Minggu, 06 Maret 2016

Aku dan Sepedaku

Aku bukan pehobi sepeda, sebenarnya. :)

Bermula dari secara tak sengaja bergabung dengan sekelompok orang yang hobinya bersepeda, dan bersama mereka mendeklarasikan berdirinya komunitas B2W Semarang pada tanggal 26 Juni 2008, aku pun mulai bersepeda. Bukan karena hobi, melainkan hanya merupakan wujud 'tanggung jawab' ikut serta melahirkan (lebay yo ben ya? :D) komunitas pemerhati lingkungan ini. (Coba baca tulisanku di link ini, kutulis hampir 8 tahun yang lalu)

Beberapa waktu lalu seorang siswa menggodaku bahwa toko sepeda adalah surga bagiku. Aku semula ga paham, mengapa bisa begitu ya? Bagiku toko sepeda biasa-biasa saja, aku sendiri super jarang ke toko sepeda. :) Yang benar surga bagiku adalah toko buku pastinya, I can choose any book I wanna read there, jika bisa nongkrong dan membaca gratis disana. :) Apalagi jika disuguhi secangkir dua cangkir kopi dan sepiring camilan. Mimpi banget. LOL. Apalagi jika ada Abangku menemani dan bilang, "Kamu boleh milih buku yang mana aja Na, dan bawa aja ke kasir. Gue yang bayarin." LOL.


Setelah 'mendeklarasikan' komunitas B2W Semarang, sepeda yang pertama kunaiki untuk bersepeda ke tempat kerja adalah sepeda merk WINNER, sepeda gunung seangkatan dengan sepeda federal yang booming di awal dekade sembilanpuluhan. Itu sepeda pemberian kakakku di tahun 1992. Kemudian Orenj, sepeda gunung, a loving suprise dari teman-teman B2W Semarang angkatan pertama diberikan padaku di akhir bulan November 2008. Waktu itu aku memang sedang kepingin beli sepeda baru, karena sepeda Winner yang ada kurang memadai jika dipakai ngikut cross country teman-teman. Pucuk dicinta ulam tiba, aku diberi sepeda merk wimcycle roadchamp itu. :)

penampilan Orenj, waktu masih gres, tahun 2008 :)

Setelah itu, sudah. Ga kepikiran beli sepeda lain lagi. Orenj adalah anugerah bagiku. Aku bisa bike to work dengan nyaman, juga bisa ikutan ngoffroad, gobar, dll.

Pertengahan tahun 2011, aku mulai 'bereksperimen': mbolang ke luar kota naik sepeda lipat, so pulangnya bisa tinggal kita lipat dan loading naik bus, untuk menghemat waktu. Dan ... ternyata aku merasa tak sanggup untuk menghentikan panggilan jiwa ini. :p lebay lagi ... xixixixi ... Itu sebab di bulan September 2011 aku membeli Austin, sepeda lipat downtube nova. Waktu itu, kebetulan bujetku ya seharga downtube nova, dengan kualitas yang tidak jelek-jelek amat. :) Austin lah sepeda yang pertama kali kubeli, dengan uangku sendiri. (Eh, kakakku nambahin 500 ribu rupiah. Dia ternyata mendukung aku mbolang antar kota antar propinsi dan antar pulau naik sepeda. :) )

Austin

Lengkap sudah sepeda yang kumiliki, satu buah sepeda gunung untuk beraktifitas sehari-hari, dan satu sepeda lipat untuk mbolang.

Aku 'tergerak' untuk upgrade Austin agar lebih supportive di tanjakan di awal tahun 2014, setelah dikompori seorang teman. Sepeda lipat downtube nova memang telah dirancang sedemikian rupa sehingga telah siap untuk diupgrade. :) aku 'termakan' komporannya karena waktu ngikut J150K, aku sempat keteteran, setelah kuganti ban Austin yang asli. :(

Setelah itu?

Tak peduli orang ngomporin beli ini itu, upgrade sepeda itu ini, Orenj dan Austin ya tetaplah sama. Sempat sih kepikiran upgrade Orenj, tapi ya berhenti di batas 'kepikiran'. hohohoho ... karena aku bukan orang yang mudah diprovokasi. Mau dibakar beli sepeda yang begini begitu, aku tetap cuek saja. Eh, pernah juga sih kepikiran untuk beli sepeda gunung dengan kualitas yang lebih ketimbang yang dimiliki Orenj, tapi ya gitu deh, berhenti di batas 'kepikiran'. LOL. Keinginan ini mendadak tertutup rapi di balik lapisan-lapisan keinginan yang lain semenjak Ranz meminjamiku Cleopatra, sejak tahun 2014. Semenjak Ranz menaiki Cleopatra ke Semarang untuk kunaiki di event seleksi calon Srikandi tahun 2014. Ternyata setelah itu sampai tahun ini, Cleopatra masih ngendon di Semarang, belum balik ke Solo. :) In fact, Cleopatra jauh lebih sering digunakan jika berada di Semarang, ketimbang di Solo, mengingat Ranz terlalu sayang jika sering digunakan, Cleopatra bakal mengalami degradasi. LOL.

Cleopatra

Btw, busway, Ranz malah jauh lebih gila sepeda, meski dia bilang sepedaan bukanlah hobinya. Berapa buah sepeda yang ada di rumahnya? Jean Grey, sepeda mini, adalah sepeda yang dia pakai sehari-hari untuk beraktifitas. Pockie dan Shaun, dua sepeda lipat yang dia naiki gantian ketika kita mbolang. Pockie jika kita mbolang jauh, Shaun, jika kita mbolang hanya di kitaran Jawa Tengah + DIY. Selain tiga sepeda itu, dia masih punya sepeda fixie yang dia namai Karen. Kemudian juga ada sepeda federal yang aku lupa namanya. LOL. Satu bmx yang biasa dia naiki, Haro, berada di Semarang.  2 sepeda lain sudah berpindah tangan. :) udah gitu, kadang dia masih sok merengek ke aku pingin beli sepeda minivelo, dan sepeda-sepeda jenis lain lagi. yang aku sering ga paham, buat apa? :D


Well, berapa sepeda yang kau miliki kawans? :)

LG 14.08 07/03/2016

2 komentar:

  1. Wahhh banyak juga mbak. Aku cuma punya satu Monarch 1 hahahahhaha. Ternayta B2W semarang lebih tua setahun dari B2W Jogja yg didirikan 29 Feb 2007 :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya yah, alhamdulillah ... aku harus mensyukuri nikmat yang kumiliki ini :)

      Btw, postingan ini kutulis karena aku 'gatal' melihat seorang teman yang entah mengapa semenjak nyepeda dua tahun lalu, hobinya koleksi sepeda. (Kenapa juga aku 'gatal' ya? kurang kerjaan amat. hahahaha ...) Gatalnya karena kemudian dia ngomporin teman-teman lain untuk ikutan koleksi sepeda. Kalo ga ngomporin untuk beli sepeda baru, ya beli spareparts baru untuk upgrade sepeda. Lha dia duitnya banyak, teman-teman yang lain kan belum tentu.

      Pertanyaan pada diriku sendiri lagi, kenapa juga aku harus peduli ya? hahahahahaha ...

      Hapus