Selasa, 17 Oktober 2017

Menjemput Minul

Menjemput Minul

Latar belakang

Hari Minggu 8 Oktober 2017 aku menemani Ranz membawa kembali dua sepeda lipatnya ke Solo, yang dia bawa ke Semarang beberapa minggu sebelumnya untuk dipakai dalam 7amselinas. Pockie – sepeda lipat pocket rocket 20” – dipakai oleh Dwi karena Oddie – sepeda lipat miliknya – telah dia bawa ke Tangerang. (Dwi pindah ke Tangerang sejak Juli 2017 demi menyongsong masa depan.) Astro – sepeda lipat terbaru milik Ranz; polygon urbano 3.0 – untuk dinaiki Ranz sendiri. Ternyata ketika tahu kita berdua akan ke Solo pagi itu, Avitt ngikut, mengajak Minul, sepeda lipat urbano 2.0.

Ternyata hari Minggu malam waktu kita NR, ban depan Minul bocor. L ketika kita memutuskan tetap berangkat NR : aku naik Pockie, Ranz naik Jean Grey, dan Avitt naik Shaun, ternyata hujan kembali turun. Terpaksa kita tidak jadi keliling Solo. Kita hanya makan malam ayam geprek, kemudian mampir ke wedangan Pak Basuki yang kelezatan teh nasgitel-nya tidak ada duanya. Keasyikan ngobrol disini lah – bersama dua kawan pesepeda dari Solo, Awan dan Fuad – kita pulang terlalu malam, dan tukang tambal ban tempat kita menambalkan ban depan Minul sudah tutup. Akhirnya Senin pagi aku dan Avitt balik ke Semarang tanpa membawa sepeda. J

Jumat 13 Oktober 2017


Ranz berinisiatif membawa Minul ke Semarang, dan tidak menunggu Avitt menjemput ke Solo. Dan, kita ngedate di Kampung Kopi Banaran. J Ketika aku bilang ke Ranz ingin naik Cleopatra dari Semarang, dia menahanku melakukannya. Sebagai ganti, dia minta aku loading saja, dan ini berarti aku membawa Austin. Aku setuju, sekalian aku ingin ‘berdandan ala’ peserta 7amselinas. J Sejak mendapatkan goodie bag berisi pernak-pernik peserta 7amselinas, jersey peserta 7amselinas belum kupakai. Ranz pun setuju mengenakan jersey peserta 7amselinas. DEAL!

Austin di Gombel

Aku berangkat dari kawasan Banjirkanal Barat sekitar pukul 06.30. Perjalanan lancar sampai Sukun, sekitar satu jam kemudian. Di Gombel tidak ada kemacetan. Sesampai Sukun, kebetulan ada sebuah bus jurusan Solo yang sedang ngetem, aku langsung naik. Sedikit ketidaknyamanan karena mendadak Austin sulit dilipat ternyata tidak membuatku kesulitan; sang kondektur malah memintaku tidak usah melipat Austin, kecuali setangnya. Akhirnya Austin pun naik ke dalam badan bus (bukan di bagasi) dan diletakkan di antara deretan kursi paling belakang dengan kursi yang ada di depannya. Aku pun duduk di bangku di deretan belakang. Aku cukup membayar Rp. 10.000,00. Wah ... J

FYI, suasana bus cukup sepi. Mungkin karena sudah bisa mengira bahwa bus bakal sepi, sang kondektur menyuruhku langsung menaikkan Austin ke dalam bus, tanpa perlu melipatnya.

Bus sampai di terminal Bawen sekitar pukul setengah sembilan. Setelah turun dari bus, aku melihat 2 bus Trans Jateng sedang ngetem. Wah ... andai boleh membawa sepeda lipat ke dalam bus Trans Jateng, para lipaters dari kota Semarang bagian bawah ga perlu repot menaiki sepedanya ke Sukun yak? J


Setelah keluar dari terminal Bawen, trek turunan menyambutku, menuju Kampung Kopi Banaran. J ini berarti aku harus siap-siap menanjak waktu meninggalkan KaKoBa nanti. J

Aku sampai di KaKoBa sebelum jam sembilan. Ranz datang sebelum jam 10. Dan ... ternyata dia tidak loading! Dia naiki Minul dari Solo ke KaKoBa. Hmft ... curang dia! Aku ga dia bolehin nyepeda dari Semarang, dia sendiri ngonthel. Hadeeeeh ...





Kita meninggalkan KaKoBa sekitar pukul satu siang. Perjalanan menuju Semarang kita disuguhi cuaca yang sangat variatif: mulai dari panas, mendung, hingga hujan. Untunglah hujan tidak pernah turun terlalu lama, hingga kita tak perlu repot-repot merasa perlu mengenakan mantel. Kita memang harus berhenti, namun agar Ranz bisa menyelamatkan kamera yang dia bawa ke dalam tasnya yang water proof.

Kita sampai kos Ranz sekitar pukul setengah empat sore, sempat mampir ke angkringan dua kali. Yang pertama di Ungaran, yang kedua di jalan Suyudono.

LG 13.48 17/10/2017

Ini dia penampakan Minul :)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar