Rabu, 11 Oktober 2017

SEGOWANGI 44

SEGOWANGI 44

Penyelenggaraan segowangi di bulan September 2017 adalah penyelenggaraan yang ke-44, sejak Februari 2014. Personally, I have been deeply indebted to some people around me who have been very loyal in accompanying and supporting me to hold this monthly event: the girls in Semarang Velo Girls, especially Ranz and Tami.

Untuk bulan September tahun ini, tema yang kupilih adalah SHARE THE ROAD karena aku ingin lebih memasyarakatkan Undang Undang no 22 tahun 2009, terutama pasal 106 ayat 2 yang berbunyi kendaraan bermotor wajib mengutamakan keselamatan pejalan kaki dan pesepeda. Undang undang ini dibuat 8 tahun yang lalu, namun belum tentu seluruh lapisan masyarakat mengetahuinya, terbukti dari cara pengguna jalan memperlakukan para pejalan kaki dan pesepeda yang masih menganggap mereka hanya dengan sebelah mata. J

29 September 2017

Sepanjang hari Jumat itu, matahari bersinar sangat garang, hawa di kota Semarang cukup mudah membuat orang emosional gegara panas yang menyengat. Padahal beberapa hari sebelum itu, kota Semarang sering tertutup awan mendung. Kupikir hawa panas ini akan terus berjalan hingga malam hari. Namun ternyata aku salah. Sore hari, menjelang pukul lima sore, titik-titik gerimis mulai menghiasi jalan-jalan di kota Semarang secara merata. Menjelang pukul enam sore, beberapa kawan mulai menulis status tentang hujan di akun sosial media mereka masing-masing. Duh.




Menjelang puku setengah tujuh, Hesti mengirimiku WA, memintaku untuk menghampirinya sebelum berangkat ke Balaikota, untuk membantunya membawakan arem-arem yang akan dia bawa ke Balaikota. Tumben deh ya. Saat mau ninggalin kos Ranz, Avitt datang, menjemput Monel yang dititipkan di kos sejak 7amselinas karena dipinjam Evie. Avitt datang bersama Hemas, naik mobil, Minul ada di dalam. Setelah mengambil Monel, Avitt buru-buru berangkat. Sementara aku on the way menuju rumah Hesti, Ranz kuminta segera menuju Balaikota saja, sehingga jika ada kawan-kawan lain yang telah datang, akan ada Ranz yang “jaga gawang.”

On the way ke rumah Hesti, telah kurasakan angin bercampur hawa hujan. Sesampai rumah Hesti, gerimis mulai menyapa. Nah lo. Ternyata Hesti mengharapkanku datang naik Austin, sehingga satu dos berisi nasi bakar (ternyata bukan arem-arem J) bisa nangkring di rak boncengan Austin, sedangkan satu dos yang lain di rak boncengan Rocky, sepeda lipat milik Hesti.

Gerimis menderas menjadi hujan. Aku memberikan ide, satu dos yang akan kubawa dimasukkan ke dalam satu tas plastik saja, akan kugantungkan di setang Orenj. On the way ke Balaikota, baik aku maupun Hesti, telah mengenakan mantel.

Sesampai di Balaikota, ternyata sudah ada lebih dari 8 orang kawan pesepeda yang berteduh di bawah gerbang, di antaranya ada om Tuhu yang datang sendirian karena setelah segowangi akan menjemput sang istri tercinta di stasiun Tawang. Juga ada Pakguru Primazan, dan satu siswanya, Hizkia yang tinggal di kawasan Tembalang. Wuiiiih. Adik satu ini memang sangat antusias jika ada undangan bersepeda. J

Dos yang kubawa segera kubuka karena ingin tahu isinya apa. Seperti yang kutulis di atas, ternyata bukan arem-arem, melainkan nasi bakar, dengan berbagai varian lauk, ada ayam, teri, tongkol, pindang, pedo, usus, ati ampela, tempe telur asin. Yang mengejutkan adalah di tiap bungkus nasi bakar, ada tulisan VOTE AVITT FOR KOMSELIS1. Hahahaha ... Avitt yang tidak tahu apa-apa tentang hal ini kulihat langsung wajahnya memucat, dengan sorot mata tidak percaya, ada seseorang yang melakukan hal tak terduga ini. LOL.

Nasi bakar kubagikan pada mereka yang telah ada di lokasi, enak langsung dimakan, mumpung masih hangat, meski kita hanya berdiri saja, di bawah gerbang keluar balaikota. Ada beberapa orang lain – pemotor yang takut kehujanan karena tidak membawa mantel – yang berteduh di tempat yang sama pun mendapatkan rejeki yang sama.

Satu jam kemudian, pukul 20.00, hujan belum juga reda. Akhirnya kita putuskan untuk pindah ke teras bangunan Balaikota. Disini kita malah bisa leluasa duduk-duduk, tanpa takut terciprat air hujan. Ada 3 orang pesepeda lain yang dari tadi duduk-duduk di teras bangunan sebelah Utara, akhirnya pindah bergabung dengan kita. Kemudian disusul kedatangan Surya dan Arif Daeng. Dilanjutkan dengan kedatangan om Soegy yang katanya dari tadi tertahan berteduh di Jalan Tendean. J setelah itu, kita justru bercengkrama, sembari menikmati nasi bakar. Masing-masing dari kita bisa menikmati lebih dari satu bungkus karena jumlahnya banyak, sedangkan kita hanya sedikit. J

Tak lama kemudian Dany Saputra dan Dhany Sus datang bergabung. Waaah ... rekor nih, meski hujan lebat, yang datang hampir 20 orang!

Pukul 20.30 hujan berhenti, hanya tinggal gerimis tipis. Kubayangkan masing-masing dari kita akan langsung pulang ke rumah masing-masing, toh kita telah bersepeda dari rumah ke balaikota, kemudian dari balaikota ke rumah. LOL. Namun ternyata, sebagian dari kita masih ingin tetap bersepeda, meski hanya ‘sebagai syarat’ bahwa kita bersepeda bersama di malam hari.

Akhirnya kita pun bersepeda. Dari Balaikota kita menuju Tugumuda, belok ke Jalan Pandanaran, Simpanglima, berputar ke arah Jalan Gajahmada, untuk berfoto bersama di ‘mabes Komselis’ atau mabes B2W Semarang juga sekitar 8 tahun yang lalu, setelah tergusur orang jualan. LOL.

Setelah foto-foto, kita masuk kawasan Undip, untuk kemudian belok ke jalan Erlangga. Tak kita sangka ternyata di jalan itu, banjirnya lumayan tinggi. Ketika kita mengayuh pedal, kaki otomatis masuk ke dalam air, hingga semua mengeluh sepatu basah kuyup. Beruntunglah mereka yang hanya mengenakan sendal jepit. LOL.

Meninggalkan kawasan Simpanglima, kita menuju Jalan Gajahmada. Disini, Pakguru Primazan pamitan untuk langsung pulang, Om Puji Widodo dan kedua temannya juga pamit pulang. Yang lain kembali ke arah Balaikota. Di perempatan Gajahmada – Pemuda, Tami dan Surya pamit pulang.

Hampir pukul setengah sebelas malam, aku kembali ke rumah. Oh ya, nasi bakarnya laris manis. J thanks to Avitt’s secret fans. Kita ga perlu jajan di angkringan. Hahahahah ...


LG 11.56 02/10/2017 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar