Rabu, 04 September 2013

GOWES SEMARANGAN : WISATA RELIGI

GOWES SEMARANGAN : WISATA RELIGI

Akhirnya kesampaian juga keinginan satu ini : gowes wisata religi di kawasan kota kelahiranku sendiri. Belum mencakup semua lokasi wisata religi sih, but not bad lah. J

Hari Sabtu sebelum memasuki bulan September nan ceria, tanggal 31 Agustus 2013 aku dan Ranz menyambangi tiga tempat wisata yang tak asing lagi sebenarnya. Namun belum pernah kita menyengajakan diri kesana untuk gowes wisata sekalian bernarsis ria. LOL.

Dari kos Ranz yang terletak di kawasan Lemah Gempal, kita berkunjung ke Kelenteng Tay Kak Sie yang terletak di Gang Lombok (karena kawasan itu dulu banyak terdapat tanaman lombok) melalui Jalan Suyudono - Pasar Bulu – Tugumuda – Jalan Pemuda – Jalan Gajahmada – Jalan Kranggan – Gang Warung – Jalan Pekojan – Gang Lombok.

1.   Kelenteng Tay Kak Sie (Kuil Kesadaran)

Kelenteng satu ini terletak di Jalan Gang Lombok no 62 Pecinan Semarang. Didirikan pada tahun 1746 (ada yang menyebut tahun 1772), semula hanya untuk memuja Dewi Kwan Sie Im Po Sat, Yang Mulia Dewi Welas Asih, namun kemudian berkembang menjadi kelenteng yang juga memuja Dewa Dewi Tao lainnya.

gayaku sudah mirip Cheng Ho belum? LOL

sumbangan para donatur acara King Hoo Ping

Kelenteng Tay Kak Sie dari depan

Beberapa tahun lalu oleh pemerintah kota Semarang, di sungai yang terletak di depan Kelenteng, ditempatkan sebuah kapal / perahu yang berukuran lumayan, yang konon merupakan replika kapal Laksamana Cheng Ho yang mendirikan Gedung Batu Sam Po Kong. Pemkot berpikir bahwa keberadaan kapal itu akan menambah nilai positif Kelenteng Tay Kak Sie dari segi pariwisata. Akan tetapi kondisi sungai yang penuh kotoran dan tidak pernah dikeruk/dibersihkan ini, justru keberadaan kapal membuat kondisi sungai semakin kotor dan kumuh hingga nampaknya Pemkot berencana untuk memindahkan (menyingkirkan) replika kapal tersebut.

tulisannya apa ya?

salah satu hiasan di dinding

narsis is my middle name :-P
Tahun 2008 lalu, waktu kondisi kapal masih baru dan bersih + bagus, beberapa kali dipilih sebagai lokasi untuk menyelenggarakan beberapa event. Salah satunya – yang kuhadiri waktu itu – adalah puncak acara perayaan Hari Kebangkitan Nasional yang keseratus di Semarang tahun 2008: KETOPRAK PUTRI CINA.

Sejak kurang lebih satu tahun yang lalu, di depan Kelenteng, diletakkan sebuah patung besar Laksamana Cheng Ho, yang mendirikan Gedung Batu Sam Po Kong. Mungkin untuk ‘menemani’ replika kapal yang ada di sungai depan Kelenteng. J

replika kapal Cheng Ho, tanpa layar :)

Ranz di atas geladak :)

Kebetulan pada hari Sabtu 31 Agustus aku dan Ranz kesana, di halaman Kelenteng yang luas itu sedang ada persiapan perayaan King Hoo Ping yang akan diselenggarakan pada hari Senin 2 September 2013.

Dari Kelenteng Tay Kak Sie kita melanjutkan gowes ke salah satu landmark Semarang, yang berupa peninggalan zaman pemerintah kolonial Belanda : Gereja Blenduk. Jarak kedua lokasi ini tidak terlalu jauh, kurang dari 1 kilometer.

2.   Gereja Blenduk

Gereja Blenduk yang terletak di Jalan Jendral Suprapto, di kawasan Kota Lama Semarang dibangun tahun 1753. Yang menarik dari gereja ini adalah bentuk kubahnya yang menggelembung (‘mblenduk’ – Boso Jowo) dan bangunan gereja yang dibangun tanpa pagar sehingga seolah-olah menyatu dengan jalan dan daerah di sekitarnya.

Gereja Blenduk dari arah depan

kubah Gereja Blenduk

seperti biasa, aku nunut nampang yak? :D

Gereja Blenduk – yang sesungguhnya bernama Gereja GBIP Immanuel – merupakan Gereja Kristen tertua di Jawa Tengah dan berbentuk heksagonal.
Setelah puas berfoto-fiti di Gereja Blenduk kita melanjutkan gowes ke arah Jalan Gajah, dimana Masjid Agung Jawa Tengah terletak. Dari kawasan Kota Lama, aku mengajak Ranz ke arah Jalan Agus Salim ke bundaran Bubakan, kemudian terus ke arah Timur, Jalan Citarum dan terus ke jalan arteri atau Jalan Sukarno - Hatta. Di traffic light pertama, kita belok kanan, Jalan Gajah.

3.   Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah – sering disingkat dengan akronim MAJT – terletak di Jalan Gajah Raya Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari Semarang. Masjid yang lumayan megah ini mulai dibangun pada tanggal 6 September 2002 dan diresmikan oleh Presiden SBY pada tanggal 14 November 2006.

menara Al-Husna yang tingginya 99 meter

pilar-pilar MAJT nan indah

aku dan Ranz berdua di depan MAJT

Untuk menarik lebih banyak wisatawan datang ke MAJT, sebuah menara yang disebut Al-Husna setinggi 99 meter dibangun. Al-Husna Tower ini terdiri dari 19 lantai. Lantai 19 berupa gardu pandang dimana para turis bisa melihat kota Semarang, dengan teropong yang disediakan. (Untuk ini, sediakan uang receh Rp 1000,00, logam baru, atau bisa tukar dengan petugas yang jaga. Untuk satu logam uang seribu rupiah, kita bisa menggunakan teropong selama 90 detik.) Lantai 18 berupa rumah makan yang berputar 360 derajat. (Sayangnya waktu aku dan Ranz datang, rumah makan ini sedang tutup.) Sedangkan lantai 2 dan 3 berupa museum perkembangan Islam di Jawa Tengah dan museum keterlibatan Islam dalam perkembangan negara Indonesia.

Selain masjid dan menara, di halaman masjid yang luas, juga ada beberapa toko yang menjual pernak-pernik Islam, misal pakaian, hiasan kaligrafi, dll. Tak ketinggalan pula beberapa warung yang menyediakan berbagai jenis minuman dan makanan.

MAJT dari gardu pandang di atas Menara Al-Husna

aku nampang di dalam museum :)

aku dan miniatur Menara Kudus :)

Keluar dari MAJT sekitar jam 10.00, suasana sudah sangat panas, seperti sudah tengah hari. Kita gowes ke arah Jalan Majapahit, kemudian belok kanan menuju Simpanglima. Rencana untuk mampir ke bengkel sepeda tidak jadi karena tutup. Ranz lanjut ke kampus sedangkan aku ke kantorku yang terletak di Jalan Imam Bonjol no. 180. J


GG 08.43 03-04 September 2013 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar