Jumat, 19 Januari 2018

Mengunjungi Gili Ketapang nan Cantik

Rangkaian dolan Bromo dan Probolinggo

Jumat 29 Desember 2017 ~ Day 5


spot foto yang menyambut kita di Pantai Barat Gili Ketapang

Hari ini agenda Ranz adalah mengajakku ke Gili Ketapang; satu pulau kecil yang terletak tak jauh dari Probolinggo. Aku tidak begitu tahu alasannya memasukkan agenda ini dalam rangkaian mbolang kita ke Bromo, kecuali bahwa dia paham aku sangat menyukai pantai. (who doesn’t? LOL.)

Sebelum meninggalkan penginapan, kita memperpanjang masa menginap di homestay tersebut. Mengapa kita tidak langsung menyatakan menginap sampai tanggal 31 Desember waktu kita datang kemarin sore? Well, ketika kita datang, ada seorang perempuan paruh baya yang sedang berada di ruang ‘lobby’ penginapan. Waktu si petugas bertanya, “Apakah kedatangan njenengan ini langsung kesini atau sudah booking lewat booking.com? Ranz menjawab, “Kita sudah booking online.” Si petugas menjawab, “Seratus sembilanpuluh ribu rupiah.” Harga yang tertera di web booking.com

Tanpa kita sangka, si perempuan paruh baya itu menyahut, “Kalau mau kesini tidak usah booking online, karena kalau booking, harganya lebih mahal.” Satu hal yang langsung membuat Ranz patah hati. LOL.

“Memang kalau tidak booking dulu harga per kamar berapa?” tanyaku penasaran.

“Seratus limapuluh ribu,” jawab si petugas. Fixed! Ranz patah hati. LOL.

“Kita booking online karena khawatir homestay ini bakal penuh, mengingat akhir tahun termasuk peak season untuk berlibur,” kataku.

Si perempuan paruh baya itu tertawa. “Disini ga mungkin penuh lah Mbak ... kan kamarnya banyak!” katanya.

Oke. Jadi inilah alasan Ranz untuk tidak langsung membayar untuk menginap 3 hari. Dan, syukurlah, ketika memperpanjang penginapan dua hari lagi, kita mendapat harga yang bersahabat, ‘hanya’ seratus limapuluh ribu rupiah per malam. J

Pukul delapan pagi kita meninggalkan penginapan, setelah membayar. Dari google maps kita mendapatkan info bahwa untuk menyeberang ke Gili Ketapang, kita menuju pelabuhan.

On the way menuju Probolinggo, kita mampir ke satu warung makan yang terletak hanya di seberang pelabuhan: aku butuh sarapan! J Aku memilih nasi pecel dan tempe goreng. Untuk minum, kita hanya beli satu botol air mineral 600 ml. Ranz yang belum lapar, dia hanya mencomot tempe di piringku. :D

Usai sarapan kita menuju pelabuhan. Karena belum tahu pasti di dermaga sisi mana pemberangkatan menuju Gili Ketapang, kita mengayuh pedal sepeda pelan-pelan. Dan ... ternyata kita menarik perhatian orang-orang yang memang tugasnya mencari penumpang perahu menuju Gili Ketapang.
Sebelum sampai ujung dermaga, seseorang menyeru menyapa kita, “Mau ke Gili Ketapang kah?” Kita pun langsung mendekati orang itu. Dia menunjukkan lokasi tempat kita bisa menitipkan sepeda. “Tapi kita mau membawa sepeda!” kata Ranz.

“Oh, mau dibawa? Boleh saja. Biayanya Rp. 25.000,00” jawab orang itu. Ini adalah harga untuk sekali menyeberang. Ok, deal. Dan ... ternyata, biaya duapuluh lima ribu rupiah ini adalah untuk dua orang dan dua sepeda lipat. WUIIIIIIH ...

penampakan Astro dan Austin dalam perahu

Perahu yang kita gunakan untuk menyeberang adalah perahu nelayan biasa, modelnya berbeda dengan perahu yang digunakan menyeberang dari Jepara menuju Pulau Panjang, maupun dari pelabuhan Bangsal menuju Gili Trawangan. Di perahu dari Jepara ke Pulau Panjang ada tempat duduk berderet yang bisa dipakai duduk penumpang; sepeda bisa kita selipkan di antara tempat duduk ini. Demikian juga dengan perahu moda transportasi kita menyeberang menuju Gili Trawangan. Di Probolinggo ini, di atas perahu ada semacam tripleks tempat duduk para penumpang (kita duduknya lesehan), di bawah tripleks terletak mesin yang menggerakkan perahu. Di ujung depan perahu ada space untuk meletakkan sepeda. Waktu itu, selain Austin dan Astro, ada sebuah sepeda lagi yang ‘duduk manis’ disitu; sepeda milik seorang penjual yang mencoba mengadu nasib berjualan di Pantai Barat Gili Ketapang.

Dari artikel di web yang telah dibaca Ranz sebelum berangkat, kita tahu bahwa di Gili Ketapang kita akan menemukan kendaraan bermotor, satu hal yang tidak kita temukan di Gili Trawangan, maupun Pulau Panjang. Maklum, Pulau Panjang tidak ada penduduk yang menetap disitu, kecuali beberapa orang yang membuka warung makan disitu.

Waktu kita naik perahu, kupikir perahu sudah cukup penuh penumpang. But I was wrong. Perahu masih terus ngetem; calo terus mencoba mencari penumpang lain. L 15 menit kemudian, baru ada tanda-tanda perahu diberangkatkan. Yuhuuu ...

Perjalanan memakan waktu kurang lebih 45 menit. Terus terang, aku cukup ketar ketir khawatir perahu terlalu penuh penumpang hingga terjadi hal-hal yang tidak kita harapkan. Untunglah, 45 menit kemudian kita sampai di pantai Gili Ketapang safe and sound. :D

Setelah ‘menyeberang’ dari perahu menuju dermaga, beberapa nelayan yang sedang sibuk melakukan sesuatu memberi petunjuk jika kita ingin memutari pulau Gili Ketapang, kita belok kanan terlebih dahulu; jika langsung ingin ke Pantai Barat kita bisa langsung belok kiri.

Ranz sedang menaikkan Astro dari perahu

dekat dermaga

Kita pun belok kanan; sembari membayangkan pulau ini dibangun seperti Gili Trawangan, maupun Pulau Panjang; ada satu badan jalan yang dibangun sehingga kita bisa mengelilingi pulau. Ketika kita sampai di kawasan pemukiman, astagaaahhh ... pemukiman di pulau ini sangat padat! Jalan yang kita lewati sangat sempit, hanya cukup dilewati satu becak dan papasan sebuah sepeda! Dan ... harapan bahwa jika kita belok kanan, kemudian menapaki jalan ‘utama’ kita bakal sampai di Pantai Barat (yang bisa kita capai dari dermaga dengan belok kiri) ternyata KELIRU. Kekekekeke ... setelah berputar kesana kemari, akhirnya kita ‘menyerah’; kembali mengayuh pedal ke arah dermaga tempat kita datang; untuk kemudian menuju jalan yang akan ‘berujung’ di Pantai Barat. :D

Sesampai Pantai Barat, waaahhh ... pantai ini syantiiiik! Pasirnya berwarna putih dengan air laut bening berwarna hijau kebiruan. Langsung aku merasa seperti berada di satu pantai di Pulau Bali! LOL.



Satu kegiatan yang biasa ditawarkan di pantai Gili Ketapang ini adalah snorkeling. Ranz menawariku apakah aku ingin mencobanya, oleh karena itu aku membawa baju renang dan kacamata renang. Namun sesampe disana, ternyata mereka yang datang ke Gili Ketapang untuk snorkeling, mereka sudah booking terlebih dahulu, dan biasanya dalam grup. Dan ... berhubung melihat pantai ini bisa dinikmati begitu saja tanpa perlu snorkeling, aku memilih untuk tidak melakukannya. Aku dan Ranz hanya berfoto-foto di pinggir pantai. Kemudian, agar baju renang yang kubawa tidak mubazir, aku pun menyempatkan diri main air sejenak. Ga pake lama, agar warna kulitku tidak bertambah eksotis. LOL.



Membayangkan menyaksikan sunset di pantai ini sebenarnya cukup membuatku ngiler. Pasti cantik sekali! Tapi perahu terakhir menyeberang kembali ke Probolinggo jam empat sore. Mau menginap disitu malam itu, duh ... mubazir deh kamar di homestay Suyoso yang telah kita bayar. LOL. Well, sebenarnya salah satu penjual lokal disitu memberitahu masih ada perahu yang akan kembali ke Probolinggo jam enam sore; namun jam segitu angin yang berhembus tidak begitu aman. Apa boleh buat? Bye bye sunset ...



Ranz yang bahagia mendapatkan lokasi untuk memasang hammock :D 

Sekitar pukul setengah tiga sore aku dan Ranz memutuskan untuk kembali. Kali ini kita menuju dermaga yang berbeda dengan tempat kita datang. Waktu sampai disana, ada sebuah perahu yang akan membawa para penumpang ke Probolinggo. Aku dan Ranz langsung naik, memilih tempat duduk yang di depan, karena Ranz ingin mengabadikan jalannya perahu dengan kameranya.

Ketika kita naik perahu baru terisi penumpang setengah. Bisa dibayangkan kita harus menunggu cukup lama, lebih dari 30 menit. Selama lebih dari 30 menit (menunggu) dan 45 menit (perjalanan) di atas perahu yang bergoyang-goyang, cukup membuat kepalaku berputar; untung ga sampai mabuk laut. (Dulu, waktu boat ride di Karimun Jawa, aku sempat mabuk laut. Hahahaha ...)


Akhirnya perahu meninggalkan dermaga pulau Gili Ketapang, sekitar pukul setengah empat. Baru juga 10 menit berlayar, terlihat perubahan warna langit; udara yang semula cerah, matahari bersinar begitu garang, mendadak mendung. Satu hal yang aku syukuri : kita tidak menyia2kan kamar yang telah kita sewa di Probolinggo untuk menginap semalam di Gili Ketapang, karena ternyata menjelang waktu matahari tenggelam, cuaca mendadak berubah secara ekstrim! Satu hal lain yang membuatku khawatir adalah bagaimana jika dalam perjalanan mendadak turun hujan badai? Perahu yang kita naiki kecil, meski penumpang tidak sepenuh pagi hari.

Untunglah sampai kita tiba kembali di dermaga Pelabuhan Probolinggo hujan tidak turun, meski mendung yang menggantung sangat gelap. Hujan baru turun setelah kita kembali ke penginapan. Yuhuuuu ...

Sekitar pukul tujuh malam, hujan belum reda, rasa lapar memaksa kita keluar. Malam ini, lagi-lagi aku mengajak Ranz ke rumah makan yang menyajikan Chinese food, sama seperti malam sebelumnya. :D Ketika aku akan memesan menu yang sama – capcay – ternyata Ranz protes, “Kamu ga bosen toh?” hahahahahah ... walhasil, aku memilih menu yang berbeda, meski rasanya tidak jauh beda : sapo tahu. Sedangkan Ranz hanya memesan onion ring; cemilan doang inih. :D

onion ring dan sapo tahu 
bakso dengan ketupat, maksi kita di Gili Ketapang :D


Selesai makan malam, otw balik ke penginapan, Ranz mampir ke satu penjual tahu telur di ujung jalan Suyoso. Dia memesan satu bungkus tahu telur tanpa lontong. Namun, berhubung dia kebelet ****, dia pulang ke penginapan duluan, aku menunggu hingga pesanannya siap. Setelah pesanan Ranz jadi, aku ga langsung pulang, aku menyempatkan diri muter sekitar 5 kilometer, meski harus mengenakan mantel gegara hujan. LOL. Di Gili Ketapang kita tidak bersepeda jauh sehingga aku merasa masih butuh menggerus lemak di tubuh. LOL.

To be continued ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.