Rabu, 18 September 2013

WEEKEND WITH CIPLUK


WEEKEND WITH CIPLUK

Sudah lumayan lama Cipluk – rekan gowes dari Kudus – tidak berkunjung ke Semarang. (Padahal duluuuuu sering lho. J ) Kebetulan hari Sabtu 14 September 2013 Cipluk ke Semarang, maka malam minggu itu aku dan Ranz menemaninya NR alias night ride (dan kita ditemani Asrul, sang b2wer militan). Di hari Minggu pagi 15 September 2013 kita gomingpai alias gowes minggu pagi ditemani si mungil Tami yang juga sudah cukup lama ga gowes bareng aku dan Ranz.

Gowes Malam

di depan kantorku :)

gedung di samping Tay Kak Sie

tampilan di malam hari bertabur cahaya :)


 Kita mulai bernite ria setelah aku usai menjalankan salah satu tugas negara – turut serta mencerdaskan generasi penerus bangsa – di Jalan Imam Bonjol 180. Dari Jalan Imam Bonjol kita gowes ke arah Jalan Pemuda, sampai di traffic light dekat A** H**dw***, kita belok kanan ke Jalan Gajahmada. Di perempatan pertama dari situ, kita belok ke arah kiri Jalan Kranggan. Tak jauh dari situ kita sampai ke gerbang selamat datang di kawasan Pecinan Semarang. Kita tidak berhenti untuk berfoto-ria di gerbang tersebut, kita langsung masuk ke Gang Warung – tempat dilaksanakannya pesta kulineran tiap wiken di Semarang. Waktu itu ada beberapa ‘stall’ yang sudah buka, namun banyak juga yang pedagangnya baru memasang tenda, menata meja dan kursi, dll. Warung Semawis masih sepi pengunjung. Kita langsung sampai ujung Gang Warung, kemudian belok kiri, untuk kemudian setelah melewati jembatan Sungai Koping (konon dulu namanya Khauw Ping) kita belok kiri lagi, untuk menuju Kelenteng Tay Kak Sie.

Berbeda dengan dua minggu lalu waktu aku dan Ranz berkunjung kesini – saat itu sedang ada persiapan upacara King Hoo Ping – malam minggu kemarin suasana cukup lengang. Acara tunggal tentu adalah bernarsis-ria di depan kamera dengan Ranz sebagai fotografer kita. J

patung Laksamana Cheng Ho dengan Tay Kak Sie


unjuk narsis di depan Tay Kak Sie :)


Setelah cukup puas, kita melanjutkan gowes ke arah Gereja Blenduk. Sesampai di Jalan Jendral Suprapto, kita belok kanan (melawan arah traffic J) di Jalan Cendrawasih. Tujuan kita kali ini adalah Gedung Marabunta, yang dulu merupakan gedung pertunjukan seni.

Gedung Marabunta dibangun sekitar abad ke-19 dan konon pernah dipakai tempat pertunjukan seorang mata-mata perempuan yang terkenal: Matahari. Satu ciri utama gedung ini adalah dua patung semut raksasa di atas gedung. Sayang kita kesana di malam hari sehingga patung semut raksasa itu tak terlihat dengan jelas di foto. J


Gedung Marabunta 1

Gedung Marabunta 2

Dari Gedung Marabunta, kita gowes kembali ke arah Jalan Pemuda. Tujuan kita kali ini: angkringan di seberang gedung Bappeda! Semenjak night ride Earth Hour di bulan Maret yang lalu, angkringan ini menjadi salah satu tempat nongkrong favorit kita. J

Usai ‘ngangkring’ kita pulang.

Gomingpai

Kali ini Asrul tidak ikut karena dia harus masuk kerja. Tami yang malam sebelumnya tidak bisa ikut NR, bergabung dengan kita gowes pagi ini. Sempat bingung mau mengajak Cipluk gowes kemana, akhirnya kita ke Vihara Tanah Putih Semarang. Untuk rute kita memilih Jalan S. Parman, kemudian menanjak di Rinjani – tanjakannya super ‘friendly’ – sampai di pertigaan AKPOL, kita belok kiri ke Jalan Sisingamangaraja. Sampai ujung Jalan Sisingamangaraja, kita belok kiri, Jalan Wahidin.

di gang dimana kos Ranz terletak

di Jalan Rinjani, bertemu dengan Om Tatang

Cipluk our bikepacker this time :)
Vihara Tanah Putih memang terletak di sebuah tempat yang ‘agak tidak enak’ dicapai karena tanjakannya lumayan curam, plus belokan jadi waktu kita menyeberang jalan, kita harus sangat hati-hati. Sayangnya sesampai di vihara, oleh seorang petugas keamanan kita tidak diijinkan masuk karena sedang ada sembahyangan. Kita cukup merasa ‘puas’ berfoto ria di gerbang masuk vihara, untuk kemudian melanjutkan gowes.

di gerbang masuk Vihara Tanah Putih

di seberang vihara :)

Dari Tanah Putih, kita menuju Jalan Sriwijaya, kemudian lanjut ke Jalan Veteran, kembali bertemu pertigaan RS Dr. Kariadi, belok kiri ke arah Jalan Kaligarang. Usai menyeberang traffic light dekat jembatan Banjirkanal, kita terus melaju ke arah Gedung Batu Sam Po Kong: lokasi bernarsis ria selanjutnya. J

di gerbang masuk Gedung Batu Sam Po Kong

narsis mulu daahhh ceritanya :)

piye jal ceritane ki? :D

narsis jalan terus

narsis terus jalan :D

Dari Sam Po Kong – yang dulu cukup dikenal dengan sebutan ‘Gedung Batu’ saja – kita gowes ke arah Puspowarno; hal ini berarti kita menanjak ‘gundukan’ Pamularsih dari arah Gedung Batu, kemudian belok kanan. Untuk sarapan ringan kita pagi itu kita mampir ke sebuah kios yang berjualan bubur kacang hijau dan ketan hitam.

gek ngopo jal? :P

it is in Hong Kong! :)
dengan patung Laksamana Cheng Ho sebagai latar belakang :)

Usai sarapan kita gowes ke arah Pusponjolo, melewati Jalan Pusponjolo Selatan untuk menuju taman Banjirkanal Barat di samping jembatan yang menghubungkan kawasan Pusponjolo dengan Lemah Gempal. Meski belum ada jam sepuluh namun waktu itu matahari bersinar dengan sangat terik, mengurangi hasrat untuk berlama-lama narsis. LOL.

obrolan yang serius nih :)

Cipluk in action

me in action :)

Dari Taman Banjirkanal itu, aku pamit pulang, ‘ritual’ Mingguan telah menungguku. Sementara itu, Cipluk sempat beristirahat sejenak di kos Ranz selama beberapa saat untuk kemudian melanjutkan gowesnya : pulang ke Kudus!


GG 12.21 180913

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar