Senin, 23 Juli 2018

TdP9 : serangkaian rezeki yang kita nikmati


Pengantar

Beberapa bulan lalu, aku dan para gadis pelor (baca => Semarang VeloGirls) membahas tentang keinginan mbolang ke negeri para Daeng, dan apakah kita akan "memperbaiki" nasib (lol) di TdP8 tahun lalu yang kita terpaksa loading, sehingga untuk itu kita harus ngikut TdP lagi. Keputusan kita waktu itu, tahun ini kita skip Tour de Pangandaran dulu; duitnya disimpan buat ngikut event naik hajinya seliers.

Awal Juli, di grup WA para pengurus korwil B2W dari seluruh daerah di Indonesia, Om Poetoet -- orang nomor satu di B2W Indonesia saat ini -- menawari jika ada yang mau ikut TdP 9 tidak perlu mendaftar ke panitia, langsung ikut saja. Cukup mendaftar ke Om Poetoet. Setelah membahasnya sebentar dengan Ranz --- apakah dia bisa mbolos dari kantornya di hari Sabtu 21 Juli dan Ranz memperkirakan dia bisa bolos -- aku langsung mendaftarkan diri, aku dan Ranz. Ranz langsung ngecek ketersediaan tiket KA Pasundan (untuk berangkat) dan tiket KA Kahuripan (untuk pulang). Kemudian dia pun langsung booking.

Rezeki pertama : ikut event gratis, penginapan gratis. Alhamdulillah ... :)

Jumat 20 Juli 2018

Berbeda dengan tahun lalu dimana kita mengalami serangkaian drama, lol, alhamdulillah tahun ini semua berjalan dengan lancar. Pukul 09.00 tepat KA Kalijaga yang akan membawaku ke Solo telah meninggalkan stasiun Poncol. Pukul 11.40 kereta memasuki stasiun Balapan. Ranz telah menungguku di pintu keluar. Aku langsung memasang Austin, kemudian kita cepat-cepat mengayuh pedal ke stasiun Purwosari. (Satu hal yang paling kita sesalkan mengapa KA Kalijaga berhenti di stasiun Balapan, tidak sampai stasiun Purwosari, sehingga kita perlu ribet dulu pindah stasiun. :( ) Sesampai di stasiun Purwosari, check in, makan siang (Ranz membelikanku nasi pecel yang bumbunya pedas, jadi enak), menjelang pukul 13.00 KA Pasundan datang, kita pun langsung naik kereta.


Perjalanan lancar. Kita sampai stasiun Tasikmalaya pukul 19.45, terlambat 7 menit dari jadual yang tertera di tiket. Setelah memasang sepeda, kita pun melaju ke pendopo alun-alun. Kali ini tikum tidak di gedung Telkom namun di pendopo. Kita langsung mencari nte Ria Serbeje karena kita akan menginap bersama di City Hotel, hotel yang sama yang kita inapi di TdP7. Sempat bertemu om Chandra dari Fedtang a.k.a Selitang disana. Di dekat counter pendaftaran ulang, aku, nte Ria dan Ranz pun ngerumpi heboh. lol. Menjelang pukul 23.00 kita ke hotel. Waktu itu nte Ria sempat nawarin makan malam bareng om Dudeng, tapi aku ogah bikin perut kian empuk. lol. nte Ria keluar dari kamar juga karena mendadak ada yang harus dia urusin. Orang super sibuk! lol.

Sabtu 21 Juli 2018

Jika di TdP7 nte Ria sudah meninggalkan kamar seusai adzan Subuh karena harus mengatur marshall dll yang akan menjemput dan mengawal Bu Susi Pudjiastuti yang mulai ikut bersepeda di kilometer 90, tahun ini dia lebih santai. Ranz yang memulai ritual kamar mandi pukul setengah lima, nte Ria jam lima, aku setelah itu. :) Sekitar pukul 05.45 kita ke lantai 5 untuk sarapan. Di lantai 5 itu kita bisa melihat betapa langit super mendung. Ini gawat buat Ranz yang bawa dua kamera. (ssshhhttt ... 1 kamera kurang buatnya. lol.)

Tahun ini Om Poetoet tidak ikut bersepeda karena harus nyetir mobilnya sendiri yang berisi sang istri tercinta dan anak ragilnya, anak keduanya, Finza ikut bersepeda. TdP9 adalah debut buat Finza. :)

Pukul 06.15 kita bersepeda ke titik start. Sambil menunggu serangkaian acara sambutan dan ini dan itu, aku menonton orang-orang yang saling mendokumentasikan diri di kawasan itu, Ranz sibuk memotret sana sini, Finza anteng saja kadang berdiri, kadang jongkok, sesukanya lah. nte Ria sudah ga kelihatan, ngider entah kemana. lol. Om Poetoet jelas sibuk di panggung utama.

Pasukan Tour de Pangandaran 9 dilepas oleh Wakil Walikota Tasikmalaya pukul delapan pagi, meski tentu banyak ratusan peserta lain yang curi start terlebih dahulu. Finza yang semula akan naik mtb, mendadak memilih naik trifold waktu ditanyain om Poetoet mau naik sepeda yang mana. Aku dan Ranz berpikiran sama : mungkin dia penasaran treknya kayak apa ya kok nte Nana dan nte Ranz cuma naik sepeda lipat? hihihi ...

Di kilometer-kilometer awal kita bertiga masih sempat bareng, kadang Finza di belakang kita, kadang dia melesat di depan kita. Sampai di satu lokasi dimana sekian ratus meter ruas jalan sedang diperbaiki sehingga diberlakukan "buka tutup jalan". Di ujung buka tutup jalan ini kebetulan ada warung sederhana, Finza yang ternyata sakit perut dan butuh ke toilet mampir warung. Aku dan Ranz menungguinya sampai selesai. Ternyata setelah selesai, Finza malah mempersilakan kita jalan dulu karena dia masih kepengen santai. Dia yakin di belakang kita masih banyak peserta TdP9. Nah, di titik ini kita berpisah.



Perjalanan lancar. Sebelum sampai tanjakan mengejutkan yang disebut Tepung Kanjut di sisi kiri sudah ada n o t i c e bahwa bakal ada tanjakan curam di depan. Dua tahun lalu, tepat di dekat belokan menuju tanjakan ada beberapa marshall yang mengingatkan, "siapkan ganti gear, tanjakan curam menanti!" Kemarin tidak ada marshall yang seperti itu, namun berhubung ini bukan kali pertama kita ngikut, notice yang disediakan sudah cukup membuat kita siap-siap memindah gear. Banyak pesepeda yang mendadak rantai sepedanya patah disini karena salah strategi. Tanjakannya sih tidak panjang, namun ya itu, selepas belokan langsung menanjak curam.


Seperti biasa aku dan Ranz berhenti memotret diri di gerbang masuk kota Banjar. Ada yang 'baru' disini, panitia menyediakan air mineral dalam galon untuk refill bidon. Alhamdulillaaah ...

Di kilometer ke-50, pas Ranz menoleh ke satu rumah makan, dia melihat Om Poetoet beserta istri dan anak bungsu mereka sedang mau makan siang. Ini sekitar pukul 11.20, 10 kilometer menjelang Toserba Samudra tempat makan siang. Kita diajak makan siang bareng. Haseeek. :) Om Poetoet khawatir waktu melihat Finza tidak bersama kita, karena dia kurang tidur semalam sebelumnya. Ya kita beritahu bahwa Finza meminta kita melanjutkan perjalanan sementara dia masih ingin istirahat.

Untuk makan siang, aku memilih ayam (kampung) bakar sedangkan Ranz memilih sup ayam kampung. Yang istimewa disini adalah sambalnya, cukup nendang dan di lidah terasa nikmat.

Satu jam kemudian, Finza tak kunjung kelihatan lewat, kita melanjutkan perjalanan. Aku dan Ranz sempat mampir di Toserba Samudra untuk mengisi bidon, kemudian langsung lanjut gowes lagi.

Sesampai di tanjakan Kalipucang nan panjang itu, kita mendapati bahwa permukaan jalan sudah mulus, tidak seperti tahun lalu yang masih cukup rusak, dan terjadi kemacetan panjang. Banyak mobil evak (milik pribadi maupun milik komunitas) yang melewati kita.

Setelah melewati tanjakan Kalipucang -- dan turunannya yang juga panjang -- kita mampir ke satu minimarket, bidon sudah kosong, kita harus beli air mineral. Aku sempat beli es krim buat berdua Ranz disini. Setelah itu baru melanjutkan perjalanan.

Menjelang pukul 17.00 kita akhirnya sampai di titik finish. Hmft ... catatan waktu kita lebih buruk ketimbang dua tahun lalu. lol. Melihat panggung "certificate of completion" yang penuh orang antri, aku males ikut berdesak-desakan. (Tahun lalu kita berenam ikut ngantriiii. lol.) Aku langsung mengajak Ranz ke pantai, mumpung matahari masih sedikit terlihat di ufuk Barat. Namun, sesampai pantai, ternyata sang mentari langsung bersembunyi di balik awan mendung. Hadeewww. Kita pun hanya nongkrong2 disitu, memandang orang-orang yang riuh rendah merayakan keberhasilan sampai di pantai.


Pukul 18.00 kita baru lihat ternyata nte Ria bersama nte Effit -- istri om Poetoet -- dengan anak ragilnya, Vio juga di pantai. Mereka foto-foto seru bersama om Tiyo -- punggawa B2W Bandung -- dan yang lain-lainnya. Setelah foto bareng, kita ke hotel Alamanda, tempat kita menginap. Nte Ria langsung ke panggung utama, mengecek persiapan pembagian door prize.

Usai mandi-mandi, pukul delapan malam, aku dan Ranz pun ke panggung utama. Para lelaki heboh ikutan berjoged saat si penyanyi menyanyi, juga rebutan door prize yang dilemparkan ke tengah penonton. Pukul sembilan malam, aku mengajak Ranz keluar mencari makan malam. Usai makan malam, kita balik lagi ke venue, menonton kehebohan para peserta menunggu pengumuman door prize utama, berupa sepeda turing surly seharga Rp. 17.000.000,00 Ih wow!

Acara selesai sekitar pukul 22.30. Aku mengajak nte Ria dan om Dudeng berfoto-foto di tulisan PANGANDARAN SUNSET. Pukul 23.00 om Dudeng pergi entah kemana, aku menemani nte Ria mencari makan malam. Om Chandra yang sempat kita temuin menyarankan seafood berupa 'pindang gunung'. om Poetoet yang sedang membahas sesuatu dengan om Tiyo ikut kita makan tengah malam. lol.


Menjelang pukul setengah satu dinihari kita usai makan, kembali ke penginapan, sikat gigi dan ... tidur. Nah lo. Balik lagi daaah tuh lemak yang sudah sempat kugerus kala bersepeda sejauh 107 kilometer. Hiksss ...

IB 180 08.49 24072018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.