Selasa, 21 Juni 2016

S E G O W A N G I

segowangi pertama yang dihadiri oleh Pak Walikota Semarang

Segowangi yang merupakan singkatan dari Semarang Gowes Jemuwah Bengi hadir di kota Semarang sejak bulan Februari 2014 untuk mengisi “kekosongan” kampanye bersepeda yang biasanya secara serentak dilakukan di banyak kota di seluruh dunia pada hari Jumat malam terakhir tiap bulan. SEGOWANGI adalah nama satu event, bukan nama komunitas.

Mengapa namanya SEGOWANGI? Dan tidak menggunakan istilah “LAST FRIDAY RIDE” agar tidak jauh beda dengan beberapa kota lain yang memiliki kegiatan yang sama? Ide ini diusulkan oleh Om Poetoet dari B2W Pusat agar menggunakan istilah yang lebih ‘membumi’. Karena kota Semarang berada di Pulau Jawa, bahasa Jawa pun menjadi pilihan.

segowangi ketiga, April 2014

Mengapa B2W Semarang yang menginisiasi? Ya karena saya dan beberapa teman lain yang tergabung dalam ‘komunitas’ B2W Semarang yang memulai kembali, apa yang telah ‘mati suri’ selama mungkin hampir 3 tahun. Pasti masih ada yang ingat bahwa Semarang pernah memiliki event serupa ini di tahun 2010 – 2011 dengan menggunakan judul event “Semarang Critical Mass Ride” yang disingkat SCMR. Nama ini mungkin diadopsi dari nama event “Indonesia Critical Mass” yang diadakan di Jakarta sejak tahaun 2010 dan masih eksis sampai sekarang.

segowangi ketujuh, Agustus 2014

Jika B2W Semarang yang menginisiasi kegiatan SEGOWANGI mengapa di tiap poster tidak ada logo B2W Semarang? Karena di awal penyelenggaraannya, saya dan beberapa teman berpikir bahwa B2W Semarang hanya menginisiasi saja. Kita berharap bahwa di bulan-bulan berikutnya, penyelenggara SEGOWANGI akan bergiliran ke komunitas-komunitas maupun klub klub sepeda yang ada di kota Semarang. Mungkin karena kurang komunikasi dengan teman-teman sepeda, hingga sampai sekarang SEGOWANGI tetap dikomandoi oleh B2W Semarang. SEGOWANGI adalah satu event yang diselenggarakan oleh dan untuk para pesepeda kota Semarang dan sekitarnya.

segowangi ke-11, Desember 2014
Mengapa dimulai di bulan Februari 2014? Saya bertemu om Poetoet – dan beberapa pandega B2W Pusat lain seperti Om Toto, Om Kartono, Nte Ria, dll – di bulan Desember 2013, pada penyelenggaraan JLFR (Jogja Last Friday Ride) yang kesekian.  Kawan-kawan pesepeda Jogja waktu itu sedang dibuat resah oleh sang walikota yang ingin menghapus “Sego Segawe”. Kenyataan bahwa banyak hotel baru dibangun di Jogja tanpa menyediakan lahan parkir yang layak membuat kota ini semakin dipenuhi kemacetan dimana-mana. Oleh karena itu, B2W Pusat menggandeng para pengurus B2W di kota-kota lain ikut meramaikan JLFR bulan Desember itu sekaligus mengadakan “informal gathering”.

Harusnya SEGOWANGI dilaksanakan di bulan Januari 2014 dong? Lha itu, masalahnya saya dan Ranz yang akan menjadi “pelaksana utama” sedang ingin mbolang, mumpung ada satu tanggal merah tambahan di akhir bulan Januari itu. :D maka pelaksanaannya baru kita mulai di bulan Februari 2014.

Di awal penyelenggaraan SEGOWANGI banyak kawan sepeda yang ingin event ini diselenggarakan tiap Jumat, bukan hanya di hari Jumat terakhir tiap bulan. Sayangnya permintaan ini tidak bisa saya kabulkan karena tiap hari Jumat malam itu saya selalu ada kegiatan di rumah.

segowangi ke-8, September 2014

Frankly speaking, jadual event SEGOWANGI terkadang mengganggu rencana-rencana mbolang saya dan Ranz. :D Sejauh ini, kita (terpaksa) mencoba mengatur lagi rencana-rencana mbolang itu. Namun terkadang kita justru mengubah hari pelaksanaannya. Sudah dua kali kita mengubah jadual pelaksanaannya, yakni maju ke hari Jumat ketiga; yang pertama di bulan September 2014, karena pada hari Jumat terakhir tanggal 26 September itu saya dan Ranz bersepeda ke Jogja untuk menghadiri Jamselinas keempat; yang kedua di bulan Juni 2015, karena di hari Jumat terakhir kita sedang bikepacking menjelajah Bali & Lombok.

Inti penyelenggaraan SEGOWANGI adalah kampanye bersepeda, menggunakan sepeda untuk kegiatan sehari-hari, dan bukan hanya menganggap sepeda sebagai alat untuk berolahraga. B2W Pusat ingin ada event kampanye bersepeda di Semarang, yang dilaksanakan di malam hari, karena event FUN BIKE biasanya diselenggarakan di pagi hari plus bersepeda di pagi hari itu sudah terlalu mainstream. J

Segowangi ke-10, Nopember 2014

Sehatkah bersepeda di malam hari? Ya, asal kita melengkapi diri dan sepeda dengan pakaian dan alat-alat yang kita butuhkan. Misal, mengenakan jaket/vest untuk menahan hembusan angin malam. Kenakan baju yang warnanya mencolok agar terlihat pengguna jalan lain. Jika perlu kenakan pakaian yang ada scotchlite-nya. Lengkapi sepeda dengan lampu yang memadai. Plus, helm jangan lupa.

Mengacu ke paragraf keempat di atas, penyelenggara SEGOWANGI untuk berkampanye sepeda bisa siapa pun. Tidak harus B2W Semarang. Jika ada komunitas atau klub atau apapun juga yang berniat mengadakan kampanye sepeda ini di hari Jumat terakhir, silakan lho. Saya dan Ranz akan kembali fokus ke rencana-rencana mbolang kami selanjutnya. :D Mau ganti namanya juga boleh kok, ga harus SEGOWANGI. Intinya adalah kampanye bersepeda.

segowangi ke-9, Oktober 2014
SHARE THE ROAD? Karena ‘share the road’ adalah motto yang selalu dipakai oleh ‘komunitas’ B2W dimana pun berada, SEGOWANGI tentu saja menggunakan motto ini. Namun jika motto ini dianggap tidak penting, ya abaikan saja. J mau diganti dengan “penuhi jalan dengan sepeda” atau kembali menggunakan motto SCMR “rebut ruang kota’ ya silakan saja. Saya pribadi akan minggir. J saya yakin, Indonesia masih sangat jauh jika bermimpi bahwa jalan raya hanya akan dipenuhi hanya sepeda. Berapa persen rakyat Indonesia (yang bersepeda) telah mampu meninggalkan kendaraan bermotor dalam kegiatan mereka sehari-hari?

Mari tetap bersepeda untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor.


LG 10.15 22/06/2016

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar