Selasa, 09 Januari 2018

Dolan Bromo dan Probolinggo - Day 1

BROMO : WE ARE COMING!

Aku sudah lupa mulai kapan aku sangat ingin berkunjung ke Bromo lagi, jika memungkinkan tentu saja dengan bersepeda. Tahun lalu seorang kawan sepeda menawari ikut satu event yang dia rencanakan, aku sangat excited waktu itu, kita diajak blusukan di daerah Jawa Timur dimana salah satunya adalah bersepeda di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru; tapi Ranz ogah-ogahan. Akhirnya sih rencana itu kabur terbawa angin alias tidak jelas mengapa tidak jadi diselenggerakan. (Kita malah bersepeda ke arah Jawa Barat, yakni Semarang – Cirebon bersama 3 gadis pelor lain, Dwi, Avitt, dan Hesti. Tami mbolos karena dia sedang mempersiapkan ujian akhir skripsi.)


Menjelang akhir tahun ini, out of the blue alias ujug-ujug Ranz bikin itinerary gowes ke Bromo. Ranz menawarkannya padaku saat Semarang diguyur hujan tiap hari. Hmmm ... betapa tidak seksinya dolan ke Bromo – mendapatkan foto sunrise yang spektakuler adalah salah satu alasan utama orang kesana – di saat musim hujan begini. Hhh ... gimana bisa mendapatkan foto sunrise kalo hujan mulu, coba? Aku memang sangat ingin bersepeda ke Bromo ... tapi tentu saja ga di tengah-tengah musim hujan lah yaaa.

Namun ternyata Ranz serius je. LOL. Meski dia sempat menanyaiku jika tidak ke Bromo, kita mau dolan kemana. Aku sudah menjabarkan sekitar 3 kemungkinan dolan lain. Dan ... ternyata Ranz bergeming!

“Kalau tidak bulan Desember ini, berarti kita mundur sampai libur semester genap nanti!” katanya, setengah putus asa. LOL.

Well ... mengingat aku juga sebenarnya sudah lama ingin ke Bromo (lagi), apalagi dengan naik sepeda, akhirnya aku ‘mengalah’. LOL. Meski sedikit mengkhawatirkan kondisi dengkul Ranz yang sebenarnya sedang harus terus menerus diterapi karena sesuatu hal, karena terapisnya sendiri melarangnya bersepeda di luar batas kemampuan dengkulnya. Meski sedang musim hujan (ada sisi positifnya sih mbolang di musim hujan, ga kepanasan! LOL.) meski akhir-akhir ini aku malas ‘latihan’ nanjak. Dan meski-meski yang lain. LOL.

23 – 24 Desember 2017

Sehari setelah kita menyelenggarakan ‘segowangi’ ke-47, aku dan Ranz menuju Solo dengan mengendarai KA Kalijaga. Waktu sarapan di warung dekat stasiun Poncol, mendadak ban belakang Austin bocor. L Akhirnya sesampai stasiun Balapan, Austin tetap dalam kondisi terlipat, kita pulang ke rumah Ranz di kawasan Laweyan dengan naik taksi online. :D

Kita turun di satu tukang tambal ban, tidak jauh dari rumah Ranz. Untunglah ban Austin hanya bocor, bukan sobek atau yang lain, jadi bisa ditambal, ga perlu ganti ban dalam.

Sekitar jam 19.00 kita meninggalkan Solo, menuju Sidoarjo. Tidak hanya kita berdua, namun bersama keluarga besar Ranz! Wih ... sangar yak yang mengantar kita banyak? LOL. Ini ide Ranz, berangkatnya kita nebeng keluarga besarnya yang memang akan menghadiri arisan keluarga besar, yang untuk itu mereka menyewa sebuah bus pariwisata. Nah ... ini satu alasan mengapa Ranz keukeuh kita mbolang ke Bromo bulan Desember 2017 รจ kita bisa (sedikit) mengirit biaya transportasi pemberangkatan. Hohoho ...

Kita sampai rumah mbak Deni – yang juga kita inapi di bulan Juli lalu sebelum bersepeda AKAP dariSidoarjo menuju Semarang – hari Minggu pagi sekitar pukul enam. (Dalam perjalanan kita mampir ke Boyolali dan Sragen untuk menjemput anggota keluarga lain, maka perjalanan Solo – Sidoarjo makan waktu cukup lama.)
Hari Minggu itu acaranya makan-makan, jalan-jalan ke Tanggulangin, dan ... bobo-bobo ayam (buatku! LOL.)

Senin 25 Desember 2017 – Day 1

Ini adalah hari pertama kita bersepeda menuju Bromo. Yuhuuu ... Di perjalanan ini, kita kembali menjodohkan Austin – downtube nova 20” yang telah menemaniku mbolang AKDP maupun AKAP sejak tahun 2013 – dengan Astro – polygon urbano 3.0 20” – yang baru dibeli Ranz di pertengahan tahun 2017. Ini adalah kali kedua mereka berpasangan. Ehem ... (yang pertama waktu kita dolan ke Wonogiri dengan naik KA Batara Kresna, pulangnya kita gowes.)

Keluarga Mbak Deni yang akan menghadiri misa Natal pagi itu belum terlihat bersiap-siap saat kita meninggalkan rumah mereka pukul 07.00. oh ya ... ini adalah kali pertama Ranz memutuskan membawa tas (pannier) saddle dalam bikepacking kita, dan bukan tas pannier yang telah menemani kita mbolang sejak tahun 2011. Alasan Ranz : Astro terlihat kurang macho jika dipasangi rak boncengan! Baiklaaaaaaaaaaah! (padahal Astro tetap saja dipasangi rak depan! Hihihi ...) Untuk ini, Ranz (untunglah telah) membeli tas saddle dengan ukuran yang lebih besar ketimbang yang dia bawa waktu bersepeda dari Sidoarjo ke Semarang. Meski alasan pertama waktu beli itu adalah in case  di masa datang kita bakal berkesempatan mbolang naik mtb lagi.

Naaah ... agar saddle Astro bisa dipasangi tas pannier itu dengan baik, posisi saddle dikembalikan seperti aslinya, yang membuat jarak handle bar dengan saddle cukup jauh. (Setelah beli, Ranz sempat memindah posisi saddle agar sedikit lebih maju, untuk mengurangi jarak antara handle bar dan saddle.) Ternyata oh ternyata ... jarak yang cukup jauh itu membuat punggung Ranz gampang pegal. Meski di awal, dia tidak menyadarinya ...


Dari Wonoayu kita bersepeda ke arah Tanggulangin. Baru 15 kilometer kita mengayuh pedal sepeda, Ranz sudah menawariku mampir di satu warung kopi ketika dia melihat deretan warung kopi. Hwah ... tumben amat yak Ranz yang menawari untuk berhenti. (Biasanya aku kudu ngerayu-ngerayu dulu untuk beristirahat. Hohoho ...)

Di warkop sederhana itu – namun dilengkapi ‘socket’ untuk ngecharga hape dan wifi – aku pesan kopi hitam tanpa gula. (duh, jika si ‘itu’ baca ini, dia bakal mikir apa yak, kok si Nana tumben amat minum kopi hitam tanpa gula. GE-ER detected. Kekekekeke ... padahal setahu dia aku biasanya – duluuu – minum cappuccino) Ranz memesan es nutri****.

gunung yang terlihat ketika kita berdiri di dekat lapangan bekas lumpur Lapindo

lapangan bekas lumpur Lapindo

Ternyata Ranz yang mendadak ‘baik’ dan ‘murah hati’ ini adalah tanda ada yang tidak beres dalam tubuhnya, dimana jarak handle bar dan saddle yang kurang pas ‘hanya’ merupakan salah satu ‘trigger’ kemampuannya menggeber sepeda berkurang.

15 menit di warkop kita rasa cukup. Kita melanjutkan perjalanan. Pemberhentian berikutnya adalah kawasan Lapindo. Beberapa kali melewati kawasan ini dengan naik KA Sritanjung di tahun 2015 (dan penasaran what it is like), baru kali ini aku mampir karena kebetulan lewat naik sepeda, plus Ranz sedang murah hati itu untuk sering-sering berhenti untuk beristirahat.


Pemberhentian berikutnya adalah alun-alun Bangil. Mumpung lewat, aku mengajak Ranz berhenti untuk memotret Austin dengan latar belakang tulisan B-A-N-G-I-L. Waktu itu ada dua orang perempuan yang katanya sedang ‘turing’ naik motor. Pagi itu mereka berangkat dari Mojokerto. Ketika tahu aku pun sedang ‘mbolang’ dengan naik sepeda (lipat), dia mengajakku foto bersama! Hihihi ...

Selanjutnya kita berhenti di satu mini market, kita butuh beli air tambahan. Tak jauh dari mini market ini, kita melewati satu rumah makan Padang, dan Ranz memilih tempat ini untuk makan siang kita. Mengingat Ranz yang (lebih) milih-milih makanan untuk dimasukkan dalam perutnya, aku setuju. Hihihi ... kita memesan satu porsi nasi dengan lauk rendang daging. Kita tidak pesan minum, aku memilih minum air mineral yang barusan kita beli di mini market.


Setelah itu kita melanjutkan perjalanan. Ranz tetap dengan ‘kecepatan’ sedang.
Biasanya dalam perjalanan aku sering memperhatikan petunjuk kilometer yang ada, untuk ‘hiburan’. LOL. Namun kali itu aku tidak melihatnya ... sehingga aku tidak bisa memperkirakan masih berapa puluh kilometer lagi yang harus kita tempuh. Guess what apa yang kujadikan ‘hiburan’ kali ini? Yak ... baliho-baliho yang tersebar di sepanjang jalan yang kita lewati! Ngeri-ngeri sedap bagiku melihat ‘jenis’ baliho yang ada. Hhhh ... LOL. Untunglah tidak di Semarang! Ranz yang ‘sibuk’ memikirkan kondisi tubuhnya yang kurang fit tidak sempat memperhatikan apa-apa.

Kita berhenti lagi di dekat satu ruang terbuka di tengah kota Pasuruan. Ketika Ranz sedang memotretku, mendadak ada seorang gojek ‘driver’ nyamperin kita, kemudian dengan ramah mengajak kita ngobrol, kita dari mana mau kemana, sampai hal-hal pribadi, misal apakah ‘suami’ku tidak keberatan kutinggal mbolang, kekekekekeke ... sampai bertanya aku berusia berapa. Waktu aku menyebut satu angka untuk menjawab pertanyaan tentang umur itu, wajahnya terpana kaget. “Wah ... Ibu kuat ya!” sahutnya.

Waktu tahu kita akan ke Bromo, dia menunjukkan satu arah, “Ini lewat sini Bromo sudah dekat lho, dari pada ke Probolinggo dulu. Kalo kesana, berarti njenengan memutar. Tapi, memang sih tanjakan menuju Bromo kalo dari Pasuruan ini jauh lebih curam. Kalau dari Probolinggo, tanjakannya lebih landai.”

Kujawab bahwa kita akan tetap menuju Probolinggo karena kita sudah booking satu kamar hotel untuk menginap malam itu.



Dalam perjalanan selanjutnya, kita sempat digodain hujan. Sempat ragu-ragu apakah gerimis yang menemani akan membesar menjadi hujan atau hanya gerimis, kita jadi tidak langsung mengenakan mantel. Ketika akan melewati gapura selamat datang kota Probolinggo akhirnya kita mengenakan mantel. LOL. Meski ga lama ... karena setelah kita mengenakan mantel, malah sang mentari nongol lagi, dalam kondisi tetap gerimis.

satu spot foto di Probolinggo

Probolinggo adalah kota yang sadar bahwa di zaman instagram dimana orang butuh spot foto untuk eksis. Hohohoho ... Dengan mudah kita menemukan tulisan P-R-O-B-O-L-I-N-G-G-O untuk latar belakang foto. Trotoar yang didampingi dengan taman-taman kecil di sisi kiri kanan menyambut kita memasuki kawasan kota.

Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Aww ... lamaaaaaaaaaa juga waktu yang kita lewatkan dalam perjalanan Sidoarjo – Probolinggo yang hanya 87 kilometer. Kondisi Astro yang kurang pas untuk tubuh Ranz menyebabkan Ranz tidak menampilkan penampilannya yang prima.

Dan ... aku pun ketar-ketir bagaimana keesokan hari perjalanan Probolinggo menuju Cemara Lawang yang nanjak gila? Duh ... LLL

Kita sempat mutar-mutar mencari Jalan Suyoso untuk menemukan homestay yang telah dibooking oleh Ranz. Keberadaan satu rumah sakit yang dicari Ranz sebagai ‘tanda’ kita harus belok kiri dari arah kita datang tidak dideteksi oleh Ranz. Hihihi ... walhasil kita kelewatan lumayan jauh juga. Memutar balik ... cari-cari jalan sambil membaca peta di google map ... akhirnya kita bertemu juga dengan homestay yang bernama sama dengan nama jalannya.

Legaaaaaaaaaa.

Setelah check in, kita menuju kamar yang telah disiapkan untuk kita, yang terletak di lantai 2. Saat itu, suasana homestay cukup sepi, tidak terlihat banyak tamu lain.

Malam itu kita keluar untuk makan malam, setelah mandi. Usai makan, aku membaluri punggung dan paha Ranz dengan counterpain dengan sedikit pijatan.
Pukul sepuluh malam kita matikan lampu kamar, tidur. (Aku terbiasa tidur dalam kegelapan, sedangkan Ranz sebaliknya. Untung malam ini dia mau tidur dalam gelap.)

To be continued.


2 komentar: