Cari Blog Ini

Selasa, 23 Mei 2017

Viking Biking - pre event

VIKING BIKING perdana di kota SEMARANG

Intro

Sebenarnya selentingan bahwa Viking Biking akan diselenggarakan di kota Semarang sudah terdengar sejak sekitar bulan Maret – April 2016. Entah apa yang menjadi kendala, akhirnya Viking Biking terselenggara juga di kota Semarang, pada tanggal 17 Mei 2017.

Selama ini, VB diselenggarakan di kota Jakarta, pihak kedutaan besar 3 negara-negara Skandinavia (Denmark, Swedia, Norwegia) menggandeng Bike 2 Work Indonesia untuk penyelenggaraannya. Pemilihan partner yang tepat karena seperti yang kita tahu bahwa B2W Indonesia bukan hanya sekedar kumpulan orang-orang pehobi sepeda, namun mereka adalah orang-orang yang concerned untuk mengkampanyekan penggunaan sepeda sebagai moda transportasi dalam kehidupan sehari-hari. Sepeda bukan melulu alat olahraga yang digunakan di akhir pekan; namun sepeda adalah moda transportasi yang paling ramah lingkungan, dan sangat mendukung mobilitas pengguna tatkala berada di lingkungan yang terkenal macet. Bagiku pribadi, sepeda adalah alat transportasi yang sangat fleksibel, aku bisa sekaligus berolahraga ketika berangkat bekerja. J

Akhir Maret 2017 tante Ria Serbeje – partner terpercaya om Toto B2W dan om Poetoet B2W – membuat grup WA untuk mulai mengkomunikasikan penyelenggaraan VB di kota Semarang. Selain kita berempat, ada mbak Ary, mas Inung dan pak Ian dari ESP3 yang berkedudukan di Semarang; ada om Nuge, sang seniman yang karya posternya sering dipilih pak Casper, dubes Denmark, untuk kampanya event; juga ada beberapa orang dari Kedubes Denmark.

Semula kita rencanakan VB Semarang diselenggarakan pada hari Jumat 19 Mei 2017. VB memang selalu dilaksanakan pada hari kerja karena memang tujuannya adalah mengkampanyekan penggunaan sepeda untuk berangkat ke kantor. Namun karena ternyata pada tanggal itu pak gubernur Ganjar Pranowo sudah menjadwalkan satu agenda penting, VB kita ajukan pada hari Rabu 17 Mei 2017.

Sempat dua kali aku diundang rapat ke kantor ESP3 untuk membahas hal ini. Yang pertama, aku ditemani Dwi dan Tami. Yang kedua, hanya Dwi yang menemaniku karena kebetulan pas tanggal itu Tami wisuda. Setelah itu, kita rapat bersama beberapa pihak yang pasti akan terlibat dalam pelaksanaan VB, yakni pihak dishub, satpol pp, protokoler pemprov, kominfo, bagian umum pemprov, selain pihak ESP 3, B2W Semarang, dan Bappeda. Waktu rapat yang pertama di kantor Bappeda, aku ditemani Dwi, Tami, dan Avitt. Rapat yang kedua – rapat pamungkas – aku ditemani Ranz.


Satu hari sebelum penyelenggaraan VB, nte Ria, om Poetoet, dan om Nuge sudah datang ke Semarang. Mereka sempat mampir ke kantor ESP3 untuk persiapan terakhir bersama mbak Ary, mas Inung, dan pak Ian. Saat ini, aku sedang sibuk di kantor, sembari menunggu Ranz hadir di Semarang. Untunglah VB diselenggarakan pada hari Rabu 17 Mei 2017, Ranz bisa datang. Jika tetap tanggal 19 Mei, dia ga akan bisa datang; ada acara keluarga yang maha penting pada tanggal itu. J

Malam menjelang VB, aku, Ranz, nte Ria, om Poetoet dan om Nuge kumpul di hotel tempat mereka menginap untuk membahas hal-hal yang perlu kita bahas. J

Alhamdulillah VB di kota Semarang terselenggara dengan sukses. Ratusan orang datang untuk menyemarakkan suasana. Pak Casper terlihat sangat bahagia. “This is the biggest crowd ever. I am very happy. Personally, I thank you very much.” Katanya langsung kepadaku. Semoga, di antara sekian ratus orang yang datang, mereka bakal tergerak hati untuk menggunakan sepeda sebagai moda transportasi dalam kehidupan sehari-hari. J


LG 09.00 23052017

Sabtu, 20 Mei 2017

Gowes Minggu Pagi: Serius tapi P$antai

GOMINGPAI : SERIUS TAPI P$ANTAI

Keinginan Ranz untuk dolan ke pantai, disambut oleh Tayux, paketu Komselis. Maka begitulah, gowes kita di Minggu pagi 14 Mei 2017 lumayan ramai. Taman Pandanaran dipilih sebagai titik kumpul karena lokasinya yang cukup di “tengah” kota.


Minggu pagi itu aku sampai TamPand sekitar pukul 06.35. Dari “Semarang Velogirls” sudah ada Avitt, Tami, dan Dwi. (aiiihhh ... tumben, Dwi gasik! LOL.) selain mereka bertiga, ada 3 perempuan lain yang sudah siap di lokasi, Da Ningrum direktur “dakukis” sekaligus “pensiunan” Srikandi (katanya sendiri LOL), Lulu, mbak dokter yang sedang mengambil spesialis THT, dan Hemas, sobat Avitt, yang sedang mengejar impian menjadi notaris di UGM, Jogja. Ranz kemana? Tumben dia terlambat! LOL. Dia baru nongol ketika kita sudah siap meninggalkan lokasi, seusai berfoto dan berdoa bersama. Avitt yang membawa kamera kakaknya untuk mendokumentasikan sepedaan kali ini langsung menyerahkan kameranya kepada Ranz, yang ternyata masih setengah tidur, setengah bermimpi. LOL.

Owh ya, ada satu pesepeda perempuan lagi yang muncul, Iin, didampingi Yan. Mereka nampak santai, mengenakan kaos lengan pendek. Berani tampil belang, In? Wkwkwkwkwk ...




Meninggalkan TamPand, kita langsung menuju arah Barat, ke Kalibanteng. Perjalanan lancar, ada 2 kawan lagi yang bergabung di perjalanan; Tedjohn boss-nya Diorama, dan Pratama Ilham sang “bolap” a.k.a bocah pembalap. LOL. Dari Kalibanteng, kita masih lurus ke Barat, melewati Kerkop, dan berhenti di traffic light, seberang SAMSAT. Setelah lampu berwarna hijau, kita menyeberang, menuju perumahan Graha Padma, perumahan elit kawasan Krapyak. (dekade lapanpuluhan dulu, perumnas Krapyak adalah perumahan untuk rakyat jelata. J) Ya ... kita akan menuju pantai Tirang.

Dalam satu postingannya di instagram, Dwi bilang pantai Tirang adalah pantai favoritnya yang terletak di deretan pantai kota Semarang. Memang harus diakui, pantai Tirang memiliki titik-titik cantik untuk dibidik dengan kamera. Tapi, harus jeli dalam memilih spot yang tepat.

Menuju pantai Tirang, kita masuk ke kawasan perumahan Graha Padma. Bertemu bunderan pertama, kita masih lurus, di perempatan berikutnya, kita belok kiri. Ikuti jalan sampai melewati jembatan, kita bisa langsung belok kanan dan menyusuri jalan di pinggir sungai hingga mentok, dimana sebelah kanan ada jembatan kecil. Kita belok kanan, menyeberangi jembatan itu, kemudian belok kiri, lurus hingga pantai.

Namun, kita tidak melewati jalan itu. Avitt yang memimpin di depan berbisik kepadaku, “Kita kerjain mereka yuk Miss? Kita ajakin lewat trek sempit di ujung sana?” Mengingat single track disitu lumayan asik spotnya untuk berfoto-foto, aku setuju. J  Maka, setelah melewati jembatan yang kusebut di paragraf sebelum ini, kita masih lurus. (ssshhttt ... sekian bulan lalu aku pernah lewat single track ini, sendirian, lihat seekor ular lewat lho! Hiiiii ... untung pas di depanku, ga terlindas ban Austin. Wedew.)







Setelah melewati single track, dan tak lupa bergaya di depan kamera, LOL, menyeberangi jembatan (yang hanya bisa dilewati sepeda/motor/orang jalan kaki), sampailah kita ke trek offroad. Syukurlah hari-hari sebelum tanggal 14 Mei itu cuaca sering panas. Jumat malam sempat hujan lebat, tapi hari Sabtu cuaca panas sepanjang hari, sehingga trek offroad yang kita lewati tidak terlalu berlumpur. Satu hal yang pasti, ‘path’ yang kita lewati kian sempit, dibandingkan pertama kali aku kesana. (setahun yang lalu? Dua tahun yang lalu? Lupa.)









Pantai Tirang memang tidak seramai pantai Maron, meski lokasinya “hanya” berseberangan. Namun ketiadaan jembatan yang bisa dilewati mobil, plus ‘path’ yang sempit sehingga mobil tidak akan bisa lewat, bisa menjadi alasan yang kuat mengapa pantai ini tidak ramai. Kebetulan hari itu ada event yang diselenggarakan disana, yakni penanaman mangrove, itu sebabnya dalam perjalanan kita cukup sering berpapasan dengan orang.










Aku lupa jam berapa rombongan kita sampai di pantai, kemudian mencari spot untuk berfoto-ria. Yang pasti, cuaca sudah cukup panas, bakal mudah ‘membelangkan’ kulit. LOL. Itu sebab kita tidak tinggal lama disana.

Pulangnya, Avitt kembali memimpin jalan, dia tahu jalan yang langsung menuju perumnas Krapyak, ada yang ingin sarapan nasi pecel. Namun ternyata sesampai sana, si penjual baru siap-siap membuka warung. Kita lanjutkan mengayuh pedal, hingga kita bertemu dengan warung soto. Ya sudah, kita sarapan nasi soto saja. Dalam kondisi kelaparan, apa pun enak dimakan kok. J






Usai sarapan, sebagian dari kita memutuskan untuk loading, pesan ‘grab’; Lulu sih ban belakangnya mendadak meletus; yang lain mungkin khawatir pasangan hidupnya tak lagi mengenali mereka karena mendadak berkulit eksotis. LOL.

Sampai bertemu di kisah sepedaan lain. J

IB 13.13 20/05/2017



Sabtu, 13 Mei 2017

Tips buat Ngeksis


Aku mulai blogging sekitar pertengahan tahun 2005 (better late than never dong yah? :) ) Awalnya aku nulis postingan untuk blog menggunakan Bahasa Inggris, karena waktu itu aku sedang pursuing my studies di American Studies dimana aku sering harus menulis artikel dalam Bahasa Inggris. Setahun kemudian, aku baru mulai menulis blog dalam Bahasa Indonesia, hal-hal remeh temeh dalam kehidupanku sehari-hari.

Aku ngeblog untuk '
catharsis' -- salah satu jalan keluar untuk meluapkan emosi, pikiran dan sebagainya -- tak ada (atau belum ada kali ya? LOL) -- keinginan untuk ngeksis. Blas ga ada lah untuk itu.


Adalah satu hal yang membanggakan bagiku ketika seseorang yang tidak kukenal secara pribadi memasukkan blog-ku dalam daftar blog-blog yang dia 'feature' dalam blognya. (Click 
this link.) Aku sudah lupa awalnya bagaimana hingga aku tahu aku 'ditulis' di blog orang. LOL. Fatih Syuhud ini 'hanya' mengamati tulisan-tulisanku di blog, kemudian menulis tentangku. Herannya, tulisannya benar banget mencerminkan memang begitulah aku, cara pandangku.


Akhir tahun 2008, satu hal lain lagi yang membanggakan buatku, kala aku dimasukkan dalam kategori 
TOP TEN BLOGGER INDONESIA 2008, masih menurut versi orang yang sama, Fatih Syuhud.

Hobi blogging ini tentu tak hanya berhenti di menulis hal-hal yang 'disturbing my conscience'. Hampir segala hal yang kualami kutulis, termasuk awal-awal aku bergabung dengan Bike 2 Work Semarang, 'kepanjangan' tangan dari Bike 2 Work Indonesia. Kutulis juga kisah-kisah sepedaanku, kuunggah di blog 
ini maupun itu.

saat Mbolang ke Klayar


Awal tahun 2012, aku putuskan untuk membuat blog tersendiri untuk memudahkan pengarsipan tulisan-tulisan tentang sepedaan. Kuberi judul blog itu 
MY BIKING DIARY.  Adalah satu hal di luar ekspektasiku bahwa blog ini di kemudian hari akan menjadi lebih lively ketimbang blog-blog lain. (Saya lelah! LOL. Eh, salah, Saya telah tumpul. :( )

Aku menulis di blog sepedaan itu murni untuk pengarsipan kisah perjalananku bersepeda. Bahwa di kemudian hari seorang Nana Podungge lebih dikenal sebagai 'goweser' ketimbang sang feminis yang romantis, yaaa apa boleh buat? LOL. Bahwa ketika mengikuti event sepedaan di luar propinsi aku bertemu dengan orang-orang yang ramah menyapa, "Mbak Nana ... saya pembaca blog anda." atau "Mbak Nana ... saya terinspirasi pengalaman njenengan turing naik sepeda lipat gegara membaca blog anda." menjadi satu bukti bahwa ... itulah, saya lumayan tercemar, ups ... terkenal. LOL.

Aku kenal sepedaan ya gara-gara berkecimpung di orang-orang yang mendirikan Bike to Work Semarang. Namun, aku dikenal orang (jadi NGEKSIS dong eikeh LOL) bukan karena keterlibatanku dengan kumpulan orang-orang yang ingin menginspirasi orang lain untuk menggunakan sepeda sebagai moda transportasi ke kantor, namun karena aku mbolang kesana kemari dengan bersepeda. (Thanks to my bikepacking soulmate Ananda Ranz, tanpa dia aku mah apa tuh. LOL.) Dan ... NGEBLOG!

Kesimpulannya adalah ... jika ingin ngeksis di dunia sepedaan, coba saja caraku.
(1) Cari solmet mbolang. Enakan mbolang berdua (bagiku) ketimbang sendirian. LOL.
(2) Tulis kisah mbolangmu itu di blog.
(3) Aktif di dunia maya, untuk ngiklanin blog-mu itu dong
(4) Ikut event skala nasional, eh, regional juga boleh kok

Sampun. Cekap mekaten nggih :)


Jumat, 12 Mei 2017

Viking Biking Semarang




Viking Biking adalah salah satu kegiatan kampanye penggunaan sepeda sebagai sarana transportasi alternatif. Oleh karena itu, selain mengajak masyarakat luas, di setiap kota penyelenggaraan, kita usahakan melibatkan pemangku kebijakan kota setempat untuk melakukan dialog dengan tujuan terciptanya fasilitas pendukung bagi kenyamanan dan keselamatan bersepeda. Tak lupa juga mendorong pemda setempat untuk mendukung gerakan bersepeda.

Viking Biking akan kita selenggarakan di kota Semarang pada hari Rabu 17 Mei 2017. Bapak Gubernur Ganjar Pranowo beserta Bapak Walikota Hendrar Prihadi akan mendampingi Bapak Duta Besar Kerajaan Denmark Casper Klynge dalam event ini.

Untuk kejelasan info, lihat detilnya di poster di atas ini
Yuuk bergabung! Semua diundang! FREE!
Let us act beyond green. Let us bike to work!

P.S.:
Rute: Kantor Gubernuran – Jalan Pahlawan – Simpanglima – Jalan Ahmad Yani – Jalan MT Haryono – Bundaran Bubakan – Kota Lama – Gereja Blenduk – Jalan Pemuda – Tugumuda – Jalan Pandanaran – Taman Pandanaran – Jalan Trilomba Juang – Taman KB – Jalan Pahlawan – Kantor Gubernuran.



Gowes Minggu Pagi : Mencari Ketenangan Jiwa


Lokasi tugu a.k.a monumen Ketenangan Jiwa sebenarnya ga jauh lho dari rumahku, masih satu deret dengan sungai Banjirkanal Barat. Tapi, yang namanya tidak pernah 'ngeh' ya begitu deh. Apalagi, lokasi tugu satu ini adalah di kitaran Pantai Baruna, padahal pantai Baruna bukanlah lokasi 'dolan' baru buatku. :) Seingatku, pertama kali aku dolan ke kawasan pantai (yang ternyata dinamai) Baruna ini tahun 2008.

But, anyway, better late than never yak? :D


30 April 2017

'Pemburuan' mencari tugu peninggalan Jepang ini dimotori oleh Komselis.

Sekitar pukul 06.30 aku terburu-buru mengayuh pedal Snow White menuju Taman Pandanaran, tempat kumpul. Sesampai disana, kulihat ada Dany Saputra, Dwi dan Tami. Owh ... ternyata aku ga telat kok. LOL. Tak lama kemudian, muncul Tayux dan Da, om Yuniar, om Hien yang mengajak solmet-nya, Haryadi, dan Hagi. Kita bersepuluh. Kita berdelapan naik sepeda lipat, hanya om Hien dan Haryadi yang naik sepeda balap. Ha ha ... salah kostum mereka! LOL.

Setelah foto bersama, kita mulai mengayuh pedal sepeda masing-masing menuju arah Barat. Setelah melewati jembatan Banjirkanal Barat, kita memutar ke arah utara, kita masuk ke jalan arah ke perumahan Semarang Indah. Aku heran, katanya di kawasan Baruna, kok belok ke arah sini? Ternyata kita diajak untuk berfoto-foto dulu di depan kantor Dinas Pekerjaan Umum. Yiihhhaaaa ...

Setelah foto-foto, kita diajak menyeberang ke arah Jalan Kokrosono, lewat 'jembatan' sempit yang terletak tepat persis di samping jembatan untuk kereta api. Waaaaaaaaaaaaaa ...Honestly? Seumur-umur dalam hidupku, ini adalah kali pertama berjalan di jembatan seperti ini. Hihihihi ... Kirain ga ada lho jembatan yang bisa dilewati pejalan kaki, atau pejalan kaki yang menuntun sepeda. LOL.

Kita melanjutkan mengayuh pedal hingga ujung Jalan Kokrosono, tembus ke jalan arteri. Di traffic light, kita langsung menyeberang, dan masuk ke jalan yang akan membawa kita ke pantai Baruna. Terakhir kali kesini -- aku lupa kapan tepatnya, tapi mungkin sekitar akhir tahun 2015 -- trek jalan sangat bersahabat buat mereka yang naik sepeda jenis offroad, mungkin sepeda gunung, jika habis turun hujan berhari-hari: lumpur tebal akan menjadi santapan di tiap meter. LOL.. Sepeda lipat ya oke sih, asal kesana pas musim kemarau. 'Hambatan' yang ada hanyalah debu super tebal. Jika kesini di musim hujan, ya ..., siap-siap menggendong sepeda ajah. LOL.

Beberapa puluh meter pertama, permukaan jalan telah dibeton, lumayan. (FYI, hujan mengguyur kota Semarang, minimal 2 hari berturut-turut sebelum tanggal 30 April.) Namun, akhirnya kita pun sampai di trek tanah berlumpur. Yippeee ... Bayangkan repotnya kita semua, hihihihi ... terutama duo solmet yang naik sepeda balap. LOL. Namun, ternyata mereka tak gentar dengan trek lumpur lho. Dua jempol daaah.

Tujuan pertama kita adalah pantai Baruna, tempat dimana aku pernah berfoto-foto narsis bersama Ranz, maupun Angie. Aku celingukan, lhah, dimana tempat tugu Ketenangan Jiwa-nya?

Setelah beberapa jepret di lokasi dekat pemecah ombak, di seberang pantai Marina, kita menyusuri jalan setapak di pinggir itu. Ga jauh-jauh amat, ternyata, tugu Ketenagan Jiwa telah nampak. Owalaaahhh ... aku ga pernah lewat sini. Kalo pun pernah, ga pernah merhatiin deh bahwa disitu dibangun satu tugu untuk mengenang kematian para prajurit Jepang yang meninggal di tahun 1945. Monumen/tugu asli, konon, juga dibangun di tahun itu. Tugu direnovasi oleh pemkot Semarang, dan diresmikan oleh pak wali (waktu itu) Sutrisno Suharto.


Pulangnya kita tidak melewati jalan kita datang tadi. Kita memilih mlipir di jalan 'single track'. Ternyata trek disini jauh lebih bersahabat, sehingga kita ga perlu sering-sering menggendong sepeda. Tapi, eh, justru disini lah ban depan sepeda om Yun ga mau berputar. LOL.

Next time, ajakin Angie kesini ah, kala musim kemarau telah benar-benar hadir di kota Semarang. :)

IB180 17.53 12052017

Untuk foto-foto yang lebih lengkap, klik postingan sebelum ini yak?