Selasa, 27 Agustus 2019

Dipalak!

penampakan Shaun di tahun 2012



Ini kisah pribadi Ranz. dan tanpa seijinnya, saya menulis kisahnya. 😆

Jadi begini. Salah satu tukang foto kesayangan kawan-kawan B2W Semarang maupun Komselis ini tinggal di Solo, namun dia sangat sering ikut event yang ada di Semarang. Yang saya ingat, saya pertama kali bertemu dengannya di event Deklarasi B2W Salatiga bulan September 2010, dimana saat itu B2W Semarang berkolaborasi bersama Komselis untuk bersama turut meramaikan. Berarti sejak 9 tahun yang lalu Ranz sudah sering wira-wiri Solo - Semarang - Solo, kadang sepedanya dinaiki, kadang loading naik bus, atau akhir-akhir ini, kereta api.

penampakan Pockie dengan tas pannier dan oleh-oleh, waktu itu kita bebas biaya bagasi waktu naik bus Nusantara dari Purwokerto ke Semarang, tahun 2013

Sejak awal loading bus dengan membawa sepeda lipat, Ranz tidak pernah dimintai uang berlebih untuk 'bagasi'. Bahkan saking seringnya, para kondektur yang baik hati malah yang menatakan selinya di dalam bagasi. Free.

Ini juga pengalaman saya di tahun-tahun 2011 - 2015, membawa sepeda lipat ke dalam bus, tanpa dikenai biaya tambahan, naik bus dari Semarang ke Solo, maupun sebaliknya.

Saya lupa mulai kapan kadang saya dimintai biaya tambahan ini, mungkin sejak 3 tahun yang lalu, sejak semakin banyak orang yang melakukan hal yang sama, membawa sepeda lipat ketika naik bus. Jika ongkos bus Rp. 30.000,00 saya beri tambahan sepuluh ribu rupiah, jika sang kondektur meminta. Ranz dan saya pernah menganalisis mengapa para kondektur mulai meminta biaya tambahan ini. Kita menyimpulkan bahwa mungkin ada para kawan pehobi sepeda lipat yang memberikan tips kepada kondektur, sebagai ucapan terima kasih. Bermula dari tips, hingga berkembang menjadi 'wajib bayar'. Mungkin lo ya.

Jika saya kadang diminta biaya tambahan ketika naik bus dengan membawa Austin, sepeda lipat saya yang sudah dengan sangat setia menemani saya dolan kemana-mana, hingga frame-nya penuh goresan disana-sini, lol, Ranz tetap 'sakti', ga pernah dimintai biaya tambahan.

Namun akhirnya Ranz pun kudu mengalami hal baru dalam hidupnya. Lebay. Lol. Hari Sabtu 24 Agustus 2019, ketika naik bus Safari LUX dari Kerten menuju Semarang, dia diminta membayar TUJUH PULUH RIBU RUPIAH, yang berarti sama dengan biaya perjalanan untuk 2 orang, yang satu untuk Ranz sendiri, yang satu biaya bagasi untuk Shaun, seli yang dia bawa. Ketika Ranz tidak mau membayar sejumlah itu, dia pun diturunkan dari bus! Ranz lebih memilih turun dari pada harus membayar sejumlah itu. Dari Ngasem, tempat Ranz turun dari bus, dia gowes ke arah terminal Boyolali. Dari sana, dia naik bus TARUNA, hingga turun di Kaligawe Semarang, bebas biaya.

Jika sekarang kita merasa lega bahwa kita bisa bebas membawa sepeda lipat naik ke dalam gerbong kereta api, karena memang KAI sudah sangat bersahabat dengan sepeda lipat, mungkin sudah saatnya ya ada kesamaan persepsi pada seluruh kru bus. Jika memang harus membayar, ada kriterianya.

Note:

Untuk naik bus Semarang - Jogja, maupun sebaliknya, selama ini saya bebas biaya tambahan. Pernah satu kali saya akan dimintai biaya tambahan (waktu itu di terminal Jombor), dengan roman wajah galak, saya berkata, "Tidak ada itu biaya tambahan. Selama ini gratis. Lagian sepeda lipat ini beratnya hanya 15 kg, bukankah peraturan biaya tambahan untuk bagasi itu jika lebih dari 20kg?" lol.

Demikian curhat saya siang hari ini. Barangkali ada yang akan ikut curhat?

LG 12.12 28-Aug-2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.