Cari Blog Ini

Rabu, 22 Juni 2022

S12AWUNG SELI SOLO RAYA

 


 

Akhirnya, setelah 2 tahun aku dan Ranz tidak ikut event bersepeda di 'luar' kota (bukan kota Semarang maksudku) bulan Juni ini kami berdua terdaftar sebagai peserta event ulang tahunnya SELI SOLO RAYA yang ke-12, yang oleh penyelenggara diberi tajuk SRAWUNG SELI SOLO RAYA. Mengapa 'S12AWUNG'? Ini karena setelah 2 tahun terpisah karena pandemi, para pesepeda (lipat) akhirnya bisa berkumpul kembali di satu lokasi, bersepeda bersama lagi. Kembali 'srawung'.

 

Jumat 10 Juni 2022

 

Seperti biasa, jika ada event di Solo yang diselenggarakan pada hari Minggu, aku berangkat ke Solo hari Jumat, dengan catatan aku tidak ada kewajiban mengajar di hari Sabtu. Ini karena hari Jumat Ranz libur dari kantor, jadi lumayan kami berdua bisa makan siang bareng.

 

Seperti biasa (lagi), lol, aku memilih travel Cititrans sebagai moda loading aku dengan Austin. Aku memilih keberangkatan pukul 10.00 (karena tidak ada travel yang berangkat jam 09.00). Cuaca cukup 'sunny' dibandingkan saat aku berangkat ke Solo tanggal 26 Mei, aku kehujanan! :) dalam mobil, hanya ada 2 penumpang, aku dan seorang penumpang lain. Sementara itu, ada seorang sopir mengenakan seragam yang sama dengan sopir Cititrans yang sedang bekerja turut nebeng sampai pool Solo.

 

Sesampai pool Cititrans Solo, aku langsung menuju DNA fitness center, tempat Ranz rajin ngegym sejak tahun 2020. dari sana, kami ke Tenda B*** untuk makan siang; setelah sekian bulan Ranz selalu komplain bosan aku selalu mengajak kesana demi makan selat Solo, saat itu, dia malah rada maksa, "Udah ke TB saja, gapapa." wkwkwkwk … Usai makan, kami balik ke rumah Ranz di kawasan Jongke. Tapi, sebelumnya, kami ngangkring dulu di angkringan langganan Ranz: Kholil , tehnya lumayan enak, dan pisang gorengnya favoritku banget: terbuat dari pisang kepok!

 

Sorenya, sekitar pukul lima, aku terapi. Kaki kananku kembali 'nagih' dipijat mbak Rina. Aku ga ingat apa penyebabnya, tapi kupikir ya memang cedera di kakiku -- terutama kaki kanan -- belum sembuh 100%. So? Aku mencoba menerapinya sendiri dengan berenang -- ini juga berdasarkan saran mbak Rina -- namun once in a blue moon aku masih tetap harus terapi ke mbak Rina.

 

Malamnya Ranz nawarin apakah aku mau ke Wedangan Pak Basuki. Wohooo … sudah berbulan-bulan dia ga mau kuajak kesana loh, dengan alasan bosan, lol. Tapi aku memilih makan malam dengan menu nasi liwet saja, dengan harapan Sabtu malam aku bisa mengajak Ranz ke Pak Basuki.

 

Sabtu 11 Juni 2022

 

Ranz masuk kerja hari ini. So? Aku keluar sepedaan sendiri.

 

Sekitar pukul 08.20 aku meninggalkan Jongke dengan tujuan warung soto Hj. Fatimah yang terletak di Jl. Bhayangkara. Ini juga menjadi alasan mengapa aku memilih berangkat ke Solo hari Jumat, agar aku bisa nyoto disini. :D Aku nongkrong disini cukup lama, sekitar satu jam.

 

Dari Jl. Bhayangkara aku lanjut ke arah Timur, mungkin nama jalannya Jl. Veteran daerah Tipes. Luruuus ke arah Timur sampai melewati kawasan kraton, kemudian belok kiri. Aku memilih berhenti di lapangan dekat benteng Vastenburg untuk memotret Austin. Kemudian lanjut lagi, entah pokoknya aku pede saja mengayuh pedal Austin, meski aku ga terlalu kenal area Solo. Wkwkwkwk …

 

Siang itu cuaca Solo cukup terik. Karena ga jelas Ranz bakal pulang dari kantor jam berapa, aku mampir ke satu gerai fastfood untuk nunut ngadhem dan beli iced coffee-nya. Sekitar satu jam kemudian, Ranz ngabarin dia sudah selesai mengerjakan yang harus dia kerjakan di kantor. So, aku pun balik mengayuh pedal Austin ke arah Jongke.

 

Sorenya, Ranz berangkat ngegym sekitar pukul 15.30. aku menyusul ke DNA fitness center pukul lima sore, kemudian kami ke café Pixel untuk ambil 'ride pack' yang harus kami pakai di event S12AWUNG SELI SOLO keesokan hari. Dari sana kami makan malam di Bakmi Jawa Penumping. Pulangnya mau mampir ke Wedangan Pak Basuki ga jadi karena mendadak turun hujan. Apa boleh buat? Sudah setengah tahun lebih loh aku tidak ke Pak Basuki. Ya wis lah. Next time deh.

 

Minggu 12 Juni 2022

 

The D DAY!

 

Aku dan Ranz sudah sampai venue -- di tempat parkir hotel Diamond yang terletak di Jalan Slamet Riyadi -- pukul 05.30 sesuai harapan panitia. :) ternyata? You can guess, kami berdua termasuk yang rajin, belum banyak peserta lain yang datang. Mendekati pukul 06.00 baru tempat parkir itu nampak nyaris penuh peserta S12AWUNG SELI SOLO.

 

Panitia menyediakan teh panas dan kopi susu panas untuk peserta, disertai arem-arem dan serabi (atau apem ya? Aku lupa, lol.) aku cukup ambil satu biji arem-arem dan segelas teh panas.

 

Pasukan peserta S12AWUNG SELI SOLO mulai berangkat meninggalkan tikum sekitar pukul 06.15. semula Ranz mengira panitia memilih jalur menuju Gatak - Klaten, ternyata tidak. RC membawa kami menuju arah lapangan udara Adi Sumarmo. Sesaat meninggalkan rumah Ranz sudah mengeluhkan ban Petir yang terasa kempes, padahal semalam sebelumnya dia sudah memompanya. Jika kempes lagi, ini berarti ban Petir bocor halus. So? Setelah meninggalkan tikum, Ranz mengeluhkan hal yang sama: Petir berat dikayuh => something must be wrong.

 

FYI, sejak Ranz menemukan keasyikan olahraga fitness, memang dia ga begitu menikmati bersepeda lagi. Hiksss … imagine sedihnya aku. Hiksss … kalau pun dia mau menemaniku bersepeda Solo - Jogja - Solo ya karena dia committed menemaniku bersepeda. Jadi saat dia mengeluh Petir begini begitu, aku ya diam saja. (lha piye? Tak suruh nyiapin Astro untuk dinaiki, dia ga mau, dengan alasan Astro terlalu besar, lol. Ya iyalah, Astro berban 20 inchi sedangkan Petir Cuma 14 inchi. Shaun yang berban 16 pun kondisinya tidak terlalu mendukungnya untuk bersepeda jauh. Bagaimana dengan Pockie? Entahlah ya, kok aku lupa nanyain Pockie kemarin. Hahahaha …

 

Sebelum sampai area waduk Cengklik, Ranz berulang kali bilang dia mau pulang saja, dan menyuruhku terus ikut rombongan. Ya aku tegaskan saja, jika dia memilih pulang, aku ikut pulang. Ga ikut sampai tujuan -- Bale Rantjah -- gapapa. Toh kalau memang mau, kami berdua bisa kok bersepeda kesana sendiri. Namun, ternyata Ranz tetap lanjut sampai check point 1. sesampai sana, dia memutuskan untuk loading, dan membiarkanku terus bersepeda. Ya wis .

 

Jika di rute sebelum check point 1, aku dan Ranz berada di barisan paling belakang -- dikawal sweeper plus mobil loading, lol, selepas check point 1, aku menempel kawan-kawan Komselis. Kami berada di tengah-tengah rombongan, tidak paling depan, juga tidak paling belakang. Ternyata, hanya Petir yang masuk mobil loading, Ranz membonceng nte Astrid yang bertugas sebagai sweeper. Karena dia di belakang, dan aku agak di depan, dia tidak bisa memotretku dalam perjalanan. Ya gapapa, aku rela tidak difoto selama event ini. Wkwkwkwk … duluuuu, aku jarang melototin foto-foto yang dibagi panitia event karena aku cukup mengandalkan foto-foto jepretan Ranz. Setelah lama tidak memotret event dan tidak ikut event, rupanya Ranz pun kehilangan mood untuk melakukan itu. Apa boleh buat? Hmfttt …

 

Kalau tidak salah, aku sampai di tujuan -- Bale Rantjah -- pukul sembilan. Masih cukup pagi, mengingat cuaca cukup mendung pagi itu. Hidangan yang disediakan panitia cukup beragam, mulai dari nasi ayam bakar Taliwang, ayam panggang, ayam Tohjoyo, dll. Untuk buah ada pisang dan jeruk. Untuk minuman ada the plus es batu jika ingin minum yang dingin, dan tentu saja air mineral.

 

Hiburan berupa tarian asli Boyolali, dan musisi yang aku tidak perhatikan namanya. Lol. Oh ya, juga ada anak kecil yang dulu kadang nyanyi bareng almarhum Didi Kempot, suaranya sangat mencengangkan mengingat usianya masih relatif muda. Banyak juga door prize yang dibagikan, sayangnya tak satu pun aku dapatkan. Hikss … padahal biasanya kalau event-event seperti ini, minimal aku dapat hadiah hiburan botol minuman kek, ini sama sekali ga dapat. Hiksss …

 

Acara ditutup pukul 11.30. kirain Ranz mau ngajak loading baliknya ke Solo. Ternyata dia mau menemaniku gowes, meski cuaca panas menyengat. Alhamdulillaaah. So? Hari itu, aku full gowes sejauh 54,54 kilometer.

 

Sesampai Jongke Ranz mengajak mampir ke angkringan Kholil, minum es the. Di tas aku masih menyimpan pisang rebus 1 biji yang kuambil di check point 1. lumayan buat cemilan.

 

Kapan-kapan aku dan Ranz ikut event bersepeda berikutnya. Yang nyantai-nyantai saja. Ranz sudah ogah kuajak ikut event yang ngoyo, misal seli 100 km. (eh, ini kata Ning Tia Surabaya ada event ini di bulan Juli nanti.)

 

PT56 13.13 21 Juni 2022

 

 

 















Senin, 06 Juni 2022

Series of 'unfortunate' events: Jogja - Solo Day 3

 


Minggu 29 Mei 2022

 

Sejak bangun, Ranz sudah bilang dia merasa tubuhnya kurang fit jika balik ke Solo kami full gowes. Aku manut saja, minimal bersepeda sepanjang Selokan Mataram lah, sampai kawasan Kalasan. Jika dulu, kami harus bersepeda sampai stasiun Klaten -- KA Prameks dari stasiun Lempuyangan langsung berhenti di stasiun Klaten, kemudian langsung ke stasiun Purwosari -- kali ini kami cukup ke stasiun Brambanan. (Hah! Aku baru ngeh kalau namanya stasiun BRAMBANAN, bukan PRAMBANAN, hihihi) . Ranz setuju minimal kami bersepeda sampai stasiun Brambanan.

 





 

Namun entah mengapa aku berharap Ranz tetap akan mengajakku bersepeda sampai Solo. Hihihi … beberapa kali ini terjadi, rencana hanya akan bersepeda sampai Klaten, namun kenyataannya kami tetap bersepeda sampai Solo. Saking berharapnya kami tetap bersepeda sampai Solo, aku tetap ga ngeh melihat 'clues' yang diberikan oleh Ranz: dia ngepit dengan sangat santai, mengajak mampir Candi Sambisari, meski hanya untuk jajan di angkringan (langganan kami setiap kesana), plus memotretku di tulisan CANDI SAMBISARI, setelah melewati Global Islamic School Jogja, menyeberang ring road, eh, dia mengajak balik lagi demi foto-foto di jembatan yang baru dibangun, sudah mampir di angkringan Candi Sambisari, tetap mengajak mampir ke es dawet dekat Candi Kalasan. Ternyata, Ranz benar-benar hanya 'mau' bersepeda sampai stasiun Brambanan.

 

Kami sempat mampir toko oleh-oleh yang berjualan bakpia merek Muti***, namun yang rasa original sudah habis. Dari sana, kami ke 'pabrik' bakpia Muti*** yang terletak dekat Hotel Galuh, eh, disana malah yang ada tinggal rasa green tea, lol. Kami ga jadi beli oleh-oleh. :D Dari sana, Ranz langsung mengajak menyeberang jalan, menuju stasiun Brambanan. Ini sekitar pukul 12.50. KRL akan sampai stasiun sekitar pukul 14.10. setelah mengisi kartu e-tolnya (untuk membayar tiket KRL) Ranz mengajak mampir ke Candi Sojiwan sebentar untuk berfoto. Beberapa jepretan (dari luar, kami tidak masuk area candi), kami langsung kembali ke stasiun.

 





 

 

Kembali ke stasiun Brambanan, kami melipat sepeda yang kami naiki. Dengan mudah aku bisa melipat Austin, tapi, Ranz kesusahan melipat Petir. Ketika berada di bengkel di hari Jumat, ternyata baut di bagian lipatan Petir itu dikencangkan oleh sang mekanik. Sebegitu kuat, sampai Petir tidak bisa dilipat. :( Meski Petir tidak bisa dilipat, Ranz tetap mengajak masuk peron. Kami diperbolehkan masuk peron oleh penjaga pintu, namun salah satu dari mereka bilang ke Ranz, "Maaf, sepedanya nanti dilipat dahulu sebelum naik KRL ya." Di dalam peron, Ranz mencoba melipat, namun tetap gagal. FYI, ukuran Petir yang kecil -- diameter ban hanya 14 inchi -- sebenarnya tidak nampak besar, meski yang dilipat hanya setang, Petir tetap saja tidak akan makan tempat. Akan tetapi, Ranz ternyata tidak pede untuk 'ngeyel'. Kami pun keluar dari peron, kembali ke lobby.

 

Trouble keempat: Petir tidak bisa dilipat!

 

Di lobby stasiun, Ranz menelpon mas Martin, bertanya apakah dia bisa menjemput kami di stasiun Brambanan. To our relief, dia bisa menjemput. Alhamdulillah. Mas Martin sampai stasiun sekitar pukul setengah empat. Kami sampai rumaj Ranz di Laweyan sekitar jam setengah lima.

 

Aku sebenarnya janji ke Angie untuk balik ke Semarang hari Minggu itu. Namun Ranz asked me to stay one more night. Adiknya mau menraktir seluruh keluarga (plus keluarga istrinya) for their wedding ceremony. Ya wis lah.

 

Aku baru balik ke Semarang hari Senin 30 April 2022 pukul 08.00. seat yang pemberangkatan jam 06.00 dan 07.00 sudah habis!

 

Sampai jumpa di kisah sepedaan kami berikutnya yaaa.

 

Series of 'unfortunate' events: Jogja Day 2

 


 

Sabtu 28 Mei 2022

 

Pagi ini kami memutuskan untuk santai saja: cukup bersepeda ke arah Malioboro dan foto-foto di spot yang disediakan pemerintah di area Teras Malioboro 1, seberang Pasar Beringharjo. Sudah banyak kawan sepeda di medsos yang foto-foto di daerah situ. Namun sejak pandemi, aku dan Ranz ga pernah dolan ke Malioboro ketika kami berdua bersepeda ke Jogja. Mentok hanya bernostalgia (buatku) di kawasan Jalan Kaliurang. Baru bulan Desember 2021, kami berdua -- plus Angie dan Fitri -- dolan ke arah Kulon Progo.

 

So? This is our chance!

 

Seperti yang sudah kuduga, tentu spot foto dengan tulisan yang diambil dari puisi Joko Pinurbo itu bakal dipenuhi pengunjung yang ingin foto-foto. Apalagi ini long weekend, dimana aku banyak melihat rombongan bus-bus pariwisata melintasi jalan-jalan di Jogja. Tapi, untunglah tidak sepenuh antrian orang-orang yang ingin berfoto di Pura Lempuyang Bali yang konon orang harus antri berjam-jam demi 3 kali jepretan doang! Hahahaha …

 

Kami juga memutuskan untuk sarapan disitu. Aku memilih satu porsi nasi pecel dan segelas teh nasgitel, Ranz 'Cuma' ngemil sate telur puyuh, sate hati, dan 1 mendoan. Dia memilih ai rmineral untuk minum. Well, akhir-akhir ini Ranz benar-benar mencoba hidup sehat, lol, tidak minum es teh maupun es lain.

 



 

 

Satu 'accident' terjadi ketika Ranz ke toilet. Awalnya dia ragu-ragu masuk ke toilet setelah dia lihat, itu bukan beneran 'toilet' karena ada tulisan 'hanya untuk BAK, bukan BAB'. Tapi karena dia sudah telanjur kebelet, aku merayunya untuk ke toilet yang tersedia disitu, dan ga perlu repot-repot nyari toilet lain. Aku tidak menemaninya ke toilet, aku menunggu sambil menjaga Petir dan Austin dekat spot foto.

 

Tidak lama kemudian, Ranz berjalan terburu-buru ke arahku, wajahnya nampak marah sekali, sambil bilang, "Aku sudah mengunci pintu toilet, tapi orang itu membukanya dengan paksa, dan terbuka lah pintunya. Bukannya nyadar dia salah telah memaksa membuka pintu, eh, dia malah ngomel-ngomel nyalahin aku." aku bengong mendengarnya, ga nyangka dia datang-datang ngomel seperti itu. Ekspresi wajahnya campuran antara marah, malu, terluka, aku ga berani bertanya saat itu, posisinya sedang bagaimana, :(

 

Setelah ngomel-ngomel, dia langsung kabur saat dia lihat lelaki yang membuka pintu toilet secara paksa itu lewat dengan keluarganya. Ranz ingin memukul orang itu, tapi tentu dia juga berusaha untuk menahan emosi, tapi dia pasti merasa terlecehkan. Ranz mengikuti orang itu yang berjalan dengan buru-buru. :( saat aku sadar dari kebengongan, aku menyusulnya keluar ke Jalan Malioboro, she was gone.

 



 

Aku tahu kisahnya -- dia ngejar laki-laki itu untuk memelototinya -- ke arah pasar Beringharjo, setelah dia menemuiku yang menunggunya di depan Benteng Vredeburg. We didn't not say anything, kubiarkan dia mengatur emosinya sampai kurang lebih 30 menit. Kirain setelah itu dia mau mengajak balik ke hotel, ternyata, "yuk foto-foto!" setelah mood-nya membaik. Hahahaha … baiklaaah.

 

Trouble kedua: Ranz got an 'accident' di toilet di Teras Malioboro 1.

 

Setelah Ranz merasa cukup foto-foto, kami mengayuh pedal balik ke arah stasiun Tugu, menuju Selasar Malioboro untuk maksi. Disini terjadi another 'accident': aku tidak sengaja menjatuhkan piring-piring yang ditinggal di atas meja oleh pengunjung sebelumnya. Piringnya sih bukan piring beling, tapi bekas bungkus nasi menjadi bertebaran di bawah meja. Saat aku akan mengambili kertas-kertas bekas bungkus nasi itu, ada seorang pengunjung lain menyenggol gelas yang ada di atas meja yang kupilih akan kududuki, kompraaang gelas jatuh, pecah. Not my mistake, tapi cara Ranz memandang wajahku ketika hal itu terjadi seolah-olah dia menyalahkanku, aku kesal lah ya, lol. She didn't say anything though, but it was enough to make me ngomel ke dia, lol. Tahu aku kesal, gantian dia meringis. Hadeeeh.

 

 

Usai makan, kami menyeberang rel kereta, mlipir ke arah Jalan Mangkubumi, eh, sekarang namanya ganti Jl. Margo Utomo, menuju perempatan tugu.  Ranz mengajak ke satu toko sepeda yang terletak di kawasan Jl. Diponegoro untuk membeli gel pembungkus sadel karena ada yang lecet di pantatnya. Ranz bilang dia ga bakal kuat menahan rasa sakit di bagian yang lecet itu saat bersepeda Jojga - Solo, the following day. Tidak hanya itu sih, Ranz juga merasa pegal dan linu di bagian dengkul kaki karena sehari sebelumnya, posisi sadel terlalu rendah, dia buat rendah karena rem depan ga berfungsi dengan baik sehingga dia kudu siap-siap mengerem dengan kaki. :)

 

otw balik dari Malioboro, Ranz kuajak lewat Sekip
 

 

Dari toko sepeda ini, aku menawarkan Ranz jika dia ingin langsung mencoba fitness di Cakra Fitness yang terletak tak jauh dari Hotel Cakra Kembang, Jalan Kaliurang km 5.8. (FYI, duluuuu, tiap kali kami berdua pergi somewhere, aku mengajaknya berburu candi / vihara / klenteng, Ranz manut. Kali ini? Dia selalu mengajak berburu fitness center! Iya, sejak menjelang akhir 2020, Ranz rajin fitness.) Ranz biasa menungguiku yang sedang berenang dengan sabar (saat aku memintanya menemaniku berenang) kali ini aku yang kudu sabar menemani Ranz latihan fitness, plus mengabadikan gerakan-gerakannya via kamera hp.

 

Dari Cakra Fitness, kami pulang ke hotel. Saat akan ngecharge salah satu hape yang biasa dia pakai untuk membuat video under water, Ranz baru ngeh kalau ada trouble di hape itu. Memang waktu di Teras Malioboro 1, 2 hape yang dibawa Ranz terjatuh, entah saat sedang ngapain, aku lupa. Ranz langsung panik, membayangkan jika hape itu tak lagi bisa dicharge, tak bisa nyala, padahal banyak video dan foto disitu.

 

Trouble ketiga: hape Ranz ga bisa dicharge, setelah sempat jatuh di Teras Malioboro 1.

 

Setelah mandi sore, kami berdua pergi lagi, berburu tempat servis hape. Semula Ranz sempat mencari via google map, dapat satu, terletak tak jauh dari Selokan Mataram, namun ternyata tidak kami temukan. Mungkin sudah tutup ya. Dari sana, aku mengajak Ranz ke arah Gejayan. Untunglah kami menemukan satu tempat servis hape, dan … hape Ranz bisa kembali dicharge! Horeee …

 


 

Dari sana, aku mengajak Ranz menengok Malioboro; selama pandemi, dimana Malioboro masih (terlihat) sepi, aku melihat banyak foto Malioboro yang cantik, karena sepi. Namun ternyata sesampai sana, harapanku hanya tinggal harapan, lol. Kirain tuh ya para pengunjung ke Malioboro kesana untuk 'belanja': berburu merchandise yang dulu dijual di sepanjang jalan Malioboro. Sekarang para penjual sudah dialokasikan di tempat-tempat tertentu, pastinya Malioboro tidak akan seramai 'itu'. Nah, ternyata, banyak orang yang mungkin berpikiran sama denganku. Sesampai sana, Malioboro -- yang dibuat menjadi car free night area -- tetap penuh dengan orang! Lol. Aku menawari Ranz apakah dia ingin ke titik 0, dia tidak mau, paling juga bejibun orang-orang disana, lol.

 

Akhirnya kami kembali ke Jl. Kaliurang lagi. Aku mengajaknya ke café Maraville; we had dinner there. Usai makmal, kami langsung pulang ke hotel.

 


Series of 'unfortunate' events: Solo - Jogja Day 1

 


 

"Series of unfortunate events" kata Ranz :)

 

Well, sebenarnya pandemi sudah bisa dikatakan lumayan reda ya di Indonesia. Tapi, sampai saat ini, aku dan Ranz masih belum merencanakan pergi lebih jauh lagi dari Jogja. Hihihi … 'Seharusnya' -- kalau mengingat satu 'kebiasaan' kami berdua sebelum pandemi -- kami bikepacking saat libur lebaran, yakni awal bulan Mei 2022. Namun, Ranz lebih memilih pergi bersama keluarganya pergi ke Jember. Ada pertemuan keluarga besarnya disana. So, kami postpone perjalanan ini. Untunglah, kami ga perlu lama-lama menunda dolan bersepeda antar kota/antar propinsi ini karena pas ada tanggal merah yang jatuh di hari Kamis 26 Mei 2022. Hari libur Kenaikan Isa Al Masih.

 

Hari Kamis itu aku nyantai, memilih keberangkatan travel jam 10.00. (biasanya aku memilih yang jam 09.00), namun ternyata saat aku mau meninggalkan rumah, mendung sangat pekat memayungi kota Semarang. Sebelum turun hujan, aku buru-buru berangkat, sekitar pukul 09.00. namun baru kurang lebih 200 meter dari rumah, turun hujan yang langsung deras, ga pakai gerimis tipis terlebih dahulu. Aku terpaksa berhenti, menutupi tas pannier dengan tas kresek agar tas tidak kotor kena air genangan di sepanjang jalan. Aku juga mengenakan mantel. Swear, baru kali ini aku terpaksa berbasah-basah bahkan baru saat akan berangkat 'bertualang'. Sesampai pool travel, celanaku basah kuyub. Mantel yang kupakai hanya melindungi sampai paha.

 


 

 

Sekian tahun lalu pernah sih turun hujan deras saat aku akan berangkat ke Sukun (terminal bus kecil yang terletak di kawasan Banyumanik). Waktu itu aku habis ngajar, hari Sabtu. Maka, aku memilih naik taksi online saat itu.

 


 

 

Aku naik travel dengan kondisi celana basah, tapi mau ganti celana yang kubawa di tas pannier, kok nanti celanaku yang basah kutaruh dimana? Mosok basah-basah masuk tas pannier? Bisa membasahi baju-baju lain yang masih kering. :)

 

Austin menjemput Shaun di DNA fitness center :)

Selat Solo

 

 

Sesampai Solo, syukurlah cuaca cukup bersahabat: mendung, tanpa ada tanda-tanda turun hujan. Setelah menemani Ranz latihan fitness, aku mengajaknya makan siang di Tenda Biru, aku pingin makan selat. Sudah beberapa kali aku ke Solo tidak makan selat, tapi yang diingat Ranz, tiap ke Solo, aku mengajaknya makan selat, lol. Parah. Lol. Malamnya, kami makan nasi liwet. Kemudian, aku menemani Ranz minum susu. Aku ga doyan susu, so ya menemani saja.

 

Jumat 27 Mei 2022

 

Ranz memulai morning ritualnya jam lima pagi. Setelah itu, aku mandi, kemudian kami siap-siap berangkat. Jam 06.32kami mulai meninggalkan area Jongke. Trouble pertama: Ranz menyadari rem depan Petir blong. Nah lo. Menurut pengakuannya terakhir dia ngecek Petir was okay, siap buat diajak dolan 'jauh'. Nevertheless, Ranz tetap memilih naik Petir, dan tidak ganti sepeda yang lain, misal Shaun. Mungkin Astro dan Pockie dalam kondisi yang tidak siap diajak dolan jauh juga maka Ranz tetap keukeuh naik Petir, sepeda lipat wimcycle seri bazooka 14 inchi yang dia buat jadi single gear. Dengan catatan: jika ketemu dengan bengkel sepeda, kami akan mampir untuk membetulkan rem depan Petir.

 

Seperti biasa, Ranz mengajak lewat area Gatak. Kami rencana mau sarapan timlo yang warungnya terletak di seberang SMPN 1 Gatak. But to our disappointment, ternyata warung itu tutup. Ya sudah, kami melanjutkan perjalanan. Dan … keberuntungan tetap berpihak pada kami: tak jauh dari lokasi itu, kami menemukan warung makan lain yang juga menawarkan menu timlo. So, pagi itu, kami tetap bisa sarapan timlo.

 



 

 

Usai sarapan, kita melanjutkan perjalanan. Kali ini, Ranz sangat nyantai mengayuh pedal Petir, mungkin karena rem depan Petir yang tidak bisa diandalkan, jadi harus pelan-pelan mengayuhnya. Aku ngikut di belakang Ranz saja. 'untunglah' jarak yang kita tempuh kurang lebih hanya sekitar 65 kilometer, plus tanpa tanjakan, jadi kita bisa yakin sampai di Jogja sebelum sore.

 



 

 

Otw, kami mampir pom bensin dua kali untuk pipis. Baru di daerah Prambanan, kami menemukan satu bengkel sepeda di pinggir jalan, Ranz langsung kuajak mampir untuk membetulkan rem depan Petir. Selanjutnya kami mampir es dawet legendaris di daerah Kalasan. Setelah itu, mampir foto di Candi Kalasan.

 

Tempat mampir berikutnya untuk foto: bunderan Universitas Gadjahmada! :) setelah itu, kami baru berburu penginapan, lol. Iya, saking ga yakinnya kami bakal beneran bisa ngepit ke Jogja di libur long weekend ini, kami berdua sama-sama nyantai, tidak segera cari penginapan. Padahal, long weekend selalu berkonotasi dengan penginapan penuh plus harga sewa yang melejit naik, kadang bisa sampai 100%!

 

Candi Kalasan


 

 

Kami akhirnya memutuskan untuk menginap di satu hotel partner Red bla bla bla yang terletak di daerah Karangwuni. Entah mengapa kalau menginap di satu hotel yang terletak di dalam gang daerah Jakal, aku langsung bernostalgia, merasa seperti menjadi mahasiswa lagi. Hahahah … masih muda dong, lol. Seperti kembali ke rahim ibu? Lebay, lol.

 

Sore itu, Ranz minta ditemani ke area Lembah, setelah dia cek di google map, dia menemukan 'Lembah Fitness'. Aku mengajak Ranz masuk area UGM lewat jalan kecil tak jauh dari Gedung Pusat a.k.a Balairung. Kemudian melewati gedung Grha Sabha Pramana, dan aku belok ke Jl. Nusantara, satu jalan di antara FIB dan FEB. setelah berfoto dengan tulisan FAKULTAS ILMU BUDAYA (dan melihat keramaian di dalam area fakultas, tak jauh dari Plaza Sastra rasanya aku ingin masuk kesitu, lol), aku mengajak Ranz ke arah lembah. Sekali bertanya pada seorang tukang parkir, dengan mudah kami menemukan Lembah Fitness.

 


 

Situasi LF sedang ramai, banyak orang -- yang nampak berusia sekitar awal 20an -- sedang latihan fisik disana. Jelas tidak nyaman lah latihan dengan situasi banyak orang seperti itu. Maka, kami hanya lihat-lihat saja.

 

Dari sana, aku mengajak Ranz makan malam di warung ayam bakar Taliwang yang terletak di Jl. Prof.  Herman Yohanes. Ranz setuju dengan pilihanku itu meski dia bialng rasa ayam bakarnya kurang nendang, lol.

 

plecing kangkung

ayam bakar taliwang

 

Rencana mau bersepeda ke arah Malioboro gagal karena usai kami makan malam, gerimis turun. Ranz yang tidak membawa mantel jelas lebih memilih balik ke hotel. Ya wis, aku manut. Toh, masih ada satu malam lagi kami menginap di Jogja.

 

Guess what? Ternyata sesampai hotel, gerimis menghilang, hihihi.

 

To be continued. 

 

Senin, 02 Mei 2022

Kaleidoskop Bikepacking Lebaran

Pantai Klayar, dari atas bukit

 

Pantai Klayar, Agustus 2013

Bagiku, lebaran selain selalu mengingatkanku pada menu 'legendaris' keluarga Podungge Semarang (yakni ketupat opor + sambal goreng rempelo ati + biluluhe masakan Mom), sejak tahun 2011, aku selalu ngepit antar kota (mungkin plus antar propinsi). Ya, sejak out of the blue punya biking soulmate, (haha, mumpung ada yang 'lewat', aku lambaikan tangan, dan dia stay, sampai sekarang lol), kami berdua merencanakan dolan antar kota dengan bersepeda. Meski itu berarti kami harus kehilangan saat bersama keluarga.

 

Ranz dan aku kenal di bulan September 2010, saat ada satu event di Salatiga. Perempuan super tomboy ini memiliki karakter setia kawan banget, jika kamu mengenalnya dengan baik. (saking tomboy-nya bakal banyak yang salah mengira dikiranya dia laki-laki.) Ga butuh waktu lama aku dan dia merasa saling nyambung, kemudian mulai dolan bareng, the following year. Kami berdua ber-traveling naik sepeda setiap libur lebaran sejak tahun 2011 hingga tahun 2017.

 

Kami berdua vakum dari kegiatan bersepeda antar kota antar propinsi dalam rangka mengisi libur lebaran sejak tahun 2018 sampai tahun lalu. (2018 => my Mom passed away on 3 Syawal; 2019 => my brother passed away around 9 days before lebaran, 2020 - 2021 pandemi.) So? Saat B2W Indonesia melepas pasukan 'gowes mudik' dari Jakarta kurang lebih 10 hari lalu, aku pun didera rasa 'luka' (duh, lebay banget nih, lol), ingin kembali ke masa lalu, lol.

 

So? Untuk sedikit mengobati rasa luka itu, aku menulis kinda 'kaleidoskop' bikepacking kami berdua; bikepacking yang kami lakukan di masa libur lebaran, bukan di saat-saat lain.

 

Lebaran 2011

 

Karena aku pernah bilang ke Ranz keinginanku menginap di satu cottage di pinggir pantai, libur lebaran tahun ini dia mengajakku ke Pantai Nampu, yang terletak di ujung Selatan Wonogiri. Hanya berbekal info sekedarnya, kami berdua nekad berangkat.

 

Info yang didapat Ranz dari adiknya adalah: jarak Solo - Pantai Nampu 80 kilometer dengan trek 'biasa-biasa saja', yang kami 'interpretasikan' treknya datar, kalau pun rolling ya masih masuk akal lah. Jarak segini jelas tidak jauh beda dengan jarak Semarang - Pantai Bandengan Jepara. Kami telah menempuh jarak ini dua kali. So, ya kami pikir, nothing special lah ya. Kita bisa 'melahap' jarak 80 kilometer ini dalam waktu, paling lama 8 jam lah.

 

dengan background Waduk Gajahmungkur

 

 

Dan kami masih 'newbie' kinyis-kinyis, lol, yang belum berpikir perlunya cari info yang lebih jauh lagi, misal browsing internet, atau cukup ngecek google map. Tapi, eh, tahun itu, kami berdua belum 'melek' menggunakan google map, wkwkwkwk. Kenyataannya, kami butuh waktu lebih dari 8 jam! Bahkan sempat 'terdampar' di kecamatan Pracimantoro, kelelahan, kemalaman, ga dapat penginapan, lol.

 

A really unforgettable experience!

 

Lebaran 2012

 

Jika setahun sebelumnya, kami memulai bikepacking dari Solo, tahun ini dari Semarang. Kota Tuban menjadi pilihan, hanya agar kami berdua memiliki pengalaman bersepeda antar propinsi, lol. Sepele banget yak! Lol. Padahal di  tahun 2011 waktu kami ngepit Solo - Jogja itu sudah ngepit antar propinsi kan ya, lol.

 


 

 

Sepedaan Semarang - Tuban dengan melewati banyak rest area khas musim lebaran inilah yang sering membuatku terserang rasa nostalgia nan melankolis saat lebaran tiba. Seingatku, sepanjang pantura (sebelum jalan tol sepanjang pantura jadi) dipenuhi oleh rest area ketimbang sepanjang pansela. Dan ternyata bersepeda dengan melihat penampakan laut/pantai di sisi Utara itu menyenangkan sekali bagiku. Kita bisa mampir untuk foto-foto dimana saja.

 

Perjalanan Semarang - Tuban ini membawa kami ke banyak tempat, dari museum Kartini - Rembang, pantai Gedong Bersinar, Chinatown Lasem yang cantik, Pasujudan Sunan Bonang, sampai kelenteng Kwan Sing Bio dan Goa Akbar.

 

Lebaran 2013

 

Kali ini perjalanan bikepacking kembali dimulai dari Solo. Pantai Klayar menjadi pilihan kami berdua. Ranz yang memberi usul, kembali karena keinginanku menginap di pinggir pantai yang belum terlaksana, lol. Meski menempuh perjalanan Solo - Wonogiri - Pacitan - Klayar ini kurang terkesan atmosphere lebarannya, karena jarang rest area bernuansa lebaran yang kami lewati di trek ini, lol.

 

Tapi yang paling istimewa dari perjalanan ini adalah karena dalam perjalanan, aku berulang tahun. Dan demi memberiku kejutan, dia membawa kue tart mungil plus lilin.

 


 

 

Klayar satu pantai yang sangat cantik, saat itu. Meski, seperti tahun 2011, ternyata kami tak mampu menyelesaikan rute Solo - Baturetno - Pantai Klayar dalam satu hari, dan ga jadi mendirikan tenda di pinggir pantai, lol, I do love this journey of ours. 'Untungnya' cottage mungil tempat kami menginap terletak di satu bukit, dimana jika kami keluar dari kamar, aku bisa tetap langsung melihat pantai, meski dari atas bukit.

 

FYI, saat Ranz ke Klayar lagi tahun 2019, kondisi pantai tak lagi sama. Terlalu banyak penginapan baru yang dibangun sehingga kesan crowded mengurangi kenyamanan turis yang datang.

 

 

Lebaran 2014

 

Kami memulai perjalanan dari Solo, plus kami melakukan satu hal yang belum pernah kami lakukan sebelumnya: naik kereta api! Plus, kami melakukannya di bulan Ramadan. Dari stasiun Jebres, kami naik KA Matarmaja, turun di Blitar, kemudian memulai perjalanan bersepeda dari stasiun Blitar, menuju Candi Sawentar, Candi Penataran, makam Bung Karno dan museum Bung Karno. Menginap 2 malam di Blitar, di hari ketiga kami bersepeda ke Malang.

 

Di Malang, kami berkunjung ke Vihara Dhammadipa Arama, dengan alasan 'sepele': aku ingin melihat patung Buddha berbaring yang terletak di taman vihara, lol. Vihara ini, meski terletak di pinggir jalan raya yang menghubungkan Malang kota dan Batu, suasanya sakral dan sunyi tetap terasa begitu kita masuk ke dalam. Atmosphere serene yang membuatku ingin kembali lagi, tapi sampai sekarang belum bisa kuulangi.

 


 

 

Dari vihara kami lanjut ke area Batu, dan memilih Museum Angkut menjadi destinasi selanjutnya. Keesokan hari, aku dan Ranz berburu lokasi Candi Badut yang ternyata terletak di tengah lokasi pemukiman.

 

Sebenarnya dari Malang kami berencana lanjut gowes ke Sidoarjo. Tapi ga jadi, karena satu dan lain hal, kami balik ke Solo, dengan naik bus. :)

 

Lebaran 2015

 

Ternyata tahun ini kami kembali melakukan hal yang mirip dengan setahun sebelumnya: kami melakukan bikepacking di tengah bulan Ramadan, dan mengawali perjalanan dengan naik kereta api. Kali ini kami naik KA Sritanjung, dari Solo ke Banyuwangi. Kisah sepedaan dimulai setelah kami menyeberang dari Ketapang ke Gilimanuk.

 

Kisah sepedaan kali ini adalah kisah terpanjang yang kami jalani, so far. Total waktu yang kami habiskan bersama adalah 2 minggu, mulai dari aku berangkat ke Solo, naik KA Solo - Banyuwangi, sepedaan ke Bali lanjut Lombok, lanjut balik lagi ke Bali, nyeberang ke Banyuwangi plus naik KA Sritanjung lagi.

 

Banyak hal memorable dari kisah ini. Yang paling unforgettable, meski painful, adalah Ranz kehilangan kamera saat kami berdua mampir di satu minimarket di dekat gerbang masuk area Universitas Udayana, we were on the way to GWK. Satu kejadian yang mematahhatikan kami berdua, tapi rencana perjalanan lebih dari 10 hari ini tetap kami lanjutkan. Walhasil adalah, Ranz malas memotret, meski dia bawa kamera pocket lain. Perjalanan yang menyenangkan -- meski dirusak oleh hilangnya kamera ini -- sayangnya tidak terdokumentasi baik.

 

aku dan Ranz bersama Mba Ely

 

 

Another most memorable experience adalah bertemu dengan kawan facebook, yang meski 'hanya' sempat kenal lewat facebook, ternyata mereka baik sekali. Yang pertama adalah Mba Ely, yang setahuku tinggal di Jakarta, namun ternyata asli Lombok, dan kebetulan waktu aku dan Ranz menginap di Mataram, Mba Ely pas pulang kampung. Kami sempat menginap semalam di rumahnya, sebelum lanjut menyeberang ke Gili Trawangan, dan diajak keliling Mataram - Ampenan, sampai ke Pantai Senggigi. Selain Mba Ely, kami juga ditraktir dokter Helmanus Damanik. Dokter Hel menawariku untuk menginap di rumahnya next time aku dolan ke Mataram. :) tapi, belum sempat aku dan Ranz mengulang dolan kesana, dokter Hel sudah pindah ke Bali. :)

 

Perjalanan terpanjang, memberi kami pelajaran yang banyak, terutama untuk mengelola emosi.

 

Lebaran 2016

 

Kisah ini beda dari kisah-kisah lain. Kali ini kami tidak hanya berdua, namun berenam! Selain aku dan Ranz, 4 bikepackers lain adalah Tami, Dwi, Hesti, dan Avitt. Kami berlima memulai perjalanan dari Semarang, naik KA Kalijaga, menuju Solo. Dari Solo, Ranz bergabung, berenam kami naik Prameks menuju Jogja.

 

Ini ceritanya, aku dan Ranz 'meracuni' empat perempuan lain untuk menjadi bikepackers. Hahahahah … Trust me, sepedaan jauh antar kota antar propinsi ini sungguh-sungguh exciting! Dan bikin sakaw kalau lama tidak kita lakukan. Hahahaha … eh, lupa, Tami sudah pernah kami ajak bersepeda Semarang - Magelang - Borobudur - Jogja - Klaten di awal 2015. plus bersepeda Semarang - Solo saat akan menghadiri jambore sepeda lipat nasional kelima yang diselenggarakan di Solo.

 

Di Tebing Breksi

 

 

Di hari pertama sesampai Jogja, kami dolan ke Tamansari, kemudian ke alun-alun Kidul. Untuk pertama kali aku mencoba berjalan melewati dua pohon kembar, dengan mata ditutupi. Guess what? Dua kali aku mencoba, dua-duanya berhasil! Keesokan hari, kami menuju Timur, susur Selokan Mataram.

 

Aku yang candi lover membuat itinerary untuk mengunjungi candi-candi sementara susur Selokan Mataram. Mulai dari Candi Sambisari, Candi Sari, Candi Kalasan. Sorenya, Radit yang menjadi tuan rumah, menemani kami ke Situs Ratu Boko. Keesokan hari ke Candi Plaosan dan Candi Barong. Tempat 'baru' yang kami kunjungi kali ini adalah Tebing Breksi, yang waktu itu masih dalam proses pengerjaan menjadi satu destinasi wisata yang diandalkan untuk mendapatkan pendapatan daerah. Rencana mau mampir ke situs Sumberwatu a.k.a Resto Abhayagiri gagal karena saat kami lewat daerah situ, resto belum buka.

 

Dari Tebing Breksi, kami bersepeda ke stasiun Klaten. Kami naik Prameks ke Solo, keesokan hari baru kami naik KA Kalijaga kembali ke Semarang.

 

Lebaran 2017

 

Yang beda dari kisah kali ini dari kisah-kisah di tahun sebelumnya adalah kami naik mountain bike, sementara sebelumnya kami melulu naik sepeda lipat. Sebelum memulai perjalanan, kami mengirim Cleopatra dan Orenj ke Sidoarjo terlebih dahulu, sebelum lebaran. Ternyata oh ternyata, enak lo naik sepeda beroda ukuran besar untuk menempuh perjalanan jauh, wkwkwkwkwk …

 

Ya kali ini, aku dan Ranz kembali menyusuri pantura. Cuma jika di tahun 2012 kami ke arah Timur, dari Semarang menuju Tuban, tahun 2017 ini kami bersepeda dari Sidoarjo menuju Semarang. Di kisah ini, we made one dream of ours come true: exploring Wisata Bahari Lamongan seharian. Memang tiap-tiap kita tidak akan pernah lupa karakter sebagai kanak-kanak ya. Lol. It was fun playing around WBL for the whole day.

 


 

 

Sidoarjo - Semarang berjarak sekitar 360 kilometer, kita bagi dalam 3 etape. Hari pertama Sidoarjo - WBL. Hari kedua full menjelajahi WBL. Hari ketiga WBL - Rembang. Hari terakhir Rembang - Semarang. Jika perjalanan Semarang - Tuban kami full mampir-mampir, kali ini Ranz enggan kuajak mampir-mampir karena ngejar waktu agar sampai di kota yang kami tuju sebelum maghrib. Galake pol bocah siji iki nek ngene. Wkwkwkwkwk …

 

Oh … how I miss biking from one city to another tiap kali lihat posko a.k.a rest area mudik!

 

PT 56 01/05/2022