Kamis, 31 Juli 2014

BIKEPACKING BLITAR – MALANG: A DREAM-COME-TRUE (Day 1)



BIKEPACKING BLITAR – MALANG: A DREAM-COME-TRUE

Sudah kurang lebih dari setahun aku dan Ranz memimpikan berbikepacking ke Blitar – untuk mengunjungi Candi Penataran dan makam Bung Karno – namun baru libur kenaikan kelas tahun 2014 ini kita berhasil mewujudkannya. J Dan, karena Malang letaknya lumayan dekat dari Blitar, aku langsung membuat rencana ‘mampir’ ke Malang – dengan sepersetujuan Ranz – untuk menengok sobat lamaku, Juli.

Untuk mengirit waktu – plus kita berkesempatan bikepacking di awal bulan Ramadan, biar ga banyak bolong puasanya LOL – kita sengaja tidak gowes dari Solo (maupun Semarang) ke Blitar, namun naik kereta api. YAY! This is new experience for us. (Biasanya paling pol hanya naik KA dari Solo ke Klaten.)

SOLO – BLITAR (1st day 29 Juni 2014)

Kita meninggalkan Solo pada hari Minggu 29 Juni 2014, pukul 02.00 (molor satu jam dari jadual semula), naik KA Matarmaja dari Stasiun Jebres. Kita tidak kesulitan untuk menaruh dua sepeda lipat di sela-sela antara gerbong satu dengan gerbong yang lain, di dekat toilet. Sebagai ‘senjata’ agar kita tidak diusir oleh petugas KA (hanya untuk jaga-jaga saja), kita membawa tiket dimana tertulis peraturan bahwa penumpang KA bisa membawa sepeda lipat dengan syarat kita melipatnya dengan rapi. Sebagai tambahan, setiap penumpang berhak membawa bagasi sampai maksimal 20 kg. Jika lebih dari 20 kg, kita baru diminta membayar kelebihan beban bagasi. Satu tiket harganya Rp. 65.000,00.

Sempat terjadi ‘dialog’ tatkala petugas ngecek tiket kita. Namun untunglah tidak perlu sampai kita keluarkan ‘senjata’ kita. Kita hanya mengatakan bahwa berat seli kita hanya 14 kg. :) Setelah itu, lancar jaya. :)

di ruang tunggu stasiun Jebres - Solo

Austin dan Pockie berimpitan di dalam KA

sebelum molor! LOL

BLITAR!

di dalam stasiun Blitar

salah satu contoh kebanggaan rakyat Blitar kepada Sang Proklamator


Aku dan Ranz sampai di kota kelahiran Sang Proklamator kita sekitar pukul 06.00. Suasana stasiun Blitar cukup sepi. Semua penumpang yang turun dari KA Matarmaja bareng kita langsung keluar stasiun untuk menuju tujuan masing-masing. Kita nunut mandi di toilet stasiun yang lumayan bersih, dan ... gratis! :) Sekitar pukul 06.45 kita meninggalkan stasiun untuk memulai ‘petualangan’ kita.

CANDI SAWENTAR

Ranz memilih Candi Sawentar sebagai tujuan pertama. Untuk ini kita menyusuri jalan-jalan kota Blitar menuju arah Malang. Trek menanjak halus. Untuk mengetahui arah, Ranz sudah ngeprint peta kota Blitar, sekaligus kita mengandalkan GPS di hape, dan tentu saja ... bertanya pada penduduk sekitar. :)
  
Pagi itu jalanan lumayan sepi. Entah karena itu hari Minggu dimana orang-orang bermalas-malasan keluar rumah, apalagi itu adalah hari pertama bulan puasa. Atau memang karena Blitar kota kecil ya? Hehehehe ... Dimana-mana terlihat kesan yang kuat betapa penduduk kota Blitar begitu bangga dengan Bung Karno , karena kita dengan mudah menemukan patung maupun gambar BK dimana pun kita menuju.


salam 2 jari dari Candi Sawentar!

Candi Sawentar

Candi Sawentar dari samping

salah satu peninggalan di kawasan Candi Sawentar

salah satu peninggalan di kawasan Candi Sawentar

Kita butuh waktu kurang lebih satu setengah jam untuk sampai Candi Sawentar yang berjarak kurang lebih 20 kilometer dari stasiun Blitar. Candi Sawentar adalah candi Hindu, merupakan warisan Kerjaan Majapahit, tepatnya terletak di Dusun Centong, Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro.

Seperti Candi Tikus di Trowulan maupun Candi Sambisari di kawasan Prambanan, Candi Sawentar juga terletak lebih rendah dari tanah di sekitarnya, kurang lebih 4 meter. Bentuknya lumayan megah, panjangnya 9,5 meter dan lebar 6,8 meter. Tingginya sekitar 10,5 meter. Tidak banyak relief yang terpahat di badan candi. Nampaknya Candi Sawentar ini dulu dibangun untuk tempat bersemedi, selain juga untuk pemujaan.

Candi Sawentar ditata dan dijaga dengan baik oleh penjaga yang tinggal tak jauh dari lokasi, meski Candi Sawentar ini belum begitu terkenal. Kita tidak perlu membeli tiket ketika masuk, namun alangkah baiknya jika kita meninggalkan uang ala kadarnya untuk pemeliharaan ketika mengisi buku tamu.

Awalnya dari Candi Sawentar kita akan kembali ke arah kota Blitar. Namun karena dalam perjalanan kita menemukan petunjuk menuju Candi Penataran, kita memilih langsung menuju Candi Penataran.  

CANDI PENATARAN

Candi Penataran dipercaya sebagai peninggalan dari Kerajaan Kediri, yang masih tetap digunakan sampai era Kerajaan Majapahit. Kompleks Candi Penataran terletak di lereng Barat Daya Gunung Kelud, di ketinggian 450 m dpl, di desa Penataran, kecamatan Nglegok, Blitar.

Jika di pagi hari dalam perjalanan menuju Candi Sawentar cuaca cukup sejuk dan bersahabat, dalam perjalanan dari Candi Sawentar menuju Candi Penataran sang mentari bersinar cukup terik, dengan mudah mematahkan semangat mereka yang gowes dengan trek menanjak halus, apalagi di bulan puasa. Petunjuk yang dengan mudah ditemukan dalam perjalanan menuju kecamatan Nglegok membuat perjalanan kita lancar, tak perlu banyak bertanya pada orang.

'ketipu' petunjuk katanya jarak tinggal 2 km, ternyata masih 5 km lagi :D

dua arca dwarapala

Candi Naga



Konon nama asli Candi Penataran – yang pertama kali ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles yang pada pada tahun 1815 menjabat sebagai Letnan Gubernur Jendral pada masa kolonial Belanda – adalah Candi Palah. Nama Candi Palah ini disebut dalam prasasti Palah, dibangun pada tahun 1194 oleh Raja  Crnga (Syrenggra) yang bergelar Sri Maharaja Sri Sarweqwara Triwikramawataranindita Crengalancana Digwijayotunggadewa yang memerintah Kerajaan Kediri pada tahun 1190 – 1200. Candi Palah (Penataran) dibangun di lereng Gunung Kelud sebagai tempat upacara pemujaan agar dapat menetralisir atau menghindari mara bahaya yang disebabkan oleh Gunung Kelud yang sering meletus. Dalam kitab Negarakertagama Mpu Prapanca menulis bahwa Raja Hayam Wuruk pernah mengunjungi Candi Palah untuk melakukan pemujaan terhadap Hyang Acalapat yang merupakan perwujudan Dewa Syiwa sebagai penguasa gunung. Candi Palah juga disebut sebagai lokasi tempat perabuan Raja Ken Arok.

Seperti kebanyakan kompleks candi lain, pertama kali kita masuk kompleks Candi Penataran kita akan disambut oleh dua buah arca dwarapala yang berupa raksasa memegang gada. Bale Agung adalah bangunan terdepan yang kita temui setelah melewati arca dwarapala. Bale Agung ini adalah sebuah bangunan berukuran 37 meter x 18,84 meter dengan tinggi 1,44 meter. 


satu bagian candi induk

relief di candi induk

salah satu patung di candi induk

mejeng berdua

kawasan candi Penataran dari atas candi induk

relief di candi induk

Setelah melewati Bale Agung, kita akan sampai pendopo teras yang merupakan bangunan berukuran 29 meter x 9,22 meter dengan tinggi 1,5 meter. Pendopo ini diperkirakan dulunya berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan berbagai sesaji.

Candi Naga terletak di bagian tengah halaman kompleks Candi Penataran. Candi ini hanya tersisa pada bagian kaki dan badannya, dengan ukuran 4,83 meter x 6,57 meter dengan tinggi 4,7 meter. Sedangkan candi induk terletak di bagian belakang kompleks. Candi induk ini berupa bangunan dengan ketinggian sekitar 7,19 meter yang terdiri dari 3 teras. Di setiap sisi candi terdapat tangga dengan patung Mahakala yang berangka tahun 1347. Pada dinding candi utama ini terdapat pahatan relief dari cerita Ramayana.

Setelah memuaskan diri berputar-putar di kompleks Candi Penataran, dan beristirahat secukupnya, kita meninggalkan lokasi untuk melanjutkan perjalanan.



Jika kita harus melalui trek menanjak halus untuk menuju Candi Penataran, maka ketika kembali ke kota kita pun tinggal menikmati ‘bonus’: jalan menurun! Yay! Petunjuk arah yang ada membuat kita menemukan rute ke kota dengan mudah.

Dalam perjalanan kita melewati lokasi Makam Bung Karno, maka kita pun mampir. :)

MAKAM BUNG KARNO

Makam Soekarno terletak di Jalan Kalasan nomor 1 Blitar. Saat kita memasuki wilayah jalan utama di makam BK ini, kita akan menemukan sebuah gapura yang menghadap ke Selatan, berhadapan dengan Cungkup Makam BK yang berbentuk joglo. 

Sebagai seorang proklamator, makamnya pun menjadi tujuan wisata yang penting dikunjungi masyarakat dari seluruh negeri setiap harinya, selain Istana Gebang, rumah tinggal orang tua BK. Sejak tahun 2004, kompleks makam ini dikembangkan dengan dibangunna Perpustakaan dan Museum BK.




makam BK

batu nisan makam BK

mumpung ono sing motretke :P





Siang itu aku dan Ranz hanya menyambangi makam BK, tidak sempat menjelajah perpustakaan maupun museum karena kelelahan. Untuk masuk, kita diminta mengisi buku tamu dengan identitas kita dan meninggalkan uang sekadarnya untuk mengisi kas.

Dari makam BK, kita menuju alun-alun kota Blitar. Dalam perjalanan dari stasiun paginya, kita berdua telah melihat Hotel Patria Palace yang terletak di Jalan Mastrip no. 56, tidak jauh dari stasiun. Kesanalah kita menuju. :) Meski sedang musim liburan, untung kita tidak kesulitan mendapatkan kamar, plus diskon! J Harga satu kamar executive yang kita pilih Rp. 300.000,00 dan kita mendapatkan diskon 20% sehingga kita hanya membayar Rp. 240.000,00. Waktu di lobby kita melihat seorang turis manca yang datang sendirian dengan naik sepeda gunung merek P*****n. :)
 
Untuk berbuka kita mendapatkan welcome drink dari hotel. Setelah itu kita keluar ke arah alun-alun mencari makan untuk makan malam. Ranz memilih bakso sebagai menu makan malam kita. (aih, tumben, dia milih bakso! LOL.) Pulang dari makan malam, kita duduk-duduk di teras lantai dua hotel, menikmati pemandangan di depan hotel. :) Malam itu ada tontonan lumayan menarik di televisi, debat cawapres! Tapi sayangnya aku sangatlah mengantuk, dan menurutku debat cawapres ini tidak semenarik debat capres, alhasil aku pun tertidur tanpa sempat menonton, meski televisi nyala. LOL.

Hari ini kita menempuh jarak 42 kilometer dengan bersepeda.

To be continued. 

kamar yang kita inapi



nongkrong di lantai 2 :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar