Jumat, 24 Maret 2017

Tentang Seorang Kawan, Mas Ndaru a.k.a Nico

MAS NDARU IN MEMORIAM

Aku mengenalnya sekitar tahun 2008, tak lama setelah aku dan beberapa kawan mendeklarasikan berdirinya “komunitas” ‘bike to work’. Aku diajak seseorang – aku lupa siapa – untuk ikut satu event fun bike, yang ‘bertikum’ di Jalan Ki Mangunsarkoro, rutenya konon kurang lebih 10 km. Dari tikum, kita belok ke arah Timur, terus hingga arteri Jalan Sukarno Hatta, lurus hingga tembus ke Jalan Dr. Cipto, kita belok kiri, kembali ke tikum awal.

Pada saat itu, Mas Ndaru datang berdua dengan Agung Tridja. Seingatku mereka berdua sama-sama kocak sehingga mereka mengesankan bagiku. Di saat yang sama, kalau tidak salah, Mas Budianto Budenk naik sepeda lipat, yang membuatku takjub karena pertama kali aku melihat sepeda yang bisa dilipat. LOL.

Ada 3 kenangan yang akan kutulis di postingan ini yang berkenaan dengan Mas Ndaru, yang teman-teman bilang sebagai “seorang pesepeda yang selalu menyemangati yang lain dengan mengatakan, ‘ini tanjakan terakhir kok’ atau ‘tenang sajaaa ... tinggal dua kelokan lagi’. dan karena caranya yang khas, kita akan kembali bersemangat, meski akhirnya kita tahu, itu bukanlah tanjakan terakhir, dan tak hanya sekedar tinggal dua kelokan lagi. LOL.



Pertama, saat pertama kali aku akhirnya ikut ‘ngoffroad’ke Banyumeneng. (Oh ya, saat itu, yang memegang ‘gelar’ sing mbaurekso Banyumeneng adalah Mas Ndaru, yang kemudian kita sematkan ke Agung Tridja setelah Mas Ndaru pindah keluar kota. Saat itu bulan Januari 2009, waktu Agung malah tidak bisa ikut. Aku mengajak salah satu siswaku di LIA, Ian namanya, dan Ian mengajak kelima teman bermainnya. Dari keenam anak itu, mungkin hanya Ian yang sepedanya layak buat ngoffroad, dan kita (termasuk aku) benar-benar ‘buta’ dengan trek yang bakal kita lewati. Waktu melihat jenis sepeda yang dinaiki kawan-kawan Ian, yang kurang layak dipakai untuk offroad-an, Mas Ndaru dengan semangat bilang, "oh ... bisa ... bisa ...!" 

yang berkaos merah Mas Ndaru

Satu hal yang paling mengesankan saat itu adalah saat Mas Ndaru memutuskan untuk memilih arah. Waktu itu, beberapa penduduk sekitar ‘mengingatkan’, “jangan ke arah situ, kalau kesitu harus melewati sungai, dan di musim hujan ini, sungai sedang penuh air,” namun Mas Ndaru tetap bergeming. Walhasil ... ya begitu lah, aku terpana saat kita tiba di sungai itu. LOL. Kedalaman air mungkin sekitar 30 cm. Semua bahu membahu menggotong sepeda menyeberangi sungai, kecuali aku dan Ipoet, dua perempuan yang ikut ‘ekspedisi’ ini. Aku ingat waktu itu sempat ‘ngomel-ngomel’ dalam hati, kok ya Mas Ndaru ngajakin kita memilih rute yang itu? LOL. Tapi setelah lewat, kita tertawa-tawa.

Satu hal lainnya adalah ketika terjadi satu kecelakaan. Aku lupa nama seorang kawan yang waktu itu terjatuh, dan sepedanya menabrak pohon, hingga frame patah. Mas Ndaru bilang, “Ya di trek turunan berbatu seperti ini, kita cenderung sangat hati-hati dengan terus menerus ngerem. Kala trek berbatu terlewati, kita akan terlena, lupa ngerem, dan tahu-tahu trek berbelok, dimana akan sangat terlambat jika kita ngerem, hingga jatuhlah kita.” Wedew. (aku yang penakut tentu ngerem melulu, LOL, meski diberitahu agar jangan melulu ngerem karena itu justru juga bahaya, apalagi itu adalah ‘single track’, dimana jangan sampai pesepeda di belakang kita akan terhalang lajunya oleh kita yang ngerem melulu.) Setengah mati rasanya, itu adalah kali pertama aku bersepeda di trek turunan rasanya aku maunya TTB, tapi kok malu ya sama yang lain. LOL.

Btw, untunglah kawan yang terjatuh itu kondisi fisiknya baik-baik saja, entah psikisnya ya? Waktu aku masih bingung mikir bagaimana dia pulangnya, mendadak ada seseorang (mungkin penduduk sekitar) lewat dengan naik motor. Dengan suara bernada ‘authoritative’ (can you imagine that? LOL), Mas Ndaru menghentikan orang itu sambil bilang, “Mas ... tolong boncengkan kawan kita satu ini dengan sepedanya hingga sampai di satu lokasi “yang beradab” (keluar dari hutan maksudnya hingga ke jalan raya dan mungkin bertemu dengan angkot atau apa pun itu)!” Dari caranya berbicara, yang mendapatkan ‘instruksi’ tahu bahwa Mas Ndaru “will not take NO as an answer”. LOL. Tanpa tawar menawar apa pun, orang yang lewat itu pun langsung memboncengkan kawan kita dengan sepedanya.

Dan aku ternganga. LOL.

Kedua, waktu aku dan beberapa kawan bersepeda ke pantaiMaron, dimana treknya dalam kondisi super becek setelah hujan berhari-hari. Kalau tidak salah ini terjadi di bulan Desember 2008. Dari sekitar 15 orang yang menuju pantai Maron waktu itu (setelah mengikuti ‘rolling thunder’ a.k.a gowes keliling kota untuk kampanye BIKE TO WORK bersama grup SOC atau Semarang Onthel Community dan SLOWLY atau Semarang Low Rider Community (yang sekarang sudah kabur kabarnya). Di perjalanan kita terpisah, yang setengah tetap di jalur menuju pantai Maron, setengah lain lagi menyeberang – waktu itu masih ada jembatan yang bisa kita gunakan untuk menyeberang – dimana mereka akan sampai di pantai Tirang.

di selan-sela 'rolling thunder'

Rombongan menuju pantai Tirang terhenti di tengah jalan dan mereka memilih kembali ke jalan raya – setelah ban sepeda yang dinaiki menjadi donat dan sendal yang dipakai Mas Triyono putus – rombongan menuju pantai Maron berhasil menuju pantai. Mas Ndaru yang membawa kamera poket lumayan mengambil beberapa jepretan sebagai bukti ‘ganasnya’ trek berlumpur menuju Maron seusai turun hujan. Kalau tidak, mungkin kita tidak punya ‘bukti’ foto. Hmmm ...

Pulangnya RD sepeda seorang kawan putus karena penuh lumpur dan sepeda terus dipaksa dikayuh. (aku lupa namanya.) Agung bersibuk ria mencoba mengubah girnya menjadi single speed, yang penting bisa sepeda bisa dikayuh. Sementara itu, Mas Ndaru – yang diakui sebagai mentor oleh Agung – menonton ‘anak didiknya’ memperbaiki. LOL. RD sepeda Yoni juga hampir putus, namun ketahuan terlebih dahulu sehingga bisa diselamatkan.


sepatuku penuh bedak :p

Setelah dengan selamat meninggalkan lokasi berlumpur itu, dalam perjalanan pulang, kita mencari tempat cuci sepeda motor. Kita menemukannya di Jalan Anjasmoro. Si ‘tukang’ terlihat ogah-ogahan menerima kita yang datang membawa sepeda penuh lumpur. Namun Mas Ndaru – lagi-lagi dengan nada suaranya yang ‘authoritative’ yang menunjukkan bahwa “he will not take NO as an answer” LOL – meminta si tukang menerima sepeda-sepeda kita untuk dicuci. Dia pun akhirnya setuju mencuci sepeda kita berlima (aku, Mas Ndaru, Agung Tridja, Yoni, dan Eka).

Sembari menunggu sepeda dicuci, satu lelucon dari Mas Ndaru yang kuingat sampai sekarang adalah ‘kebandelan’ anak-anak (biasanya laki-laki) yang ogah disuruh tidur siang, karena lebih memilih dolan ketimbang tidur. “Heran ya, padahal tidur siang itu kan enak, kenapa dulu kita ogah disuruh tidur siang ya? Anak-anak itu memang aneh.” LOL. Dan Agung tertawa-tawa mengiyakan.

Jika ingat sekarang, hhhhh ... mereka pasti sangat sabar menungguku mengayuh sepeda melewati trek berlumpur seperti itu ya. Eka yang kasihan melihatku memilih menuntun Orenj, (bayangkan sepatu ketsku yang tentu penuh lumpur karena berjalan di trek berlumpur sambil menuntun sepeda) menukarkan sepedanya yang bannya lebih ‘friendly’ pada trek berlumpur ketimbang Orenj. Di belakangku Eka terus menerus memompa semangatku untuk ‘berani’ melewati trek berlumpur karena sepedanya ga bakal membuatku tergelincir, aku cukup terus menerus mengayuh pedal sepeda.

Yang ketiga, waktu ulang tahun Komselis yang kelima, bulan November 2014. Acara itu mengambil tajuk “reuni” karena Mas Tunggal – sebagai ketua Komselis tahun 2009 – 2013 – ingin mengumpulkan kawan-kawan yang sudah lama tidak bersepeda bersama. Di antara beberapa wajah ‘lama’ yang sudah cukup lama tidak terlihat sepedaan bareng, ada Mas Budenk dan Mas Ndaru.

dalam event ultah Komselis tahun 2014
ki-ka : Mas Ndaru, Mas Budenk, Mas Tunggal

Mereka berdua ‘menyalamiku’ bak juara lomba RT. LOL. Aku ingat Mas Ndaru bilang, “sebagai seorang senior, saya sangat bangga dengan apa yang telah dicapai oleh Mbak Nana ... tak lagi hanya sepedaan dalam kota, namun telah memiliki pengalaman bersepeda AKDP bahkan juga AKAP.” Dan hidungku pun mekar tak terkendali. LOL. Di tengah-tengah mereka, aku tetap merasa junior, tetap merasa nyaman jika harus TTB, ga perlu khawatir dibully. LOL.


Tidak banyak memang pengalamanku bersepeda bersama Mas Ndaru karena dia kemudian pindah keluar kota. (hatiku selalu patah jika ada kawan pesepeda pindah keluar kota.) Beberapa bulan lalu, Mas Budenk membawa kabar gembira bahwa Mas Ndaru ternyata telah balik pindah ke Semarang. Agung pun menyambut gembira kabar tersebut dan berencana mengadakan gowes offroad reuni. Dan aku menunggu saat itu, now that aku punya ‘pasukan’ beberapa perempuan yang mungkin mau kuajak blusukan masuk hutan. Tentu suasana gowes offroad akan sedikit berbeda jika banyak perempuan yang gabung.

gowes terakhir bersama Mas Ndaru, Desember 2014 cek this link 

Namun ternyata Yang Maha Kuasa punya rencana lain. Dia mengajak Mas Ndaru pindah ke alam dimensi yang lain secepatnya, sebelum kita menyempatkan diri untuk “gowes offroad reuni”. L L L Saat mataku butuh dibasuh airmata, nampaknya. L L L

Selamat jalan Mas Ndaru ... you will always be dearly missed.


LG 16.00 23/03/2017 

2 komentar:

  1. keren mbak tulisannya....salam kenal saya adiknya mas Ndaru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. owh ... terima kasih telah berkunjung ke blog saya dan membaca tulisan ini ... salam kenal kembali

      Hapus