Kamis, 30 Mei 2013

Belajar hidup sederhana dari bersepeda jarak jauh?

Tulisan ini terinspirasi dari diskusi di grup Bikepacker Indonesia di facebook. 

Diskusi ini 'dikompori' oleh Muhammad Firdaus yang mengajukan pertanyaan: 


"Benarkah? Belajar Hidup Sederhana...dari pengalaman Bersepeda Jarak Jauh Bikepacker)...Bagaimana dengan pengalaman kawan kawan sekalian?" 

Seorang Hakam Mabruri menceritakan bahwa dia pernah berbikepacking ria dari Malang sampai Palembang cukup hanya dengan uang lima ratus ribu perak saja. (Wow ... kok bisa yah?) Bikepacker lain, Firman Ahmad, mengatakan bahwa dia pernah berbikepacking selama 20 hari hanya cukup membawa uang dua ratus lima puluh ribu saja. Ck ck ck ck ... Sementara itu Om Dama alias Turis Jawa menulis komen bahwa tiap kali turing, dia hanya membawa uang IDR 300.000 saja. Saat uang yang ada di dompet mulai menipis, di bawah lima puluh ribu rupiah Om Dama akan mampir ATM untuk mengisi dompet agar uang yang ada di dompet tetap di jumalh IDR 300.000. (Lhah, trus, berapa kali 300.000 perak ya selama perjalanan? hihihihi ... Di satu komennya yang lain dia bercerita pernah satu kali turing selama 3 bulan full! WAH!!!)


di Hotel Kencana Rembang
Jika anda, para pengunjung setia blog ini (thank you soooo much dear readers! :* ) masih ingat postinganku disini, tentu heran kan dengan kesederhanaan orang-orang yang kusebut di paragraf di atas? lha wong waktu bikepacking ke Tuban yang ga ada satu minggu saja aku dan Ranz butuh dana sekitar satu juta tigaratus lima puluh ribu rupiah. Yahhh ... itung saja masing-masing dari kita berarti menghabiskan dana IDR 675.000. 


Hotel Basra - Tuban

Beberapa minggu yang lalu, di satu status seorang teman facebook, Merina Rosa, aku menyinggung sedikit tentang hal ini. Dia mengira bahwa bikepacking itu bakal lebih murah dibandingkan backpacking (backpacking yang berarti pergi dari satu kota ke kota lain dengan naik bus umum.) Maka kujelaskan bahwa itu cara berpikir yang tidak tepat. Misal, waktu bikepacking Solo - Purwokerto bulan Maret kemarin, aku dan Ranz butuh waktu tiga hari (sebenarnya bisa kita singkat hanya menjadi 2 hari perjalanan, namun kita merasa tak perlu berburu-buru, maka kita santai saja). Perjalanan tiga hari itu berarti kita butuh makan, minimal lima kali, sekali makan untuk berdua mungkin kita butuh sekitar Rp. 30.000,00. Belum lagi kita butuh mampir mini market untuk beli air mineral dan sedikit cemilan. Plus ditambah menginap di hotel. Berapa ratus ribu duit yang kita harus keluarkan 'hanya' untuk mencapa Purwokerto? Padahal kalau kita memilih naik bus Solo - Purwokerto, paling mahal kita hanya butuh Rp. 150.000,00 saja, atau kurang dari itu. :) Cuma yaaa ... ga ada pengalaman asik selama perjalanan gowes. :)

Kembali ke status Muhammad Firdaus di atas. Aku heran, apakah aku yang kebangeten borosnya tatkala bikepacking, atau mereka yang kebangeten ngiritnya? xixixixixi ... Syukurlah di komen-komen selanjutnya ada yang mengatakan bahwa bikepacking merupakan suatu kemewahan yang benar-benar 'wah', meski yang bersangkutan tidak mengatakan bahwa dia tidak setuju jika disebut bahwa bikepacking adalah satu kegiatan untuk belajar hidup secara sederhana. Yang paling mewah adalah WAKTU yang kita habiskan di perjalanan yang tak mungkin akan kembali lagi. Tak semua orang bisa melakukan perjalanan bikepacking, bukan karena tidak mampu secara fisik atau material, namun karena sulit mendapatkan izin dari orang-orang tersayang di rumah, apalagi izin cuti dari kantor. Seorang teman sepedaan di Semarang yang sering menulis komen, "ahhh ... bikin iri saja. coba kalau aku juga punya waktu luang seperti kalian," di note-note bikepackingku, menunjukkan bahwa yang sulit dia luangkan adalah WAKTU. 

By the way busway, di komen-komen status Muhammad Firdaus akhirnya terungkap bagaimana teman-teman bikepacker itu bisa ngirit selama perjalanan, mereka sering menginap di kantor Polsek! Jadi mereka tidak perlu mengeluarkan dana untuk menginap di hotel/penginapan. Ini satu hal yang belum pernah kulakukan dengan Ranz; hmmm ... lebih tepatnya ga akan kulakukan dengan Ranz. Aku berpikir setelah kita menguras tenaga mengayuh pedal sepeda sekian puluh/ratus kilometer sehari, kita butuh istirahat yang nyaman untuk mengembalikan stamina kita untuk melanjutkan perjalanan keesokan hari. Satu pengalaman yang paling ngirit kita adalah ketika kita bersepeda dari Solo ke Trowulan - Mojokerto: di malam pertama kita beristirahat di musholla sebuah pom bensin di kawasan Jombang! Malam kedua kita menginap di rumah saudara Ranz di Sidoarjo. 

Selain tidak perlu mengeluarkan uang untuk menginap di penginapan, beberapa teman membawa perlengkapan masak sendiri, sehingga tidak perlu mampir ke rumah makan/warung. Bahkan aku tahu kadang di antara mereka 'menemukan' orang-orang yang baik hati yang memberi mereka makan gratis. (Yang juga belum pernah kualami dengan Ranz, kecuali kalau kita mampir ke rumah teman dan mereka memberi kita sarapan/makan siang/makan malam; yang sangat jarang kita lakukan.)

Kesimpulan tulisanku ini adalah, bagiku pribadi, bikepacking bukan satu kegiatan untuk belajar hidup sederhana. :) Selain dana yang cukup yang harus kita sediakan, waktu yang kita lewatkan dalam perjalanan sungguh adalah satu kemewahan! 

GL7 10.10 310513

2 komentar:

  1. mantap, Miss Nana. keep enjoying bicycle touring. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. waahhh .. Om Dama mampir kemari :)
      terima kasih kunjungannya :)

      Btw, gimana kabar Luna? Jamselinas kelima di Solo Oktober nanti Om Dama dan Luna datang dong, sobat-sobat Luna kangen ...

      Hapus