Rabu, 25 Juli 2018

TdP9 : limpahan rezeki terus berlanjut

Minggu 22 Juli 2018

Semalam kita sempat membahas mau nyunrise a.k.a berburu sunrise pagi ini. Kita ngajakin Om Dudeng dan Nte Effit. Om Poetoet jelas lebih memilih tidur. lol. Untuk itu Nte Ria memasang alarm hapenya jam 04.30.

Ketika alarm berbunyi, kulirik Nte Ria mengambil hp, kemudian menekan tombol "snooze" dan balik tidur lagi. Begitu berulang kali. Xixixixi ... Aku yang masih merasa pingin berbaring di kasur yang empuk lebih lama, diam saja. Kulirik Ranz pun ga ada tanda-tanda mau bangun. Apa boleh buat keindahan sunrise pagi ini kurang seksi untuk mengiming-imingi kita untuk segera bangun.


Menjelang pukul enam pagi, Ranz membangunkanku, :Kamu tau ini jam berapa?" tanyanya. "Jam lima?" tanyaku balik, rasanya belum lama dari saat alarm hp Nte Ria berbunyi. Eh, ternyata sudah hampir jam enam. hahahaha ... Tak lama kemudian terdengar suara Om Dudeng dari luar kamar manggil-manggil kita. Nte Ria pun bangun, membuka pintu kamar, ngelongok keluar, dan ngeles, "Ealaaahhh ... ga liat langit mendung apa kok ngajakin nyunrise?" wakakakakaka ...

Ga lama kemudian Nte Effit datang dan masuk kamar. Dia sudah siap bersepeda ke Pantai Timur. Akhirnya aku dan nte Ria siap-siap, sementara Ranz nyempetin mandi dulu.

Keluar dari kamar, kita lihat orang-orang sedang sarapan, ya sudah kita sarapan dulu saja, lumayan untuk mengisi energi.

Sekitar jam tujuh pagi kita keluar hotel Alamanda. Aku naik Austin, Ranz naik Pockie, nte Effit naik trifold-nya suaminya, nte Ria naik seli fnhon milik om Aris Darat dan om Dudeng naik selinya sendiri. Sebelum mengayuh pedal sepeda ke Pantai Timur, kita mampir dulu di panggung "certificate of completion". Biasanya kalo pagi-pagi gini, panggung sudah sepi, ga seperti sehari sebelumnya. tapi, eh, ternyata kok pagi itu panggung tetap ramai yak? Kita tetap harus ngantri. hahaha ...

Tentu kita ga akan mendapatkan pemandangan sunrise, sudah terlalu siang. Sang mentari sudah mulai terlihat, mendung telah pergi. Namun karena nte Effit penasaran letak "pantai pasir putih" di kawasan Pantai Timur itu, kita tetap menuju kesana. Aku bahkan iseng-iseng menyebut mengajak mampir ke Cagar Alam. Karena pagi itu kita tidak buru-buru balik ke Tasik -- panitia B2W Tasikmalaya mengundang kita menghadiri acara ramah tamah, pukul 11.00 yang berarti makan-makan enak lol -- kita pun nyantai.



Dan ... kita pun beneran masuk ke Taman Wisata Alam Pantai Pangandaran, lokasi yang sama yang kita kunjungi setahun lalu bersama para gadis pelor.

Ternyata pergi dengan duo tante Effit dan Ria tidak kalah heboh dengan tiga gadis pelor tahun lalu. lol. Ranz yang tukang foto tidak kuhitung lho ya, dia ga heboh dengan suara soalnya. hahahaha ... Duo tante itu selalu punya energi untuk ngobrol ramai dan tertawa-tawa. Om Dudeng yang jadi pengawal ngikutin kita saja dengan anteng. kekekekeke ... Motretin kita jika kita minta dipotretin, ikutan bergaya jika kita minta turut berpose di depan kamera. hohoho ...



Satu perbedaan yang mencolok di kawasan taman wisata ini dibanding tahun lalu adalah pengunjung jauh lebih banyak ketimbang tahun lalu. Banyak wisatawan yang datang berombongan, ada yang memakai guide, ada yang jalan sendiri seperti rombongan kita.

Om Dudeng dan Nte Ria terpaksa balik duluan ke hotel karena sepeda lipat yang dinaiki nte Ria -- milik om Aris -- harus segera balik, yang punya akan segera menitipkan selinya ke orang, seli om Dudeng juga. Sebenarnya aku dan Ranz ga keberatan ikutan balik ke hotel, tapi ternyata diam-diam nte Effit penasaran pada mata air di gua Cirengganis yang katanya bisa bikin awet muda. Dia pingin kian disayang sang suami dong. hohoho ... Akhirnya ya begitu deh, aku dan Ranz mengantar sampai ujung Taman Wisata Alam Pangandaran, dimana gua Cirengganis terletak.



Sesampai disana, ternyata lumayan banyak orang juga yang sedang mengantri mau membasuh wajahnya dengan mata air di gua itu. Bahkan ada dua laki-laki di mata air itu yang tidak hanya membasuh wajah, namun sekaligus mengguyuri badannya dengan air disitu. ealaaah ... yang mengherankan adalah ada seorang petugas disitu yang hafal wajahku dan wajah Ranz yang telah kesitu setahun yang lalu. Ternyata wajah kita unforgettable yak. lol.

Air di mata air di bawah gua Cirengganis nampak lebih jernih ketimbang tahun lalu. Tapi, tahun lalu meski air nampak keruh jika dilihat sekilas, namun jika kita mengambilnya menggunakan kedua belah tangan, air akan nampak jernih juga. Kali ini aku tidak sendirian membasuh wajah (tahun lalu saja pake acara para gadis pelor memaksaku mempraktekkan membasuh wajah di mata air ini lol) nte Effit plus Ranz pun ikutan membasuh wajah. Airnya memang terasa segar sih.


Setelah itu kita balik ke hotel. Dan ... baru ngeh kalo aku lupa menyerahkan kunci kamar ke nte Ria. jadi meski dia balik duluan, dia tetap tidak bisa masuk kamar untuk mandi duluan dan packing. hehehehe ...

Usai kita semua mandi dan packing, kita siap-siap ke RM Karya Bahari, tempat panitia B2W Tasikmalaya mengundang kita makan-makan. Sebelum ikut mereka, aku ingin memastikan dulu apakah ada yang bisa memberi kita tumpangan balik ke Tasik. Jika tidak, aku dan Ranz akan langsung menuju terminal dan balik ke Tasik duluan. Pengalaman tahun lalu, bus yang kita tumpangi butuh waktu yang lama untuk sampai Tasik, kita tidak mau kemalaman dong. Alhamdulillah, rezekiku dan Ranz tetap lah bagus. Ada satu panitia yang baik hati menyediakan tumpangan untuk kita berdua. Kita pun langsung menuju RM Karya Bahari.


Hidangannya tidak jauh berbeda dari yang kita makan tadi malam, udang bumbu asam manis, cumi, namun ada tambahan ikan bakar dan tumis pakis yang ternyata nikmat sekali. Sebelum makan, Ranz sudah melipat seli kita dan membantu loading di mobil "Abah Bulu" yang memberi kita tumpangan.

Usai makan, saatnya berpisah dengan keluarga Om Poetoet dan Nte Ria, juga panitia B2W Tasikmalaya. Aku dan Ranz nebeng naik mobil Abah Bulu. Dalam mobilnya ada 8 orang, termasuk kita berdua dan satu cucu Abah Bulu. :) Ibu Ani -- istri Abah Bulu -- menawari kita untuk beristirahat di rumahnya setelah tahu bahwa kereta yang akan kita naiki ke Solo baru meninggalkan stasiun pukul 21.00. Benar-benar rezeki demi rezeki yang terus menghujani kita. Alhamdulillah ...

Meninggalkan Pantai Timur Pangandaran sekitar pukul 12.00, kita sampai rumah Abah Bulu sekitar pukul 15.30. Aku yang (ternyata) teler sepanjang perjalanan, merasa sangat bersyukur bahwa kita ditawari untuk beristirahat dulu di rumah Abah Bulu, aku benar-benar butuh membaringkan tubuh. Dan ... kita tidak perlu menggelandang di jalan. hehehehe ... Meski, well, sebenarnya pingin sih foto-foto di alun-alun dengan sepeda, seperti dua tahun lalu. Tapi kali ini aku lebih butuh istirahat sih ketimbang foto-foto. Apalagi Abah Bulu dan Ibu Ani sudah berniat mengantar kita ke stasiun sehingga sepeda lipat kita sudah masuk ke dalam mobil Abah Bulu.

Sekitar pukul enam sore Ibu Ani menawari kita makan malam. Alhamdulillah ... Benar-benar terjamin kita.

Pukul 20.00 kita diantar ke stasiun Tasikmalaya. Perjalanan dari rumah Abah Bulu ke stasiun kurang dari 10 menit. Dekat sekali. :) Ibu Ani menawari kita untuk menginap di rumahnya jika kita berdua ingin ikut Tour de Pangandaran 10, dua tahun lalu. Wahhh ... matur sembah nuwun Ibu :)

KA Kahuripan datang sekitar 3 menit terlambat dari jadual yang tertera di tiket. Gerbong 4 tempat kita duduk penuh sekali dengan penumpang. Hmft ... :D Meski begitu kita harus tetap bersyukur atas limpahan rezeki yang telah kita terima ya.

Austin di stasiun Balapan

Kita sampai di stasiun Purwosari sekitar pukul 03.45. Dengan sedikit ogah-ogahan, Ranz yang juga teler mengantarku ke stasiun Balapan. lol. KA Kalijaga meninggalkan stasiun Balapan pukul 05.20. Aku sampai di stasiun Poncol sekitar pukul 08.10.

Syukurlah ... tinggal mengembalikan stamina agar kembali fit lagi.

Suwun semuanya, rasa terima kasih tak terhingga untuk mereka yang telah membantu kelancaran aku dan Ranz turut menikmati Tour de Pangandaran yang kesembilan ini.

IB180 10.20 26/07/2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar