Selasa, 25 April 2017

TdP8 : a series of dramas we've got to go through (Day 3)

Minggu 23 April 2017 ~ hari ketiga

Aku mengajak anak-anak untuk berburu sunrise pagi ini. Sekitar pukul 05.00, semua memulai aktifitas – ke toilet – dll. Sayangnya Avitt memilih untuk melanjutkan mlungker di tempat tidur. Sekitar pukul 05.20 kita meninggalkan penginapan menuju pantai Timur.


Kita cukup beruntung mendapatkan sunrise, karena tak lama setelah kita sempat mengabadikan beberapa jepretan matahari terbit, sang matahari kembali tertutup awan. Sekitar pukul 06.30 kita menuju cagar alam Pangandaran, tak jauh dari tempat kita berburu sunrise. Hesti sempat menelpon Avitt untuk menanyakan apakah dia ingin bergabung. Namun karena Avitt tidak menjawat telpon, kita menyimpulkan bahwa Avitt masih tidur, kita pun masuk cagar alam tanpa menjemputnya terlebih dahulu.

Tiket masuk lumayan mahal, menurutku. Per orang kita harus membayar Rp. 20.000,00. (Bandingkan dengan Taman nasional Baluran yang begitu luas hanya Rp. 15.000,00.) tapi, well, namanya juga keinginan, tentu mahal harganya. Aku penasaran ingin masuk ke dalamnya.



Di dalam ada beberapa jenis binatang. Minimal yang kita temui adalah monyet dan rusa. Meski nampak penasaran dengan kita, monyet-monyet itu tidak melakukan tindakan yang ‘anarkis’; misal mendadak mengambil kacamata yang kupakai atau apa lah. J Kita lumayan kecewa ketika kita akan masuk ke satu goa, disana ada ‘petugas’ yang menjaga, yang dengan sigap ‘memohon’ kita – bagaimana pun cara yang mereka gunakan – untuk memasukkan uang ke dalam kotak yang telah mereka sediakan. Di satu goa – konon namanya ‘parkat’ alias ‘keramat’, ada ‘petugas’ yang setengah memaksa kita masuk dengan menyewakan lampu batere seharga Rp. 10.000,00, sambil akan menjadi guide kita jalan memasuki goa yang gelap itu. Di balik goa, kita akan sampai di pantai berpasir putih.

Anak-anak kesal dengan ‘palakan’ dengan cara halus itu. Mereka menolak. Kita terus berjalan ke dalam, hingga kita pun sampai di balik goa keramat tersebut, sempat berfoto-foto di pantai berpasir putihnya. Padahal ya ga jauh-jauh amat lho. Hadeeehhh ...

Penjelajahan kita sampai di titik ujung, di satu ‘situs’ yang disebut ‘Rengganis’ (aku ga begitu hafal kisah yang konon diambil untuk memberi nama ‘rengganis’) Air yang ada disitu konon bisa membuat mereka yang mencuci wajahnya dengan air yang ada nampak awet muda. Tak lupa, tak jauh dari situ, ada satu kotak untuk mengisi uang.

Dari sana, kita langsung berjalan ke arah keluar cagar alam. Setelah mengambil sepeda lipat, kita kembali ke penginapan. Saatnya kita mandi, packing, dan siap2 meninggalkan penginapan.


Sekitar pukul 10.30 kita meninggalkan penginapan. Yang pertama kali kita tuju adalah titik finish. Untunglah ‘wall of certificate of completion’ masih ada. Kita masih diberi kesempatan untuk berfoto –ria, tanpa perlu ngantri. J Yippeee ...



Kita juga menyempatkan diri foto-foto di pinggir pantai. Kita bertemu dengan rombongan dari Batam, plus rombongan om Aryo dari Lampung, beserta om Julius dan om Rudy dari B2W Pusat. Kita sempat foto-foto bareng mereka.



Sekitar pukul 12.30 meninggalkan pantai pangandaran, setelah having brunch. Kita menuju terminal bus yang terletak di sebelah kiri dari pintu gapura keluar pantai. Untunglah waktu itu ada satu bus menuju Tasikmalaya yang masih ngetem. Setelah sepakat dengan biaya yang harus kita bayar –  Rp. 80.000,00 untuk satu orang plus satu seli – kita dibantu oleh sang kondektur untuk menaikkan sepeda dan tas pannier kita.

Sekitar pukul 13.20 bus yang kita naiki meninggalkan terminal. Perjalanan yang panjang namun lancar memakan waktu hampir empat setengah jam. Capeee. Memasuki kota Tasikmalaya ternyata Tasik sedang diguyur hujan yang sangat deras. Wahhh ... gagallah keinginan kita untuk berfoto-foto dulu di alun-alun dll sebelum menuju stasiun. Untunglah, kondektur bus berbaik hati mengantar kita langsung ke stasiun, hingga kita tidak sangat basah kuyup.

Malam itu kita sempat makan malam nasi goreng dan bakmi rebus, membeli dari seorang penjual yang lewat. Syukurlah perut kita cukup kenyang sebelum masuk stasiun.

Kereta kita meninggalkan stasiun Tasikmalaya pukul 21.05, sesuai waktu yang tertera di tiket. Gerbong yang kita naiki super penuh. Kita berenam terbagi di tiga lokasi. Aku berdua Ranz di kursi nomor 3 A dan 3 B. Dua perempuan paruh baya yang menempatinya telah memenuhi ‘space’ yang ada dengan barang-barang mereka. L Kelelahan secara psikologis kian parah ini nampaknya. L L

Kereta Kahuripan yang kita naiki sampai di stasiun Purwosari – Solo pukul 03.41. kita harus memasang sepeda lagi, mengayuh pedal lagi ke arah stasiun Balapan (hadeeehhh ...). kita berlima masih harus melanjutkan perjalanan, sementara Ranz tinggal mengayuh pedal Astro kembali ke rumahnya.

KA Kalijaga meninggalkan stasiun Balapan pukul 05.20. alhamdulillah tempat duduk kita lumayan nyaman, ga dipenuhi barang orang lain. :D Perjalanan lancar, kita sampai stasiun Poncol sekitar pukul 08.15.

WE NEED TO SLEEP FOR LONG HOURS!!! LOL. Now that all dramas were over ...


LG 16.09 25/04/2017

3 komentar:

  1. Halo,mbak Nana bagaimana gowes ke Taman Nasional Baluran tadi? Aku mau juga gowes ke sana ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. baca tulisanku disini yaaa

      http://mybikingdiary.blogspot.co.id/2015/05/bikepacking-ke-taman-nasional-baluran.html

      Hapus
  2. Halo,mbak Nana bagaimana gowes ke Taman Nasional Baluran tadi? Aku mau juga gowes ke sana .... dan berbagi pengalaman.....

    BalasHapus