Selasa, 30 Oktober 2012

HAPPY 3rd YEAR ANNIVERSARY DEAR KOMSELIS


HAPPY 3rd YEAR ANNIVERSARY DEAR KOMSELIS

Perayaan hari jadi Komselis (Komunitas Sepeda Lipat Semarang) tahun 2012 ini dilaksanakan dengan lebih meriah dibanding tahun-tahun kemarin. Salah satunya adalah Komselis mulai pede mengundang rekan-rekan pengguna sepeda lipat dari kota-kota lain. Pucuk dicinta ulam tiba ketika undangan itu pun direspons dengan baik oleh beberapa komunitas sepeda lipat dari Solo (@seli Solo Raya), Jogja (Jogja folding bike alias JFB), Bekasi (Befoyco), dan Surabaya (Bikeberry) dan perwakilan dari IDFB sebagai wadah seluruh komunitas sepeda lipat di Indonesia. Dengan maksud memperkenalkan ‘medan’ kota Semarang yang penuh dengan tanjakan dan turunan, rute yang dipilih Komselis pun meliputi tanjakan Rinjani, Sultan Agung (Kaliwiru), Teuku Umar, dan ‘gong’nya adalah Gombel, tanjakan favorit para cyclist nasional untuk latihan.

Sabtu 27 Oktober 2012


foto dulu menjelang NR

sebagian seli peserta NR

Rangkaian acara ulang tahun dimulai dari hari Sabtu 27 Oktober berupa night ride alias gowes malam-malam. Seperti biasa, para peserta berkumpul di ‘mabes’ di Jalan Pahlawan, tepatnya di tikungan jalan Imam Barjo di ujung gedung Telkom. Malam itu terkumpul lebih dari 70 pesepeda lipat dari berbagai kota menyemarakkan jalan-jalan kota Semarang dengan kelap-kelip dari sepeda masing-masing. Rute malam ini dari Jalan Pahlawan ke arah Simpanglima, Jalan Ahmad Yani, di perempatan Jalan Mataram (MT Haryono) kita belok ke arah kiri. Sebelum sampai di daerah Bubakan, kita belok ke arah kiri (sebagai warga Semarang, aku tidak tahu nama jalannya. LOL. Parah banget) yang kemudian akan membawa kita ke arah Pecinan. Pemberhentian pertama malam ini di halaman Kelenteng Tay Kak Sie, salah satu ikon wisata kota Semarang.

sebagian peserta NR




di RM Mbak Lin

Setelah foto-fiti di kawasan Tay Kak Sie, banyak peserta yang kemudian berjalan-jalan – diantar para ‘escort’ yang bertanggungjawab terutama untuk rombongan dari luar kota – menuju Gang Warung yang sedang ada pasar Semawis, salah satu pusat kulineran kota Semarang di malam hari yang selalu bernuansa multi-etnik.

Dari Gang Pinggir, kita melanjutkan bersepeda ke arah jalan Ki Mangunsarkoro untuk kulineran di RM Soto Kudus Mbak Lin.






Lawangsewu

Usai makan malam, kita melanjutkan bersepeda ke jalan Mayjen Sutoyo, menyusuri ‘Kampung Kali’ ke arah Jalan MH Thamrin. Lanjut ke Jalan Pemuda. titik pemberhentian berikutnya adalah Lawangsewu dan Tugumuda, dua landmark kota Semarang yang paling melegenda.

Sekitar pukul 23.00 para peserta kembali ke rumah masing-masing. sedangkan rombongan dari luar kota diantar oleh para ‘escort’ ke penginapan masing-masing untuk beristirahat.

Minggu 28 Oktober 2012











suasana jelang gowes bareng di Jalan Pahlawan

Kebetulan bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda puncak acara ulang tahun Komselis yang ketiga. Panitia menentukan para peserta untuk berkumpul di mabes pukul 06.00. Lumayan membanggakan ketika para anggota Komselis – sebagai tuan rumah – telah   berdatangan sekitar pukul 06.00, on time. Sementara para ‘marshall’ – sebagian anggota komunitas B2C (bike to campus) Semarang dan Koskas – datang lebih pagi lagi untuk menerima briefing dari panitia.

sebagian tim marshall










on the way


Seperti biasa Jalan Pahlawan sangat semarak oleh para penikmat CFD (car free day) di hari Minggu pagi. Tepat di depan gedung Telkom dipenuhi mereka yang siap untuk senam erobik sehingga meeting point kita bergeser sedikit ke arah Selatan, tepatnya di seberang Gedung Berlian. Setelah menunggu beberapa menit, para peserta dari luar kota berdatangan. Mungkin mereka kelelahan sehingga bangun agak kesiangan di tempat penginapan masing-masing.


Menjelang pukul tujuh, para peserta gowes bareng dalam rangka ulang tahun Komselis ketiga dilepas oleh Om Budianto, anggota kehormatan Komselis sebagai pemrakarsa berdirinya Komselis. Lebih dari seratus pesepeda lipat dengan penuh semangat dan gembira meninggalkan Jalan Pahlawan. Rute awal lumayan bersahabat, dari Jalan Pahlawan, di perempatan di depan POLDA, kita belok ke arah kanan Jalan Veteran. Di pertigaan RS Dr. Kariadi kita belok kiri ke arah Jalan S. Parman, kemudian belok ke kiri lagi di Jalan Rinjani yang memang lebih ramah dibanding Jalan S. Parman yang langsung lurus ke arah Selatan. Di depan hotel Rinjani, panitia membagikan air mineral satu botol 600 ml untuk semua peserta. Keluar dari Jalan Rinjani, belok kiri lanjut Jalan S. Parman hingga Taman Diponegoro, terus lanjut sampai pom bensin di seberang AKPOL. Disini panitia membagikan lemper untuk mengisi perut sebelum kemudian para peseli ditantang tanjakan yang tak lagi bersahabat, yakni tanjakan Kaliwiru dan Teuku Umar.

aku sok serius amat yak padahal cuma nanjak di Teuku Umar :D

jangan paksa dengkulmu, ttb-lah kalau perlu :)



nanjak Teuku Umar, meski pendek namun cukup 'killing'

yang mengatakan, "aku bahagia" waktu melihat
begitu banyak seliers membanjiri Jalan Pahlawan

Tanjakan Teuku Umar memang pendek, namun curam, sehingga bisa dipahami jika disini mulai terlihat beberapa peserta yang keteteran dan memilih untuk menuntun sepedanya. Dilanjutkan ke tanjakan Gombel, daya tarik utama para peserta dari luar kota yang belum pernah mencobanya. Percayakah engkau jika tanjakan akan terasa lebih ringan jika kita melewatinya tidak sendirian, namun berbarengan dengan pesepeda lain? Maka bisa dipahami jika banyak peseli yang tetap penuh semangat mengayuh pedal seli masing-masing di tanjakan yang kondang ini. Namun, percaya juga kah engkau jika ttb alias tuntun bike juga merupakan virus yang ampuh mempengaruhi pesepeda lain? Maka jika kau rasakan tanjakan itu begitu tak bersahabat sementara pesepeda di sekitarmu memilih ttb, tak ayal kita pun akan dengan mudah terpengaruh untuk ikutan ttb. Untuk itulah panitia menyediakan beberapa armada untuk mengangkut para pesepeda yang tak berani mencoba tanjakan yang panjangnya sekitar satu setengah kilometer ini. “Loading is not a crime,” kata panitia. “But it is a shame,” kata salah satu peserta yang selalu pede mencoba track tipe apa pun. “Mending ttb dah daripada loading,” kata yang lain. Maka, it sure is your choice. :)

Dhimas dan Aan, peserta termuda, calon pembalap masa depan :)


sayang anak dan sepeda :-D

Setelah melalui Gombel, pemberhentian berikutnya adalah di Bjo’s Pit di kawasan Tembalang. Disini dibagikan snack dimana para peserta diminta mengumpulkan kupon untuk door prize. Setelah istirahat secukupnya, teman-teman anggota ROSATAN (alias ‘rombongan Semarang Selatan’ salah satu ‘divisi’ di bawah komunitas B2W Semarang) memberi permainan berupa rally wisata kawasan Tembalang dan sekitarnya. Para peserta dibagi kedalam sepuluh kelompok, dimana di tiap kelompok diharapkan terdiri dari wakil peserta dari kota-kota yang berbeda sehingga bisa memperluas pertemanan. Masing-masing grup diberi berbagai macam pertanyaan yang jawabannya harus dicari bersama-sama dalam perjalanan yang menyerupai ‘treasure hunting’.








brilliant idea, isn't it? :-D

finish!

Puncak acara dilaksanakan di Gedung diklat APDN. Jarak tempuh dari Jalan Pahlawan sampai Gedung APDN sekitar 20 kilometer. Di acara puncak inilah kita bisa melihat betapa para panitia telah all out memanjakan para peserta dengan taburan door prize dan award kejutan. Diwakili oleh Om Tunggal, Komselis memberikan penghargaan kepada Om Budianto sebagai orang pertama di komunitas B2W Semarang yang mengusulkan pembentukan komunitas pecinta sepeda lipat di kota Semarang. Penghargaan berikutnya diberikan kepada Ananda Ranz karena prestasinya telah mengharumkan nama Komselis; salah satunya adalah menjadi Srikandi 2012 serta keteguhannya berseli-ria.

wall of fame Semarang Seline Banjir






Sementara itu door prize pertama diserahkan kepada Om Iwan – wakil anggota B2W Ungaran-Ambarawa – atas prestasinya mengikuti gowes ulang tahun Komselis yang full tanjakan ini dengan memboncengkan Daffa anaknya yang duduk di kelas 3 SD. “Saya hanya bersepeda sambil momong anak kok,” katanya merendah. Door prize berikutnya diberikan kepada mereka yang ‘mengaku’ berhenti lebih dari dua kali ketika melewati tanjakan Gombel; mereka yang memiliki kulit belang dikarenakan terlalu sering memaparkan sebagian kulit tubuhnya gegara sepedaan; mereka yang hobi touring dengan memiliki pengalaman gowes lebih dari 100 kilometer dalam hitungan satu hari; peserta yang pertama kali sampai di Bjo’s Pit. Ada juga sebuah hadiah yang diberikan kepada Om Imam TSJ anggota JFB yang beberapa saat lalu mengalami kecelakaan ketika naik sepeda dalam rangka touring ke Dieng. Pada kesempatan ini Om Imam diminta untuk sharing pengalaman agar kejadian yang sama tidak menimpa pesepeda yang lain. Dll.

Om Budi Budenk dan Om Tunggal


lomba melipat sepeda





Om Imam Jogja share cerita

Ranz dan hadiahnya

Untuk ‘hiburan’ panitia menyelenggarakan lomba melipat sepeda lipat. yang paling cepat – wakil dari Befoyco (kalau ga salah ya?) – mendapatkan hadiah utama helm. Peserta yang lain mendapatkan hadiah hiburan. Ada satu lomba lain lagi yang sifatnya menghibur juga sebenarnya, (naik sepeda lipat sambil membawa sebilah bambu dan kemudian menusuk balon yang disediakan) namun karena waktu sudah cukup siang dan para peserta rombongan Befoyco harus segera balik ke hotel tempat menginap untuk check out, lomba ini tidak jadi diadakan.


Untuk peserta dari luar kota, panitia telah menyediakan merchandise khusus buat mereka. Sedangkan untuk masing-masing komunitas, panitia memberikan plakat sebagai kenang-kenangan.

Berfoto bersama dengan para peserta yang masih berada di lokasi mengakhiri keseluruhan acara pada hari Minggu 28 Oktober 2012 ini.

sebagian peserta dan marshall setelah penutupan acara

What an impressive event. Thanks a million for all committee members as well as all participants. Semoga virus bersepeda kemana pun jua – dengan trek jenis apa pun baik datar, tanjakan maupun turunan – tetap tumbuh subur dan menjangkiti masyarakat. Tetap pede bersepeda (lipat)-ria. Demi bumi yang semoga lebih hijau.

Sampai jumpa di event-event berikutnya.

Nana Podungge
Sekretaris B2W Semarang
GL7 10.20 301012


Tidak ada komentar:

Posting Komentar