Selasa, 25 April 2017

TdP8 : a series of dramas we've got to go through (Day 2)

Sabtu 22 April 2017 ~ hari kedua

Aku terbangun sebelum pukul 04.00. aku membuka WA dan mendapati kabar dari Hesti. Di bus dia bertemu dengan Om Rusli dari Magelang. Kebetulan om Rusli juga akan menuju hotel Abadi. Lega mendengar kabar itu. Akan tetapi, tak lama kemudian, sekitar pukul 04.30, Hesti mengirim kabar bahwa busnya terhenti di pertengahan antara Majenang – Wanareja selama 2 jam karena ada trailer terguling di depan. Wedew. รจ drama pertama di hari kedua! Akhirnya, pak Suryadi memutuskan untuk turun dari bus dan mulai bersepeda menuju Banjar. Haduwww, padahal trek disitu full rolling, didominasi tanjakan.
 
sarapan : nasgor rasa manis :p
Pukul enam pagi, kita berlima telah siap. Di lantai bawah kita lihat para penghuni hotel lain – yang kebanyakan juga peserta TdP8 – telah menikmati sarapan. Kita pun turun dan sarapan. Saat sarapan ini, om Chandra dari Federal Tangerang nyamperin dan menyapa. Oh, rupanya kita menginap di hotel yang sama J

Pukul 06.30 kita meninggalkan hotel Abadi, menuju titik start, tak jauh dari alun-alun Tasikmalaya.

di depan hotel Abadi
penampakan hotel Abadi

Seperti bisa diperkirakan, ribuan peserta tumplek blek disitu. Kita bahkan tidak sempat menuju gedung telkom untuk berfoto di ‘wall of fame’ dengan mengenakan jersey resmi TdP8 yang berwarna hijau ngejreng. Namun, kita sempat berfoto (lagi) dengan si pembalap perempuan yang ramah, Kusuma Yazid, yang penampilannya jauh dari kata garang, meski dia saat itu mengenakan jersey resmi keluaran polygon. J kita juga bertemu dengan Hendrit, dari B2W Batang, sweeper kita waktu kita bersepeda dari Batang ke Pemalang, dalam event Tour de Cirebon bulan Desember lalu.  

bersama nte Lies (sebelah Ranz), "reunian" Gowes Kartini 2016 nih :)

bersama Kusmawati Yazid, sang pembalap :)

Pukul 08.00 ‘pasukan’ TdP8 diberangkatkan. Di barisan depan, di belakang voojrider nampak Ridwan Kamil, walikota Bandung yang ‘terkenal’ suka membully para jomblo. (Emang enak dibully? LOL.) bisa dibayangkan betapa tersendatnya ribuan peserta mengayuh pedal mereka masing-masing.

Sementara itu, atas saran Ranz, Hesti dkk ga perlu menuju Tasikmalaya. Mereka cukup bersepeda hingga Banjar, dan menunggu kita sampai sana, dan kita bisa bergabung.








Perjalanan lancar hingga kita masuk perbatasan Tasikmalaya – Banjar, dimana banyak orang berhenti untuk berfoto, sebagai bukti kita sampai disana. Aku dan rombongan pun mulai clingak clinguk mencari Hesti. Sayangnya Hesti tak bisa kita hubungi saat itu. Hesti yang mengaku ketinggalan charger hp, tentu harus bisa secara bijak mengirit batere hape agar tetap bisa terhubung dengan kita di saat-saat genting.

Setelah menunggu selama kurang lebih 10 menit tak ada kabar dari Hesti, kita melanjutkan perjalanan, meninggalkan gapura selamat datang di kota Banjar. 

Drama kedua di hari kedua terjadi saat kita sampai di tanjakan yang mengagetkan – Tepung Kanjut. Well, sebenarnya tidak terlalu mengagetkan, beberapa ratus meter sebelum sampai, kita mulai melihat banyak pesepeda yang mendadak menghentikan mobil pickup untuk evak, menandakan di depan akan ada tanjakan yang dihindari oleh banyak peserta.

Beberapa meter sebelum mulai tanjakan ada dua – tiga panitia yang mengibar-ngibarkan bendera sembari memperingatkan agar para peserta hati-hati karena ada tanjakan yang cukup curam, setelah kita dimanjakan dengan trek turunan puluhan kilometer. Saat memindah gear ke gear yang lebih rendah.

Ranz mencoba mengecek apa yang terjadi

Mendadak di depanku kulihat Dwi terjatuh, tepat di jalan yang miringnya mungkin mencapai 60 derajat di sisi kiri. Dia terguling ke kiri, jatuh bersama Oddie; ‘untungnya’ langsung disamperin salah satu panitia yang tadi mengibarkan bendera. Aku langsung panik. Tanjakan itu tidak seberapa curam ketimbang tanjakan menuju Sekaran, Dwi telah lolos nanjak Sekaran dengan naik Oddie! So? What is the problem?

Aku pun langsung meminggirkan Austin. Yang lain – Ranz, Tami, dan Avitt – pun melakukan hal yang sama. Dwi menjelaskan bahwa di saat genting, di tanjakan yang curam itu, mendadak pedal Oddie berhenti berputar. Dwi yang tidak bisa mengantisipasi keadaan, langsung kehilangan keseimbangan, mana di sisi kiri sepedanya kemiringannya cukup ‘killing’.

Seperti biasa, Ranz langsung mencoba mencari penyebab pedal Oddie mendadak tak mau berputar. Mungkin sekitar 20 menit. Ada om Sugeng dari B2W pusat yang ikut berhenti dan mengamati Ranz yang mencoba memperbaiki Oddie. Ketika akhirnya pedal Oddie bisa berputar lagi, kita pun melanjutkan perjalanan. Tanjakan Tepung Kanjut masih berlanjut.

Aku terus mengayuh pedal Austin melewati tanjakan hingga sampai di lokasi yang cukup datar. Ketika kulihat di belakangku tidak ada penampakan Ranz, Tami, Avitt, dan Dwi, aku pun berhenti, menyiapkan Andro, untuk memotret mereka melewati tanjakan. Kutunggu hingga lebih dari 7 menit, hanya kulihat Hendrit yang menyusul. Aku pun meninggalkan Austin di pinggir jalan, aku berjalan kembali ke arah tanjakan, tetap mempersiapkan diri untuk memotret mereka. Setelah melewati tikungan, mereka tetap tidak terlihat. Khawatir atas apa yang telah terjadi (lagi), aku pun memutuskan mengambil Austin, dan turun untuk mengecek.

Ternyata pedal Oddie tetap tidak mau berputar. Saat itu ada satu peserta lain yang mencoba membantu mencari permasalahan. Hingga akhirnya Ranz menyadari bahwa pelindung ‘crank’ yang patah telah menjadi penyebab utama pedal Oddie tidak mau berputar. Hadeeehhh ... kita sempat mengira kerusakan di bagian sproket atau RD, atau BB, ternyata oh ternyata ... Maka, pelindung crank itu pun dilepas.

Tak diduga ... saat itulah kita melihat penampakan Hesti dan 2 pengawalnya. J Mereka “sempat” menunggu pasukan TdP8 di jalan yang tak dilalui peserta TdP8, makanya mereka tak melihat penampakan peserta satu pun. Setelah, kita memberi tahu Hesti lokasi kita (melalui aplikasi ‘share location’ di WA), Hesti beserta Pak Suryadi dan Om Rusli pun menuju jalur yang dilewati peserta TdP8.

Setelah pak Sur ‘menyerahkan’ Hesti kepada kita, dia pun langsung ngacir.




Barangkali kita telah melewatkan hampir 1 jam untuk membenahi Oddie. Tak apalah. Yang penting, kita berenam telah bergabung kembali. Hesti yang kepayahan, meminta kita mampir untuk membeli minuman. Waktu menunjukkan pukul kurang lebih jam 12.00. Hmmm ... kita baru menempuh jarak sekitar 40 km. Padahal tahun lalu aku dan Ranz sampai di Toserba Samudra – tempat makan siang – pukul 11.30. Masih ada jarak sekitar 25 km menuju Toserba Samudra. Hhhhhh ...

Setelah menemani Hesti dan Avitt minum segelas es teh (yang tidak berasa tehnya) dan satu porsi es kelapa muda, kita melanjutkan perjalanan. Namun, kembali kita harus mengalami drama ketiga : ban belakang Pockie bocor! Untuk meyakinkan apakah ban bocor atau hanya sekedar gembos, kita pinjam pompa kepada seorang peserta TdP8 yang kebetulan berada di warung terdekat. Setelah dikayuh beberapa ratus meter, ban kembali gembos, kita pun yakin bahwa ban belakang Pockie bocor.

Untung tidak sulit bagi kita untuk menemukan tambal ban.

Kita merasa bahwa kita adalah peserta yang paling belakang. L Tidak mengapa, meski tertatih-tatih, kita yakin bahwa kita akan mampu mencapai titik finish TdP8. Akan tetapi ternyata pedal Oddie masih sering kumat, mendadak tak mau dikayuh. Begitu terus berulang kali. Drama selanjutnya adalah Hesti terlihat tak lagi mampu mengayuh pedal Rockie secepat yang lain. Dia kelelahan. Tak bisa beristirahat dengan penuh semalam, kemudian harus gowes dari pertengahan Majenang – Wanareja menuju Banjar, dia tak bisa menunjukkan performa aslinya. L Ranz pun menawarkan untuk bertukar sepeda: Ranz naik Rockie, Hesti naik Astro.

(Intermezzo: dalam event ini, seperti biasa, aku naik Austin, downtube nova 20”; Avitt tetap setia mengajak Minul, urbano 16”; Dwi naik Oddie, foldx 20; Tami naik Pockie, pocket rocket 20” (dia naik Pockie karena Sunkis bakal lelet di trek yang penuh turunan); Hesti naik Rockie; police 20”; sedangkan Ranz naik sepeda lipat terbarunya, urbano 20” yang dia (akhirnya) beri nama Astro. Berpikir bahwa Astro akan lebih ringan dikayuh, ketimbang Rockie, Ranz mengajak Hesti tukeran sepeda.)

Kata Hesti, Astro memang lebih ringan dikayuh ketimbang Rockie. Namun, tetap Hesti tak bisa menunjukkan performa aslinya. L Demi mengirit waktu – khawatir ga bakal kebagian makan siang karena sampai di pitstop Toserba Samudra melebihi batas waktu – Ranz pun terus mendampingi Hesti untuk mendorongnya. FYI, tas pannier Ranz cukup berat, mungkin lebih dari 10 kg. (isinya selain baju, ada sleeping bag, laptop, tools, air mineral, dll.) Sementara itu, Dwi pun direpotkan oleh pedal Oddie yang setiap sekian puluh kilometer kumat tidak mau muter. L Sungguh drama-drama  yang tak kunjung berhenti. L


Pukul 13.35 kita sampai juga di Toserba Samudra. Disana kita lihat ada satu truk evak. Kita pun memutuskan untuk evak bersama. (1) Kita tidak tahu apakah Oddie akan bisa terus menerus dipaksa dikayuh hingga Pangandaran. Jika akhirnya benar-benar ngadat dan kita ketinggalan truk / pickup evak, kita bakal repot. (2) Hesti juga sudah merasa di ujung limit kemampuannya mengayuh pedal Astro maupun Rockie. Kupikir, toh tahun lalu aku dan Ranz telah berhasil menjalani jarak 107 km dengan baik, jadi tidak apa-apa lah menemani anak-anak evak. Tami yang merasa nyaman naik Pockie dan Avitt yang tidak bermasalah dengan Minul pun setuju. Kita berada di propinsi tetangga, mending kita kesampingkan ego untuk tampil ‘lebih dari yang lain’, kita lebih memilih kompak: evak!

Waktu memutuskan untuk evak, aku berharap kita akan bisa mengirit waktu, bisa sampai titik finish sekitar pukul 16.00, pokoknya kurang dari pukul lima sore lah, agar kita bisa punya waktu untuk bermain di pantai, dan memotret sunset. Namun ternyata harapan tinggal harapan. Di sepanjang perjalanan, banyak titik yang sangat penuh kendaraan, hingga jalannya truk tersendat-sendat, macet disana sini. L Kelelahan psikologis ini justru lebih ‘killing’ ketimbang kelelahan fisik. L



Pukul lima sore, truk yang membawa sepeda dan mobil pickup yang membawa sebagian peserta berhenti di satu tempat, dekat sebuah masjid. Aku yakin, titik finish tidak jauh dari sini, mungkin sekitar 2 km lagi. Kupikir kita memang diturunkan disitu, karena kita diberi kesempatan untuk gowes, toh titik finish tak jauh lagi. Namun ternyata aku salah. L mereka berhenti untuk memberi kesempatan sopir (dan mungkin juga peserta) untuk shalat ashar. Hhhhh ... Untunglah ada ‘sedikit hiburan’ waktu itu. Saat bengong menunggu, kita melihat penampakan Zen Shinoda (entah nama sebenarnya siapa. LOL.) Zen adalah seorang kawan dari Semarang yang telah pindah ke Bandung semenjak beberapa bulan lalu. Kita pun ngobrol ramai, tak lupa foto-foto selfi, tuk menghibur diri. LOL.

Kita semua akhirnya sampai titik finish sebelum suasana benar-benar gelap. Kita masih sempat berfoto di “wall of certificate of completion”, setelah ngantri.


Setelah itu, mengumpulkan kupon door prize, mengambil jatah makan malam, dan menemui seseorang yang menawarkan penginapan. Kita telah memesan penginapan di sekitar situ, mungkin kurang lebih 1 km dari titik finish. Seluruh tubuh mulai terasa gatal, pingin segera mandi, ganti baju, dan membaringkan tubuh. Setelah melalui serangkaian drama, menginginkan minuman es teh yang nikmat namun tidak kita dapati, yaaa ... minimal segera sampai penginapan lah.

Pukul 19.00 akhirnya kita sampai di penginapan. Kita memesan dua buah kamar non ac untuk kita berenam. Kita dijemput oleh om Acuy yang kita kenal lewat grup WA TdP8. Dia meminta dua orang yang naik motor untuk membawa kita ke penginapan. Setelah sampai sana, kita diantar ke kamar no. 20, sambil diberitahu bahwa kamar yang kita dapatkan yaitu kamar no. 20 dan kamar no. 27. Kamar no. 20 di lakitantai 1, kamar no. 27 di lantai 2. Kita sempat meminta untuk ganti kamar, agar kita tidak berjauhan, namun katanya semua kamar fully-booked. Ya sudah. Kita mengalah.

Namun, setelah masuk ke kamar no. 20, kita baru ‘ngeh’ ternyata yang dimaksud ‘kamar’ ini berupa rumah kecil, berisi satu ruang tamu, dua kamar tidur, dan satu kamar mandi. Plus, kamar tidurnya ber-ac. Wahhh ... mungkin ini adalah ‘hiburan’ dari semesta setelah serangkaian cobaan eh, drama yang kita hadapi? Ranz sempat menelpon om Acuy untuk membatalkan kamar no. 27 karena ternyata kita cukup menyewa satu kamar saja. Namun, kita tidak diperkenankan membatalkan perjanjian. Ya sudahlah.

Penginapan itu penuh. Mungkin seluruh kamarnya terisi para peserta tour de Pangandaran karena sepeda ada dimana-mana, meski hanya kita yang membawa sepeda lipat. J


Lebih dari pukul 20.00 kita kembali ke titik finish, mengikuti acara pembagian door prize. Saat itu hujan sempat turun. Hujan tinggal gerimis ketika kita mulai mengayuh pedal menuju lokasi pembagian door prize. Malam itu, alhamdulillah Avitt mendapatkan door prize berupa seperangkat alat shalat, eh, seperangkat kamera cctv. Great! J


Pukul 23.00 kita kembali ke penginapan. Capeeeeeeeeeeeee. 

2 komentar:

  1. Hebat..dua jempol buat kekompakannya. Bener-bener "you never ride alone".

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih telah mampir, dan meninggalkan jejak :)

      Hapus