedia, namun kita hanya mencoba tak lebih dari 11. (1) istana kucing (2) bioskop 3 Dimensi (3) istana boneka (4) space shuttle (5) jet coaster (6) sarang bajak laut (7) planet kaca (8) anjungan Walisongo (9) Texas (10) kano (11) bumper car. Di arena ketangkasan, Ranz mencoba menembak. Untuk ini, kita harus membeli ‘peluru’ dengan harga Rp. 2000,00 untuk 3 butir peluru.

Kita makan siang di dalam arena WBL. Ada beberapa lokasi food court di dalam, kita tinggal memilih mau makan dimana. Oh ya, untuk masuk kedalam arena WBL, kita tidak diperbolehkan membawa makanan berupa nasi dan bakmi. Kalau hanya cemilan sebangsa biskuit, boleh.

Satu hal yang membuatku sedih dan tak berani menjepret foto adalah ketika kita masuk kedalam istana kucing. 10 tahun yang lalu, seingatku, yang kulihat adalah kucing-kucing lucu, menawan, dan bahagia, meski mereka berada dalam satu ruangan tertutup dengan kaca di satu sisi agar para pengunjung bisa ‘menonton’ kucing-kucing yang banyak didatangkan dari luar negeri itu. Namun kali ini yang kulihat adalah kucing-kucing yang nampak tertekan, tidak bahagia, karena terkungkung. L banyak dari mereka juga nampak tidak terawat.

Waktu pun cepat berlalu. Tahu-tahu waktu telah menunjukkan pukul 15.00. Maka kita pun cepat-cepat keluar dari area WBL menuju area Goa Maharani. Kita melewati deretan orang-orang penjual merchandise khas WBL. Kita sempat mampir ke satu penjual dan membeli beberapa t-shirt untuk oleh-oleh orang rumah. Usai membeli oleh-oleh, kita langsung menuju Goa Maharani, melewatkan museum 4 D karena waktu yang sudah mepet, hampir jam tutup.


Di kawasan Goa Maharani – yang ternyata namanya ditulis “Maharani Zoo dan Goa” (mengapa harus menggunakan kata ‘zoo’ ya? Bukan ‘kebun binatang’? LOL) – kita bisa melihat beberapa jenis binatang, mungkin itu sebabnya ada kata ‘zoo’ dalam namanya. J Namun, bagiku yang paling menarik dari kawasan ini ya Goa Maharani.

Menurut www.wisatajatim.info Goa Maharani terkenal di awal dekade sembilanpuluhan. Sejak tahun 2008, kawasan wisata ini menjadi dikelola menjadi satu dengan Wisata Bahari Lamongan, dan para wisatawan bisa membeli tiket terusan sehingga harganya bisa lebih rendah, dibanding beli tiket WBL sendiri kemudian beli tiket Goa Maharani sendiri.

Menurutku, keindahan stalaktit dan stalakmit goa Maharani tak kalah dengan goa
Gong di Pacitan. ‘Kalahnya’ hanya jika di goa Gong stalaktitnya bisa menghasilkan suara ‘gong’ jika dipukul, dan stalaktitnya pun panjang-panjang sehingga mudah diraih tangan, bahkan oleh seseorang sepertiku yang tingginya hanya 150 cm.
J masuk akal sih karena konon stalaktit dan stalakmit goa Gong masih ‘hidup’; konon jka diukur, tiap tahun ukurannya memanjang.

Namun, tetap, keindahan goa Maharani tetap bisa bersaing dengan goa Gong. Untuk menjelajahi goa Maharani, pihak pengelola telah menyiapkan trek sepanjang kurang lebih 350 meter. Di beberapa titik dalam goa telah disediakan lampu sehingga kita tidak perlu membawa senter. Dengan mudah kita bisa menikmati keindahan bentuk stalaktit dan stalakmit yang ada.

Yang tak kalah menarik adalah keberadaan Gallery Gemstone yang terletak tepat disamping Goa Maharani. Disini, para pengunjung bisa mngamati berbagai macam koleksi batu dari seluruh penjuru dunia, mulai dari amethys, emerald, jade, dan fosil kayu yang usianya sudah ribuan tahun! Cukup membuatku ternganga melihatnya. Amazing! Yang sangat istimewa adalah keberadaan beberapa batu mutiara yang dilengkapi kaca pembesar sehingga kita bisa melihat keindahan di dalam batu secera detail.

Ada satu lokasi yang juga menarik menurutku; yakni keberadaan ‘Mayan Village’. Kawasan ini ditata sedemikian rupa hingga menyerupai satu daerah Afrika (African look) dengan dibangun beberapa icon yang mengingatkan pengunjung tentang satu suku bangsa Afrika yang telah punah suku Maya. Selain patung-patung berwajah Afrika dalam ukuran besar, kita juga bisa mendapati miniatur kuil Aztec, yang bentuknya mirip Candi Sukuh.

Bagi anak-anak yang ingin belajar tentang jenis-jenis satwa, tentu mempelajari satwa-satwa yang sebagian khusus didatangkan dari luar negeri menjadi satu hal yang cukup menarik. Misal ada beberapa macam binatang albino, seperti ular, tikus, dan kanguru; selain juga ada berbagai macam jenis burung.

Pukul setengah lima sore, kita berdua telah lelah. J kita pun keluar dari kawasan Maharani Zoo dan Goa; kita kembali ke penginapan. Untunglah Wisma Bintang Maharania terletak hanya sekitar 300 meter dari situ. Kita cukup jalan kaki, tak lebih dari 15 menit. Saatnya istirahat.

Malam itu, usai mandi, kita packing. Keesokan hari kita akan melanjutkan perjalanan, mengayuh pedal sepeda dengan menempuh jarak lebih dari 100 kilometer. Usai packing, aku mengantar Ranz keluar untuk beli makan malam. Aku sendiri hanya perlu minum wedang jeruk hangat.

To be continued.



                      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar