Selasa, 09 Oktober 2012

Gomingpai: Gowes ke Jembatan Londo


MINGGU 30 September 2012

Aku ingin gowes ke arah waduk Cengklik dimana kata Ranz di dekat situ ada jembatan irigasi peninggalan pemerintah kolonial Belanda, pulangnya aku ingin mampir ke soto seger Mbok Giyem. Namun ketika kita meninggalkan Jongke, Ranz mengajak lewat CFD di Jalan Slamet Riyadi dulu. Kebetulan waktu itu Railbus kebanggaan warga Solo sedang berhenti dimana sebuah stasiun televisi sedang mewawancarai Jokowi atas keberhasilannya memenangi Pilkada DKI Jakarta. Bisa dibayangkan ramainya suasana waktu itu.
Ketika meninggalkan CFD, Ranz menyarankan untuk langsung ke kawasan jembatan irigasi yang terkenal dengan sebutan “Jembatan Londo” dan tak perlu gowes ke Waduk Cengklik karena aku ingin kembali ke Semarang di siang hari sehingga kita perlu mengirit waktu. Ya aku mengiyakan saja.

Mungkin Jembatan Londo terletak kurang lebih 10 – 12 kilometer dari Jongke. Beberapa bulan lalu Ranz sempat ‘adu argumentasi’ dengan seseorang yang mengatakan bahwa jembatan irigasi ini tidak bakal cukup dilewati jika seseorang membawa ‘bronjong’ di sepeda/sepeda motornya dikarenakan sempitnya jembatan ini. Ranz tidak perlu repot-repot berargumentasi sebenarnya karena dia punya foto sebagai bukti bahwa jembatan ini bisa dilewati orang yang membawa bronjong. Ketika aku sampai dan melongok ke arah jembatan, aku tahu bahwa jembatan tidak lah sebegitu sempit sehingga orang yang membawa bronjong tidak bisa melewatinya. BISA.

Aku sendiri sebagai seseorang yang pertama kali ke situ dengan naik sepeda hardtail – dan bukan sepeda lipat yang cekli – terus terang kesulitan untuk lewat dengan menaiki sepeda. Honestly, ketika lewat, aku menuntun Cleopatra. Hihihihi ... Hanya demi kebutuhan untuk unjuk narsis saja kemudian ketika lalu lintas lumayan sepi, aku mejeng di atas sadel Cleopatra. Ranz yang mengaku berani lewat jembatan ketika dia naik Shaun – sepeda lipat dahon da bike 16 inchi – ternyata tidak berani menaiki Pockie untuk lewat jembatan.
Pulang dari Jembatan Londo itu, Ranz langsung mengajakku ke arah kita berangkat tadi untuk sarapan bakmi toprak, konon kalau kita mampir ke soto seger Mbok Giyem waktunya ga cukup. Hadeeeehhh ... Terpaksa ngiler deh, nunggu kapan-kapan lagi dolan ke Solo.

Pulang dari gowes minggu pagi ini, menjelang kepulanganku ke Semarang, aku diserang kantuk, maka aku pun tidur, kurang lebih satu jam.

Jam 13.10 aku telah berada di bus yang membawaku pulang ke Semarang. J
in action bersama railbus di CFD Solo


menuntun Cleopatra melewati Jembatan Londo :)

hati-hati, euy, maklum baru pertama kali lewat :)

narsis yaaa :)

Ranz! :)

ehem :)

mejeng forever :-D


GL7 16.45 041012

2 komentar:

  1. Itu namanya makuto dewo. Batas kota solo. Itu sebetulnya seperti mahkota raja :D sering dipake pak jokowi saat pawai dengan seragam kejawen nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. thank you for telling me the name, waktu nulis, aku lupa namanya, maka ga kutulis :)

      Hapus