Selasa, 11 Desember 2018

Komselis Anineversary





KOMSELIS BIKECAMPING FOR ANINEVERSARY

Akhirnya Komselis mengadakan event untuk mensyukuri nikmat “tambah usia keeksisan” di kancah sepeda  lipat Nasional. :D (tahun 2016 terlewati begitu saja, sedangkan tahun 2017 kita punya excuse untuk tidak mengadakan event anniversary, yakni kita masih kelelahan setelah menjadi penyelenggara perhelatan naik hajinya para pesepeda lipat Indonesia: 7amselinas.

Akhirnya, aku memiliki pengalaman berbikecamping lagi. Jarang-jarang je diniatin bikecamping begini. :D (padahal setelah bikecamping ke Pulau Panjang dua tahun lalu, Ranz dan aku sudah beli tenda baru, dan Ranz pun rajin melengkapi barang-barang yang dibutuhkan untuk camping. Dan … baru terpakai kali ini. Hohoho …)

Sabtu 27 Oktober 2018 ~ hari pertama                                                                                   

Sebagian peserta dan seluruh panitia diminta telah hadir di Taman Indonesia Kaya (ex Taman KB) yang terletak di depan SMA N 1 pukul setengah enam. Menurut itinerary, kita akan berangkat pukul enam pagi tepat. But you know, karena ‘jam karet’ adalah satu ‘budaya’ orang Indonesia, lol, juga kalau sudah kumpul dengan kawan-kawan yang sudah lama tidak bertemu kita bakal menikmati waktu untuk foto-foto, berhahahihi, dan lain sebagainya, akhirnya kita baru berangkat menjelang pukul setengah tujuh pagi. Tidak semua peserta yang berkumpul disini orang-orang Semarang lho, ada juga peseli yang juga seorang dokter gigi dari Surabaya yang datang, drg. Lya datang bersama dua peseli handal lain dariSidoarjo, yang merupakan tetangga Surabaya. Selain itu, bintang tamu kita – seorang dokter juga – yang kondang sebagai peturing perempuan yang telah melanglang buana dalam dan luar negeri berasal dari luar kota Semarang. Dr. Aristi ditemani oleh suaminya – yang juga seorang dokter – telah datang di kota Semarang dua hari sebelum tanggal 27 Oktober. Bagi suaminya – Mas Pram, demikian dr. Aristi memanggil suaminya – ini adalah mini turing pertamanya. Yuhuuuu.

 Tentu bukan hanya dokter Pram yang merupakan newbie turing, ada si centil nan teatrikal Mbak Ning – perwakilan Zuna Sport – yang dengan gagah berani mencoba trek pantura yang terkenal kejam dengan angina kencang dan udara panasnya. Uhuk … Mbak Ning ditemani oleh Nte Ria, si bola bekel, perwakilan dari B2W Indonesia. Nte Ria yang biasanya sibuk jadi panitia dalam event sepedaan, sehingga malah ga sempat nyepeda, lol, kali ini menjadi peserta biasa – meski juga ikutan membantu panitia mencarikan sponsor – dan dia justru bisa bersepeda sepanjang perjalanan. Mereka berdua – Mbak Ning dan Nte Ria – telah memadu janji bahwa mereka akan terus bersama dalam perjalanan yang penuh suka dan cobaan ini. Kekekekeke …

Di awal perjalanan, karena masih pagi, kita belum dipapar sinar mentari yang terik. Sang surya menyapa dengan manis dan manja (halah!) Setelah melewati daerah ‘batas’ antara Semarang dan Demak, banyak peserta yang telah menemukan irama kayuhan pedal masing-masing. Aku dan Ranz masih setia mendampingi Mbak Ning dan Nte Ria. Di satu titik, Ranz mendadak mendorong Mbak Ning hingga mereka berdua melesat jauh di depan. Aku mau ikut-ikutan mendorong Nte Ria yang Nampak belum berjodoh dengan sepeda lipat 16” yang dia pinjam dari Avitt, tapi kok rasanya aku terlalu heroic yak. LOL. Yang ada biasanya aku didorong Ranz. Lol.

Sekitar pukul 08.15 kita telah sampai di alun-alun Demak. Pitstop pertama. Not bad, eh? J kawan-kawan dari Dekseli – komunitas sepeda lipat dari Demak – menunggu kita disini, sambil menyediakan cemilan nan sehat, semangka dan jambu air. Semangkanya penuh air sehingga segar rasanya, sedangkan jambunya manis sekali hingga ga bosan-bosannya kita mencemil itu. LOL.

Setelah sekitar 30 menit beristirahat, sambil bersilaturrahmi dengan kawan-kawan Dekseli, kita melanjutkan perjalanan. Kali ini, rute yang kita lewati tidak lewat Trengguli. Sesampai pasar Bintaro Demak, ada jalan belok kiri, kita mengikuti jalur itu. Oke … ini adalah kali pertama buatku dan Ranz bersepeda ke Jepara tidak lewat Trengguli. Katanya jika kita lewat rute ini, kita tidak perlu bersaing dengan bus-bus maupun truk-truk, plus jaraknya lebih pendek ketimbang lewat Trengguli.

Yak betul, kita tidak berpapasan dengan bus maupun truk. Namun panasnya pantura tetap terasa. Di sisi kiri dan kanan jika kita kebetulan melewati persawahan, semua terlihat kering dan tandus. Nampaknya kita sudah melewati masa panen. Yang terlihat di area persawahan itu hanya tumpukan jerami kering. Well, musim kemarau tahun ini memang luar biasa panjang. Hingga akhir Oktober, hujan masih sangat jarang turun.
                                 
Setelah melewati jarak kurang lebih 15 kilometer, kita pun sampai di satu minimarket, dimana kawan-kawan yang telah sampai lebih dahulu langsung ngadhem ke dalam. J semua ingin menikmati AC untuk sedikit mendinginkan hawa tubuh yang terasa mengeluarkan asap gegara panas. (lebay! lol.) kebanyakan dari kita butuh minum sesuatu yang dingin untuk mendinginkan tenggorokan. Aku sendiri butuh beli permen kopi karena kantuk menyerang sepanjang perjalanan tanpa bilang-bilang. Lol.
                                                                                                                                       


         

20 menit dirasa cukup, kita kembali melanjutkan perjalanan menuju pistop 2, Ekowisata Rumah Edukasi Silvofishery (Reduksi), yang terletak di Desa Kedungmutih, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak. Jarak dari minimarket tempat kita beristirahat ngadhem sebelumnya sekitar 15 kilometer lagi. Disini, panitia telah bekerja sama dengan pengelola REDUKSI untuk menjamu kita dengan berbagai penganan yang juga sehat, mulai dari kacang rebus, singkong rebus, juga pisang rebus. Sambil beristirahat di gazebo yang ada di tengah-tengah kawasan mangrove ini, kita bisa menikmati hidangan yang ada. Plus tentu saja berfoto-foto. Sebagian dari peserta menyempatkan diri shalat dzuhur di masjid terdekat kawasan mangrove.

30 menit kemudian kita melanjutkan perjalanan. Setelah melewati perkampungan, kita mulai menapaki trek yang di kiri kanan terdapat tambak garam, kita pun dihajar angin yang sangat kencang. Terasa agak sia-sia ketika kita mengayuh pedal sekuat-kuatnya namun tetap rasanya sepeda hanya melaju sedikit demi sedikit. Gosh! Untunglah angin kencang ini tidak menyapa kita sejak kita meninggalkan alun-alun Demak. Wedeew. (jadi ingat, bulan Juli 2017 waktu meninggalkan Rembang menuju Kudus, aku dan Ranz pun dihadang angin kencang. Masih mending waktu itu kita naik sepeda dengan ban 26”, kali ini rasanya hampir tak tertahan ketika naik sepeda lipat. Hwaaaa.



Ketika Om Munir dari Dekseli bilang bahwa rute yang kita lewati tinggal lurus saja dan kita akan sampai di alun-alun Jepara, aku baru ngeh, kita tidak perlu melewati tanjakan yang biasanya menyapa kita menjelang masuk kota Jepara. Yuhuuuu. Well, meski angin kencang itu tetap terasa seperti kita menapaki tanjakan sih. Hohoho …

Sekitar pukul satu siang, akhirnya aku sampai di pit stop ketiga, Museum Kartini yang terletak tak jauh dari alun-alun Jepara. Sebagian peserta lain telah sampai dan terlihat menikmati hidangan makan siang yang disediakan oleh panitia. Sebagian yang lain masih berjuang di jalan yang panasnya bisa melelehkan seluruh es di Kutub Utara. LOL. Lumayan … panitia menargetkan pukul dua siang semua peserta sampai di pitstop ketiga ini.

Menjelang pukul tiga sore, kita kembali melanjutkan perjalanan ke pitstop terakhir, yakni Pantai Teluk Awur. Rutenya ternyata malah kita kembali ke arah kita datang, sekitar 5 kilometer dari Museum Kartini. Dengan kondisi perut penuh setelah makan siang, serta hati riang mengetahui bahwa perjalanan kita hampir usai, jarak 5 kilometer pun serasa hanya 100 meter. Hihihi …


Sesampai di Pantai Teluk Awur, para peserta berfoto satu per satu dengan latar belakang ‘wall of fame’, dokumentasi itu penting, kisanak! LOL. Setelah foto, kita menuju lokasi yang telah ditentukan oleh panitia dimana kita akan mendirikan tenda. Namun, ternyata tidak semua peserta berencana untuk menginap di tenda disini. Sebagian besar peserta dari Demak memilih pulang langsung ke Demak, hanya Om Munir yang menginap. Itu pun beliau menginap di satu hotel yang terletak tak jauh dari pantai. Beberapa kawan dari Semarang juga memilih pulang, mungkin karena ijin yang diberikan oleh keluarga tersayang di rumah hanya satu hari, ga pakai menginap. Hehehehe …

Yang menginap pun membagi diri dalam beberapa kelompok, dimana satu kelompok terdiri dari 3 – 4 orang dan mereka akan berada di satu tenda. Kita pun mulai memasang tenda. Sayang tidak semua tenda dalam kondisi bagus. L Itu sebabnya Ranz dan Hesti yang jagoan masang tenda gagal mulu waktu memasang tenda yang akan kita inapi bersama. Setelah dicek sama yang menyewakan, ternyata tendanya rusak. Kekekekekeke …

Setelah berhasil membangun tenda yang akan kita pakai bersama, aku dan Ranz mandi. Kita berpikir bahwa setelah mandi, kita akan terlihat lebih segar sehingga bisa berfoto-foto dengan latar belakang sunset. Namun, kondisi ‘ruang bilas’ yang kurang representative (jika dibandingkan kamar mandi yang tersedia di Pulau Panjang saat kita bikecamping 2 tahun lalu) membuat mood-ku buruk. L (maklum yak, aku camper yang manja. LOL.) Usai mandi, aku dan Ranz berinisiatif membuka mmt yang kita pakai untuk alas duduk di depan tenda kita. Akhirnya ya itulah, kita malah hanya nongkrong, dan tidak berfoto-foto. Karena hanya kita yang kepikiran membawa alas duduk yang bisa kita letakkan di depan tenda, banyak kawan lain yang bergabung duduk-duduk bareng kita. Sambil ngemil bakso (ada tukang bakso yang datang) kita ramai-ramai ngobrol.

Acara ‘perayaan’ ulang tahun diadakan sekitar pukul setengah delapan malam. Dengan ‘panggung’ seadanya ada hiburan nyanyi-nyanyi sembari kita makan malam di alas duduk yang diletakkan oleh panitia di depan panggung itu. Selain inti utama acara – mendengarkan sang bintang tamu Nte Aristi berbagi kisah turingnya ke beberapa Negara tetangga – tentu ada acara menyanyi lagu selamat ulang tahun bersama, meniup lilin, memotong tumpeng, hingga menyalakan kembang api yang melesat ke udara. Oh ya, agar kian meriah, panitia juga menyalakan api unggun, padahal malam itu ga dingin-dingin amat. :D Bagi-bagi door prize juga ga ketinggalan dong yaaa.




Acara usai pukul 22.00. Saat kita siap-siap untuk tidur, gerimis turun. Duh, gagal dah keinginanku tidur di luar tenda sambil menikmati kerlap-kerlip bintang di langit. Apalagi kemudian gerimis berubah menjadi hujan yang cukup lebat. Di tenda yang kuhuni, ada 4 makhluk manis yang berlindung, aku, Ranz, Mbak Ning dan Hesti. Aku dan Hesti yang di pinggir pun basah karena fly sheet tidak mampu melindungi tenda yang kita huni bersama. L Memang seharusnya Ranz bawa tenda sendiri. Hiks …

Sementara itu aku tidak bisa tertidur nyenyak: tab yang kubawa kucharge di warung terdekat. Ada beberapa kawan yang tidur disitu sih, tapi karena hujan aku tidak bisa kesana untuk mengambil tab, terpaksa tab terhubung ke listrik semalaman.



Minggu 28 Oktober 2018 ~ hari kedua

Setelah sempat klisak-klisik sekian puluh menit, sekitar pukul empat pagi aku keluar tenda, berjalan ke warung untuk mengambil tab. Hujan berhenti sekitar tengah malam. Di luar tenda, kulihat ada beberapa kawan yang juga sudah bangun. Kembali ke tenda, Ranz yang sudah bangun memintaku menemaninya mencari lokasi untuk melakukan ritual langganan di pagi hari. :D Tapi, kita gagal menemukan tempat itu. Terpaksa Ranz harus menahannya. LOL.





Sebenarnya panitia menawarkan acara gowes Minggu pagi ke area CFD Jepara. Namun ternyata tak satu pun yang tertarik meninggalkan area camping. Kita hanya ngobrol-ngobrol sambil ngemil kerang yang disediakan panitia. Yang lain foto-foto; sebagian lain lagi main air. Pengalamanku berenang di Karimun Jawa tahun 2011 lalu membuatku enggan berenang disini: jika air laut tertelan, duh asinnyaaaaaaaaaa. LOL. Aku dan Ranz hanya berfoto-foto, selain ngobrol dengan yang lain plus ngemil kerang.

Oh ya, pagi ini aku dan Ranz nunut mandi di kamar mandi (umum) hotel terdekat. (Beberapa kawan menginap disini.) Lumayaaan, kamar mandinya lumayan representative. Harusnya kemarin sore kita juga nunut mandi disini saja yaaa. LOL.

Pukul Sembilan, usai sarapan bersama, kita packing, siap-siap kembali ke Semarang. Panitia menyediakan 2 truck. Namun karena banyak yang sudah kembali ke kota masing-masing sehari sebelumnya (Demak dan Semarang), truck lumayan kosong. Sepeda-sepeda ditata di satu truck; beberapa kawan ada yang naik disitu. Aku, Ranz, om Sugeng (Jakarta) dan om Budenk naik di truck satu lagi. Oh ya, Nte Aristi dan suaminya di truck yang kita naiki juga, tapi duduk di samping pak sopir yang sedang bekerja.

Perjalanan cukup lancar. Sang mentari pun bersinar dengan sangat cerah, yang tentu membuat warna kulit kita kian cetar nan eksotis. LOL. Sekitar pukul 12.00, kita telah sampai di jalan Raden Patah.  Setelah menurunkan sepeda-sepeda, sebagian dari kita langsung bersepeda pulang ke rumah masing-masing; sebagian yang lain mampir dulu di warung angkringan yang terkenal hidangan arem-arem yang nikmat plus susu.

Dalam perjalanan pulang, aku, Ranz dan om Sugeng mengantar Nte Aristi dan suaminya ke satu hotel yang terletak di Jalan Plampitan, tempat mereka menginap.

Sampai bertemu di kisah perjalanan Nana dan Ranz selanjutnya!
(Better rare than nothing yak! Better late than never. Ya kan? LOL.)

LG 09.00 21 November 2018
 
Untuk foto-foto lain, klik saja disini yaaa :)

4 komentar:

  1. Aq yang nemenin rans ritual pagi
    Karena aq juga melakukanya
    Wkwkwkwkwkwk

    BalasHapus
  2. Yang 4 ekor pulang gowes duluan ga di ceritain hiks jadi sedih

    BalasHapus

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.