Selasa, 26 November 2013

GOMINGPAI KE MERCUSUAR SEMARANG

GOMINGPAI KE MERCUSUAR SEMARANG

Believe me, seumur-umur semenjak lahir di kota yang konon pernah dikunjungi Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok ini aku belum pernah menapakkan kaki ke kawasan pelabuhan Tanjung Mas dimana ada mercusuar Willem III. Sounds Dutch, eh? Yah tentu saja, karena mercusuar ini memang merupakan peninggalan pemerintah kolonial Belanda.

Sebagai seorang biking freak, tentu aku menyambangi mercusuar yang terletak tak jauh dari Pusponjolo ini dengan naik sepeda. Di hari Minggu pagi nan cerah tanggal 24 November 2013 aku bersama enam teman pesepeda lain gowes bersama. Mercusuar  Willem III merupakan tujuan kedua. Tujuan pertama kemana dong? Check this out.



Depan kampus Udinus – kampus dimana Ranz sedang menimba ilmu di waktu weekend – kita pilih sebagai titik kumpul. Dari ujung jalan Imam Bonjol itu kita gowes bersama ke arah jalan Hasanudin. Gowes sekitar 2 kilometer kita belok ke arah kanan, Jalan Taman Hasanudin. Kita melewati perumahan Permata Hijau dan Permata Merah. Tak lama kemudian kita sampai ke tujuan pertama : Vihara Welas Asih.
vihara Welas Asih
di depan altar vihara

vihara Welas Asih

Vihara Welas Asih termasuk bangunan ibadah yang terhitung masih baru. Menurut salah satu penjaga vihara, vihara ini dibangun kurang lebih 3 tahun yang lalu. Hampir semua bahan yang dipakai untuk membangun diimpor dari Tiongkok (instead of ‘China’ the guy we met mentioned ‘Tiongkok’. J) Bangunannya mengingatkanku pada vihara Avalokitesvara yang terletak di Watugong Pudakpayung. Atau memang semua vihara bentuknya mirip satu sama lain ya? J
Setelah puas menikmati keindahan arsitektur vihara Welas Asih sembari foto-fiti kita melanjutkan perjalanan. Kita lewat jalan arteri Sukarno – Hatta.



on the way

Mungkin gowes hanya sekitar 5 kilometer kita sampai di pelabuhan barang Tanjung Mas. Sebelum memasuki mercusuar, kita sempatkan diri untuk unjuk narsis di kapal SUAR II yang sedang bersandar. J Setelah itu kita masuk ke kantor navigasi dimana mercusuar terletak. Dengan ramah si penjaga membolehkan kita narsis berfoto-foto di dekat mercusuar. Bahkan kita juga diajak untuk masuk dan naik hingga puncak mercusuar yang terletak di lantai 11, sekitar 32 m dpl. Mas Tri – nama sang penjaga merangkap tour guide kita – bahkan memberikan kuliah singkat tentang bagaimana para navigator memberikan pertolongan pada para nakhoda kapal ketika mereka akan ‘memarkir’ kapal mereka. J


aku berdua Wawan in action LOL


di pundak menara mercusuar

di pintu masuk mercusuar

Ternyata mercusuar Willem III ini merupakan satu-satunya mercusuar yang terletak di propinsi Jawa Tengah; telah berusia lebih dari dua abad dan tetap digunakan sebagaimana mestinya, tak tergeser oleh teknologi terbaru, GPS misalnya. Lampu suarnya mampu terlihat sampai kejauhan 20 mil. Karena merupakan peninggalan pemerintah kolonial Belanda, tak heran jika kadang ada turis dari Belanda yang datang berkunjung, untuk ‘menengok’ bangunan yang dibangun oleh nenek moyang mereka. J Konon waktu pertama kali  dibangun, lokasi mercusuar terletak 2 meter di atas permukaan jalan. Namun karena pelabuhan ini merupakan kawasan yang sering terkena banjir maka sekarang jika kita ingin masuk ke dalam mercusuar, kita justru harus turun ke bawah.


pemandangan pelabuhan dari atas mercusuar



Mercusuar Willem III ini telah dimasukkan ke salah satu benda cagar budaya sehingga harus selalu dijaga kelestariannya. Mengingat permukaan jalan kawasan pelabuhan ini mengalami penurunan 10 cm tiap tahun, mungkin satu saat nanti pemerintah butuh membangun mercusuar baru; namun mercusuar Willem III akan tetap berdiri kokoh di tempatnya.

Setelah puas mendengarkan kuliah singkat dan foto-fiti, kita pun pulang. Sebelum berpisah, kita mampir sarapan dengan menu makanan tradisional Semarang : mie kopyok. Semarangan banget deh pokoknya.

IB180CD 18.44 26 November 2013


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar