Senin, 15 Januari 2018

Dolan Bromo dan Probolinggo ~ Day 4

Kamis 28 Desember 2017 ~ Day 4

Rencana Ranz semula hari ini adalah turun ke arah Sukapura; di pertigaan kita akan belok kiri (kalau kanan langsung ke arah Probolinggo); untuk mampir ke Air Terjun Madakaripura. Namun mengingat kondisi tubuh Ranz yang tidak begitu fit, plus kita khawatir jalan menuju Madakaripura – yang katanya berjarak 5 kilometer dari jalan raya – ternyata mendaki curam, aku bilang ke Ranz kita tidak usah ngoyo. Next time jika ada waktu luang dan umur yang panjang, kita bisa balik lagi.

persiapan meninggalkan Cemara Lawang



Pukul setengah tujuh kita mulai siap-siap. Hawa dingin yang terus mencekam membuat kita super malas mandi, karena air panas yang tidak mudah kita dapatkan. :D sekitar pukul tujuh, sarapan diantar ke kamar kita. Aku mengajak Ranz menyantap sarapan kita di ruang tamu. Kali ini menu sarapan kita sama dengan sehari sebelumnya : nasi goreng (yang sama sekali tidak pedas) dengan telur ceplok.

Usai sarapan, kita mulai memasang pannier ke sepeda lipat masing-masing. Pukul delapan kita meninggalkan homestay View Bromo. Sebelum turun ke arah Sukapura, kita memotret diri di pertigaan yang ada petunjuk BROMO. J aku dan Ranz sama-sama saling mengingatkan untuk berhati-hati, ga perlu ngebut, mengerem dengan semestinya, jika dirasa kampas rem mulai bermasalah, mending kita berhenti.

15 kilometer dengan turunan yang cukup tajam tidak serta merta kita bisa melibasnya dalam waktu singkat. Ya karena itu tadi, kita merasa wajib berhati-hati. Dalam perjalanan sesekali kita disalip jeep yang telah meninggalkan kawasan Bromo, namun juga sesekali berpapasan dengan jeep yang menuju Bromo.

kabut kembali menyapa otw ke Sukapura

Lima kilometer pertama, ketika menjelang pertigaan yang cukup tajam, kita berhenti. Rasanya tegang juga terus menerus menekan rem. Kebetulan disitu ada satu warung kecil, kita beli teh panas sambil beristirahat.

Menjelang meninggalkan warung kecil itu, kabut datang lagi. semula kabut hanya memenuhi daerah jurang di sisi badan jalan yang kita lewati. Sekian ratus meter berikutnya, yang kita khawatirkan terjadi : kabut bergeser, kali ini memenuhi badan jalan yang kita lewati! Waaaaw ... Kita benar-benar kudu ekstra hati-hati!

Sepanjang perjalanan turun ini aku ingat seorang kawan sepeda dari Jogja yang mengalami kecelakaan saat menapaki turunan dari Dieng menuju Wonosobo; dia pun naik downtube nova waktu itu. Hal ini membuatku tidak membiarkan diri terlena pada turunan yang nampak gampang namun membahayakan.

spot foto yang instragrammable ini milik sebuah hotel dan resto yang terletak di seberangnya :)

Oh ya, trek Cemara Lawang – Sukapura tidak melulu turunan lho, di beberapa titik juga ada tanjakan. Ketika bertemu tanjakan ini aku langsung ingat bahwa pahaku super pegal! LOL. Duuuh ... benar-benar ga bisa mampir Madakaripura nih jika kayak gini. Bertemu tanjakan yang ga seberapa saja langsung menciut hatiku. LOL.


salah satu pemandangan yang membuatku ingin kembali 

Aku dan Ranz sangat bergembira ketika akhirnya kita sampai di pasar Sukapura; yeaaay ... pertigaan Sukapura yang kita rindui sebentar lagi kita capai! LOL. Entah mengapa ada rasa haru waktu melihat warung BAKSO IGA yang sempat kita samperi dua hari sebelumnya; tempat kita makan satu mangkuk berdua sembari beristirahat, ngos-ngosan setelah melewati tanjakan. LOL. Kita telah kembali! Namun rasa haru ini juga bercampur dengan rasa sedikit enggan; tak lama lagi kita akan sampai di kawasan yang tidak lagi berhawa dingin. LOL.

Setelah melewati pertigaan Sukapura; kita cenderung menikmati turunan dengan sepuasnya. Turunan yang tidak begitu tajam, meski di awal juga berkelok-kelok membuat kita terkadang melupakan rem. LOL. Menapaki jalan yang kita lewati dengan tertatih-tatih dua hari sebelumnya cukup membuatku terharu pada diri sendiri, kekekeke ... (Eh, padahal semalam kita sempat berdiskusi apakah sebaiknya kita mencari angkutan umum saja dari Cemara Lawang menuju Sukapura. Ternyata kita bisa menuruni trek tajam itu dengan baik!)


Menjelang pukul 11.00 kita telah melewati terminal Probolinggo. Kita sudah hampir sampai pusat kota! Ranz mengajakku mampir di satu minimarket untuk membeli minuman. Hmmm ... terakhir kita minum di warung kecil di pertigaan, dimana kemudian kita disapa kabut.
Memasuki kota Probolinggo, Ranz mengajakku (lagi) mampir makan siang disatu gerai fast food; aku memesan chicken steak, Ranz pesan ayam goreng. Waktu menunggu pesanan kita datang, seorang laki-laki tiba-tiba menghampiri kita. Dengan ramah dia menyapa, "Kemarin saya lihat njenengan berdua di Bromo dengan naik sepeda! Saluuut!" Waaahhh ... :) Jadi (ingin) malu. LOL. Kemudian kita sempat ngobrol sejenak, sebelum dia kembali ke tempat duduknya.

Usai makan siang, kita langsung menuju Jalan Suyoso, kita kembali ke homestay tempat kita menginap hari Senin 25 Desember 2017.

menu makmalku

Sesampai penginapan, aku langsung mandi! Sejak sehari sebelumnya kita tidak mandi. LOL. Setelah itu kita beristirahat. Sorenya kita keluar, melihat suasana Probolinggo sore hari, night ride sejauh kurang lebih 15 kilometer, kemudian kita mampir satu rumah makan untuk makan malam. Kita mampir di satu rumah makan yang terletak tak jauh dari alun-alun Probolinggo, yang memajang jenis menu yang mereka tawarkan di depan bangunan; sebagian besar menu itu berupa Chinese food. Aku memesan capcay dan jeruk hangat,  sedangkan Ranz pesan nasi goreng seafood. Di menu yang tersedia di meja, ada harga yang tertera sehingga jelas, beda dengan saat kita makan malam pertama di Probolinggo Senin 25 Desember 2017. :D


To be continued. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar