Kamis, 02 Januari 2014

GOWES SUSUR CANDI Day 3



GOWES SUSUR CANDI Day 3

Minggu 29 Desember 2013

Usai sarapan di hotel dengan menu nasi goreng + mihun goreng + bubur ayam + roti lapis selai (kenyang poll!) dan packing, kita check out pukul 08.45. Candi Plaosan Lor kembali menjadi tujuan pertama kita. Alasannya: hari Jumat sebelumnya Ranz ogah masuk ke dalam kawasan candi. Kali ini aku memaksanya masuk. :D

Oh ya, hari ini kita mengenakan T-shirt brand new, pemberian Om Aryo Wikantomo Jogja. :)


Ranz in action di lantai dua Hotel Galuh, di depan kamar kita

di depan Hotel Galuh yang berhiaskan miniatur Prambanan

berdua mejeng di plang nama Candi Plaosan Lor

dari kejauhan mengintai Candi Kembar :)

Ranz in action di atas Candi (utama) Plaosan Lor yang 'perempuan', menghadap Candi yang laki-laki :)

Aku duduk di lokasi yang sama dengan Ranz di foto di atas
mejeng berdua

salah satu stupa yang utuh

Pukul 10.00 kita meninggalkan Candi Plaosan Lor. Tujuan berikutnya adalah Candi Sumberwatu. Mengikuti petunjuk Tika – teman Tiwuk yang rumahnya sangat dekat dari Candi Plaosan – kita belok ke arah Selatan di jalan yang terletak setelah gapura pembatas Prambanan – Jogja. Jalan ini juga yang kita lewati ketika gowes Jogja Attack 2 Mei 2012 dan J150K. Namun di pertigaan kita belok ke arah kiri, bukan kanan. Disini jalan mulai menanjak. Karena aku kepayahan gowes Austin dengan tas pannier di rak boncengan, tas pannier pun kemudian dipindah ke rak boncengan Shaun. Don’t you ever doubt Ranz’ powerful knees. :)

latar belakang bukit dimana SWH terletak

judul : pamer kaos NGEPIT SAK MODARE

ada spion raksasa! :)

tas pannier pindah! :)
 
Candi Sumberwatu menjadi salah satu tujuan karena dari spot ini kita bisa memandang Candi Prambanan dari atas, seperti dari gardu pandang Punthuk Setumbu kita bisa memandang Candi Borobudur. Candi Sumberwatu yang ternyata ‘hanya’ berupa stupa ini terletak di dalam Sumberwatu Heritage yang mencakup villa, spa, dan restaurant. 

Prambanan dari Sumberwatu Heritage

Prambanan dari Sumberwatu Heritage 2

kiri : Prambanan, kanan : Sojiwan

Untunglah ketika kita kesana cuaca sangat cerah – alias panas – sehingga kita bisa memandang dengan jelas gunung Merapi, Candi Prambanan dan Candi Sojiwan. 

Karena harga makanan di restaurant Abhayagiri (ini nama restoran yang ada di dalam Sumberwatu Heritage) yang ‘ajiiib’ (LOL), kita hanya pesan dua porsi es krim, satu cangkir caramel coffee, satu iced local java tea, dan satu porsi chicken wings. Dan ... untuk itu kita harus merogoh kocek Rp. 188.000,00. Superb! LOL. 

di dalam kawasan Abhayagiri restaurant

nun jauh di belakang sana ada Candi Prambanan :)
Candi Banyunibo dilihat dari Candi Barong

Pukul 12.15 kita meninggalkan SWH untuk menuju Candi Barong. Dari SWH kita lanjut nanjak. 10 menit kemudian kita telah sampai di Candi Barong. 

Candi Barong kecil, seperti candi perwara, ada dua buah candi di pelataran yang cukup luas itu. Dari sini kita bisa melihat Candi Banyunibo. 

Candi Barong!

Candi Barong

aku di Candi Barong

Candi Barong dari kejauhan

Atas saran Satpam, kita tidak ke Banyunibo namun menuju Candi Ijo dulu, agar kita tidak perlu turun, kemudian nanjak lagi. Kita diberi petunjuk untuk mengikuti  jalan setapak yang ada. Sesampai di bendungan kita belok kanan. Dari sana kita terus jalan sampai pertigaan, kita belok kanan lagi. Teruusss hingga kita bertemu pertigaan lagi, kita memilih jalan yang nanjak, alias belok kiri. Tak jauh dari situ kita akan bertemu jalan aspal (catat! Jalan aspal! Yang berarti jalan yang kita lewati dari Candi Barong bukan merupakan jalan aspal!), kita belok kiri alias nanjak lagi. 

bendungan yang kita temukan dalam perjalanan dari Candi Barong

jembatan yang kita lewati dari Candi Barong - Ijo

jalan rusak 1

jalan rusak 2

Sungguh di luar perkiraan kita kalau ternyata jalan yang harus kita lewati adalah jalan makadam yang telah rusak, naik turun. Sangat amat tidak disarankan jika kita melewatinya naik sepeda lipat, apalagi ditambah tas pannier. Untunglah kita tidak terganggu ban bocor atau pun gangguan lain.
Sesampai di jalan aspal dengan tanjakan yang ehem itu, Ranz mulai menunjukkan sifat malasnya untuk melanjutkan perjalanan. Rupanya dia berharap sesampai jalan aspal, Candi Ijo terletak tak jauh dari situ. Unfortunately Ranz was wrong. Maka, ‘drama’ yang mirip ketika kita gowes ke Sekatul pun terulang lagi. Dia gampang ngambeg. “Kalau pukul 14.15 kita belum sampai Candi Ijo, kita pulang saja!” Atau, “Shaun dititipin di warung sini aja ya, aku gowes Austin, kamu cari boncengan motor yang lewat.” Dll. 

You never know how close you ara to your success when you decide to quit,” kata Thomas Edison. Aku selalu mengingat kata-kata Edison ini ketika gowes. :D

Dan ... akhirnya kita pun sampai di Candi Ijo pukul 14.30. Lebih banyak pengunjung disini ketimbang di Candi Barong, bahkan juga dibandingkan Candi Plaosan. Apa karena orang suka memandang pemandangan ke arah Bandara Adi Sucipto dari ketinggian sini ya?

To Ranz’s disappointment, ga ada satu warung (angkringan) pun di kawasan Candi Ijo. Apalagi terlihat ada orang yang sibuk dengan senapan angin, entah menembak apa. Hal ini memperburuk mood Ranz untuk menjelajah kawasan Candi Ijo. Bagaimana jika orang itu salah tembak? :(

melaju ke Candi Ijo, setelah sampai di jalan aspal

Beberapa orang yang asik nongkrong di pintu masuk salah satu candi perwara juga menghapus mood-ku untuk memasuki semua candi yang ada, meski mungkin di dalamnya tidak ada bangunan apa-apa. Aku hanya memasuki candi perwara di sebelah kanan (dari arah candi utama), di dalamnya ada lubang yang entah dulu digunakan untuk apa. Di dalam candi utama, ada bangunan lingga dan yoni yang ukurannya jauh lebih besar dibandingkan lingga dan yoni di dalam Candi Sambisari.

pemandangan dari atas teras 11 Candi Ijo

aku mejeng di Candi Ijo

Candi utama dengan 3 candi perwara

tangga menuju teras 11 Candi Ijo

Mood menjelajahku pun surut ketika tiba-tiba aku sakit perut. Untunglah ada toilet yang terletak dekat kantor satpam tempat para pengunjung diminta menulis data diri di buku tamu dan membayar seikhlasnya. Setelah selesai melaksanakan hajat, kulihat Ranz sudah siap untuk meninggalkan lokasi. Ya sudah, aku tidak kembali naik ke Candi Ijo. Kita langsung meluncur turun. (Kita tidak menemukan petunjuk menuju Candi Banyunibo sehingga kita tidak mampir.)

Untunglah cuaca sangat mendukung untuk ngebut. Kita sampai di kota Klaten sekitar pukul 17.00 dimana kita putuskan untuk mampir ke sebuah warung penyet untuk makan malam. Sambalnya pedeeeesssss. :P
 
Kita sampai di rumah Ranz di kawasan Laweyan Solo pukul 19.30. Dan rasanya aku masih sakau gowes. Haduw. 

Senin pagi kita ga kemana-mana. (Museum Sangiran libur hari Senin.) Kita keluar hanya untuk brunch di RM Selat Mbak Lies. Sehari sebelumnya Ranz sempat nawarin untuk menemani gowes balik ke Semarang, namun kondisi lipatan Austin sedikit bermasalah, sehingga kuputuskan untuk nyantai saja hari itu, sebelum aku pulang ke Semarang dengan naik bus. 

Kapan bikepacking lagi yaaa? :D

PT56 20.51 01/01/2014

2 komentar:

  1. Haaaaa jalannya mbak masih kayak gitu. Sekarang udah mendingan, tapi pas di dekat sendang itu emang jalannya kudu nuntun hahahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyah, kita terpaksa nuntun di kawasan situ, khawatir ban meletus :)

      Hapus