Jumat, 12 Mei 2017

Gowes Minggu Pagi : Mencari Ketenangan Jiwa


Lokasi tugu a.k.a monumen Ketenangan Jiwa sebenarnya ga jauh lho dari rumahku, masih satu deret dengan sungai Banjirkanal Barat. Tapi, yang namanya tidak pernah 'ngeh' ya begitu deh. Apalagi, lokasi tugu satu ini adalah di kitaran Pantai Baruna, padahal pantai Baruna bukanlah lokasi 'dolan' baru buatku. :) Seingatku, pertama kali aku dolan ke kawasan pantai (yang ternyata dinamai) Baruna ini tahun 2008.

But, anyway, better late than never yak? :D


30 April 2017

'Pemburuan' mencari tugu peninggalan Jepang ini dimotori oleh Komselis.

Sekitar pukul 06.30 aku terburu-buru mengayuh pedal Snow White menuju Taman Pandanaran, tempat kumpul. Sesampai disana, kulihat ada Dany Saputra, Dwi dan Tami. Owh ... ternyata aku ga telat kok. LOL. Tak lama kemudian, muncul Tayux dan Da, om Yuniar, om Hien yang mengajak solmet-nya, Haryadi, dan Hagi. Kita bersepuluh. Kita berdelapan naik sepeda lipat, hanya om Hien dan Haryadi yang naik sepeda balap. Ha ha ... salah kostum mereka! LOL.

Setelah foto bersama, kita mulai mengayuh pedal sepeda masing-masing menuju arah Barat. Setelah melewati jembatan Banjirkanal Barat, kita memutar ke arah utara, kita masuk ke jalan arah ke perumahan Semarang Indah. Aku heran, katanya di kawasan Baruna, kok belok ke arah sini? Ternyata kita diajak untuk berfoto-foto dulu di depan kantor Dinas Pekerjaan Umum. Yiihhhaaaa ...

Setelah foto-foto, kita diajak menyeberang ke arah Jalan Kokrosono, lewat 'jembatan' sempit yang terletak tepat persis di samping jembatan untuk kereta api. Waaaaaaaaaaaaaa ...Honestly? Seumur-umur dalam hidupku, ini adalah kali pertama berjalan di jembatan seperti ini. Hihihihi ... Kirain ga ada lho jembatan yang bisa dilewati pejalan kaki, atau pejalan kaki yang menuntun sepeda. LOL.

Kita melanjutkan mengayuh pedal hingga ujung Jalan Kokrosono, tembus ke jalan arteri. Di traffic light, kita langsung menyeberang, dan masuk ke jalan yang akan membawa kita ke pantai Baruna. Terakhir kali kesini -- aku lupa kapan tepatnya, tapi mungkin sekitar akhir tahun 2015 -- trek jalan sangat bersahabat buat mereka yang naik sepeda jenis offroad, mungkin sepeda gunung, jika habis turun hujan berhari-hari: lumpur tebal akan menjadi santapan di tiap meter. LOL.. Sepeda lipat ya oke sih, asal kesana pas musim kemarau. 'Hambatan' yang ada hanyalah debu super tebal. Jika kesini di musim hujan, ya ..., siap-siap menggendong sepeda ajah. LOL.

Beberapa puluh meter pertama, permukaan jalan telah dibeton, lumayan. (FYI, hujan mengguyur kota Semarang, minimal 2 hari berturut-turut sebelum tanggal 30 April.) Namun, akhirnya kita pun sampai di trek tanah berlumpur. Yippeee ... Bayangkan repotnya kita semua, hihihihi ... terutama duo solmet yang naik sepeda balap. LOL. Namun, ternyata mereka tak gentar dengan trek lumpur lho. Dua jempol daaah.

Tujuan pertama kita adalah pantai Baruna, tempat dimana aku pernah berfoto-foto narsis bersama Ranz, maupun Angie. Aku celingukan, lhah, dimana tempat tugu Ketenangan Jiwa-nya?

Setelah beberapa jepret di lokasi dekat pemecah ombak, di seberang pantai Marina, kita menyusuri jalan setapak di pinggir itu. Ga jauh-jauh amat, ternyata, tugu Ketenagan Jiwa telah nampak. Owalaaahhh ... aku ga pernah lewat sini. Kalo pun pernah, ga pernah merhatiin deh bahwa disitu dibangun satu tugu untuk mengenang kematian para prajurit Jepang yang meninggal di tahun 1945. Monumen/tugu asli, konon, juga dibangun di tahun itu. Tugu direnovasi oleh pemkot Semarang, dan diresmikan oleh pak wali (waktu itu) Sutrisno Suharto.


Pulangnya kita tidak melewati jalan kita datang tadi. Kita memilih mlipir di jalan 'single track'. Ternyata trek disini jauh lebih bersahabat, sehingga kita ga perlu sering-sering menggendong sepeda. Tapi, eh, justru disini lah ban depan sepeda om Yun ga mau berputar. LOL.

Next time, ajakin Angie kesini ah, kala musim kemarau telah benar-benar hadir di kota Semarang. :)

IB180 17.53 12052017

Untuk foto-foto yang lebih lengkap, klik postingan sebelum ini yak?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar