Sabtu, 20 Mei 2017

Gowes Minggu Pagi: Serius tapi P$antai

GOMINGPAI : SERIUS TAPI P$ANTAI

Keinginan Ranz untuk dolan ke pantai, disambut oleh Tayux, paketu Komselis. Maka begitulah, gowes kita di Minggu pagi 14 Mei 2017 lumayan ramai. Taman Pandanaran dipilih sebagai titik kumpul karena lokasinya yang cukup di “tengah” kota.


Minggu pagi itu aku sampai TamPand sekitar pukul 06.35. Dari “Semarang Velogirls” sudah ada Avitt, Tami, dan Dwi. (aiiihhh ... tumben, Dwi gasik! LOL.) selain mereka bertiga, ada 3 perempuan lain yang sudah siap di lokasi, Da Ningrum direktur “dakukis” sekaligus “pensiunan” Srikandi (katanya sendiri LOL), Lulu, mbak dokter yang sedang mengambil spesialis THT, dan Hemas, sobat Avitt, yang sedang mengejar impian menjadi notaris di UGM, Jogja. Ranz kemana? Tumben dia terlambat! LOL. Dia baru nongol ketika kita sudah siap meninggalkan lokasi, seusai berfoto dan berdoa bersama. Avitt yang membawa kamera kakaknya untuk mendokumentasikan sepedaan kali ini langsung menyerahkan kameranya kepada Ranz, yang ternyata masih setengah tidur, setengah bermimpi. LOL.

Owh ya, ada satu pesepeda perempuan lagi yang muncul, Iin, didampingi Yan. Mereka nampak santai, mengenakan kaos lengan pendek. Berani tampil belang, In? Wkwkwkwkwk ...




Meninggalkan TamPand, kita langsung menuju arah Barat, ke Kalibanteng. Perjalanan lancar, ada 2 kawan lagi yang bergabung di perjalanan; Tedjohn boss-nya Diorama, dan Pratama Ilham sang “bolap” a.k.a bocah pembalap. LOL. Dari Kalibanteng, kita masih lurus ke Barat, melewati Kerkop, dan berhenti di traffic light, seberang SAMSAT. Setelah lampu berwarna hijau, kita menyeberang, menuju perumahan Graha Padma, perumahan elit kawasan Krapyak. (dekade lapanpuluhan dulu, perumnas Krapyak adalah perumahan untuk rakyat jelata. J) Ya ... kita akan menuju pantai Tirang.

Dalam satu postingannya di instagram, Dwi bilang pantai Tirang adalah pantai favoritnya yang terletak di deretan pantai kota Semarang. Memang harus diakui, pantai Tirang memiliki titik-titik cantik untuk dibidik dengan kamera. Tapi, harus jeli dalam memilih spot yang tepat.

Menuju pantai Tirang, kita masuk ke kawasan perumahan Graha Padma. Bertemu bunderan pertama, kita masih lurus, di perempatan berikutnya, kita belok kiri. Ikuti jalan sampai melewati jembatan, kita bisa langsung belok kanan dan menyusuri jalan di pinggir sungai hingga mentok, dimana sebelah kanan ada jembatan kecil. Kita belok kanan, menyeberangi jembatan itu, kemudian belok kiri, lurus hingga pantai.

Namun, kita tidak melewati jalan itu. Avitt yang memimpin di depan berbisik kepadaku, “Kita kerjain mereka yuk Miss? Kita ajakin lewat trek sempit di ujung sana?” Mengingat single track disitu lumayan asik spotnya untuk berfoto-foto, aku setuju. J  Maka, setelah melewati jembatan yang kusebut di paragraf sebelum ini, kita masih lurus. (ssshhttt ... sekian bulan lalu aku pernah lewat single track ini, sendirian, lihat seekor ular lewat lho! Hiiiii ... untung pas di depanku, ga terlindas ban Austin. Wedew.)







Setelah melewati single track, dan tak lupa bergaya di depan kamera, LOL, menyeberangi jembatan (yang hanya bisa dilewati sepeda/motor/orang jalan kaki), sampailah kita ke trek offroad. Syukurlah hari-hari sebelum tanggal 14 Mei itu cuaca sering panas. Jumat malam sempat hujan lebat, tapi hari Sabtu cuaca panas sepanjang hari, sehingga trek offroad yang kita lewati tidak terlalu berlumpur. Satu hal yang pasti, ‘path’ yang kita lewati kian sempit, dibandingkan pertama kali aku kesana. (setahun yang lalu? Dua tahun yang lalu? Lupa.)









Pantai Tirang memang tidak seramai pantai Maron, meski lokasinya “hanya” berseberangan. Namun ketiadaan jembatan yang bisa dilewati mobil, plus ‘path’ yang sempit sehingga mobil tidak akan bisa lewat, bisa menjadi alasan yang kuat mengapa pantai ini tidak ramai. Kebetulan hari itu ada event yang diselenggarakan disana, yakni penanaman mangrove, itu sebabnya dalam perjalanan kita cukup sering berpapasan dengan orang.










Aku lupa jam berapa rombongan kita sampai di pantai, kemudian mencari spot untuk berfoto-ria. Yang pasti, cuaca sudah cukup panas, bakal mudah ‘membelangkan’ kulit. LOL. Itu sebab kita tidak tinggal lama disana.

Pulangnya, Avitt kembali memimpin jalan, dia tahu jalan yang langsung menuju perumnas Krapyak, ada yang ingin sarapan nasi pecel. Namun ternyata sesampai sana, si penjual baru siap-siap membuka warung. Kita lanjutkan mengayuh pedal, hingga kita bertemu dengan warung soto. Ya sudah, kita sarapan nasi soto saja. Dalam kondisi kelaparan, apa pun enak dimakan kok. J






Usai sarapan, sebagian dari kita memutuskan untuk loading, pesan ‘grab’; Lulu sih ban belakangnya mendadak meletus; yang lain mungkin khawatir pasangan hidupnya tak lagi mengenali mereka karena mendadak berkulit eksotis. LOL.

Sampai bertemu di kisah sepedaan lain. J

IB 13.13 20/05/2017



Tidak ada komentar:

Posting Komentar