Rabu, 13 September 2017

Biketrekking ke Curug Semirang jilid 2

Ada satu kesamaan lagi antara aku dan Ranz : kita tidak anti mengunjungi tempat yang sama lagi. :) Beda dengan Dwi jika kutawari dolan -- naik sepeda -- ke tempat yang sudah pernah kita sambangi, dia menolak. LOL.

Sekian minggu yang lalu aku menulis status di fb bahwa aku sakaw trekking. Pingiiin banget trekking lagi, plus bersepeda. Maka, satu tempat yang bisa kita kunjungi dengan tanpa harus melewati tanjakan-tanjakan curam yang tak kunjung usai adalah Curug Semirang. (Dibandingkan dengan, well, let's say Nglimut atau Curug Lawe/Benowo). Karena kesibukan Ranz yang lebih dibandingkan tahun lalu, baru di bulan September 2017 ini, aku keturutan biketrekking lagi: ke Semirang. :)

Demi menyambut 7amselinas yang tahun ini diselenggarakan di Semarang, Ranz membawa Astro -- sepeda lipat urbano 3.0 keluaran tahun ini -- ke Semarang. Pucuk dicinta, ulam tiba! :) Aku dan Ranz janjian bertemu di alun-alun Ungaran. Aku bersepeda dari Semarang, Ranz membawa Astro naik bus.

Tepat seminggu sebelum pelaksanaan 7amselinas, aku dan Ranz bertemu di alun-alun Ungaran, sekitar pukul 08.10. Perjalananku dari Semarang ke Ungaran naik Cleopatra baik-baik saja. Sempet mampir di Taman Tabanas dan 'tugu' Watugong yang terletak di halaman Vihara Avalokitesvara untuk mendokumentasikan Cleopatra.

watugong sebagai latar belakang

Setelah bertemu dengan Ranz, aku butuh mampir ke satu minimarket untuk membeli kebutuhan perempuan, karena mendadak aku 'kebanjiran' dan butuh pembalut. LOL. Duh .. mendadak beneran deh. Dari sana, kita mampir ke satu warung makan yang sering kita ampiri untuk sarapan saat lewat Ungaran. :)

Sekitar jam 08.59 kita meninggalkan warung makan itu, dan mampir ke satu tempat lain lagi untuk membeli kebutuhan perempuan lain lagi. LOL.

Pukul 09.20 kita melanjutkan perjalanan masuk kota Ungaran. Trek masih sangat bersahabat :) Setelah melewati hotel Ungaran Cantik, kita belok ke kanan (seberang hotel). Kita akan melewati kampus Ngudi Waluyo. Kita sempat berhenti di satu lapangan sepakbola untuk memotret sepeda dengan gunung Ungaran (?) di belakang kita yang nampak begitu majestic, menghasilkan pemandangan ala-ala di Baluran. Hihihihi ...


Dari lapangan itu, trek mulai kian menantang. Tanjakan tak putus-putus, hingga kita sampai di tempat parkir. Dan ... siang itu, panash sekali!!! Aku mengisi bidon-ku full dari rumah. Aku kembali mengisinya sesampai kawasan Srondol. Dan ... ketika sampai di gerbang masuk Curug Semirang, air dalam bidon habis. Aku bilang ke Ranz untuk turun ke satu toko kelontong yang terletak tak jauh dari tempat parkir, tapi Ranz bilang tidak usah. Baiklah ...

Seusai membeli tiket masuk (per orang Rp. 6.000,00), kita memarkir sepeda di dekat loket penjualan tiket. Kita pun mulai berjalan.



Trekking di bulan September ternyata adalah saat yang sangat menyenangkan, karena trek sama sekali tidak licin karena hujan. (Meski di Semarang bawah, hujan telah mulai turun kadang-kadang.) Yang terkadang membuat licin adalah daun-daun kering yang bertebaran di segala penjuru. Yang kurang menyenangkan adalah hawa panas yang hampir tak bisa terelakkan, meski kita berjalan di bawah pohon-pohon rindang.

Ternyata, trekking -- yang hanya sekitar 1 kilometer -- tanpa membawa bekal air minum, di saat musim kemarau sangat 'menantang'. LOL. Seingatku ini adalah kali pertama kita trekking tanpa membawa air minum. Untunglah, jarak yang harus kita tempuh hanya 1 kilometer, dan pohon-pohon rindang lumayan menaungi. Namun, rasa haus tetaplah tak hilang begitu saja.


Dalam perjalanan, aku dan Ranz membayangkan sesampai tujuan, kita bisa minum es teh bergelas-gelas. LOL. Bayangan es teh ini memompa semangat kita untuk segera sampai air terjun, meski di sisi lain aku ingin menikmati pemandangan hehijauan di depan mata. :)

Jika Ranz bilang bahwa harapan membuat kita terus bersemangat menapaki hidup. Namun, kita pun harus menyadari bahwa harapan bisa jadi sangat mematahkan saat yang kita harapkan hanyalah berupa fatamorgana. (lebay ya biar. LOL.)

Sesampai tujuan, ternyata tak satu pun warung buka! Eaaaaaaaaaa ... Sekitar jam 11.25.

Honestly, I was broken-hearted. Duuuhhh ... dalam kondisi kehausan, dan cuaca semakin siang semakin panas, kita masih harus berjalan lagi sejauh 1 kilometer, kembali ke gerbang masuk/keluar, kemudian mengayuh pedal sepeda menuju toko kelontong terdekat untuk membeli air minum.

Bahkan aku pun kehilangan semangat untuk berfoto-foto dengan latar belakang air terjun. Hhhhhh ...

Ranz menyemangatiku untk mencoba membasahi bibir dengan air yang turun dari curug. Yes, that was the best choice! Aku juga sudah berpikir kesitu, tapi, nanti lah, aku masih ingin menikmati patah hati terlebih dahulu. LOL. Kita duduk-duduk di satu warung kosong sambil ngobrol. Sambil menyesali mengapa dulu-dulu kita ga pernah mampir beli sesuatu di warung yang ada. LOL.

Well, tentu saja akhirnya aku minum air yang mengalir beberapa teguk dari curug. Air yang sangat menyegarkan dan tidak berasa namun sangat membangkitkan semangat untuk berjalan kembali ke arah kita datang tadi. Yeayyyy!

Ah yeah, dalam perjalanan trekking, Ranz sambil menggendong backpack yang cukup berat di punggungnya, dan aku menggendong backpack yang meski kecil tentu tetaplah berupa beban. hihihi ... Untunglah trek tidak licin gegara hujan.

Setelah meninggalkan gerbang, kita menikmati turunan yang cukup curam, tapi masih aman dilewati. Di awal turunan, Ranz sempat mengeluh karena rem Astro kurang bekerja dengan baik. Namun untunglah kemudian Astro baik-baik saja.

On the way balik ke Semarang, kita mampir alun-alun untuk beli es kelapa muda, di sekitar situ tidak ada yang berjualan es teh. :D Balik ke Semarang, Ranz mengayuh pedal Astro dengan santai, aku pun terbawa iramanya. :)

Kita sampai kos Ranz sekitar pukul 15.00.

IB180 20.00 13/09/2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar