Minggu, 29 Januari 2012

The Amazing Four-Day Bikepacking Trip (1)

Kucopy-paste dari sini.


Day 1 Juni 19, 2011

Aku dan Ranz bertemu di ujung jalan Imam Bonjol sekitar pukul setengah tujuh. Kita langsung mengayuh pedal sepeda lipat masing-masing sampai Kaligawe tempat kita akan naik bus jurusan Solo. Ranz menaiki Pockie, sepeda lipat yang konon paling setia menemaninya pergi ke kota-kota yang tersebar di pulau Jawa, aku menaiki Snow White, sepeda lipat hadiah kakakku untuk adik-adiknya di Semarang. Tak lupa aku membawa ‘perlengkapan perempuan’ (baju, toiletries, makeup) dan buku-buku dalam tas panier yang barusan kubeli seminggu sebelumnya; tas yang memang waktu kubeli kuniatkan untuk bikepacking. (Serasa menyaingi Paimo dah! Hihihi ...)

FYI, sehari sebelumnya Ranz datang ke Semarang dalam rangka menjemputku, meski malamnya dia menginap di tempat kos Elvi. Isn’t she very sweet? :)

Kita sampai di Kerten – Solo sekitar pukul 10.00. Dari sana kita langsung ke rumah Ranz yang letaknya tak jauh dari stasiun kereta Purwosari. Aku perlu menaruh barang-barangku yang entah beratnya mungkin menyaingi bobot Snow White. :) Setelah Ranz mandi, ganti baju, kita siap melanjutkan perjalanan kita: ke Palur! Aku berjanji pada seorang sobat ketika kuliah S1 dulu untuk berkunjung ke rumahnya. (Thanks to FB yang telah membuat kita terkontak kembali.)
Pemberhentian pertama: warung mie toprak. Dari beberapa alternatif yang Ranz sampaikan padaku, pilihan jatuh pada ‘mie toprak’ karena aku belum pernah dengar nama ini. (Wew, padahal setahuku selama ini aku bukan tipe orang yang suka mencoba jenis-jenis masakan baru.) Well, it tasted yummy. Kalau boleh bilang, kurasa kuahnya hampir mirip dengan rasa kuah timlo.
mie toprak
Dari ‘sarapan’ yang sangat kesiangan ini, kita lanjutkan perjalanan. Ranz bilang mungkin jaraknya sekitar 15 kilometer. Dengan perut penuh tentu aku tidak akan merasa berat untuk mengayuh pedal Snow White sejauh 15 kilometer, meski siang itu mentari bersinar cukup terik. Perjalanan menuju Palur cukup lancar, karena Ranz lumayan paham jalurnya. Yang mulai menjadi ‘masalah’ adalah mencari alamat perumahan ‘Griya Palur Asri’. Begitu banyak perumahan, tentu ga mudah bagi orang-orang sekitar itu tahu. Dan lebih tidak beruntungnya adalah jika kebetulan orang-orang yang kita tanyai adalah orang-orang yang tidak tahu tapi sok tahu. :) Walhasil, lumayan lama juga kita muter-muter karena tersesat mengikuti petunjuk yang sesat. :)
kawasan Pasar Gede Solo

masuk gerbang Kabupaten Karanganyar
Namun nampaknya yang kuasa masih berpihak kepada kita berdua. Dua kali kita dipertemukan dengan orang yang memberikan keterangan yang benar, meski kurang jelas.

di satu mini market


gayaku nyari alamat Dewi "D
Waktu menunjukkan pukul 12.45 ketika akhirnya aku memutuskan untuk mampir ke sebuah mini market: ngadem plus beli minuman dingin. :) Sembari menikmati minuman (aku) sedangkan Ranz menikmati es krim, aku kirim sms ke Dewi (akhirnya!). (Geblegnya, kenapa ga sejak tadi ya? Nampaknya juga karena kita berdua pun ingin menikmati gowes tersesat ini. Hihihi ...) Dari sms yang dikirim Dewi, akhirnya kita pun sampai di rumahnya dengan selamat sekitar pukul 13.15.

akhirnyaaaa!!!
 Ngobrol tentang zaman kuliah dulu. Ngobrol tentang teman-teman seangkatan yang terhubung di FB. Ngobrol tentang ini itu. Itu ini. Sementara aku dan Dewi heboh, Ranz duduk manis di sampingku, menikmati kudapan yang disediakan nyonya rumah. LOL.

Dewi pun menyediakan makan siang karena waktu aku sms pagi hari, waktu berangkat ke Solo, aku bilang, “Aku mungkin nyampe rumahmu agak siangan. Sediain makan siang ya? Kan aku datang dari jauh?” LOL. Namun sesampe di sana, perutku masih terasa penuh. Bukan karena mie topraknya (sudah kepake untuk gowes 15 kilometer ke Palur) melainkan karena minuman dingin yang kuserutup habis di mini market. Dan tiba-tiba bahwa minum lebih dibutuhkan dari pada makan waktu acara gowes begini pun terbukti. :)

Sekitar pukul 15.00 aku dan Ranz meninggalkan rumah Dewi. Sebenarnya masih pengen ngobrol lama, mana aku belum bertemu suami dan anak semata wayang Dewi pula, namun karena Ranz bilang dia mau ngajak aku ke tempat dia latihan XC/DH jam empat sore, aku pun pamit.

Sampai di rumah Ranz (lagi) sekitar pukul 15.50. aku sempatkan ngecharge hape sejenak yang low bat, sekitar pukul 16.05, kita berangkat lagi. Kali ini Ranz menaiki Bernard, sepeda gunungnya. Setelah menjemput Ida, teman Ranz, kita bertiga gowes ke daerah Gawok, sekitar 5 kilometer dari rumah Ranz.

nyoba dh nih ceritanya :)


nyoba dh 2

nyoba dh 3
Tanah yang memang dipersiapkan untuk latihan jumping dan lain sebagainya ini memang lumayan mengasyikkan bagiku yang belum pernah menemui daerah sejenis ini di Semarang. (Ada ga ya???) karena kelelahan semula aku ga mau mencoba, namun akhirnya aku pun mencoba trek yang disediakan. Sempat mencoba trek itu dengan menaiki Bernard, kemudian mencoba menaiki sepeda milik pak Jaka, sang pelatih, namun karena remnya kurang ‘makan’, aku kembali mencoba trek dengan menaiki Bernard. Dan aku pun membuktikan: treknya sangat adiktif! Hihihi ...


siluet! :)
 
pulang
Menjelang maghrib kita pulang. Ranz bilang sebaiknya kita segera meninggalkan tempat itu karena kalau gelap datang, banyak binatang kecil ngawur berterbangan, dan sangat mungkin akan menabrak wajah kita; kadang mata, kadang masuk hidung, bahkan Ranz pun mengalami binatang kecil sejenis hawa wereng ini masuk ke telinganya! Maklum, banyak areal persawahan di daerah Gawok.

Sesampai rumah Ranz, mandi adalah yang sangat ingin kulakukan! Maka mandilah aku, ganti baju bersih, merasa segar lagi, dan ... siap night ride!

Aku dan Ranz keluar lagi sekitar pukul 19.30. Ranz mengajakku ke ujung jalan Slamet Riyadi yang ada patung Slamet Riyadi. Sayang air mancurnya tidak menyala malam itu. Tapi tetap saja Ranz dengan penuh semangat memintaku untuk menjadi model untuk dia jepret-jepret menggunakan kamera dslrnya. J (Bener-bener serasa selebriti dah. Cuek aja dengan orang-orang di sekitar yang memandang kita berdua, terutama ke aku, sang model dadakan. Hihihi ...) Dari patung Slamet Riyadi, Ranz mengajakku ke kraton Solo yang tentu tutup karena malam hari. Tetap saja aku diminta mejeng untuk difoto. LOL.



kraton malam hari
NR berlanjut ke seorang penjual jagung bakar, terkenal dengan nama ‘jagung bakar kantor pos’ yang terletak di Jalan Honggowongso. Meski mengaku sebagai penggemar jagung, aku lupa tahun berapa aku terakhir makan jagung bakar. Bukan tipe orang yang suka keluyuran malam-malam untuk hanya sekedar makan jagung bakar. Atau karena ga ada ‘partner in crime’ ya? Hihihi ... di Semarang kalau aku CNR, ya benar-benar hanya sekedar gowes di malam hari. Paling banter mampir ke sebuah mini market untuk membeli minum. That’s all.
di tukang jualan jagung dekat Kantor Pos

Kita sampe rumah lagi sekitar pukul 22.15.

Setelah itu Ranz asyik memindahkan foto-foto ke laptop mungilnya dan upload di FB. Sementara aku mulai terserang rasa kantuk yang tak tertahankan. Maka malam itu, aku mengingkari janji pada diri sendiri untuk selalu sikat gigi terlebih dahulu sebelum tidur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar