Senin, 02 Januari 2017

SEMARANG VELO GIRLS ON TOUR DE CIREBON Day 4

Day 4 Senin 26 Desember 2016 ~ City tour de Cirebon

Goa Sunyaragi yang amazing!
sebelum berangkat city tour
Pagi ini kita memanjakan diri dengan memulai antri mandi pukul enam pagi (memuaskan diri mengistirahatkan tubuh di kasur yang cukup nyaman.) J kita cukup bersantai ria sampai kita meninggalkan rumah kakakku untuk memulai city tour jelang pukul sembilan pagi. Meski semalam turun hujan, pagi ini cuaca cukup cerah.

sarapan nasi jamblang Ibu Nur

Tujuan pertama adalah nasi jamblang Ibu Nur yang terletak tak jauh dari apotik Kejaksan. Mungkin karena tanggal 26 Desember ini termasuk hari cuti bersama, banyak orang ‘menyerbu’ rumah makan Ibu Nur. Kita terpaksa mengantri sampai di luar pintu. :D dan ... kembali kaos (baru) kita yang bertuliskan “velo girls Semarang tour de Cirebon” menarik perhatian orang. Beberapa orang menyapa, “Dari Semarang ya Mbak? Gowes terus dari Semarang ke Cirebon? Butuh waktu berapa hari?”


latar belakang : menara masjid di alun-alun kota Cirebon


Sekitar pukul 10 pagi kita meninggalkan lokasi kita sarapan. Berdasarkan peta yang dipelajari oleh Ranz (via google map), destinasi pertama yang kita tuju adalah Keraton Kasepuhan. Ini adalah kunjungan pertamaku ke keraton ini, meski Cirebon telah kukunjungi beberapa kali, semenjak kakakku pindah kesana. :D


Pagi itu keraton cukup ramai. Menurut salah satu ‘guide liar’ yang mengikuti kita, sehari sebelumnya keraton benar-benar ramai karena yang berkunjung berbus-bus. Menurut guide tersebut, keraton ini dikelola sendiri oleh Sultan Cirebon. Untuk pemeliharaan keraton, keluarga kerajaan kesultanan Cirebon mengandalkan dari tiket masuk para pengunjung yang datang. Harga tiket Rp. 20.000,00 per orang.




Ada tiga lokasi yang kita kunjungi dalam keraton. Yang pertama adalah museum kereta Singabarong. Disini dipamerkan dua kereta. Yang pertama, dipamerkan di ruang utama adalah kereta asli yang pernah dinaiki oleh Sunan Gunung Jati. Dibuat pada abad ke-16. Yang kedua, berupa duplikat, dipamerkan di ruang belakang ruang utama. Kereta duplikat ini dibuat di abad 20. Saat ada ada kerajaan – misal kirab 1 Muharram – kereta duplikat inilah yang digunakan. Berdasarkan ornamen kereta yang ada, kita bisa menyimpulkan bahwa ada asimilasi kultur Hindu, China, dan Arab/Islam. Tidak jauh beda dengan warak sebagai ikon kota Semarang. J

Dari museum kereta, kita berjalan ke arah gedung utama dimana keluarga Sultan Cirebon bermukim. Namun tentu saja kita tidak bisa masuk ke bagian dalam. Kita hanya bisa melongok-longok. J

Dari gedung utama, kita masuk ke museum tempat penyimpanan benda-benda peninggalan kesultanan dari sekian abad yang lalu.




Kita keluar keraton sekitar pukul 12.00. Siang itu cuaca Cirebon sangat cerah, mendekati panas. LOL. Karena kehausan, kita tidak langsung melanjutkan perjalanan, namun kita mampir dulu di satu warung yang berjualan minuman di depan keraton. Untuk ngemil, Ranz dll membeli tahu gejrot dan seblak.

Lebih dari pukul 13.00 kita melanjutkan perjalanan ke terminal bus. Saatnya hunting tiket bus untuk pulang ke Semarang. Kita juga harus memastikan bahwa bus mau menampung lima sepeda lipat. Namun sayangnya pulangnya kita masih belum yakin apakah bus yang akan kita tumpangi bersedia sekalian mengangkut lima sepeda lipat sekaligus. Kata si penjual tiket, “tergantung kondektur busnya besok bersedia atau tidak.” Hadeeehhh ...

(Mengapa naik bus? Bukan kereta api? Karena tiket KA ekonomi sudah sold out. Hanya ada tiket KA kelas bisnis dan Ranz kurang yakin apakah KA bisnis bersedia membawa sepeda lipat 5 sekaligus. Hhhhhh ...)

Siang itu benar-benar panas. Wew. Untungnya lokasi Goa Sunyaragi – destinasi wisata berikutnya yang kita kunjungi – terletak tak jauh dari terminal. Kurang dari 15 menit kita meninggalkan terminal, kita telah sampai di destinasi wisata yang juga disebut “Tamansari Sunyaragi”.

Cuaca panas membuat kita benar-benar kehausan. Maka sebelum masuk kawasan wisata Goa Sunyaragi, kita mampir di satu warung – di antara sekian warung -- yang terletak di dekat tempat parkir. Kita ingin minum es teh. Sayangnya, ternyata warung-warung itu tidak punya persediaan air teh yang telah siap diminum. Anak si penjual “membuatkan” teh terlebih dahulu dengan teh celup. Sayangnya air hangatnya hanya sedikit, dan teh belum beneran jadi, sudah dicampur dengan air yang tidak panas, plus diberi es. L gagallah rasa tehnya. Hadeeeh.





Kekecewaan rasa teh yang gagal itu ditebus dengan ajaibnya kawasan yang disebut “Goa Sunyaragi” itu. Bentuknya yang nampaknya terbuat dari batu-batu karang bertumpuk-tumpuk itu sungguh menarik. Bentuk keseluruhannya mengingatkanku pada Situs Ratu Boko. Mungkin dulunya, sekian abad lalu, di kawasan ini berdiri keraton.

Kita tidak menyewa jasa seorang tour guide disini sehingga kita tidak begitu tahu sejarahnya. Memang sengaja kita tidak merasa perlu tahu, agar bisa leluasa menikmati panorama indahnya dengan berfoto-foto. J




Menjelang pukul empat sore, tubuh sudah terasa cukup lelah, kita memutuskan untuk mengakhiri ‘penjelajahan’. Kita keluar lokasi wisata ketika ada sekian puluh orang sedang berlatih menari di panggung utama. Ketika bersepeda mengitari lokasi dari luar untuk pulang ke arah Tangkil, kita baru sadar bahwa kita kurang menjelajah ke bagian-bagian pinggir (terlihat dari balik pagar.)  :D Ya sudah gapapa, biar ada alasan untuk kembali lagi next time. :D

On the way, kita mampir ke satu minimarket untuk membeli minum. Hesti membeli cilok dari seorang penjual yang kebetulan lewat. J


Kita sampai di rumah kakakku jelang pukul setengah enam. Saatnya beristirahat dan packing. J sekitar pukul setengah tujuh, aku dan Ranz keluar untuk membeli nasgor dan kwetiau untuk makan malam kita. Kita makan bareng di teras rumah sambil ngobrol rame banget. Kita masuk rumah jam sembilan malam, kemudian antri mandi satu-satu. 

to be continued :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar