Cari Blog Ini

Jumat, 06 Januari 2023

Flexing, healing, dan baper

 


Flexing, healing, dan baper

 

Dua diksi ini -- flexing dan healing -- jelas memiliki sifat yang sangat relatif, dan sangat kuat hubungannya dengan baper

 

Misal: foto saya ini.

 

Bagi yang tau lokasi Srambang Park ini, dan merasa dirinya ga mampu mencapai lokasi ini dengan naik sepeda, ada kemungkinan dia akan baper, dan menuduh saya flexing.

😆

 

bagi yang merasa lokasi Srambang Park itu mudah dicapai dengan naik sepeda, mereka akan memandang kegiatan saya ini: "healing"

😁

 

Setiap R berkunjung ke Semarang, biasanya kami berdua akan nongkrong di cafe Starf*cks untuk ngopi (saya) dan nyoklat (R). Kami akan ngobrol sekitar satu hingga dua jam di satu pojok cafe itu. Dan seringnya saya akan mengunggah foto makanan dan minuman yang kami pesan. Saya tidak bermaksud flexing, namun hanya untuk meninggalkan jejak genital, eh, digital yang saya bisa lihat lagi di tahun-tahun depan.

 

Namun, hal "sepele" (bagi saya) ini bisa jadi merupakan flexing bagi orang-orang tertentu.

Apakah saya peduli? Tidak! Hahaha ...

 

Merunut ke status saya kemarin: "flexing hanya untuk orang yang gagal" memang sangat relatif maknanya. Hal ini berhubungan dengan

 

(1) si pengunggah yang merasa hal yang dia lakukan itu membuat prestise-nya naik di mata kawan-kawan medsosnya. Padahal mungkin di mata kawan-kawan medsosnya, hal yang dia lakukan itu hal yang biasa-biasa saja

 

(2) seberapa baper kawan medsos melihat yang diunggah seorang thread starter

 

Segini saja dulu yaa.

 

IB180 11.00 05/01/2023

 

Minggu, 01 Januari 2023

Christmas Holiday 2022 ~ 3

 


Rabu 28 Desember 2022

 

To our disappointment, Ranz didn't get better at all. 😞 'kemajuan' hari ini adalah akhirnya dia mau mencoba minum omeprazol, obat aslam yang biasa diminum Angie maupun adikku ketika aslamnya kambuh. Selama ini, ga pernah dia minum obat apa pun ketika aslamnya kambuh. Pagi itu, dia memintaku ke apotik untuk beli obat omeprazol dan vometa. Dia ternyata sempat browsing obat untuk mengurangi mual dan muntah yang disebabkan oleh aslam.

 

Aku pun keluar ke apotik terdekat, di Jakal situ, dan beli roti O, Ranz pengin itu. Aku keluar hanya sebentar untuk beli itu, kemudian langsung balik ke hotel.

 

enak ini spaghetti-nya 😋

 

 

Siangnya Ranz menawariku mau makan apa. Aku bilang pengen spaghetti, gegara lihat postingan teman di medsos anaknya sedang makan spaghetti, kayaknya kok enak sekali. Hahahaha … maka Ranz pun memesankannya lewat aplikasi online. Selain memesan spaghetti, dia juga pesan chicken wings dan pisang goreng. Aku makan spaghetti-nya sendiri, Ranz ga ingin mencicipinya. Sore itu, dia aku suapi pisang goreng.

 

Malam, aku keluar sebentar ke Gading Mas untuk membeli beberapa kebutuhan.

 

Kamis 29 Desember 2022

 

Pagi itu aku meminta izin Ranz untuk keluar sepedaan sebentar. Aku memasuki area kampus UGM lagi, memotret Austin di satu gedung yang ada tulisan ALUMNI UGM. Kemudian aku sempat memutari perumahan dosen (dulu itu perumahan dosen) Bulaksumur. Dulu, aku suka sekali berjalan-jalan lewat sini, memandangi rumah-rumah yang mungkin dibangun sekitar dekade 1960an. Sampai sekarang aku masih suka melihat disain rumah lawas seperti ini.

 


 

 

Dari Bulaksumur, aku mengayuh pedal Austin ke arah Tugu. Sudah lama aku tidak memotret Austin dengan latar belakang Tugu. Padahal bulan Mei 2022, aku dan Ranz bersepeda ke arah Malioboro, baliknya ya kami memilih jalur 'contra flow' balik ke arah Tugu, tapi waktu itu ga kepikiran untuk memotret Austin dengan latar belakang Tugu.

 


 Setelah memotret Austin, aku memilih jalan AM Sangaji, kemudian di perempatan pertama belok kanan, ke arah Terban. Saat kuliah S1 akhir -- KKN dan menulis skripsi -- aku ngekos di daerah Terban situ. Apa satu saat perlu juga aku bernostalgia di kawasan ini dengan menginap di hotel somewhere here? Hihihi … dari situ, aku terus ke arah perumahan dosen Sekip. Kemudian belok ke arah RS Dr. Sardjito, hingga tembus Selokan Mataram.

 

Sekembali aku di hotel, Ranz memesan nasi gudeg 'langganan' kami berdua jika dolan ke Jogja. Hari ini selera makan Ranz lumayan, menurutku. Menurutnya: dia mulai merasakan aslamnya kumat gegara perutnya kosong. Iyalah, dia hanya makan sedikit, setelah makan, dia muntahin itu karena perutnya mual sekali. Hiksss …

 

Waktu menyuapinya sarapan, aku mengajak Ranz keluar kamar, makan di 'ruang tamu' yang tersedia di lantai 2 hotel.

 

Ranz meminta kakak iparnya untuk menjemput ke Jogja. 

 


 

 

Kami meninggalkan hotel sekitar pukul 12.00. Ranz yang mendadak pengen bakso, membawa kami ke satu RM yang berjualan bakso 'Pak Tikno' di kawasan Maguwo.

 

Otw back to Solo, aku baru ngeh, betapa banyak traffic light yang harus dilewati yang membuat perjalanan tersendat dan membosankan. Hahahaha … kami sampai rumah Ranz sekitar pukul 14.30.

 

Honestly aku tidak tega meninggalkan Ranz sendiri, (dia terbiasa mandiri jadi anggota keluarganya ga akan ngeh bahwa dia itu sedang sakit dan butuh dilayani), tapi aku sudah kadung janji Angie untuk pulang ke Semarang hari Kamis. Beberapa kali aku 'terpaksa' mblenjani janji karena ini itu, aku ga enak jika harus melakukan itu lagi. Hiksss …

 

Sore itu, aku kembali ke Semarang dengan naik travel pukul 17.00. Sesampai pool travel di Semarang, sekitar pukul 18.45, ada tanda-tanda habis turun hujan lebat. Syukurlah aku tidak perlu mengenakan mantel saat kembali mengayuh pedal Austin balik ke rumah.

 

Note:

(1) honestly, aku menyesal karena belum jadi mewujudkan keinginan bersepeda ke Gumuk Pasir. Sudah lamaaaaaaaa, aku pengen bersepeda kesini, tapi Ranz ogah melulu. Ketika dia mau, eh, dia malah jatuh sakit. Hiksss …

 

(2) aku juga pengen menginap lagi di kawasan Candi Prambanan, entah mengapa kok aku juga suka ya saat menginap di kawasan ini. Terakhir aku dan Ranz menginap di hotel Galuh Desember 2020. seperti aku juga suka menginap di kawasan Candi Borobudur.

 

(3) satu hal yang aku sukai dari perjalanan ini adalah aku sempat bernostalgia masuk kampus UGM sendiri! Well, biasanya Ranz juga mau sih kuajak masuk blusukan di kawasan UGM. Tapi ternyata sendirian kok rasanya seperti saat aku kuliah dulu ya. Hohoho …

 

(4) I feel grateful bahwa Ranz ga pernah menolak kuajak bernostalgia menginap di kawasan Jakal km 5. Dia selalu mau (dan turut menikmati) kuajak bersepeda Solo - Jogja demi aku yang akan bernostalgia. plus dia mau-mau saja kuajak menginap somewhere di Jakal km 5, area saat aku kuliah dulu. 'blusukan di kawasan ini juga sangat menyenangkan buatku.

 

PT56 10.16 01/01/2023

 

Christmas Holiday 2022 ~ 1

 

my almamater, my pride

This is the 'worst' holiday ever for me. :(

(pakai tanda kutip yak)

 

Sebelum the D day, aku dan Ranz membahas kami akan pergi kemana. Ini mengingat pandemi covid 19 bisa kita anggap (nyaris) usai ya jadi kami berpikir boleh lah pergi rada jauh. (selama pandemi kami berdua 'hanya' dolan ke Jogja doang saat punya waktu luang untuk sepedaan keluar kota.) Mulai dari kota Surabaya, Jepara, hingga Magelang kami bahas sebagai calon destinasi. Namun, akhirnya kita kembali ke kota klangenan buatku: Jogja.

 

Hari Minggu tanggal 25 Desember 2022 aku berangkat ke Solo dengan naik travel Cititrans yang memberi keleluasaan membawa sepeda gratis. Waktu berangkat, cuaca cukup mendung di kota Semarang. Setelah mobil travel yang kunaiki meninggalkan pool (I was the only passenger!) dan masuk jalan tol, hujan mulai turun. Sepanjang jalan tol, hujan datang dan pergi.

 

Saat mobil keluar dari jalan tol daerah Colomadu, gerimis yang menyertai. Meskipun begitu, genangan air dimana-mana menunjukkan bahwa sebelumnya hujan deras tentunya. Out of my expectation, tiba-tiba Ranz menelpon mengabari bahwa dia akan menjemputku di pool travel dikarenakan hujan. Wah! Tumben ini! :)

 

Ranz menjemput bersama kakaknya + suami + Deven, keponakannya yang kecil. Dari pool Cititrans, kami ke area Solo Baru; tujuannya satu warung mie ayam + bakso. Ternyata ada yang nyidam mie ayam disini, entah siapa.

 


 

Malamnya, Ranz dan aku ke Wedangan pak Basuki; as usual, aku pesan teh nasgitel dan sebungkus mihun. Dari Wedangan Pak Basuki, Ranz mengajakku minum susu di kedai susu langganannya. Aku tidak minum susu, so disana aku hanya menemani Ranz saja.

 

Senin 26 Desember 2022

 

Pagi itu Ranz tidak bangun gasik seperti biasa jika kami berdua akan bersepeda keluar kota. Aku pun memulai mandi dan siap-siap sekitar jam 05.30. setelah aku selesai mandi, baru Ranz bangun dan mandi dll. Baru sekitar pukul 07.00 kami meninggalkan rumah Ranz di kawasan Jongke. (mungkin ini 'pertanda' bahwa Ranz was not really well ya? :( )

 

Seperti biasa Ranz memilih rute yang memungkinkan kami berdua sarapan timlo di kawasan tak jaauh dari SMP N 1 Gatak. Oh ya, di perjalanan kali ini, aku tetap naik Austin, sementara Ranz naik sepeda barunya yang dia beri nama 'Hazel': camp hazy edisi wonderful Indonesia Toraja Sulawesi. 

 


 


 

Setelah sarapan, perjalanan lancar seperti biasa. Menjelang sampai 'gerbang' pertanda masuk kota Klaten, gerimis tipis mulai menyapa. Tapi kulihat Ranz tidak siap-siap mengenakan mantel. Aku pun tidak mengenakannya, sambil 'ndremimil' semoga gerimis segera berhenti, dan bukannya menderas. Tentu kami berdua membawa mantel, tapi bersepeda jarak jauh dengan mengenakan mantel itu kurang nyaman, honestly.

 

as usual, aku 2 gelas, Ranz cukup satu gelas

 

Sesampai kawasan Bogem, Kalasan, seperti biasa kami mampir jajan es dawet Ngudi Roso yang sudah kondang. Untuk 'teman' minum es dawet, as usual (juga) Ranz beli tahu petis yang berjualan di samping warung es dawet. Dan seperti sebelum-sebelumnya, aku minta dibelikan 2 gelas es dawet. Segelas pertama itu bisa aku habiskan sekali minum loh. Setelah habis minum segelas es dawet, aku baru ngemil tahu beberapa potong, kemudian minum es dawet gelas kedua.

 

Dari jajan es dawet Ngudi Roso, kami mampir ke Candi Kalasan. Aku ga perlu minta Ranz, dia sendiri berinisiatif belok; iya, ini adalah perjalanan perdana Hazel, jadi perlu didokumentasikan! :)

 

 



 

Tak lama setelah kami meninggalkan kawasan Candi Kalasan, gerimis turun, dan lama-lama kian menderas. Ranz mengajakku berhenti di satu minimarket. Aku pikir untuk mengenakan mantel dan segera melanjutkan perjalanan. Toh, bisa dianggap kami sudah sampai Jogja. Setelah menunggu sekitar 15 menit dan tak ada tanda-tanda hujan mereda, Ranz mengenakan mantel dan mengajakku melanjutkan perjalanan.

 

Melewati Jalan Solo, jalanan padat dengan kendaraan, namun karena kami naik sepeda, kami bisa mlipir hingga bisa berhenti di 'ruang tunggu pesepeda' yang terletak tak jauh dari traffic light. Kami belok ke Jalan Gejayan (eh, nama barunya apa? Lupa!) kemudian belok ke Jalan Kolombo. Menjelang bunderan UGM, Ranz bertanya apa aku merasa perlu berhenti untuk foto, aku jawab ga usah, langsung ke hotel saja.

 

Masuk Jalan Kaliurang selepas Selokan Mataram, as usual jalanan pun padat kendaraan. Ranz yang sudah hafal jalan, dia bisa langsung 'menemukan' Gang Megatruh; kali ini kami menginap di hotel Sellinas yang terletak di Gang Megatruh. FYI, Gang Megatruh terletak di samping Gang Mijil, tempat aku dulu pernah ngekos selama 4 tahun saat kuliah S1, dan 1,5 tahun saat kuliah S2: "daerah kekuasaanmu ya?" tanya seseorang, lol. That's why aku selalu merasa excited saat 'kembali' ke area ini.

 

Setelah check in, Ranz mempersilakanku mandi terlebih dahulu, kemudian gantian dia. Meanwhile, Raditya mengajakku ketemuan. Semula aku mengusulkan malam hari, setelah maghrib, namun sekitar jam 4, Ranz yang sudah kelaparan mengajakku keluar, kebetulan pas hujan berhenti. Aku mengajak Ranz ke 'Angkringan 5rawung'.

 

ternyata sudah cukup lama Radit pengin tahu ini apa, hahaha

jika kau suka teh nasgitel, teh ini cucok!

 

 

Tak lama setelah aku dan Ranz nangkring di angkringan, Radit menyusul. Kami bertiga ngobrol sembari ditemani hujan yang datang dan pergi sesuka hati. :D sekitar pukul 7pm kami pulang. Otw back to our hotel, kami mampir minimarket membeli air mineral. It was raining, tapi karena aku berpikir lokasi dari angkringan ke hotel tidak jauh, aku tidak mengenakan mantel, dan waktu kami balik, hujannya ga begitu deras, so I thought. Sesampai hotel, kami keluar lagi, Ranz butuh membeli beberapa 'barang'. Aku mengajaknya jalan kaki ke minimarket Gading Mas (zaman aku kuliah S1 dulu, minimarket ini namanya PAMOR), dengan meminjam payung dari hotel. Aku lihat Ranz membeli counterpain, panadol (dia ternyata sudah merasa kurang sehat, hiksss …) kapur semut dan beberapa cemilan.

 

to be continued.


Christmas Holiday ~ 2

 


Selasa 27 Desember 2022

 

Ranz mengeluh vertigonya kumat, dan kepala bagian belakang bawah sakit sekali. Tapi ketika aku tanya apakah asam lambungnya kumat, dia bilang dia tidak merasakannya. Untuk sarapan pagi itu, Ranz memesan satu porsi nasi gudeg. Aku menyuapinya beberapa sendok, kemudian dia minum panadol, dan melanjutkan tidur. Sesekali bangun mengeluh kepalanya sakit dan pandangannya berputar. :( terpaksa rencana untuk bersepeda ke Gumuk Pasir di Parangkusumo batal kami lakukan.

 

Di hari berikutnya kami berencana untuk bersepeda ke Kalasan. Rabu siang kami akan bersepeda ke Suwatu Mill and Bay. Namun ternyata waktu aku akan reservasi, jawabannya adalah Suwatu fully booked sampai tanggal 31 Desember. Waktu aku memberitahu Ranz tentang hal ini, dia membatalkan booking kamar hotel di Kalasan. Dia berharap dia akan segera membaik, dan hari Rabu kami bisa bersepeda ke Gumuk Pasir.

 

Aku sebenarnya kepengen keluar sebentar sepedaan ke kampus UGM, tapi aku ga enak hati jika meninggalkan Ranz. Sorenya, sekitar pukul setengah empat, Ranz menawariku apa aku ga ingin keluar, aku bilang aku pengen sepedaan ke UGM. Dia memintaku menungguinya mandi terlebih dahulu. Aku yang semula tidak kepikiran untuk mandi (toh aku hanya akan memotret Austin saja), jadi mandi, dengan harapan Ranz sudah bisa keluar sepedaan.

 

Ranz pun ternyata berharap bisa ikut keluar sepedaan sebentar. Namun, baru keluar kamar, Ranz membatalkan keinginannya ikut. Dia masih merasa dunianya berputar. Hikss … dia hanya berpesan minta dibelikan panadol extra. Aku masuk UGM lewat jalan masuk di sebelah Utara yang hanya bisa dilewati orang yang berjalan kaki, atau membawa sepeda. Masuk, aku lihat ada Fakultas Pertanian (lah, baru ngeh ternyata Fakultas Pertanian pindah! Seingatku dulu ada di dekat perempatan yang ada Mirota Kampus itu), tak jauh dari Fakultas Pertanian, ada Fakultas Teknologi Pertanian.)

 

I love this pic! thanks seseembak yang lewat dan motretin.


 

Aku memotret Ausin dengan latar belakang Gedung Pusat. Dari sana, aku langsung menuju Fakultas Ilmu Budaya, sudah lama ingin memotret Austin dengan latar belakang tulisan FAKULTAS ILMU BUDAYA UGM dengan font berwarna merah. Pertama melihat tulisan ini bulan Juni 2022 waktu lewat bersama seorang kawan Kagama. Ternyata butuh enam bulan untuk mewujudkannya. Hohoho … kebetulan pas memotret Austin disini, ada seorang perempuan lewat, aku meminta tolong untuk dipotret. Ihiiir.

 

Aku menyempatkan diri masuk kampus FIB. Duuuuh, kangeeeeeeeeeeeeen!!! Rasanya ingin balik muda lagi, untuk kuliah S1 lagi! Hihihi … waktu sampai di gedung yang ada di belakang, dimana dulu aku dkk menyebutnya 'Plaza' saat kuliah S2, aku pun jadi kangen masa-masa kuliah S2, bersama Professor Hugh Egan. Hahaha … Kantin Sastra maupun Bonbin sudah tidak ada ya. Semua kantin dikumpulkan di area Lembah UGM. Aku melihat gedung-gedung baru di area 'belakang' (well, zaman kuliah S1 dulu, bagian depan Fakultas Sastra itu yang menghadap Barat ya), well, no more bangunan lawas dengan kursi-kursi yang ada 'tinggi'nya. Dulu beberapa kali kuliah di situ. Waktu pembekalan KKN juga di situ.

 


 

Setelah puas berputar (eh, belum puas sih, tapi aku ga enak ati meninggalkan Ranz terlalu lama), aku menuju pelataran halaman gedung Grha Sabha Pramana, memotret Austin disana. Dari GSP, aku ke arah apotik UGM yang terletak di 'lurusan' Jl. Kolombo (itu apa ya nama jalannya?) seberang RS Panti Rapih bagian Utara. Dari apotik, aku mampir Mirota Kampus. Supermarket ini juga ngangenin, saat awal kuliah S2, aku ngekos di Jl. C. Simanjuntak. Saat Angie menengokku dan menginap di kos beberapa hari, aku biasa beli roti disini sepulang dari kuliah untuk dicemil Angie.

 

Guess what I wanted to buy here? Sisir! Hahahaha, iya jenis sisir yang selama beberapa tahun terakhir aku rasakan paling cocok dengan jenis rambutku hanya ada di Mirota kampus! Di Semarang, aku ga pernah nemu model sisir yang begini. Well, aku punya beberapa tas yang aku pakai untuk pergi. Aku penginnya di tiap tas ada sisir satu, jadi ga bakal aku kelupaan bawa sisir saat ganti tas. Haha … itulah sebab aku merasa butuh mampir Mirota Kampus.

 

Setelah keluar dari MK, aku disambut gerimis. Wedew. Aku pun ngebuttt, semampuku sih, sampai hotel. Malam itu aku suapi Ranz dengan roti yang aku beli di MK, sebelum dia minum panadol extra. 

 

to be continued.

 

Selasa, 08 November 2022

Jamselinas XI - 2

 


 

Sabtu 22 Oktober 2022

 

Sekitar pukul 05.30 saya dan Ranz sudah menuju lobby hotel. Ternyata yang menginap di hotel ini bukan hanya kawan-kawan KomseliS namun juga ada beberapa kawan dari Jakarta dll. Hotel menyediakan sarapan nasi kuning yang dibungkus. Karena malamnya saya tidak makan (Ranz makan mie ayam, saya hanya menemani) saya makan nasi kuning itu, Ranz yang tidak suka nasi kuning, tentu tidak mengambilnya.

 

Menjelang pukul 06.00 kami serombongan meninggalkan hotel menuju titik kumpul: Menara Teratai. Disana sudah buanyaaaaak pesepeda, ribuan! Konon pesertanya lebih dari duaribu orang!

 


 

 

Secara keseluruhan, jarak yang saya tempuh dalam event gowes utama Jamselinas XI ini adalah 58,85 kilometer (ini plus ngepit dari hotel ke titik kumpul, kemudian dari venue tempat pembagian door prizes balik ke hotel lagi). Lumayan lah. Di awal-awal, jelas peserta diajak berputar area pusat kota, hingga akhirnya kami mlipir ke pinggiran. Trek dimulai jalan beraspal halus rolling (dalam kota) hingga melewati tengah-tengah sawah, bahkan masuk ke area 'hutan bambu'. :)

 

Alhamdulillah saat bersepeda -- mulai dari meninggalkan titik kumpul hingga menuju venue di Taman Andhang Pangrenan -- cuaca mendukung. Diawali dengan mendung, kemudian sedikit panas, hingga lumayan panas. Beda dengan event yang diselenggarakan seminggu sebelumnya di Jogja -- Plesiride -- dimana saya lihat foto-foto peserta yang sedang bersepeda diguyur hujan lebat. Duh, males banget jika baru mau berangkat saja sudah kehujanan. :D

 





 

 

Saya dan Ranz -- plus bebarapa kawan lain -- stay di venue sampai acara pembagian door prizes selesai. Ada lumayan banyak sepeda lipat yang dijadikan hadiah, dari yang merk united, tern, hingga 3sixty. Sayangnya, saya dan Ranz belum berjodoh dengan salah satu door prizes yang dibagikan itu, lol.

 


 

 

Hujan mulai turun sekitar pukul dua siang. Pembagian door prizes belum usai ini. Akhirnya, waktu bersepeda dari Taman ini balik menuju hotel Papillion, saya dan Ranz kembali kehujanan lebat. Dua hari berturut-turut kami dihujani.

 

Malam hari, hujan belum berhenti. Untuk makan malam, Ranz pun pesan via g-food. Saya tidak makan malam.

 

Minggu 23 Oktober 2022

 

Semula, menurut rundown jamselinas XI yang pertama beredar, hari ini panitia tidak menyediakan acara apa pun. Namun kemudian panitia menawari gowes ke Baturraden. Well, saya dan Ranz sudah pernah bersepeda kesana, di tahun 2013 dan tahun 2016. So? Hari ini, kami memutuskan santai saja.

 

Karena semalam saya tidur lumayan gasik (sekitar jam 10), saya bangun pagi, sementara Ranz masih molor. Saya memulai 'ritual' di kamar mandi jam enam, kemudian packing. Jam tujuh saya sudah siap pergi, sementara Ranz baru melek, dan kaget melihat saya sudah rapi, wkwkwkwk.

 

Sekitar jam delapan kami menuju lobby dan Ranz kaget tidak melihat satu buah sepeda pun disana. "Emang ada acara ngepit to hari ini?" tanyanya. Ya pastinya kawan-kawan sepedaan sendirian lah ya, berombongan lah ya, mungkin berburu oleh-oleh.

 

Saya semula ingin sarapan di hotel saja, tapi Ranz malas. Dia malah menawari saya sarapan soto di Jl. Bank, yang lokasinya dekat dengan stasiun. Saya sudah bilang mampir kesana pas otw ke stasiun saja, buat makan siang. Tapi Ranz keukeuh, ya sudah. Waktu lewat Rita supermall, Ranz melihat nte Maya dan om Erwin -- yang dulunya dari Surabaya, namun akhir-akhir ini lebih sering tinggal di Jakarta -- sedang ngopi di halaman mall itu. Kami mampir, dan om Erwin menawari kami ngopi. Ya alhamdulillah lah ya, saya pesan cappuccino, dan Ranz seperti biasa pesan coklat.

 


 

Usai ngopi dan ngobrol bareng nte Maya dan om Erwin, saya dan Ranz ke Jl. Bank: sarapan soto Banyumas. Usai sarapan, kami menuju pusat oleh-oleh kripik tempe Niti di Jl. Pramuka. Dari sana, kami langsung kembali ke hotel.

 


 

Sekitar pukul setengah 12 kami meninggalkan hotel, menuju stasiun. Mendung tebal sudah nampak menggelayut di langit. Dari pada kehujanan lagi, mending kami buru-buru ke stasiun. Kami akan naik KA Joglosemarkerto pukul 13.59.

 



Di stasiun kami bertemu banyak kawan sepeda dari Jogja, kami rupanya akan naik kereta yang sama. Oh ya, saya sengaja memilih naik KA Joglosemarkerto yang ini agar bisa bareng Ranz. KA Joglosemarkerto yang langsung menuju Semarang berangkat pukul 10.00. Sementara KA Kamandaka pukul 16.00. (saya tidak tahu ternyata beberapa kawan KomseliS naik KA Kamandaka yang berangkat jam empat sore ini.)

 

KA Joglosemarkerto masuk peron stasiun Purwokerto pukul 13.52! Kami hanya punya waktu kurang lebih 7 menit untuk membawa masuk sepeda dan menatanya di bordes. Dan, ternyata kawan-kawan dari Jogja booking gerbong nomor 2 untuk mereka bersama! Wow. Keren!

 

Perjalanan kami lancar. Ranz sampai stasiun Balapan sekitar pukul 17.30. saya sampai stasiun Tawang pukul 20.30.

 

NOTE:

Pendaftaran Jamselinas XI Rp. 400.000,00

KA Kamandaka Semarang - Purwokerto Rp. 120.000,00

KA Joglosemarkerto Solo - Purwokerto Rp. 125.000,00

KA Joglosemarkerto Purwokerto - Solo Rp. 125.000,00

KA Joglosemarkerto Purwokerto - Semarang Rp. 175.000,00 (karena memutar)

Hotel Papillon 2 malam Rp. 400.00,00 (untuk berdua)

 

PT56 10.56 08/11/2022

JAMSELINAS XI - 1

 


Akhirnyaaa … para pehobi naik sepeda lipat berkesempatan untuk bersilaturrahmi kembali!

 

Setelah jambore sepeda lipat nasional kesepuluh di tahun 2020 gagal diselenggarakan secara 'onsite', (terpaksa 'hanya' dilakukan secara 'virtual' di kota masing-masing peserta) dan di tahun 2021 tidak ada penyelenggaraan jamselinas (saat covid delta sedang ganas-ganasnya ini) akhirnya di tahun 2022 jambore sepeda lipat nasional berhasil diselenggarakan kembali! Yeay! Kali ini, kota Purwokerto yang ketiban sampun menjadi 'host'.

 

Bai de wei bas wei, 'meski' diselenggarakan di kota Purwokerto, yang menjadi tuan rumah bukan komunitas 'sepeda lipat Purwokerto, namun 'sepeda lipat Banyumas' ya gaes.

 

Saya ingat waktu menghadiri jamselinas kedelapan di Makassar  tahun 2018, komunitas 'indonesia folding bike' (id-fb) yang merupakan komunitas sepeda lipat pertama di Jakarta mengumumkan bahwa kota Purwokerto dipilih untuk menjadi host jamselinas di tahun 2020. Jamselinas tahun 2019 sudah diminta oleh komunitas sepeda lipat Palembang untuk diselenggarakan disana. Namun, entah mengapa yang jadi 'host' jamselinas X tahun 2020 malah komunitas sepeda lipat Magelang. (yang sayangnya gagal diselenggarakan secara onsite gegara pandemi.)

 

Meski dunia event sepedaan sempat terpuruk di tahun 2021 -- karena pandemi -- ternyata antusiasme para pesepeda lipat untuk bergabung dalam event bergengsi ini tidak berkurang sama sekali. Sejak awal tahun 2022 orang-orang ingin tahu apakah tahun ini akan ada jamselinas lagi. Jika ada, di kota mana? Host-nya siapa?

 

Awal bulan Juni 2022 -- selepas dampak covid omicron menurun -- akhirnya diumumkan di grup facebook 'id-fb' bahwa jamselinas kesebelas akan diselenggarakan tahun ini, di kota Purwokerto, pada bulan Oktober 2022. Begitu pendaftaran dibuka -- konon untuk 2000 peserta -- hanya dalam hitungan kurang dari 3 menit, jumlah pendaftar sudah terpenuhi! Namun, jumlah 2000 ini sebagian telah terisi sekian ribu peserta terlebih dahulu. 'id-fb' memberikan kesempatan pada komunitas-komunitas sepeda lipat yang 'terdaftar' di id-fb mendaftarkan 55 peserta untuk 1 komunitas. Misal ada 25 komunitas yang 'terdaftar' di id-fb, sudah ada lebih dari 1200 peserta sendiri kan ya.

 

In short, saya mendapatkan slot untuk bergabung di jamselinas tahun ini, tanpa lewat Komselis, yang berarti lewat rebutan di link pendaftaran! (karena saya tidak tahu ada 'short cut' seperti ini, hihihi.) awal Juli panitia membuka pendaftaran lagi, biasanya ini karena peserta yang telah terdaftar namun tidak membayar uang pendaftaran di saat yang telah ditentukan dianggap batal ikut. Saya mencoba mendaftarkan Ranz. Eh, gagal lagi, lol. 'Untung'lah ada kawan Komselis yang ga jadi berangkat karena ada keperluan penting di kuliahnya. Rezeki Ranz: dia tetap bisa ikut jamselinas tahun ini. Rezekiku juga, karena Tyas -- yang 'seat'nya dijual ke Ranz -- sudah booking kamar buat menginap, bareng kawan-kawan Komselis. Ya aku dan Ranz ga perlu berburu kamar hotel lagi. Lumayan.

 

Jumat 21 Oktober 2022

 



 

Saya berangkat ke Purwokerto, naik KA Kamandaka yang meninggalkan stasiun Tawang pukul 07.00, harga tiket Rp. 120.000,00. Ranz berangkat dari stasiun Balapan naik KA Joglosemarkerto pukul 06.00.  Ranz sampai stasiun besar Purwokerto pukul 10.00, sedangkan kereta yang saya naiki baru masuk peron stasiun Purwokerto pukul 11.40. ada untungnya juga sih: begitu kereta yang saya naiki masuk peron, dengan sigap Ranz langsung menuju gerbong 1, untuk menyambut Austin turun dari gerbong dan membawanya ke pintu keluar stasiun.

 


 

Kami berdua sampai pendopo Kabupaten Banyumas untuk mengambil 'ride pack' sekitar pukul 12.00, karena memang lokasinya tidak jauh dari stasiun. Di pendopo, terlihat ada booth-booth sponsor yang berjualan barang-barang milik mereka. Saya langsung masuk ke joglo berukuran besar dan mengambil 'ride pack' milik saya, peserta nomor J1080. Milik Ranz belum bisa diambil karena dimasukkan ke kelompok Komselis.

 

Setelah mengambil 'ride pack' saya bisa menikmati makan siang dan hidangan yang ada, karena saya diberi 'kupon makan siang'. Ranz belum bisa karena belum dapat ride pack. Hihihi … selain makan siang yang bisa kita ambil secara prasmanan, juga ada cemilan khas Purwokerto -- gethuk goreng -- yang rasanya manis itu. Saya sangat familiar dengan cemilan ini karena istri (pertama) kakak dulu orang Purwokerto. Ranz kepengen mendoan hangat, namun panitia menjelaskan hidangan mendoan hangat baru akan ada di sore hari, di pendopo situ juga.

 

Mulai pukul 2 siang ada beberapa acara di pendopo yaitu berupa talk show dengan berbagai macam topik. Saat itu juga mulai turun hujan, semula hanya gerimis, lama-lama deras. Ranz yang sudah ogah berada di tengah hiruk pikuk orang -- tentu pendopo kian lama kian penuh karena semakin sore semakin banyak peserta yang datang -- mengajak saya segera menuju hotel tempat kami menginap.

 

Di bawah guyuran hujan yang cukup deras, saya dan Ranz tertatih-tatih mengayuh pedal sepeda kami mencari lokasi hotel Papillon tempat kami dan kawan-kawan KomseliS menginap.

 

Ternyata hujan tidak berhenti sama sekali sampai malam. Sore hari rencana mau balik ke pendopo Sipanji -- demi mendoan yang lezat -- gagal. Bahkan untuk mencari makan malam, saya dan Ranz berjalan kaki dengan meminjam payung dari hotel. :)

 

To be continued.

Senin, 03 Oktober 2022

SAMORI: KE WADUK GAJAHMUNGKUR (LAGI!)

 


Perjalanan ini adalah 'bayar utang'nya Ranz ke aku: akhir bulan Juli aku ke Solo dan Ranz berjanji menemaniku bersepeda ke Waduk Gajahmungkur. Namun ternyata kita tidak jadi bersepeda ke Wonogiri. Instead, aku diajak ke Sidoarjo demi menghadiri acara kondangan salah satu keponakan Ranz. :)

 

As usual, aku berangkat ke Solo naik travel Cit***ans pukul 09.00 hari Jumat 30 September 2022. biasanya sesampai Solo, aku akan nyamperin Ranz ke fitness center tempat dia latihan fisik, tapi hari itu beda. Ranz yang nyamperin aku ke pool travel: pagi itu dia harus masuk kerja. (biasanya dia libur di hari Jumat.) dari sana, kami makan siang -- yang kegasikan, lol -- di tempat 'biasa' aku memesan selat Solo.

 

Usai having 'brunch' kami langsung pulang ke rumah Ranz.

 

Sekitar pukul lima sore, aku menemani Ranz fitness sampai pukul setengah delapan. Oh ya, kebetulan di fitness center baru ini sedang ada event 'open house': satu member boleh mengajak seseorang untuk latihan disitu di hari itu, aku bisa ikut 'nyicipi' latihan gratis. Pukul 18.00 - 19.00 kebetulan ada 'kelas' yoga untuk pemula, so aku ikutan. :)

 

Pulang dari fitness center, aku tak kuasa menolak ajakan Ranz untuk makmal. Well, sekali-sekali 'cheating' deh, lol. FYI, sejak akhir Juli aku mencoba 'intermittent fasting': aku memberlakukan 16 jam puasa dari pukul 15.00 sampai pukul 07.00 keesokan hari. Jam makan dari jam 07.00 sampai jam 15.00. malam itu aku menemani Ranz yang kepengen makan penyetan: aku memesan satu potong ayam dan segelas es the. Hasilnya? Perutku rasanya langsung menggendut dengan sukses! Lol.

 

Sabtu 01 Oktober 2022

 

Sejak awal kami berdua sudah sepakat untuk naik KA BATARA KRESNA untuk berangkatnya, sama dengan kisah kami setahun yang lalu. Kalau yang tahun 2020 kami full gowes karena KA BATARA KRESNA sedang berhenti operasi dikarenakan pandemi covid.

 

Ranz: "Kok mau-maunya aku ngikutin keinginanmu ngepit full bolak-balik? What spell did you put on me?" tanya Ranz kemarin, wkwkwkwkwk.

 

Ranz memulai ritual paginya pukul setengah lima pagi. Aku setelahnya tentu saja. Kami sudah sampai stasiun Purwosari sekitar pukul 05.45. setelah Ranz mengisi kartu e-tolnya, kami melipat sepeda (aku naik Austin, Ranz naik Shaun), dan masuk ke dalam peron. Ternyata KA BATARA KRESNA sudah 'nangkring' di peron 1, jadi kita langsung membawa Austin dan Shaun masuk ke dalam gerbong.

 



 

 

KA berangkat sesuai dengan jam keberangkatan yang ditentukan, pukul 06.00. jarak kurang lebih 38 kilometer ditempuh dalam waktu kurang lebih 100 menit karena memang KA BATARA KRESNA meluncur dengan pelan, tak lebih dari 20km/jam.

 

Kami sampai stasiun Wonogiri pukul 07.45.

 

Setelah mampir sarapan ala kadarnya di satu warung makan tak jauh dari stasiun, (aku pesan kopi hitam agar tidak ngantuk) kami langsung mengayuh pedal sepeda masing-masing. Sesampai Jalan Jendral Sudirman, kami mampir satu minimarket untuk membeli air mineral.

 

Ranz tetap terlihat perkasa meski dia pernah mengaku sudah tak kuat ngonthel, lol. Di tanjakan, dia terus menerus berada di depanku. Aku sendiri menganggap ini sebagai latihan nanjak karena semenjak cedera kaki di akhir tahun 2021, aku ga berani ngepit di tanjakan.

 

Sekitar pukul 09.20 kami sampai di jembatan tempat kami berdua biasa pepotoan, lol. Otw juga lah, trek menuju waduk Gajahmungkur cukup cantik untuk diabadikan! Meski kami berdua sepakat untuk tidak perlu masuk ke area waduk, kami lanjut ke gerbang masuk waduk, untuk foto-foto disana. :) setelah foto-foto, balik lagi ke arah jembatan, untuk makan di RM Bu Tr**.

 





 

 

Karena saat kami tiba di rumah makan itu baru jam 10.00, dan mungkin karena itu hari Sabtu, tempat makan lesehan itu sepi, 'hanya' ada satu rombongan tamu yang sedang makan, 1 orang guru dan 6 muridnya yang mengenakan seragam SMP. Seperti biasa, Ranz memesan paket ikan nila bakar dan botok ikan, 1 gelas es jeruk, 1 gelas es teh dan 1 porsi es kelapa muda.

 

Kami meninggalkan rumah makan itu sekitar pukul 12.00, saat cuaca sedang panas-panasnya. :D dan seperti saat berangkat, Ranz tetap berada di depanku. Sampai di patung Nyi Rara Kidul, penanda bahwa kita sudah keluar kota Wonogiri, hingga trek tinggal datar hingga masuk area Solo Raya. Ternyata, benar yang dikatakan Ranz: dia perkasa di tanjakan, namun tidak bisa ngebut di trek datar. Sejauh kurag lebih 30 kilometer aku harus terus menerus mengayuh pedal Austin pelan, dan kadang menekan rem agar aku selalu berada di belakang Ranz. Kalau aku berada di depannya, kemudian 'lengah' ngebut, meninggalkan Ranz di belakang, bisa ngamuk dia, lol.

 

Memasuki kabupaten Sukoharjo, cuaca berubah: mendung dan angin sangat kencang! Kadang terasa tetesan halus gerimis. Aku bawa mantel sih, tapi rasanya aku lebih memilih kepanasan deh ketimbang kehujanan, lol.

 

Syukurlah hujan tak jadi menyapa kami. Saat kami masuk area Solo Baru, tiba-tiba sang mentari 'tersenyum' kembali. Waaah. Ga jadi hujan!!! Kukira Ranz mau ngajak mampir angkringan di seberang mall yang ada di area Solo Baru itu, ternyata tidak. Dia terus mengayuh pedal Shaun, hingga masuk Jl. Dr. Radjiman. Dia mengajak mampir di angkringan mas Kholil, tak jauh dari rumahnya. Kami pesan 2 gelas es the. Aku minum satu setengah gelas sendiri, lol. Karena kekenyangan, dan aku khawatir aku langsung tergoda berbaring di kasur karena kelelahan, aku bilang ke Ranz aku masih butuh ngepit kurang lebih 3 kilometer lagi, lol.  Ranz bilang sudah ga mampu menemaniku ngepit, ya wis aku lanjut bersepeda sendiri.

 

Aku sampai rumah Ranz pukul 17.00. aku jadinya bersepeda sejauh 13 kilometer lagi, lol. Dan … Ranz uring-uringan karenanya. Wkwkwkwkwk …

 

Minggu 2 Oktober 2022

 

Aku mengajak Ranz bersepeda ke CFD, untuk melihat keriuhan area CFD pada Hari Batik. Terlihat banyak event diselenggarakan untuk merayakan Hari Batik, tapi tak satu pun yang membuatku tertarik untuk bergabung.

 

Setelah sarapan nasi liwet, Ranz nawarin, "Ke Jogja yuk? Naik KRL? Tanpa sepeda ya?" ok. Deal. Gpp. Aku kangen Jogja. Meski yang kukangeni tuh kelayapan di Jakal km 5, tapi jalan-jalan di Malioboro ya gpp deh, lol.

 

Kami ke Jogja naik KRL jam yang 09.00. Sampai stasiun Tugu Jogja pukul 10.00. kami jalan-jalan ke Teras 2 Malioboro, kemudian lanjut jalan-jalan sampai Teras 1 Malioboro. Foto-foto, jajan, jalan balik lagi ke arah stasiun. Foto-foto di jalan, lol. Sesampai Slasar Malioboro, jajan lagi, foto-foto lagi.

 



 

 

Kami pulang ke Solo naik KRL yang berangkat jam 14.50. karena ternyata kereta sudah sampai di stasiun sebelum pukul dua siang, aku mengajak Ranz segera masuk peron, agar bisa dapat tempat duduk, sekitar pukul 14.10. eh, ternyata, meski jam keberangkatan masih lama, gerbong sudah penuh! Tempat duduk sudah nyaris penuh, dan sudah ada yang berdiri-diri. Untunglah aku masih bisa menyelipkan pantatku di satu tempat duduk, lol.

 

Malam itu, aku pulang ke Semarang naik travel Citi***** pukul 19.00. aku sudah sampai rumah sebelum jam 21.00. alhamdulillah.

 

Next time dolan lagi yuuuk. :)

 

PT56 15.32 3 October 2022