Cari Blog Ini

Senin, 12 Januari 2015

Bikepacking Rame2 (Day 2)

Di hari pertama, on the way ke Borobudur, aku sempat nawarin teman-teman apakah mereka berniat  kuajak ke Punthuk Setumbu untuk menyaksikan pemandangan sunrise di atas Borobudur nan spektakuler itu. Mereka setuju. Namun saat kita sedang makan malam di alun-alun, kutawarkan lagi apakah mereka masih berkeinginan bangun pagi, sekitar jam 03.30 untuk kemudian berangkat ke Punthuk Setumbu jam 04.00, mereka kompak menolaknya. LOL. Alasannya jelas: LELAH! :)

Alhasil di hari kedua itu kita bangun pagi dengan santai. Jam lima pagi aku sudah mulai mendengar suara teman-teman bercakap-cakap di luar kamar. (Aku, Ranz, Tami, dan Dwi tidur satu kamar, di satu tempat tidur yang membuat kita tak bisa leluasa bergerak. LOL.) Selain itu, aku pun mendengar suara rerintik gerimis. Oh! Syukurlah kita memilih "bermalas-malasan" karena kalau pun kita bangun pagi, kemudian kehujanan waktu gowes ke Punthuk Setumbu, kita tetap tak bisa menikmati sunrise. (Excuses buat kemalasan kita. LOL.) 

Jam setengah enam kita mulai ngantri mandi satu persatu. Saat ada dua teman yang mandi (di dua kamar mandi yang berbeda lho LOL), yang lain menikmati kopi Lampung yang disuguhkan tuan rumah di ruang tengah sembari ngobrol ramai-ramai. Ternyata si Bapak Haji cukup kenal kota Semarang sehingga beliau bisa mengikuti obrolan kita. Beliau juga kenal seluk beluk kota Jogja. 

Setelah packing, pukul setengah sembilan kita mulai berjalan kaki ke arah Taman Wisata Candi Borobudur: saatnya berubah peran dari goweser menjadi wisatawan. Cihui. LOL. Gerimis telah reda. reda. Meski hari masih cukup pagi, belum juga ada jam sembilan, di pelataran Candi Borobudur telah banyak wisatawan yang bergerombol. Untunglah kita tak perlu mengantri lama untuk membeli tiket yang harganya Rp. 30.000,00 (untuk wisatawan Nusantara). 

(Ssshhtttt, kita belum sarapan lho, jadi kita jalan-jalan di dalam Taman Wisata Candi Borobudur dalam keadaan lapar. Hahahaha ...)

Mungkin di antara kita berdelapan hanya Ranz yang belum pernah mendaki Candi Borobudur hingga ke tingkat yang paling atas. LOL. Tentu aku duluuuuu sudah pernah, tapi entah apakah aku sudah pernah berfoto disitu. Jika pun pernah, entah kemana foto-foto itu menghilang. LOL. Jadiiii, intinya, kita ke Borobudur ini adalah untuk memberi kesempatan Ranz memiliki kesempatan mendaki Candi Borobudur sekaligus memotret kita. YAY! LOL. 

Sekitar pukul setengah sebelas kita semua akhirnya benar-benar kelaparan; satu hal yang membuat kita akhirnya meninggalkan pelataran Candi Bobobudur untuk mencari sarapan. :)

Usari sarapan, kita balik kepenginapan untuk berpamitan kepada Pak Haji, mengambil sepeda dan perbekalan kita. Selanjutnya kita gowes ke arah Candi Mendut. Kita tidak ke Candi Pawon karena mengingat waktu yang sudah semakin siang. Siang itu cuaca cukup gerah sehingga kita pun dengan mudah berkeringat.

Cuaca panas itu ternyata dengan mudah berubah menjadi hujan yang sangat lebat saat kita akan meninggalkan Candi Mendut. Kita pun menyibukkan diri mengenakan mantel, membungkus sepatu (bagi yang mengenakan sneakers), memasang bag cover di tas pannier, dll. Sementara itu aku diantar Arwin ke Terminal Bus Muntilan naik motor untuk segera balik ke Semarang. (My Lovely Star alias Angie was not feeling well and she begged me to go home soon.) Terpaksa aku tidak bisa mengikuti seluruh rangkaian rencana bikepacking.

Karena mengejar waktu agar tidak kesorean sampai Jogja, kita lewat jalan raya dan tidak mampir kemana-mana kecuali makan siang yang (agak) kesorean. J Oh ya, selepas pertigaan Mendut – Muntilan – Magelang hujan telah reda hingga kita tak perlu mengenakan mantel.

Syukurlah kita sampai di Jogja sekitar pukul empat sore. Di bunderan UGM Radit – teman sepedaan dari Federal Jogja – menjemput dan mengantar kita ke penginapan. Malamnya kita makan malam di Jalan Mangkubumi kemudian ngopi di Kopi Joss di jalan yang sama. Tentu jua tak ketinggalan ngantri ngeksis di Tugu (Jogja) nan legendaris itu sebelum balik ke penginapan.

To be continued. 

Pak Haji yang punya rumah




ini tiketku, mana tiketmu?




















kanan, Dwi, yang menggantikanku menaiki Austin









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.