Senin, 09 September 2013

GOWES SEMARANGAN : WISATA RELIGI (jilid 3)


GOWES SEMARANGAN : WISATA RELIGI jilid 3

Masih dengan semangat yang sama – mengenal peninggalan nenek moyang yang berupa Masjid dan Gereja – hari Sabtu 7 September 2013, aku, Ranz dan Andra gowes bersama dengan tujuan Masjid Menara alias Masjid Layur dan Kapel Susteran Gedangan.

Aku dan Ranz melaju ke arah Kota Lama Semarang untuk bertemu dengan Andra sekitar pukul 07.20. Kita bertemu di Jembatan mBerok sekitar pukul 07.35. Yang pertama kita kunjungi adalah Masjid Layur yang juga dikenal sebagai Masjid Menara Kampung Melayu. Dari arah Kantor Pos Besar Jalan Pemuda, sebelum Jembatan mBerok, kita belok kiri. Kita akan menemukan rel kereta api di depan, kita menyeberangi rel tersebut. Jalan Layur ini merupakan daerah ‘langganan’ terkena banjir ‘rob’. Pada waktu kita kesana juga jalan sedang tertutup air banjir sehingga kita ‘terpaksa’ menjinjing sepeda untuk menuju masjid; sayang jika sepeda kita terkena air rob yang sering ‘jahat’ karena menyebabkan besi/alumunium mudah berkarat.

kebetulan pas kereta barang lewat :)

 
rob di Jalan Layur

Menara Masjid terlihat dari ujung jalan sebelum rob

dengan sepenuh cinta kujinjing Austin :)

Kawasan ini dulu dikenal dengan nama ‘Kampung Melayu’ karena konon dulu mayoritas didiami oleh mereka yang keturunan Melayu.

Masjid Layur ini dibangun tahun 1802 oleh ulama Arab Hadramaut (Yaman). Bangunan induk mesjid memiliki arsitektur gaya Jawa dengan atap masjid susun tiga. Sedangkan menara yang berdiri kokoh di depan pintu masuk masjid bergaya arsitektur Timur Tengah.

menara masjid dari halaman dalam dan pintu masuk

interior di dalam masjid

interior di dalam masjid

tiang dan atap di dalam masjid

Sampai sekarang bangunan masjid ini masih asli seperti ketika pertama kali dibangun kurang lebih dua abad lalu. Masjid juga masih digunakan untuk beribadah oleh masyarakat sekitar setiap harinya.

aku dan Andra nunut narsis di teras masjid :)

selalu unjuk narsis :)

Andra, aku dan menara :)

tampilan utuh masjid dengan atap bersusun tiga

Setelah cukup puas berfoto-fiti, kita bertiga meninggalkan masjid untuk mencari sarapan. J Seperti ketika menuju masjid, aku dan Andra menjinjing sepeda kita masing-masing, sedangkan Ranz tetap menaiki Febby, sepeda BMX-nya menembus banjir rob.

narsis sembagi nunggu pesanan datang

di luar warung 

Kita sarapan di rumah makan yang nasi goreng jerohannya sudah kondang kemana-mana. Sayangnya, aku dan Ranz tidak begitu suka jerohan sehingga kita hanya memesan ‘nasi goreng polosan’. J Letak rumah makan ini dekat dengan jembatan mBerok, di samping sungai yang mengalir di bawah jembatan itu. (Sungai Semarang ya namanya kalau tidak salah? J )

Usai sarapan, kita melanjutkan gowes ke arah Jalan Jendral Suprapto yang sedang ditutup dari kendaraan bermotor karena sedang ada penyelenggaraan Festival Kota Lama. Di dekat Gereja Blenduk, berdiri sebuah warak dengan ukuran yang lumayan besar untuk menarik perhatian pengunjung. Suasana festival masih sangat lengang mungkin karena masih sangat pagi.
gayanya Ranz tuh gimana yak? :D

aku, warak, dan Gereja Blenduk
Ranz yang (suka sok) cool :-P

salah satu hiasan di tengah jalan Jendral Suprapto

gedung Marba

salah satu hiasan dalam rangka Festival Kota Lama

Dari Jalan Jendral Suprapto, kita menuju Jalan Ronggowarsito dimana Gereja Gedangan terletak. Andra yang mengajak kita masuk ke bangunan susteran yang terletak di seberang Gereja. Kebetulan kita bertemu Suster Silvana yang sangat ramah menyambut kita; bahkan beliau yang mengantar kita masuk ke kapel Susteran yang artistik dan cantik. Honestly, ini pertama kali aku masuk ke kapel/gereja! Dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri – tidak hanya lewat televisi LOL – interior kapel yang dibangun pada tahun 1809!

Kapel (berwarna) Merah

interior di dalam Kapel Susteran Gedangan

aku dan Andra berpose bersama Suster Silvana

prasasti yang menunjukkan Kapel dan Susteran dibangun tahun 1809

Seperti Masjid Layur, masalah yang dihadapi bangunan Susteran ini sama: banjir rob! L Namun kita harus mengacungkan jempol dengan semua material yang dipakai membangun kapel ini: meski sering dilanda banjir rob, bangunan masih kokoh berdiri dengan tegar dan megah. Bahkan menurut penuturan Suster Silvana – yang ketika berbicara logat Balinya masih kentara meski beliau telah tinggal di Semarang sejak tahun 1981 – lantai bangunan justru kian kinclong jika dibersihkan setelah terendam banjir rob untuk beberapa saat.
Dinding luar terbuat dari batu bata merah, sehingga Gereja Gedangan ini kadang juga disebut sebagai Gereja Merah. Tidak banyak tenaga Suster yang tinggal di Susteran. Meskipun begitu mereka semua selalu bersemangat untuk menjaga kebersihan Susteran agar bangunan yang sudah masuk banguna kuno yang layak dilestarikan ini tetap dalam kondisi prima.

pintu masuk menuju kapel dengan gerendel pintu nan artistik

aku berdua Ranz pose di depan pintu masuk ke kapel

jalan masuk menuju kapel

Kita bertiga sudah merasa cukup beruntung diperbolehkan masuk ke Susteran dan bahkan foto-foto di dalam kapel, sehingga kita tidak masuk ke Gereja Gedangan yang terletak bersebrangan dengan bangunan Susteran ini.

bagian atas Kapel Susteran Gedangan

lantai nan tetap kinclong meski sering terkena rob

si narsis unjuk pose :)
Andra berpose di sebrang Gereja Santo Yusuf Gedangan 

Jika anda penikmat wisata religi dan gedung kuno yang masih dilestarikan – bahkan masih berfungsi seperti semula bangunan dibangun – jangan pernah lewatkan untuk berkunjung ke Masjid Layur alias Masjid Menara Kampung di Jalan Layur Melayu dan Gereja / Susteran Gedangan di Jalan Ronggowarsito. You will love the experience! J

Sampai jumpa di gowes wisata religi yang berikutnya! J

GG 11.47 090913

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar