Jumat, 11 Oktober 2013

GOWES KE KAMPUNG DJOWO SEKATUL


GOMINGPAI KE KAMPUNG DJOWO SEKATUL

Minggu 6 Oktober 2013 aku dan Ranz bertemu di depan Museum Mandala Bhakti di sebrang Tugumuda sekitar pukul 06.20; aku dari rumah seusai mengerjakan ‘ritual pagi’ di dapur sedangkan Ranz dari arah pasar minggu pagi di kawasan Jalan Kimangunsarkoro membeli pesanan keponakannya. Setelah yakin tak ada teman yang akan ikut gowes kita pagi itu, kita berdua langsung melaju ke arah Barat: Jalan Sugiyopranoto, lanjut ke Jalan Sudirman – Kalibanteng – Jalan Siliwangi lanjut terus hingga pertigaan pasar Jrakah dimana kita belok kiri ke arah Ngaliyan.


jelang lewat 'flyover' baru di kawasan Kalibanteng

di atas 'flyover'

aku jelang nanjak BPI Ngaliyan

Ranz menaiki Feby, BMX nanjak BPI Ngaliyan

Bisa dikatakan gowes kita kali ini merupakan napak tilas gowes ke Nglimut, Mei 2012. Jika waktu itu kita berempat (Ranz, Tami, Mas Nasir dan aku); kali ini kita berdua saja. Jika waktu itu aku naik Austin (sepeda lipat roda downtube nova 20”) Ranz naik Shaun (sepeda lipat dahon da bike 16”), kali ini aku masih menaiki sepeda yang sama, Austin, Ranz naik Feby sepeda BMX-nya yang entah mengapa diberi nama yang feminin. LOL. Bless Ranz and Feby! LOL.

Di awal gowes ini Ranz terlihat sangat perkasa: tanjakan BPI Ngaliyan yang lumayan killing itu dia libas tanpa halangan berarti. (Kalo aku naik BMX boro-boro dahhh, nanjak Pamularsih aja pasti sudah KO.) Kita mampir sarapan di warung makan soto Pak H. Oji, sebelum mulai ‘mendaki’ tanjakan Esperanza yang lumayan panjang itu.

Karena kita hanya berdua – jadi bisa sangat fleksibel dengan waktu – dan karena Ranz naik Feby (sorry ya Feby, hihihihi ...) setelah nanjak BPI dan sebelum nanjak Esperanza Ranz butuh istirahat lumayan lama, sarapan kita pagi itu lumayan lama, mungkin sekitar 45 menit kita nongkrong disitu.
Sekitar pukul 09.00 kita baru ninggalin warung soto Pak H. Oji. Kondisi ban belakang Austin rada gembes tapi aku ga menemukan tempat aku bisa memompanya maka terpaksa nanjak Esperanza dengan kondisi ban belakang rada gembes. Tapiiiii ... tetaplah mending dari pada naik BMX. LOL. Sampai atas tanjakan Esperanza baru aku menemukan tukang tambal ban a.k.a tukang pompa ban.


tempat kita sarapan

jelang nanjak Esperanza

di tengah-tengah tanjakan Esperanza

setelah melewati 3/4 tanjakan Esperanza :)

Setelah foto-foto di bangunan nan menjulang sebelum masuk kawasan perumahan BSB (tempat wajib foto jika gowes ke BSB), kita mampir ke sebuah mini market untuk membeli air mineral sebagai bekal. Disini kita ngobrol-ngobrol lagi sampai sekitar 20 menit, baru kita melanjutkan perjalanan.
Ranz sempat nawarin kita ke BSB saja – jika aku membawa baju berenang, namun aku tidak berniat berenang – hingga aku tetap memilih lanjut gowes ke Sekatul jika Ranz tidak keberatan. I understood tentu lah berat gowes ke Sekatul naik BMX, meski Ranz pernah gowes Solo – Semarang naik Feby. J
Dengan setengah hati (Ranz, bukan aku J) kita tertatih-tatih lanjut gowes. Maka bisa dimaklumi jika pukul 11.00 kita baru melewati pertigaan Boja, padahal di bulan Mei 2012 lalu jam segitu kita telah sampai di Nglimut yang lebih jauh dan perlu menanjak lebih tinggi ketimbang Sekatul. Wew.

lokasi wajib foto tiap lewat BSB :)

di satu pinggir jalan :)

jelang pertigaan Boja - Ungaran - BSB

berapa kilometer lagi yaaa?


‘Dihajar’ tanjakan bertubi-tubi (ternyata kita berdua lupa seberapa jauh pertigaan Sekatul dari kawasan BSB) dan penunjuk GPS di hape yang ngawur sempat membuat Ranz down hingga beberapa kali bilang, “Kita pulang aja yuk?” Sementara itu aku merasa, “Ah, nanggung, sebentar lagi juga nyampe.” ‘Sebentar’ yang berulang kali hingga tak benar-benar sebentar melainkan ‘berbentar-bentar’. LOL.

Di satu lokasi di tengah tanjakan panjang, Ranz ngecek jarak di GPS hapenya yang memberi petunjuk “7 kilometer lagi” (sekitar pukul 11.30) hingga membuatnya patah hati. Untunglah GPS di hapeku memberi petunjuk “1,5 kilometer lagi”. “Sudah dekat Ranz! Ayo, kamu pasti bisa!” aku mencoba memberinya semangat.

jelang tanjakan berikut :D

bukan anggota GPT alias goweser pecinta tanjakan lho :D

nama jalan yang kita lewati :-P

Sekatul? terusss sajaaaa :D

Gunung Ungaran dari kejauhan

“Oke kalo hanya tinggal 1,5 kilometer lagi. Semoga di ujung tanjakan ini kita akan menemukan pertigaan dimana Sekatul terletak,” jawab Ranz pasrah. LOL.
Dan ... sekitar pukul 11.50 kita telah sampai pertigaan yang kita cari itu. Setelah foto-fiti sejenak, kita belok kanan. Kampung Djowo Sekatul terletak kurang lebih hanya 200 meter dari pertigaan tersebut. Sebelum masuk, kita (lagi-lagi) mendokumentasikan keberadaan kita di depan papan nama Sekatul, baru kemudian kita masuk.

finally!!! pertigaan menuju Sekatul! yayyy!

Sekatul, here I am! :)

bagian dalam kawasan Kampung DJowo Sekatul

gowes di dalam kawasan Sekatul menuju gazebo tempat kita makan siang


Desa Wisata kampoeng Djowo Sekatul tepatnya terletak di desa Mergosari Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal. Disini kita bisa menikmati riuhnya kicau burung, hamparan sawah yang luas, hijaunya perbukitan serta gemercik air sungai. Sekatul menawarkan wisata outbound, kolam renang, sekaligus pondok dahar dimana banyak rombongan datang untuk reuni, arisan keluarga/komunitas, dll. Juga ada kebun buah dan tanaman hias, sekaligus taman bermain dan bumi perkemahan.

salah satu lokasi favorit berfoto :)

gazebo tempat kita makan siang

kawasan dalam Sekatul

salah satu fasilitas outbound

kawasan dalam Sekatul

menu maksi kita: bakmi pecel, trancam, oseng daun singkong, pepes pedo

Aku dan Ranz memesan masakan khas Jawa untuk menu makan siang kita: bakmi pecel, trancam, oseng daun pepaya dan pepes pedo.

Karena khawatir kesorean (Ranz harus balik ke Solo), aku tidak jalan-jalan untuk menjelajahi Sekatul. Kita butuh waktu kurang lebih satu setengah jam untuk makan siang plus istirahat. Kita memilih duduk di sebuah gazebo dimana di depan kita hamparan perbukitan nan hijau menguning, sedangkan di bawah gazebo ada sungai kecil dimana air bening mengalir dengan suara gemerciknya yang merdu.

kawasan dalam Sekatul

kolam renang di dalam kawasan dalam Sekatul

salah satu gazebo yang diberi nama Kyai Slamet

bersiap untuk pulang! :)

Kita meninggalkan kawasan Sekatul sekitar pukul 14.00 dan sampai Pusponjolo sekitar satu setengah jam kemudian.

Pengen ngajakin yang lain gowes ke Sekatul (lagi) dalam waktu dekat. Ada yang mau ikut gaaa? J

P.S.:
Always millions of thanks for my loved biking mate, Ranz. J
GG 09.49 091013

2 komentar:

  1. Balasan
    1. pengennya tiap weekend ada kisah gowes yang bisa kutayangkan di blog ini, sayangnya belum tentu bisa begitu :)

      Hapus