Rabu, 19 Juni 2013

Bikepacking Sebagai Gaya Hidup

BIKEPACKING SEBAGAI GAYA HIDUP

Jika saja di pertengahan tahun 2008 lalu aku tidak ‘ditemukan’ oleh seorang penggerak komunitas bike-to-work Semarang, gegara posting komplain tentang harga BBM naik, mungkin aku tidak akan suka bersepeda; apalagi memiliki pengalaman bertamasya naik sepeda (yang biasa kusebut sebagai ‘bikepacking’).

di satu event Desember 2009, B2W Semarang bersama SOC
Maka begitulah. Setelah bergabung dengan beberapa orang pehobi sepeda (aku belum hobi bersepeda waktu itu) untuk mendirikan Komunitas B2W Semarang di bulan Juni 2008, merasakan bersepeda ke tempat kerja, menjadi ‘local celebrity’ setelah diwawancarai beberapa wartawan koran lokal karena menjadi praktisi b2w, bertemu dengan ‘calon’ soul mate bersepeda di tahun 2010, dan memulai bertamasya naik sepeda bersama pertama kali di bulan Juni 2011. Keasyikan bersepeda dari satu kota ke kota lain – hanya berdua saja – itu ternyata membuat kita ‘ketagihan’ hingga rencana demi rencana untuk berbikepacking pun kita buat dan realisasikan. Sungguh, ini adalah satu petualangan yang dulu tak pernah terpikirkan olehku!

Dalam tulisan ini, aku akan bercerita tentang perjalanan kita mengunjungi Upacara Perayaan Waisak di Borobudur pada hari Sabtu 25 Mei 2013.

Demi sebuah obsesi bersepeda dari Semarang ke Borobudur untuk menyaksikan kemeriahan perayaan Waisak, karena kita sadar tidak akan mampu menempuh jarak 100 kilometer dengan tanjakan-tanjakan yang tidak bisa dianggap enteng dalam waktu singkat, aku dan Ranz – my (biking) soul mate – memulai perjalanan pada hari Jumat 24 Mei 2013. (Ranz sendiri yang berdomisili di Solo telah datang ke Semarang hari Kamis 23 Mei.) Pukul 05.30 kita meninggalkan kos Ranz dengan mengendarai sepeda lipat masing-masing – aku naik downtube nova 20” sedangkan Ranz naik dahon da bike 16” single gear – ke arah Selatan kota Semarang yang terkenal dengan trek menanjak: Gajahmungkur alias Jalan S. Parman, Kaliwiru, Teuku Umar, hingga Gombel. Lolos tanjakan Gombel, kita agak dimudahkan dengan trek yang flat beberapa kilometer hingga kita dihadang tanjakan lagi di kawasan Pudak Payung, terus menanjak hingga Ungaran, dimana kita memutuskan untuk berhenti sejenak untuk sarapan sekitar pukul 08.00
jalan alternatif baru di Ambarawa
Usai sarapan kita melanjutkan perjalanan ke arah Bawen – juga full tanjakan – hingga masuk Ambarawa dimana kita dimanjakan dengan turunan sampai jelang tanjakan Jambu. Istirahat kedua kita lakukan di sebuah rumah makan Eva Coffee House dimana kita sempat nunut shalat Dzuhur. Trek rolling tanjakan turunan terus mengiringi kita sampai masuk kota Secang.
call me narcissist :D
alun-alun Magelang
Sesampai Secang, kita tinggal mengayuh pedal sepeda dengan santai karena kontur jalan berupa turunan halus. Horreeeeee ... Memasuki kota Magelang sekitar pukul 14.00, kita gowes semakin pelan demi menjelajah kota. Sesampai pertigaan Mungkid baru kita ngebut lagi. Borobudur kurang 15 kilometer lagi! Kita sampai di papan tulisan TAMAN WISATA CANDI BOROBUDUR (TWCB) sekitar pukul 16.00. Yay!!!

Borobudur 3 km lagiiiiii

mejeng dulu di 'stupa' :)
Meski banyak orang bilang bakal sulit mencari penginapan di sekitar Borobudur waktu perayaan Waisak, kita mendapatkan penginapan yang tidak jauh dari lokasi, meski harga sewa kamar terhitung mahal untuk fasilitas yang hanya kamar + double bed + kipas angin + kamar mandi luar. Namun kita lega. Malam itu cuaca cerah; di luar TWCB, kulihat banyak mobil parkir dimana kata seorang penduduk mereka adalah turis yang memilih menginap di mobil karena tidak mendapatkan penginapan. (aku dan Ranz sempat berpikir untuk nunut menginap di masjid / pom bensin lho jika tidak mendapatkan penginapan. Namun di kitaran TWCB kita tidak melihat ada masjid, apalagi pom bensin.)

Hari kedua Sabtu 25 Mei kita check out dari penginapan karena kamar yang kita pakai telah dipesan orang lain jauh-jauh hari. Maka agenda hari ini adalah mencari penginapan lain sebelum menyaksikan perayaan Waisak. Dengan bantuan seorang teman, kita mendapatkan penginapan dengan fasilitas sama – kamar + double bed + kipas angin + kamar mandi luar – namun lebih murah karena letaknya lumayan jauh, sekitar 2,5 kilometer dari TWCB. Dan ... dalam perjalanan menuju ‘homestay’ ini kita melihat sebuah masjid yang lumayan besar, yang bisa dijadikan nunut menginap, andai tidak mendapatkan penginapan. J

Setelah beramah tamah dengan pemilik ‘homestay’, kita tidak langsung ke TWCB, namun gowes dulu ke Punthuk Setumbu (PS), satu lokasi yang lumayan tinggi dimana dari gardu pandang yang ada kita bisa memandang candi Borobudur dari ketinggian (bagi yang matanya awas tentu saja. LOL.) Well, sebenarnya trek menuju PS ini tidak begitu ramah bagi sepeda lipat, namun apa boleh buat, kita ‘punyanya’ ya seli, plus kita telah keukeuh untuk mencapai lokasi apa pun yang kita kunjungi dengan gowes. Di awal trek, kita masih bisa gowes. Setelah melewati satu tempat lapang yang digunakan untuk tempat parkir, trek mulai sulit dilewati naik seli, namun aku mengajak Ranz untuk tetap membawa seli kita, dan bukannya memarkirnya; meski resikonya adalah tentu angkat junjung seli di titik-titik tertentu.
otw ke Punthuk Setumbu 1

ngemil apel dulu :)

nekad nyeli :D
PS – kata penduduk lokal – sangat terkenal dengan pemandangan ‘sunrise’ yang spektakuler, sehingga lokasi ini selalu penuh dengan pengunjung di pagi buta, terlebih lagi di weekend pas perayaan Waisak. Penduduk lokal pun mendapatkan pemasukan dari menjadi tukang parkir maupun pemandu para turis yang khawatir tersesat. Sebagian penduduk itu ‘menjaring’ turis dengan berkeliaran di kawasan TWCB.

Borobudur dari puncak Punthuk Setumbu
Setelah meninggalkan PS, kita langsung menuju TWCB, memarkirkan seli di tempat parkir yang banyak disediakan penduduk lokal, makan siang, dan ... menunggu lewatnya parade yang membawa air suci Waisak dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur. Bersama rombongan para bhikku/bhikkuni/umat Buddha yang membawa air suci, aku dan Ranz ikut masuk ke dalam TWCB.

Di dalam TWCB, pengunjung yang mungkin mencapai lebih dari 10.000 orang memadati lokasi. Banyak ‘turis’ dari kota-kota sekitar – misal Jogja, Magelang – sampai Jakarta, Surabaya, dll. Tentu juga turis manca negara ikut menambah semarak suasana. Semoga Candi Borobudur tetap berdiri kokoh karena diinjak-injak oleh ribuan orang dalam waktu bersamaan. (Hebatnya nenek moyang kita yang membangunnya ya?)

sebagian bhikku yang ikut parade

monumen Candi Borobudur dari dalam Taman

narsis itu HARUS :)

Karena berada di lokasi, aku ikut menjadi ‘saksi’ ricuhnya perayaan Waisak tahun ini karena pengunjung yang kurang menghormati upacara keagamaan ini. Mereka lupa bahwa upacara ini bukan ‘hanya sekedar’ ritual budaya semata. Semoga tahun depan panitia lebih siap dan tangguh menghadapi para pengunjung dan perayaan bisa berjalan dengan khidmat dan sakral. Amin.

Aku dan Ranz kembali ke homestay sekitar pukul 23.30, basah kuyup kehujanan.

Minggu 26 Mei kita membatalkan rencana untuk kembali ke PS untuk menikmati sunrise yang spektakuler. Hujan lebat semalam tentu membuat trek lebih sulit dilewati seli, plus malas berjibaku melawan hawa dingin dengan bangun di pagi buta. hehehehe ...

Sekitar pukul 07.30 kita sudah selesai sarapan dan pamitan dengan tuan rumah nan ramah. Rencana hari ini kita gowes ke Jogja!

Setelah berfoto sejenak di depan papan TWCB untuk dokumentasi, kita langsung gowes ke arah Candi Mendut. Sungguh di luar perkiraan jika dalam perjalanan kita bertemu dengan seorang bikepacker asal Jerman – Stephan – yang telah ‘mengembara’ di sepanjang Pulau Sumatra selama beberapa minggu sebelum menginjakkan kaki di Pulau Jawa. Semalam dia pun berada di TWCB, setelah selama 5 hari ngebut gowes dari Jakarta menuju Borobudur. Stephan telah keliling beberapa negara di Eropa dan Asia selama kurang lebih satu tahun lho, dengan naik sepeda! Kisahnya bisa disimak di www.cyclingeurasia.com

berdua Stephan di Candi Mendut
Di Candi Mendut, masih terlihat ‘sisa-sisa’ perayaan Waisak sehari/dua hari sebelumnya. Stephan nampak terkesan karena Candi Mendut lebih luas dibandingkan Candi Pawon yang dia kunjungi sehari sebelumnya. Dia juga terheran-heran mendapati banyak turis mancanegara di Borobudur/Mendut karena selama petualangannya di Pulau Sumatra selama beberapa minggu, dia hanya bertemu seorang turis manca.

Setelah mampir di Candi Mendut, ngobrol bertiga, sekitar pukul 10.30 kita melanjutkan perjalanan menuju Jogja bersama. Dalam perjalanan kita mampir ke Candi Ngawen yang terletak di Desa Ngawen Muntilan, sekitar 3 kilometer dari jalan raya Muntilan - Jogja. Candi Ngawen adalah Candi Buddha yang dibangun di abad yang sama ketika Dinasti Syailendra membangun Borobudur. Yang menarik adalah di bawah Candi Ngawen mengalir sumber air yang tak pernah kering sepanjang tahun! Jika kita menginjakkan kaki di dekat Candi, kita akan merasakan tanah yang gembur. Pemerintah telah membuatkan saluran air untuk mengalirkan sumber air dari bawah candi.
Candi Ngawen
Ada seorang satpam yang ditempatkan di lokasi untuk menjaga keamanan, meski tidak kutemukan plang papan nama CANDI NGAWEN. Dari arah jalan raya juga tidak ada papan petunjuk arah, jadi kita mengandalkan bertanya pada orang-orang sekitar yang dengan ramah menunjukkan arah. Untuk masuk Candi Ngawen, kita tidak ditarik biaya.
lanjut gowes ke Jogja
Dari Candi Ngawen, kita langsung gowes menuju Jogja. Sempat mampir di sebuah warung makan Padang yang sederhana di pinggir jalan raya. Harganya murah lho, hanya sekitar Rp 7000,00 per porsi, apa pun lauk yang kita ambil. Stephan pun nampak makan dengan lahap. Dia mengaku suka masakan Indonesia! Wah! :)

Usai makan, kita terus gowes. Seperti trek Secang – Magelang, kali ini kita pun diuntungkan dengan trek yang terus menurun halus. Aku dan Ranz mengantar Stephan ke Malioboro, dimana aku yakin dia akan menemukan penginapan yang murah. Katanya dia akan ‘stay’ di Jogja selama beberapa hari. Stephan sempat bilang bahwa dia akan stay di Indonesia lebih lama dari rencananya semula karena “Indonesia has many interesting places to visit!”
Ranz bersama Shaun, salah satu sepeda kesayangannya
di 'markas' Bikepacker Indonesia Jogja
Sekitar pukul 16.00 kita meninggalkan Malioboro menuju Solo (setelah Ranz menjemputku ke Semarang, gantian aku mengantarnya pulang.) Dari Solo menuju Semarang aku naik bus demi mengirit waktu dan tenaga. Sepeda kulipat dan kumasukkan ke bagasi.

Aku sampai rumah sekitar pukul 21.30. Excited, satisfied and ... relieved. :)

Bersepeda memang telah mengubah gaya hidupku, sebagai moda transportasi ke kantor, maupun untuk berwisata.

PT56 07.55 19/06/13

P.S.:

Ditulis ulang untuk mengikuti lomba “Kisah Perjalanan Bersepeda” yang diselenggarakan oleh www.nationalgeographic.co.id  

Link tulisan tentangku di beberapa koran lokal bisa diklik disini dan disini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar