Jumat, 19 Januari 2018

Hello BJBR! And Going back home

Rangkaian mbolang Bromo dan Probolinggo 

Sabtu 30 Desember 2017 ~ Day 6

Ini adalah hari ‘ekstra’; hari dimana kita tetap stay di Probolinggo karena kita kehabisan tiket KA Sritanjung untuk balik ke Solo. Ada kereta lain, namun bukan kereta ekonomi, dan harga tiketnya sangat jauh di atas harga tiket KA Sritanjung. Oleh karena itu, Ranz memutuskan kita stay satu hari lagi di Probolinggo.

Dari sekian banyak tempat wisata di Probolinggo, setelah googling, selain Gili Ketapang, Ranz juga tertarik pada BJBR alias Bee Jay Bakau Resort. Mengapa ini? Mungkin karena kita bisa trekking disini sehingga Ranz memilih mengajakku kesini. Aku setuju saja. J

Seperti sehari sebelumnya, kita meninggalkan penginapan menjelang pukul delapan pagi. Dari pada bingung mau sarapan dimana, Ranz mengajakku mampir di warung sederhana tempat kita sarapan sehari sebelumnya, karena kebetulan untuk menuju BJBR kita kembali melewati pelabuhan Probolinggo. Aku pun tetap memilih menu yang sama : pecel dan tempe goreng.


Sebelum pukul sembilan pagi kita telah sampai di kawasan BJBR. Ranz sempat ragu-ragu jadi atau tidak kesini mengingat harga tiket yang cukup mahal. Menurut artikel yang dibaca Ranz sekian waktu lalu harga tiket masuk BJBR hanya Rp. 15.000,00. Dari harga limabelas ribu rupiah itu, mendadak naik menjadi Rp. 40.000,00. Wuih ... L Menikmati pemandangan kawasan mangrove alias hutan bakau namun kita harus merogoh kocek segitu rasanya kok mahal banget yak?





Namun, aku telanjur penasaran. LOL. What is it like? Dan, toh saat memperpanjang kamar penginapan dua malam kita bisa mengirit delapanpuluh ribu rupiah, kupikir ya imbang lah ya. Hihihi ...

Ketika kita sampai, di tempat penjualan tiket, ada tulisan bahwa harga tiket untuk tanggal 30 Desember 2017 sebesar Rp. 50.000,00; sedangkan untuk tanggal 31 Desember 2017 harga naik lagi menjadi Rp. 60.000,00. WHAATTT? Ada apa dengan penyelenggaranya; kok galau gitu menentukan harga tiketnya? LOL.

Mengetahui harga tiket naik sepuluh ribu rupiah dari yang semula diperkirakan, Ranz bertanya, “Gimana? Jadi ga? Harga tiketnya naik!”

Aku yang justru menjadi kian penasaran – ada apa di dalam BJBR – tetap bergeming : kita harus masuk BJBR. Meski sedikit ngedumel namun karena dia sudah telanjur menyuruhku memilih masuk atau tidak, Ranz pun membeli tiket masuk. LOL.

Hutan bakaunya mengingatkanku pada hutan bakau yang ada di Karimun Jawa. Waktu dolan ke KJ tahun 2011, dan bersepeda ke Pulau Kemojan, kita sempat masuk di ujung hutan bakau KJ. Namun karena ga tahu kira-kira seberapa besar hutan itu, dan kita masih ingin melanjutkan perjalanan menuju Kemojan, kita juga blank seberapa jauh kita harus mengayuh pedal sepeda (zaman kita belum familiar dengan GPS J) kita hanya foto-foto di luar, tidak menjelajah ke dalam.



Setelah trekking di kawasan hutan bakau BJBR, kita menyusuri trek sepeda di atas laut yang konon terpanjang di Indonesia. Sayangnya, kita tidak diperbolehkan membawa sepeda kita masuk. Plus, ada sepeda yang kita lihat di dekat trek sepeda itu, tapi terkunci. Jika memang kita harus menyewa, tidak ada petugas yang melayani pengunjung yang akan menyewa sepeda. Walhasil, kita tidak naik sepeda di sepanjang trek sepeda di atas laut itu; seperti pengunjung lain, kita hanya berjalan.

our brunch; french fries Rp. 15.000,00 orak-arik pare Rp. 25.000,00, es milo Rp. 25.000,00, di resto dalam BJBR

Hujan sempat turun sekitar pukul 12.00. Untunglah kita sampai di satu lokasi dimana kita bisa berteduh.

saat gerimis turun, saat kita menemukan tempat berteduh


banyak spot foto di dalam BJBR



'pantai buatan' dalam BJBR

Kita keluar dari kawasan BJBR menjelang pukul tiga sore. BJBR buka sampai malam, kita bayangkan pasti lampu-lampu yang disediakan bakal membuat suasana kian eksotis. Namun kita sudah lelah. Apa boleh buat?

Malamnya kita mampir makan malam di rumah makan yang sama; aku kembali memesan capcay goreng; Ranz hanya geleng-geleng kepala melihat aku yang sama sekali tidak kreatif. LOL.

Usai makan malam, Ranz bersedia menemaniku night ride sambil mencari tempat fotocopy. Dia harus ngeprint scan KTP-nya untuk naik kereta api, karena KTP-nya ketinggalan di rumah. :D Malam itu kita bersepeda sekitar 15 kilometer sebelum balik ke penginapan dan mulai packing; keesokan hari kita akan meninggalkan Probolinggo.

Minggu 31 Desember 2017 ~ Day 7

Saat orang-orang ber’last Sunday ride’, aku dan Ranz juga bersepeda, tapi dari penginapan menuju stasiun Probolinggo. :D

Kereta yang kita naiki menurut jadual meninggalkan stasiun pukul 11.00. itu sebabnya pagi itu kita masih santai di penginapan sampai sekitar pukul delapan pagi. Setelah berpamitan kepada petugas yang jaga di lobby penginapan, kita meninggalkan homestay yang terletak di Jl. Suyoso itu.

Dalam perjalanan menuju stasiun, Ranz mengajakku mampir ke satu warung yang salah satu menu yang disediakan adalah pecel. Ranz kali ini hanya menontonku makan. :D selesai sarapan, kita menuju stasiun yang terletak sangat dekat dengan alun-alun kota Probolinggo. Sebelum masuk stasiun, Ranz mampir ke satu gerai fast food membeli ayam goreng tepung untuknya brunch.



KA Sritanjung datang tepat waktu, dan meninggalkan stasiun juga sesuai dengan jam yang tertera di tiket; pukul 11.00.

Kita sampai di stasiun Purwosari menjelang pukul tujuh malam. Semula aku ingin langsung pulang ke Semarang dengan naik bus dari Kerten. Namun ternyata sesampai Solo aku super lelah dan lapar. Aku bayangkan jika aku naik bus dan tidak mendapatkan tempat duduk sampai Semarang, saking penuhnya penumpang, dalam perjalanan aku bakal pingsan. LOL. Untuk mengantisipasi itu, aku pun menginap semalam terlebih dahulu di rumah Ranz. Tanggal 1 Januari 2018 sebelum pukul setengah enam pagi aku telah berada dalam bus menuju kota Semarang.

Sampai bertemu di petualangan Nana dan Ranz berikutnya yaaa.


LG 14.26 16012018 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar