Rabu, 09 Mei 2012

Crazy Uphill Biking and Challenging Jungle Trekking



GREAT ADVENTURE: GOWES PLUS TREKKING KE NGLIMUT


Background
  1. Satu kali Mas Nasir mengunggah foto seli imutnya di pinggir jalan dengan caption “gowes ke Nglimut”. Beberapa jam kemudian aku melihat Mas Nasir mengunggah fotonya di depan baliho tulisan “Wisata Alam Nglimut Pemandian Air panas alami Promas Greenland Gonoharjo”. Dikarenakan Mas Nasir ‘hanya’ menaiki sepeda lipatnya yang rodanya hanya 16 inchi, maka kupikir – atau kuharapkan – medannya friendly. Maka, beberapa hari kemudian aku ngewall Mas Nasir ngajakin gowes ke Nglimut, karena sudah cukup lama juga ga ada event gowes bareng di komunitas b2w Semarang.
  2. Satu siang waktu makan siang di sebuah rumah makan aku bertemu Okto, salah satu peserta “gowes ceria to Kudus” setahun lalu. Kita sempet ngobrol tentang gowes ke Nglimut ini. Review yang diberikan oleh Okto sempat menciutkan hatiku: dia ga mampu gowes di tanjakan terakhir yang memang ekstrem. Mana dia terserang linu di dengkul pula sehingga bahkan perjalanan pulang yang “tinggal” downhill (alias nggelondor turun) pun butuh waktu lama. L
  3. “Gowes ke Nglimut? MISSION IMPOSSIBLE!” kata seorang rekan kerja ketika dia bertanya kemana aku akan gowes di hari Minggu 7 Mei. Hadeeehhh ... kok ga enak banget yak ‘review’ yang kudapatkan sebelum berangkat gowes ke Nglimut? Maka kubilang, ‘bekal’ku adalah: gowes ke Tawangmangu bulan Desember 2011. Yah ... paling tidak aku punya pengalaman gowes nanjak ‘gunung’ lah. J
  4. “dulu gowes dari mabes ke sekatoel aja udah fak fak fak banget. Ampuun ... ban saya kecil, tipis, dan imut. .. nggak dulu deh.. #ngeles” Ini komen Tedjohns di grup Komselis. hadeehhh ... baru ngeh kalo lokasi Nglimut lebih tinggi dari pada Sekatul. Bener-bener review yang tidak mendukung. Semakin menciutkan hati.

Nevertheless, dengan dukungan Mas Nasir, Tami, dan Ranz yang kebetulan kuliahnya libur karena Hari Suci Waisak, aku tetap memutuskan berangkat.



On the D-day – Extreme uphill biking

Janjian dengan Mas Nasir kumpul di meeting point jam 5.30 untuk berangkat jam 6. Aku, Tami, dan Ranz nyampe disana pukul 06,10 dan Mas Nasir sudah ada disana. Kita langsung berangkat.

Tanjakan lumayan ‘killing’ pertama adalah setelah kita belok ke kiri dari pasar Jrakah: tanjakan BPI. Untunglah shifter Austin sudah kuganti sehingga tanjakan itu kulewati dengan mulus. (Beberapa bulan lalu waktu shifter Austin masih bermasalah, aku terpaksa ttb disini. :-D) Setelah lewat tanjakan BPI, kita mampir di satu warung soto ayam untuk sarapan. Kita berhenti untuk sarapan selama kurang lebih 30 menit sebelum melanjutkan perjalanan.



Tanjakan yang ga begitu killing namun lebih panjang sehingga lebih melelahkan adalah tanjakan Esperanza. Tanjakan yang lumayan jadi bahan pembicaraan beberapa teman b2w Semarang di awal komunitas ini berdiri dan mereka diajak gowes ke Alaska oleh Mas Nasir. Aku yakin mampu menaklukkan tanjakan ini meski tentu harus pelan-pelan. Namun di tengah perjalanan, mendadak ada seorang cyclist yang menawari mendorongku. Hihihihi ... Maka, dengan riang gembira kulewati Tami, Ranz dan Mas Nasir. Hahahaha ...


Lepas tanjakan Esperanza, kita sampe ke BSB. Wahhh ... ternyata BSB deket yak? Hihihihi ... Pemandangan perkebunan pohon karet yang pohonnya miring sangat asik dilihat mata di sebelah kanan jalan. Serta merta membuat kita lupa tanjakan Esperanza yang membuat kita lumayan ngos-ngosan sebelumnya. J Akan tetapi, jalanan mulai menyempit sehingga kita harus hati-hati berbagi jalan dengan kendaraan bermotor yang lain. Lumayan banyak juga pesepeda lain yang gowes ke arah yang sama dengan kita – maupun ke arah yang berlawanan – namun hanya kitalah pesepeda yang naik sepeda lipat (aku naik Austin, roda 20”, Ranz naik Shaun, dahon da bike roda 16” yang frame-nya terbuat dari besi, sedangkan Mas Nasir naik dahon cd3 roda 16”. Tami satu-satunya yang naik mtb).

Di tengah jalan, Mas Nasir ‘menemukan’ seorang goweser yang nampaknya gowes sendirian kayak orang ilang, sehingga ditawarin Mas Nasir untuk ikut gabung dengan kita: Ibnu. Mas Nasir memintanya untuk menjadi sweeper. J Mungkin juga untuk menemani Mas Nasir yang satu-satunya berjenis kelamin lelaki di ‘rombongan’ kita. :)


Perjalanan lancar hingga kita sampai di pertigaan yang kalau belok kanan kita akan sampai di Sekatul sedangkan kalau belok kiri kita akan melanjutkan perjalanan menuju Nglimut. Kita sempat berpose untuk foto-foto terlebih dahulu. Setelah foto-foto, yang lain langsung lanjut gowes, aku meminta Ranz untuk menemaniku beristirahat barang 5-10 menit lagi. :) maklum lah ya. Hihihihi ...



Dalam perjalanan berikutnya, tanjakan terasa semakin menantang dengkul. :) panjang dan terjal. Meski terkadang ada turunan yang ternyata ‘ menipu’. Aku telanjur senang ketemu turunan, eh, ternyata setelah turunan tajam itu, jalan belok tajam ke kiri dan langsung kita disambut tanjakan yang lumayan curam.  Yah ... keburu aku udah ganti gear ke yang lebih besar. L lumayan kerepotan deh di tanjakannya setelah itu. Untung saat itu tidak ada kendaraan bermotor yang lewat. :)


Tanjakan tak kunjung usai. Dengan pelan namun pasti kita lewati. Yang lain – mulai dari Ranz, Mas Nasir, Ibnu, sampai ke Tami – nampak sangat semangat dan pede. Aku pelan-pelan saja yang penting terus lanjut nggenjot dengkul. :)

Akhirnya tanjakan ekstrem yang diomongin teman-teman di depan mata! Dua tanjakan terakhir sebelum akhirnya kita sampai di tempat wisata alam Nglimut Pemandian Air panas alami Promas Greenland Gonoharjo. Terus terang aku mulai keteteran, sementara yang lain masih tetap berusaha untuk menaklukannya, dan Ranz terus menerus memompa semangatku bahwa aku tentu akan mampu mengayuh pedal Austin menaklukkan dua tanjakan terakhir yang esktrem itu. Sedangkan Mas Nasir memastikan akan menemani jika aku harus ttb. Di dua tanjakan terakhir yang ekstrem ini roda depan Shaun beberapa kali terangkat sendiri yang membuat Ranz harus sesegera mungkin mengontrolnya agar dia tidak terjengkang ke belakang. Nah lo. J Maka, tentu sangat dipahami jika kita perlu beberapa kali beristirahat di pinggir jalan untuk mengatur nafas dan sedikit mengembalikan tenaga yang telah digunakan. Penduduk sekitar yang melihat kita kadang menyapa ramah. Bahkan salah satu dari mereka ada yang berkomentar, “Wah ... priyayi putri kok tekan kene numpak pit.” Waaahhh ... sangat melambungkan semangatku. :-D

Kurang lebih menjelang pukul 11.00 kita pun sampai. Legaaa. Dan ternyata, frankly speaking, gowes Solo – Tawangmangu tetap terasa lebih melelahkan dibandingkan gowes Pusponjolo – Nglimut. J meski mandi keringat, aku masih mampu tersenyum manis di depan kamera sebagai ‘bukti’ aku telah gowes ke Nglimut naik Austin, sepeda lipat downtube nova 20”. Waktu bikepacking ke Tawangmangu, aku lebih memilih ga usah foto ajah pas sore hari nyampe di pasar Tawangmangu, jaim. Wajah sudah kucel berat. Hihihihi ...

Istirahat kurang lebih 15 menit di depan pintu masuk wisata alam pemandian air panas Nglimut, sementara Mas Nasir berusaha membetulkan ‘standar’ Shaun yang tak lagi berfungsi karena di satu tempat jatuh, ketika Ranz sibuk memotret. Kemudian Ibnu mengajak melanjutkan perjalanan untuk menuju tempat wisata air terjun Nglimut. Sesampai disana, yang kurang lebih hanya berjarak 150 meter, kita langsung parkir sepeda yang disambut oleh omongan seseorang, “prei-prei arep refreshing kok malah ngeselke awak tok.” Hadeeehhh ... aku tahu, pasti orang itu ‘ngomelin’ kita yang datang naik sepeda. Hahahaha ...

Setelah aku membeli gorengan dan Mas Nasir membeli tiket masuk, kita pun masuk ke lokasi. Kubayangkan tidak sejauh Grojogan Sewu Tawangmangu – yang konon anak tangganya naik turun mencapai angka 1250 – aku berharap untuk segera melihat air terjun Nglimut yang diceritakan Ibnu.

But I was wrong. :(

On the D-day – jungle trekking


Jalan turunan tidak berbentuk anak tangga yang sebagus anak tangga di Grojogan Sewu yang berarti langkah-langkah kita lebih sulit. Banyak juga anak tangga yang sudah rusak sehingga kita tidak bisa menghitung secara pasti ada berapa anak tangga yang harus kita tapaki. Selain itu, anak tangga ini berhenti setelah kurang lebih 500 meter dari pintu gerbang masuk. Selanjutnya adalah jalanan setapak yang terkadang licin sehingga kita harus hati-hati.

Kita pertama kali berhenti untuk menikmati gorengan ketika kita sampai di satu ‘curug’ kecil tempat kita bisa main air di antara bebatuan yang ada. Setelah sedikit foto-foto, Ibnu mengajak melanjutkan perjalanan. Pemberhentian kedua adalah di tanah agak lapang dimana kita menemukan sumur yang berupa sumber air panas. Disini Ibnu sempat memesan segelas kopi hitam dan menghabiskan sebatang dua batang rokok. Aku sendiri menyempatkan ganti baju karena t-shirt yang kupakai sudah basah kuyup karena keringat. :) untuk itu aku dan Ranz – yang kebelet pipis – harus ngantri lumayan lama di toilet yang tersedia.


Honestly aku agak ga yakin akankah setelah ini berkeinginan melanjutkan perjalanan sampai ke air terjun. Namun karena berpikir mungkin kita bakal ga akan gowes ke Nglimut lagi (belum-belum sudah kapok? Hihihihi ...) dan belum tahu akankah bisa menyediakan waktu untuk berkunjung ke tempat yang sama, maka aku memutuskan untuk melanjutkan trekking ke arah air terjun. Tami yang telah mendengar cerita dari teman-temannya bahwa Nglimut adalah tempat wisata tempat trekking menuju ke sebuah air terjun tentu sangat bersuka cita melanjutkan perjalanan. Apalagi Ibnu bercerita dalam perjalanan kita akan menemukan bekas petilasan yang mungkin di zaman dulu dipakai orang untuk beribadah, meski sudah rusak.

Dari tempat sumur sumber air panas ini, trek semakin sulit. Jungle trekking started! Yay! Jalanan cukup licin hingga kita harus ekstra hati-hati, ditambah banyak bersliweran akar-akar pohon yang tak kalah licin. Sampai sini, aku tak lagi membandingan trek di Nglimut ini dengan Grojogan Sewu yang terasa sangat ringan, namun membandingkannya dengan trek menuju air terjun Semirang Ungaran. Trek menuju air terjun Nglimut ini lebih panjang dan menantang dibandingan air terjun Semirang. Sementara Mas Nasir membandingkannya dengan trek menuju Curug Lawe. Trek menuju Curug Lawe jauh lebih sulit dan membahayakan dibandingkan Nglimut. :)


Sempat ketar-ketir dan ragu akankah aku melanjutkan perjalanan sampai air terjun – mau balik kok sudah telanjur lumayan jauh trek yang kita lewati, mau lanjut, entah berapa kilometer lagi, padahal nanti jalan kembali ke pintu masuk juga jauh – aku sempat digodain Mas Nasir yang melihat ekspresi roman wajahku yang terlihat galau. (Lebay!) Untunglah pada saat aku ragu itu, Ibnu bilang, “Coba dengarkan mbak, suara air terjunnya sudah terdengar lho dari sini.” Yay! Syukurlah. :)

Akhirnya ... sampai juga kita di air terjun Nglimut. Legaaa ... Langsung foto-foto untuk bukti kita sudah sampai. Lokasi yang ga begitu luas semakin terasa sempit karena begitu banyak pengunjung. Maka kita tidak perlu nongkrong sampai lama. Kurang lebih 15 menit kemudian kita sudah berjalan kembali ke arah semula: ke pintu gerbang masuk.


Perjalanan balik ternyata terasa lebih cepat. Apakah karena kita sangat semangat untuk segera kembali? :) Tidak ada insiden yang berarti kecuali kadang terpeleset sedikit di trek yang licin.

Sesampai di pintu gerbang, Mas Nasir langsung mengambil sepeda kita dari tempat parkir – di belakang loket penjual tiket. Melihatnya nampak in a hurry – tentu dia telah sangat ditunggu keluarganya tercinta – aku mengurungkan niatku untuk memintanya beristirahat sekitar 30 menit, mengembalikan otot-otok di betis, dengkul, dan paha yang kaku. Aku merasa sangat bersalah jika Mas Nasir harus menunda gowes pulang. Akhirnya kurang lebih 10 menit kemudian, setelah menurunkan seat-post Austin, yang lain juga menurunkan seat post sepeda masing-masing, kita melewati turunan tajam pertama. Sempat diperingatkan oleh seorang perempuan paruh baya – seorang penduduk – agar berhati-hati karena ternyata sebelumnya ada seorang cyclist yang terpeleset jatuh di turunan itu. Austin memang sangat ringan hingga meski aku mengerem, dia membawaku melesat turun dengan cepat sampai Ranz menuduhku tidak memanfaatkan rem dengan baik. :)



Bisa dimengerti jika waktu berangkat kita harus ngos-ngosan di tanjakan, dalam perjalanan pulang kita dimanjakan oleh turunan-turunan yang tak kunjung habis, sampai di pertigaan pasar Jrakah. :) Yah ... meski ada juga sih beberapa tanjakan yang harus kita lahap di beberapa tempat. (Ingat ceritaku di atas tentang turunan yang menipu? :) )


Semenjak di BSB, Ibnu sudah memberitahu bahwa Mas Nasir terpaksa harus melaju pulang terlebih dahulu karena urusan keluarga. (Aku jadi merasa bersalah telah ‘menahan’ suami orang dan bapak anak-anaknya selama sekian jam. :-D) Kita bertiga berpisah dengan Ibnu di pasar Jrakah karena dia harus belok kiri, dia tinggal di daerah Mangkang. Aku, Tami, dan Ranz belok kanan.

Aku, Tami, dan Ranz mengakhiri perjalanan kita dengan makan siang kesorean di rumah makan Padang yang terletak tak jauh dari Pusponjolo. :)

Catatan jarak.

Gowes pulang pergi berdasarkan sportstracker di hp Ranz tercatat sekitar 62 kilometer.
Trekking dari pintu gerbang masuk Nglimut sampai air terjun pulang pergi sekitar 6 kilometer.
Elevasi gowes berkisar 75 – 900 meter.
Elevasi trekking berkisar 900 – 1200 meter.

Closing

Memang benar apa yang dikatakan banyak goweser, yang juga dikutip dalam status Tami. “Jangan dilihat terus tanjakan di depan mata yang curam, dijalani saja, pasti bisa terlewati.” Meski kalau aku sendiri sih tetap saja memandangi tanjakan di depan mata, sambil berkata pada diri sendiri, “Ah Cuma gini aja. Ayo terus kayuh pedal!” dan ... tanjakan pun terlewati. :-D

Special thanks buat Mas Nasir yang menyediakan diri menjadi tour leader perjalanan, sekaligus menemani trekking. Juga menggendong backpack-ku dalam perjalanan berangkat ke Nglimut.

Special thanks juga buat Ibnu yang dengan sabar menjadi sweeper sepanjang gowes dan penunjuk jalan plus njagain aku agar tidak terpeleset waktu jungle trekking.

Thanks buat Tami yang selalu menyambut undanganku gowes bareng dengan riang gembira dan bersemangat.
Selalu big thanks buat Ranz untuk segalanya: mengiringi gowes, mengabadikan momen dengan kamera, menggendong backpack-ku sepanjang trekking dan gowes perjalanan pulang, menjagaku agar tidak terpeleset sepanjang trek yang licin.

Praise to myself for this great adventure: the combination between crazy uphill biking and challenging jungle trekking. YAY! (lebay is okayyyy. :-P)

GL7 15.06 090512


























































2 komentar:

  1. cuaaaapeeek nya sak pol e... tapi pengen libur pengen nyepda ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku jugaaaaaaaa
      pengen segera berlibur bikepacking!
      uuuuuuuggghhhh

      Hapus