Rabu, 08 Oktober 2014

(Salah satu) kisah bike-to-home

Beberapa hari yang lalu sepulang dari kantor, aku mampir ke seorang pedagang Bakmi Surabaya, tak jauh dari rumah, kurang lebih 700 meter. Setelah memarkir sepeda, aku memesan satu porsi capcay goreng, dibungkus, kemudian duduk di salah satu bangku yang tersedia.
Seorang laki-laki yang nampaknya cukup berumur, menyapaku, "Sepedaannya sampai mana Mbak?" 
Kujawab, "Oh, saya dari kantor Pak," 
"Oh, ke kantor naik sepeda ya? Kantornya dimana?" tanyanya.
"Di Gombel Pak," jawabku.
"Gombel? Wah ... kuat ya nanjaknya? Atau dituntun waktu lewat tanjakan?" tanyanya lagi.
"Alhamdulillah saya kuat bersepeda nanjak ke Gombel Pak," jawabku, sambil meringis. LOL.
"Setiap hari?" kejarnya.
"Oh, tidak kok Pak. Paling tiga kali sampai empat kali seminggu. Kalo sedang ga mood, ya paling dua kali seminggu," jawabku.
"Lha kalo ga naik sepeda, naik apa ke kantor?"
"Naik sepeda motor lah Pak." 
"Lho? Punya motor toh? Kenapa juga harus bersepeda ke kantor kalo punya motor?" tanyanya heran.
"Sekalian olah raga dong Pak, plus ngirit konsumsi bensin, dan mengurangi polusi udara." jawabku geli.
Dia manggut-manggut, kemudian pergi setelah pesanannya siap. smile
GG 10.17 09/10/2014


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar