Selasa, 25 April 2017

TdP8 : a series of dramas we’ve got to go through (Day 1)

Berbekal pengalaman mengikuti tour de Pangandaran ketujuh tahun 2016, semuanya berjalan lancar, tahun ini aku dan Ranz berminat untuk ikut lagi. kebetulan para gadis pelor lain (Semarang velo girls) mengutarakan keinginan mereka untuk ikut juga – mencari pengalaman mengikuti event di propinsi sebelah – jadilah kita berenam mendaftarkan diri untuk ikut tour de Pangandaran kedelapan yang diselenggarakan pada hari Sabtu 22 April 2017.

Bahwasanya akan terjadi drama demi drama yang mengguncangkan jagad bumi kita berenam (lebay mode on) tentulah ada di luar kuasa kita.

Jumat 21 April 2017 – hari pertama

Untuk mengirit biaya transportasi, kita setuju untuk naik KA Pasundan yang meninggalkan stasiun Purwosari – Solo pukul 13.05. untuk ini, kita berangkat ke Solo dengan naik KA Kalijaga yang meninggalkan stasiun Poncol pukul 09.00.

Kebijakan pihak KAI yang berlaku semenjak awal April 2017 bahwa KA Kalijaga tak lagi sampai Stasiun Purwosari – pemberhentian terakhir di Stasiun Balapan – merupakan ‘cobaan’ pertama. Ini berarti, kita tak bisa ongkang-ongkang kaki, setelah turun dari KA Kalijaga, kita harus ‘unfold’ sepeda kita, kemudian menaikinya menuju stasiun Purwosari. Meski tidak terlalu jauh jarak kedua stasiun ini, namun, tetaplah, kita harus mau lebih repot. -_-

Pagi yang cerah. Hati kita berempat bungah. Avitt, Dwi, dan Tami telah sampai di stasiun Poncol dan melipat Minul, Oddie, dan Pockie, ketika aku tiba disana. Ranz menunggu kita di Solo, sedangkan Hesti harus menyelesaikan tugas negaranya terlebih dahulu pagi itu, sehingga tidak bisa berangkat bareng kita. Dia akan menyusul kita, naik bus Budiman bersama Pak Suryadi Selimania Jumat sore.

dalam gerbong KA Kalijaga

KA Kalijaga meninggalkan stasiun Poncol tepat pukul 09.00, sesuai rencana. (mundur 15 menit, semenjak kebijakan baru diturunkan awal April ini.) Namun, belum lama berselang setelah melewati stasiun Tawang, kereta api mendadak berhenti. Kita baru saja melewati daerah Kaligawe kalau tidak salah. Setelah KA berhenti, lewat jendela kita melihat banyak orang berlari-lari, kemudian berjongkok, seolah ingin melihat ada apa di kolong gerbong kereta.

Banyak penumpang dari gerbong tempat kita duduk pun turun untuk mencaritahu. Avitt pun turun. Dari mulut ke mulut, kita mendengar kabar yang sangat tidak menyenangkan: telah ditemukan remukan sepeda motor di bawah gerbong! Rupanya, ada sebuah sepeda motor yang melintas di rel kereta tatkala KA Kalijaga yang kita naiki lewat. Remuklah motor itu! WHATTT? Kita pun shocked! L lalu kemana pengendara sepeda motor itu?

Antara ingin tahu namun ngeri, kita hanya mampu saling pandang. Kita diam-diam berharap sang pengendara sepeda motor sempat menyelematkan diri sebelum motornya tergilas kereta api.

KA Kalijaga berhenti di lokasi kejadian selama kurang lebih 30 menit. Setelah merasa shocked karena kereta yang kita naiki meremukkan sebuah sepeda motor, kita mulai merasa khawatir bakal ketinggalan KA Pasundan yang akan menuju Tasik/Bandung. Kita lebih shocked lagi waktu tahu dari berita online bahwa ada 3 korban meninggal dunia pada peristiwa itu.

Ranz yang menunggu di Solo pun was-was. Jika kedatangan kereta kita terlalu molor, kita bakal ketinggalan KA Pasundan. Kita harus segera menyusun plan B. (1) menukar tiket kereta dengan KA yang berangkat di sore/malam hari. (2) kita harus berganti moda transportasi: bus.

Alhamdulillah, KA Kalijaga sampai di stasiun Balapan pukul 12.05, molor 20 menit dari yang tertera di tiket kereta. Segera kita membuka lipatan sepeda, keluar dari stasiun. Di luar, Ranz sudah menunggu. Kita langsung mengayuh pedal secepatnya menuju stasiun Purwosari. Pukul 12.35 kita telah melewati pemeriksaan tiket, ktp, dan barang bawaan kita di stasiun Purwosari. Alhamdulillah.

Pukul 12.55, KA Pasundan memasuki stasiun. Kita pun buru-buru memasukkan sepeda lipat dan tas pannier kita masing-masing. Hampir terlambat, karena dari pengeras suara telah terdengar “KA Pasundan bersiap meninggalkan stasiun Purwosari”, kulihat Tami baru akan mengangkat Pockie ke dalam gerbong. Aku pandang wajah Tami dari pintu gerbong sebelah, dia nampak sedikit pucat. Wew. Untunglah kita semua akhirnya bisa lega, duduk manis berlima bersama di gerbong enam.

dalam gerbong KA Pasundan

Perjalanan lancar. Alhamdulillah. Meski, kita ‘baru’ sampai di stasiun Tasikmalaya pukul 20.00, mundur 12 menit dari yang tertera di tiket kereta.

bersama Kusmawati Yazid, mengenakan kaos merah

Kebetulan stasiun Tasikmalaya terletak tidak jauh dari gedung Telkom, tempat start tour de Pangandaran. Kita bersepeda kurang dari 7 menit, kita telah sampai di titik start. Sesampai disana, kebetulan kita langsung bertemu dengan beberapa personil B2W Pusat, misal : Om Poetoet, Nte Ria, Om Sugeng, dan Mbah Tekad, sang pencetus ide mendirikan ‘wadah’ Bike to Work untuk memasyarakatkan gerakan bersepeda ke kantor. Selain mereka, kita juga bertemu dengan om Aryo dari B2W Lampung, selain om Wahyu, contact person pendaftaran TdP8 dan om Eka, dari B2W Tasikmalaya.

Malam itu, mengikuti keinginan anak-anak untuk ‘ngemper’, demi mengirit uang, kita berencana untuk menginap di plasa Telkom, atau musholla terdekat. Alhamdulillah, mendadak nte Ria menawari kita 3 kamar di hotel Abadi, kurang lebih 1 kilometer dari gedung Telkom. Rejeki anak-anak yang hobi bersepeda. Hihihi ...

Malam itu, kita menikmati hidangan yang disediakan oleh panitia. Nasi tutug oncom, singkong rebus, dll. Lumayan. Bisa mengirit uang buat makan malam. J

Sebelum pulang, Om Poetoet mengenalkan kita pada seorang pembalap perempuan, Kusmawati Yazid yang asli Pangandaran. Tami yang ternyata telah ‘berteman’ di sosmed sekian tahun baru ngeh bahwa si pembalap ini tubuhnya sama mungil dengan kita. Hihihi ... (Jadi ingat kata seorang kawan sosmed yang pernah bertemu denganku. Dia bilang, “Ya ampuuun, ternyata kamu mungil ya? Kalo melihat ukuran tubuhmu, tentu orang ga akan mengira kamu bakal kuat bersepeda melintasi Pulau Bali sampai Lombok.” Hohoho ...)

Pukul 21.30 kita meninggalkan gedung Telkom menuju hotel Abadi, yang ternyata tempat Ranz menginap di event Srikandi tahun 2012.

Sementara itu ... Hesti mulai meninggalkan kota Semarang sekitar pukul 18.00. Menurut prakiraan, dia baru akan sampai di Tasikmalaya jelang Subuh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar