Senin, 30 Januari 2012

Ke Banyumanik :)

Kucopy-paste dari sini

Setelah ‘berhasil menaklukkan’ Banyumeneng (ehem...) dengan menaiki si ‘orange’ (in fact not so standardized bike for XC), aku mulai berpikir untuk mencoba bike to work ke SPB yang terletak di Jalan Gombel Lama. Pertanyaan utama adalah: butuh waktu berapa lama kah aku gowes dari Pusponjolo ke Gombel Lama? Jarak yang ‘hanya’ kurang lebih 8,5 km sebenarnya tidak jauh. Kendala utamanya: ada minimal tiga ‘bukit’ yang harus kulalui: Jalan Gajahmungkur atau Siranda, Gajahmungkur lebih landai dibandingkan Siranda, tapi jalan relatif (mungkin) dua kali lebih panjang; Jalan Sultan Agung, tidak securam Siranda, namun tentu tenagaku telah terkuras tatkala menaiki Siranda; yang terakhir Jalan Teuku Umar, lebih curam dibandingkan Sultan Agung, namun jalan lebih pendek.

Itu sebab aku dengan antusias ikut rombongan b2w ke Banyumanik hari Minggu 25 Januari: untuk mengukur kemampuanku, serta berapa menit kira-kira naik ke ‘kaki bukit’ Gombel dari meeting point SMA 1 Semarang. Bukan semata-mata demi sesuap nasi yang akan disediakan oleh mas Ian, yang mengundang members b2w untuk bertandang ke rumahnya yang baru, namun lebih ke ‘ambisi’ pribadi, untuk kemudian hari mewujudkan obsesi bike to work ke SPB.

Berbeda dengan satu minggu sebelumnya, malam sebelum XC ke Banyumeneng, pukul 20.00, aku sudah mlungker di tempat tidurku yang empuk dan nyaman (meski kemudian sempat terbangun di tengah malam, karena ada sms dari yang sekarang berdomisili di Bali, setelah meninggalkan Qatar, mengabarkan sepedanya telah sampai di Bali, dan dia terkena sindrom kangen Semarang, kangen pit-pitan dengan teman-teman b2w Semarang). Malam sebelum ke Banyumanik, aku masih melek sampai pukul 22.40, menyelesaikan tulisan ‘Women in our Sinetrons’.

Pagi, sebelum berangkat, di meeting point hanya ada orang kurang lebih 12 orang, minus the girls yang katanya mau nanjak lewat Tanah Putih. Eka belum nongol. Untung ada mas Nasir, my patient savior.

Ternyata aku lupa melihat jam tatkala akhirnya rombongan meninggalkan meeting point.

Naik Siranda, aku terpaksa berhenti satu kali, ditemani mas Nasir. Tatkala dilihatnya gear kiri tidak mau kupindah sampai ke nomor 1 (seminggu sebelumnya juga terjadi seperti ini, cuma waktu itu mas Ndaru ‘memberi komando’ (setengah minta tolong sih LOL) ke Bambang RL untuk memperbaikinya). Mas Nasir ga bisa memperbaikinya, mana di tengah tanjakan lagi, hingga akhirnya dia pakai cara manual, dia sentuh dengan mesra rantai sepedaku, dipindah ke gear yang paling ringan. LOL. Setelah itu, dengan sabar dia gowes di sebelahku, sambil kadang-kadang mendorong punggungku (yang menggendong tas b2w kesayanganku) untuk mentransfer tenaga dalam. Cie ... LOL.

Sampai di atas, beristirahat di Taman Diponegoro, dengan alasan menunggu Eka dan Yoni yang sedang menyusul. (Thanks to both of you for your being late, LOL, aku kan jadi lumayan lama istirahatnya. LOL.)

Perjalanan dilanjutkan. Naik Jalan Sultan Agung, slowly but surely I did it.
Naik Jalan Teuku Umar, again, mas Nasir mentransfer tenaga dalamnya lewat sentuhan tangannya ke tas b2w yang nangkring di punggungku. LOL.

Aku jadi ingat obsesiku untuk b2w ke SPB. Nampaknya aku masih butuh latihan menaklukkan Siranda/Gajahmungkur berkali-kali sebelum akhirnya making my obsession come true.:)

Berhenti sejenak sebelum masuk ke jalan tol. Di sini rombongan dari meeting point bertemu dengan Ipoet, Maya, dan mas Ndaru. Kemudian kita naik Gombel bersama-sama, namun nyampai di puncak beda-beda. Ya maklum lah.

Jika Ipoet dan Maya mengaku berhenti 7 kali waktu menaiki tanjakan Tanah Putih, aku berhenti 5 kali waktu menaiki Gombel. Istirahat paling lama di RM Panorama. (Adinda Ipoet, jangan lupa aku minta fotonya ya entar, sebagai bukti aku naik Gombel naik sepeda. :-D) Sepanjang perjalanan naik Gombel, someone wearing white T-shirt (I don’t know his name yet) became my savior, he patiently kept encouraging me and transfering his energy to me.

Sesampai di puncak Gombel, lega, meski belum sepenuhnya, karena perjalanan ke Banyumanik masih lumayan lama.

Setelah sempat tersesat tatkala mencari alamat, rombongan akhirnya tiba di kediaman mas Ian dengan selamat. Disambut dengan dua buah tandan pisang di atas meja, wedang kacang hijau yang hangat, plus mendoan hangat yang lezat. Kita pun mulai relaks, bercanda dan tertawa-tawa. Aku sempat digodain mas Budi Seli, “Wah, sudah bisa tertawa lepas sekarang? Tadi di Gombel wajahnya ditekuk melulu.” LOL.

Hidangan utama: sate lontong.

Bambang RL terpaksa meninggalkan lokasi terlebih dahulu karena dia harus masuk kerja jam 09.00.

Aku lupa melihat jam berapa tatkala kita semua meninggalkan rumah baru mas Ian yang asri. Perjalanan pulang sangat lancar, karena tidak melewati tanjakan yang cukup berarti. Aku pun sangat menikmati turunan beberapa bukit yang sebelumnya kudaki dengan susah payah: Gombel, Teuku Umar, Sultan Agung, dan Gajahmungkur.

I arrived home at 10.20.

(Kapan b2w ke SPB? Entahlah. LOL.)

PT56 22.22 260109

Tidak ada komentar:

Posting Komentar