Selasa, 28 Mei 2013

B2WC - Bike to Waisak Ceremony (Day 2)



Sabtu 25 Mei 2013 (Waisak Day)
siap meninggalkan penginapan
Kita harus buru-buru packing karena kata si empunya guest house, tamu yang booking kamar yang kita pakai akan datang sekitar pukul 09.00. Sekitar pukul 08.00 kita telah meninggalkan guest house untuk sarapan. Sangat mudah mencari warung makan di kawasan ini jadi kita tidak perlu khawatir bakal kelaparan. Saat sarapan kita melihat banyak bus pariwisata yang datang bersliweran, menuju tempat parkir taman wisata Candi Borobudur. Usai sarapan kita sempat keliling-keliling kawasan itu sejenak.
jalan di sisi tempat parkir Taman Wisata Candi Borobudur

menuju Punthuk Setumbu
trek mulai hampir unseliable

bagian trek offroad yang masih bisa kita lewati naik seli
Atas bantuan Elvi yang memberi nomor contact seseorang, kita pun mendapatkan penginapan untuk malam kedua. Lokasinya lumayan jauh dari Taman Wisata Candi Borobudur, dekat dengan Graha Padmasambava, yang juga ternyata dekat dengan Punthuk Setumbu, satu lokasi dimana kita bisa mendapatkan pemandangan yang spektakuler dari atas Borobudur. Setelah kita menaruh barang di kamar, kita melanjutkan gowes ke ... Punthuk Setumbu! Ranz memberikan excuse, “kita harus tahu dulu trek menuju lokasi seperti apa jika kita ingin kesana besok pagi-pagi sekali untuk mendapatkan pemandangan sunrise. 
angkat junjung seli yuukkk :P

ta ... taaaa :D

Trek awal masih sangat seliable, sedikit demi sedikit menanjak, sampai kita di pertigaan yang ada papan penunjuk belok ke arah kanan untuk tempat parkir. Trek mulai sulit untuk dilewati dengan naik seli hingga sampai di satu tanah lapang yang nampaknya memang untuk tempat parkir mereka yang ingin naik ke gardu pandang di Punthuk Setumbu. Semula Ranz ingin memarkir sepeda di tempat ini, namun aku ingin membawa serta sepeda kita hingga kita pun beroff-road ria. LOL. Di beberapa titik kita harus menuntun (karena kasihan pada seli kita yang imut-imut LOL) di beberapa titik lain boleh lah kita menaikinya, hingga sampai di satu titik, kita akan sangat kesulitan jika kita tetap keukeuh membawa sepeda. Disini akhirnya aku setuju untuk mengikuti saran Ranz untuk meninggalkan sepeda di situ. Dengan harapan tidak akan ada yang iseng membawa sepeda kita pergi, Shaun dan Austin pun kita gembok, dan kita melanjutkan perjalanan (trek berupa anak tangga yang lumayan curam). Kita sempat bertemu beberapa penduduk asal yang sedang mencari rumput, juga bertemu beberapa pendatang yang memiliki tujuan sama dengan kita: menikmati pemandangan dari ketinggian. 
setang Shaun

hey hey :)
penampakan Borobudur dari Punthuk Setumbu 1

penampakan Borobudur dari Punthuk Setumbu 2
Akhirnya sampai lah kita di ‘puncak’ tempat gardu pandang berada. Dengan kondisi mataku yang belor aku tidak bisa melihat candi Borobudur dengan jelas.  :( Kita tidak stay lama disini, setelah beberapa jepretan kamera untuk kepentingan dokumentasi, kita pun turun. Sesampai di lokasi kita meninggalkan Shaun dan Austin, kedua sepeda kita itu tetap mojok dengan manisnya. LOL. Dari situ jika saja kita naik mtb, akan sangat menyenangkan untuk melewati trek dengan mengayuh pedal, ketimbang menuntunnya di beberapa lokasi karena trek berupa anak tangga. Tapi kalau naik sepeda lipat kita yang imut, waduhhh, sayang dong ya? :)
di gardu pandang Punthuk Setumbu

Punthuk Setumbu
dengan latar belakang Borobudur

:D
Dari Punthuk Setumbu kita menuju Taman Wisata Candi Borobudur (kita tidak ke Candi Mendut untuk mengikuti seremoni detik-detik Waisak), mencari tempat penitipan sepeda motor yang mau menampung sepeda kita. Setelah memarkir sepeda, kita pun berjalan kaki menuju satu rumah makan Padang untuk makan siang. Suasana sudah sangat ramai dengan pengunjung yang telah menempatkan diri untuk menonton arak-arakan yang membawa air suci dan api Waisak dari Candi Mendut. Usai makan kita berdua langsung bergabung dengan masyarakat yang semakin lama semakin banyak yang memadati jalan. Banyak juga personil polisi yang ditempatkan untuk mengamankan area itu.



Sekitar pukul 13.30 rombongan arak-arakan mulai datang. Orang-orang yang berdiri di sekitarku berdiri menonton arak-arakan dengan rapi. Atas ‘usul’ seseorang yang kita temui semalam (yang menawari mengantar kita ke Punthuk Setumbu) untuk mengikuti rombongan arak-arakan agar bisa masuk ke dalam lokasi Taman Wisata Candi Borobudur. Dan ... aku beserta Ranz berhasil menyusup di dalamnya. :)
Sesampai di dalam, kita hanya duduk-duduk beristirahat; rombongan arak-arakan di belakangku ternyata masih sangat panjang. Karena kelelahan, aku pun membaringkan tubuh di rerumputan, di bawah rerindangan pohon, sembari mengistirahatkan mata, sementara Ranz duduk manis di sebelahku, menjaga. So sweet ya? LOL.


Sekitar pukul setengah empat sore, cuaca sangat mendung waktu itu, aku dan Ranz pun berjalan menuju monumen Borobudur yang nampak seperti diserbu puluhan ribu pengunjung. (Aku semula mengira, pada hari perayaan Waisak, Taman Wisata Candi Borobudur ditutup untuk umum, sehingga aku merasa harus menyusup di rombongan arak-arakan yang membawa air dan api suci Waisak. In fact, I was wrong!) Honestly, aku selalu merasa tidak nyaman jika berada di tengah-tengah ribuan orang seperti itu, namun nothing we could do toh ini adalah pilihanku sendiri – menghadiri upacara perayaan Tri Waisak. Aku dan Ranz hanya naik ke undakan yang pertama – Kamadhatu – karena Ranz tidak berhasrat untuk naik ke dua undakan berikutnya (Rupadhatu dan Arupadhatu). Suasana sakral yang ingin kualami ketika berkunjung ke Borobudur (setelah membaca novel LALITA karangan Ayu Utami) gagal total mungkin karena suasana yang sangat amat ramai. Setelah naik ke undakan pertama, kita belok kanan (harusnya searah jarum jam ya? kalau menurut Om Wiki sih) kemudian jalan memutar. Ketika berjalan memutar inilah Ranz menemukan dimana panggung untuk mengadakan upacara Waisak diselenggarakan. Usai memutari Kamadhatu, Ranz mengajakku turun dan langsung menuju ke panggung.
sebelum hujan mengguyur

jelang usai acara, aku sudah jelek sekali LOL

(Untuk berjalannya upacara perayaan Waisak 2557 tahun 2013 ini, check this link ya?.)
Usai mengikuti upacara perayaan Waisak, aku dan Ranz kembali ke guest house tempat kita menginap di kegelapan malam, karena Ranz lupa membawa lampu senter, sedangkan lampu yang menempel di handle bar Austin nyalanya sudah sangat lemah. :) Kita sampai di guest house sekitar pukul 23.00. 

Usai mandi dan menikmati dua gelas teh panas yang yummy yang disediakan tuan rumah, aku dan Ranz tidur.

To be continued.

2 komentar:

  1. mantap mbak..
    hehe
    i like it..

    http://fathinafif-bersepeda.blogspot.com

    BalasHapus