Minggu, 08 Desember 2019

H u n c h


Aku bukan orang yang diberi 'kelebihan' berupa membaca masa depan. Namun, terkadang ada beberapa hunch yang benar-benar terjadi. Satu hal yang membuatku merasa bagaimanaaa begitu. Kok bisa ya?


Yang terakhir terjadi padaku adalah saat bersepeda nanjak Sigar Bencah hari Selasa 3 Desember 2019 lalu.


Tanpa rencana apa pun aku mengayuh pedal Cleopatra menuju Kalibanteng, kemudian belok ke arah jalan arteri Yos Sudarso. Namun aku tidak bermaksud menggeber Cleopatra hingga Kaligawe. Rasa lapar yang melanda membuatku belok ke arah Jl. Ronggowarsito, kemudian belok ke Jl. Pengapon, belok ke arah Jl. Raden Patah, untuk mampir warung susu Karangdoro yang lumayan terkenal di antara para pesepeda. Namun ternyata aku tidak beruntung karena ternyata warung tutup.


Aku ingat ada beberapa warung 'hik' di pinggir jalan arteri Jl. Sukarno Hatta yang berjualan berbagai macam buah yang siap disantap. Untuk mengisi perut, aku menuju kesana. Ternyata, kembali aku kurang beruntung. Beberapa warung itu pun tidak buka. (atau 'belum' buka ya?) Berhubung perutku masih terasa bisa menahan lapar. Aku terus mengayuh pedal Cleopatra.


Di depan kampus USM, ada jalan belok kiri, aku memilih menapaki jalan itu. Aku tidak tahu nama jalan itu, namun sebelum sampai area yang bernama kampung Malangsari (?) aku belok kanan, yang bakal melewati area perumahan Dempel Asri. Dari jalan itu, aku terus melaju ke arah Timur (?) sampai aku bertemu flyover Jl. Wolter Monginsidi. Disitu, aku belok kanan. Aku berhenti di satu warung kelapa muda.


Setelah minum segelas es kelapa muda dan ngemil dua biji lumpia, aku melanjutkan perjalanan. Dari Jl. Wolter Monginsidi aku belok ke jalan arteri SH, kemudian menyeberang ke Jl. Fatmawati. Karena mendapatkan 'urge' yang bagus, aku memilih lanjut ke arah Meteseh, kembali mencoba melewati tanjakan Sigar Bencah.


Seingatku tanjakan Sigar Bencah tidak se'killing' tanjakan menuju kampus Unnes Sekaran. Namun ternyata ingatanku menipuku. Lol. Meski tidak securam tanjakan menuju Unnes, tanjakan Sigar Bencah ini ternyata juga terasa berat. Hahaha … Nah, waktu melaju super pelan namun pasti ini tiba-tiba aku ingat pengalaman beberapa bulan lalu. Aku sedang menapaki tanjakan Panjangan alias Jl. Untung Surapati dari arah Jl. Simongan. Saat itu mendadak aku ditabrak orang dari belakang. Yang menabarakku seorang laki-laki yang hendak berangkat kerja, dia berhenti di belakangku, ikut membantuku berdiri, sementara aku ngomeli dia ngalor ngidul kok bisa-bisanya dia menabrakku padahal aku sudah di pinggir sekali. Waktu itu Cleopatra tidak bisa kunaiki lagi, BB-nya patah! Laki-laki itu meminta maaf, namun permasalahan ga selesai hanya dengan permintaan maaf kan ya. Ada seorang laki-laki lain yang ikut berhenti dan mencoba ikut membantu. Aku minta si penabrak memberikan KTP-nya ke aku sebagai jaminan bahwa dia akan mengganti biaya ganti BB. Sementara itu, aku bilang ke dia aku bisa menuntun Cleopatra ke arah Jl. Suyudono, tempat bengkel sepeda langgananku.


Nah, waktu nanjak Sigar Bencah itu aku mendadak kepikiran, kalau sampai hal itu terjadi lagi (aku ditabrak orang dari belakang), aku repot karena lokasiku jauh banget dari bengkel sepeda langgananku. Ga mungkinlah aku menuntun Cleopatra sejauh puluhan kilometer. Saat kepikiran itu, mendadak aku ditabrak orang dari belakang! Astagaaaah … kok bisa terjadi lagi yak? 😞😟😠



Aku sempat terjatuh meski aku bisa langsung berdiri lagi. Yang pertama kucek adalah apakah Cleopatra masih bisa 'berjalan'. Syukurlah Cleopatra bisa kudorong depan belakang, roda juga berputar seperti biasa. Tentu aku deg-degan dan rasanya pingin ngomel ke orang yang menabrakku. Kali ini yang menabrakku seorang remaja laki-laki yang mengaku akan berangkat ke kampus. Dia mengantuk, seperti tuduhanku kepadanya. Karena Cleopatra tetap bisa berjalan, aku merasa tidak perlu ngomel ngalor ngidul ke anak yang mengaku mahasiswa D3 Sipil Undip.


Setelah kejadian itu, dengan tertatih-tatih aku masih bisa melanjutkan perjalanan hingga 'puncak' Sigar Bencah, hingga sampai Tembalang, dan turun lewat Jl. Gombel Lama. Cleopatra benar-benar (terasa) baik-baik saja.


Sehari setelah itu, aku kembali menaiki Cleopatra. Aku berencana menapaki jalan sebaliknya, mendaki Gombel, kemudian turun lewat Sigar Bencah. Ketika menapaki jalan Sultan Agung, dua orang yang melewatiku mengomentari ban belakang Cleopatra, "Ban belakang oleng mbak!" kata dua orang itu. Aku tersenyum sambil berpikir apakah aku akan melanjutkan perjalanan atau balik kanan. Jika memang kejadian ditabrak dari belakang kemarin itu membuat ban belakang Cleopatra bermasalah, toh sehari sebelumnya aku berhasil lanjut nanjak Sigar Bencah dan menuruni Gombel dengan lancar. Berpikir begini, aku melanjutkan perjalanan.


Sesampai 'ujung' Teuku Umar, aku sengaja tidak memilih jalur flyover. Kali ini kembali aku ditegur seseorang tentang ban belakang Cleopatra. Akhirnya aku mengalah, balik kanan. Aku turun lewat Tanah Putih, lurus sampai Bubakan, mampir warung susu Karangdoro untuk jajan es the dan arem-arem. Setelah melanjutkan perjalanan sampai kurang lebih 36 kilometer, aku membawa Cleopatra ke bengkel langgananku, di Jl. Suyudono.


Seandainya waktu mulai nanjak Sigar Bencah itu aku tidak memikirkan kejadian di tanjakan Panjangan itu, akankah aku tetap di'sundul' dari belakang?


Setelah melihat postinganku di instastory, seorang kawan sepeda berkata padaku bahwa dia tidak berani nanjak Sigar Bencah karena jalan itu ramai, baik dari arah bawah maupun arah atas, plus tanjakan curam dan belokan yang tajam sangat tidak menguntungkan bagi pesepeda, apalagi menapaki tanjakan itu sendirian. Nampaknya dia benar. Next time, aku ga usah ngoyo 'latihan' tanjakan lewat Sigar Bencah lagi. Masih bejibun tanjakan lain lagi di kota Semarang. 😝


PT56 15.50 08-December-2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.