Jumat, 14 November 2014

ANTARA AKU, SEPEDA, DAN B2W SEMARANG

ANTARA AKU, SEPEDA, DAN B2W SEMARANG

Ada keterkaitan yang sangat kuat antara aku, sepeda, dan B2W Semarang. Ketiga hal ini tak bisa dipisah-pisahkan begitu saja. Lebay? Mungkin iya mungkin tidak. Begini penjabarannya.

Olahraga yang kugandrungi – sebelum mengenal bersepeda – adalah berenang, meski di pertengahan dekade 90-an (ssstttt ... sebelum bisa berenang LOL) aku kadang sepedaan, buat olahraga, bukan untuk berbike-to-work. Aku mulai mempraktekkan bersepeda ke tempat kerja ya setelah “kecemplung” (secara tak sengaja) dalam komunitas B2W Semarang, sejak akhir Juni 2008.

Seperti yang pernah kutulis di tulisan yang lain, pertama kali aku b2w (baca: BIKE TO WORK) aku belum punya sepeda sendiri, aku naik sepeda merek “winner” yang di tahun 1992 dikirim ke Semarang oleh kakakku yang tinggal di Cirebon. (Dia memang sudah hobi bersepeda sejak duduk di bangku SD/SMP.) Sepeda “winner” ini seangkatan dengan sepeda federal yang sekarang booming (lagi) itu. J

kesempatan pertama gowes di Jogja bersama Orenj

Lah, ngapain “latah” ikut-ikutan b2w? LOL. Lha itu tadi, tak sengaja aku “tercebur” dalam komunitas B2W Semarang, malah ikutan “membidani” kelahiran komunitas satu ini pada tanggal 26 Juni 2008. Dan karena ikut aktif dalam pembentukan komunitas B2W Semarang, masak aku ga mempraktekkan bersepeda ke tempat kerja? Itu bahasa Italianya “jarkoni” alias iso ngajar tapi ora nglakoni. (Alias ngajakin orang bersepeda ke tempat kerja, eh, dirinya sendiri ga melakukannya.)

Gabung dengan komunitas sudah. Berb2w sudah. What else? Ikutan kegiatan teman-teman yang tergabung di B2W Semarang, yang kebetulan waktu itu suka offroad-an. NAH LO. Satu hal ini tak bisa kulakukan karena sepeda “winner” ku ga layak untuk diajak blusukan ke hutan, menyusuri sungai, dll. Maka dengan berat hati aku selalu ketinggalan kereta.

pertama kali naik Orenj ke Pantai Maron, Orenj masih baru, fresh from the oven :D

Eh, ga kusangka ga kuduga karena aku selalu ketinggalan itu, beberapa teman – dikompori oleh seorang teman yang prihatin melihatku naik sepeda “winner” yang ketinggian buat tubuhku yang mungil – malah menghadiahiku sepeda merk wimcycle edisi roadchamp, yang sama mungilnya dengan tubuhku, meski bannya ya ukuran 26. Tentu dengan harapan aku pun ikutan bertualang offroad-an. J

Mungkin sepeda yang kuberi nama “Orenj” itu adalah mahar buatku di dunia sepeda, atau bahkan mahar untukku dari komunitas B2W Semarang. Semenjak itu aku bahkan tak bisa lepas dari persepedaan. Sepeda lipat yang dibelikan kakakku buat adik-adiknya agar di rumah Semarang juga ada seli bahkan memberi peluang lebih agar aku bisa melanglang hingga kota-kota lain. (Meski Orenj pun telah merambah Jogja.) Seli yang kuberi nama “Snow White” karena warnanya putih ini telah membawaku memasuki dunia bikepacking. (Big thanks to my biking soul mate, Ranz who has helped make my dream come true.) Posisi Snow White – sejak dua tahun terakhir – telah digantikan oleh Austin – sepeda yang kubeli sendiri dengan uangku sendiri, eh, kakakku juga ikutan iuran deng. LOL.

pertama kali ikut XC ke Banyumeneng
Austin waktu masih baru :)
Snow White bersama Pockie di pinggir Pantai Maron

Kebetulan waktu ultah Kom5elis kemarin aku bertemu dua senior, Om Budenk dan Om Ndaru. Ternyata mereka “bangga” denganku yang telah melanglang ke kota dan propinsi lain dengan bersepeda, tetap konsisten dengan bersepeda. Ohhh, rasanya I was soooo touched.

penampilan Om Ndaru waktu XC ke Banyumeneng Januari 2009

Tulisan ini kudedikasikan buat para senior B2W Semarang, juga untuk memperingati ultah Orenj yang keenam (tepatnya tanggal 22 November nanti), dan aku memasuki tahun ketujuh dalam praktek bersepeda ke tempat kerja.


GG 11.12 06/11/2014 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar